Minggu, 16 September 2012

Tante Lia

 

Di ujung jalan terlihat sesosok anak berjalan dengan pakaian yang compang-camping dan sangat dekil, terlihat wajahnya begitu kusut dan kebingungan, sekali-kali anak itu memegang perutnya dan tangannya yang satu memegang gitar kecil yang biasa dipakainya mengamen. Sekali-kali anak itu menendang apa aja yang ada di depannya. Tanpa anak itu sadari ada sepasang sosok mata yang dari tadi memperhatikannya, Mungkin karena merasa iba, Ibu itu mendekati anak itu tersebut.


"Siang dek.... hhhmmm....kamu kok sendirian..." tegur ibu itu sambil tersenyum lebar, Karena anak itu diam aja akhirnya Ibu itu mengajak anak tersebut ke salah satu warung makan. Setelah makan ibu itu berfikir untuk mencari tahu tentang anak itu tersebut, pertanyaan dan pertnyaan mulai terlontar dari bibir ibu itu.
"Hmm... gimana makanannya enak ga...." Tanya ibu itu sambil terseyum, "oh iya, kalau boleh!! tante tau nama kamu siapa..." Sambil menyodorkan tangannya. Sedikit ragu-ragu anak itu bersalaman ke pada ibu itu,
"Nama saya Rudi Bu..." sekilas mata anak itu tertuju ke dada Ibu itu yang berukuran 36 B yang sedikit menonjol dari blousenya,
Ibu itu terseyum..."Ga usah panggil ibu, panggil aja Tante Lia...."
"eh...iiya..." Rudi sedikit gugup, tapi matanya tidak lepas dari dada tante Lia, yang memang jarang sekali dia lihat.

Setelah ngobrol panjang lebar. Akhirnya tante Lia tahu kalau Rudi adalah anak yatim piatu dan karena merasa kasihan Tante Lia memutus kan untuk memberi pekerjaan menjadi peMbakntu di rumahnya, ke betulan di rumahnya memang tidak ada peMbakntu laki-laki.
"Gimana Rudi mau ngga kerja sama tante?" tanya tante Lia lagi sambil menggenggam tangan kasar Rudi sehingga membuatnya semakin gelagapan,
"Ehgg.. iiya Tante...mmmaauu...mau banget..."
Lagi-lagi tante Lia terseyum lebar sehingga membuat bibirnya semakin mereka. "ya udah... kalau gitu kamu ikut tante pulang ke rumah tante.... ya" Rudi hanya mengangguk senang.
######

Tidak lama kemudian mereka sampailah di rumah besar. Tante Lia mengambil remote bel dari tasnya dan menekan tombolnya beberapa kali. Tidak sampai semenit, pintu gerbang bermesin itu pun membuka sendiri. Mobil itu memasuki pekarangan dan parkir di samping pintu masuk.

“Ayo turun Rudi, kita sudah sampai” ajak Tante Lia

Sampai di depan pintu tak lama kemudian, pintu rumah terbuka dan keluar sesosok perempuan yang begitu cantik dengan memakai daster berwarna kuning dan bawahannya kira-kira 5 cm di atas lutut. Dengan suara yang lembut perempuan tersebut menyapa Tante Lia.
"Baru pulang Nya?" dan ternyata perempuan tersebut adalah pembantu Tante Lia.

dengan sepontan Tante Lia memperkenalkan perempuan tersebut kepada Rudi.

"Oh iya Rudi perkenalkan ini Mbak Dina, dia juga berkerja di rumah Tante, kalau ada apa-apa kamu boleh tanyakan saja sama Mbak Dina"

Dengan muka polos Rudi tersenyum membalas senyum Mbak Dina lalu perlahan menjulurkan tangannya

"Nama saya Rudi Mbak..." sahutnya

Dengan terseyum manis Mbak Dina membalas uluran tangan ABG itu. Rudi sangat kagum dengan kecantikan Mbak Dina. Mukanya begitu putih mulus tanpa ada noda sedikit pun, rambutnya yang panjang semakin menghiasi wajahnya yang begitu cantik sehingga siapa saja yang melihatnya akan terpesona. Teguran Tante Lia membuat lamunan Rudi menjadi buyar,

"Oke deh…daripada kita ngobrol di sini lebih baik kita ngobrol di dalam aja, kan lebih seru" ajak tante Lia kepada Rudi dan Mbak Dina.
Rudi terbengong-bengong melihat bagian dalam rumah yang mewah dilengkapi dengan perabotan dan perhiasan yang mahal-mahal. Di ruang tengah, Rudi duduk dengan canggung sambil melihat sekeliling isi rumah yang ada di ruangan tersebut.

“Bentar ya dek!” kata Tante Lia seraya menghempaskan pantatnya di sofa seberangnya lalu mengeluarkan ponselnya yang berdering dari tas jinjing dan berbicara entah dengan siapa.

Sementara Tante Lia berbicara dengan orang disana, mata Rudi menerawang melihat benda-benda di ruangan itu, di tembok terdapat beberapa foto pigura, di antaranya juga ada foto diri Tante Lia, juga ada dua wanita lain yang diduganya penghuni lain rumah ini. Tidak lama kemudian pintu terbuka dan Mbak Dina masuk sambil membawa dua gelas minuman di atas nampan.

"Minuman datang!" sahut Mbak Dina yang membuat dua pasang mata di ruangan itu tertuju pada dirinya.

Dengan perlahan Mbak Dina meletakkan air mnum tersebut di atas meja. Entah disengaja atau tidak, Mbak Dina sedikit menunduk sehingga buah dadanya yang berukuran 34C sedikit mengitip dari balik dasternya memancing pandangan Rudi ke belahan dadanya.
"Glek...glek... wwwaaauu....montok amat!" gumam Rudi dalam hati karena takjub melihat pertunjukan tersebut, walau hanya beberapa detik saja.

Setelah meletakkan minuman tersebut, Mbak Dina kembali duduk di samping Tante Lia.

"Reni sama Lusi kemana Mbak?" tanya tante Lia yang baru saja menutup ponselnya.

Mata Rudi kini beralih ke paha Mbak Dina yang posisi duduknya menaikkan menyilangkan kedua kaki sehingga memperlihatkan pahanya yang ramping dan putih mulus itu. Rudi pun menelan ludah melihat pemandangan itu.
"Katanya sih mereka pergi liburan selama tiga hari Nya" jawab Mbak Dina menggoyang-goyangkan kaki nya sehingga Rudi sedikit kesulitan untuk mengintip selangkangannya

Rudi sedikit mengalikan perhatian "Hhmm... Tante Lusi sama Reni itu siapa???" tanyanya sesekali melihat ke paha Mbak Dina berusaha mengintip bagian selangkangannya.
"Di sini Tante sama mereka ngontrak bareng, Tante Lusi itu teman tante yang tinggal bareng di sini" jawab wanita itu "kalau Reni, dia itu keponakan tante yang juga tinggal di sini, masih sekolah SMA kelas dua" jelasnya
"oohhh…gitu ya" jawab Rudi sambil melihat foto bersama yang tergantung di samping atas, perkiraannya wanita cantik seumuran Tante Lia itu pastilah Tante Lusi, dan gadis muda di foto lain pasti Reni

Kemudian ia kembali mengalihkan pandangannya ke selangkangan Mbak Dina, perlahan daster Mbak Dina semakin terangkat ke atas sehingga celana dalamnya yang berwarna merah terlihat cukup jelas oleh Rudi.

"Ayo Mbak sedikit lagi keliatan deh" gumam Rudi sesekali membenarkan posisi penisnya yang dari tadi tidak mau turun,

Tanpa sepengetahuan Rudi, Mbak Dina bukan tidak sadar kalau dari tadi ABG anak jalanan itu memperhatikan pahanya. Wanita itu pun mulai berpikir sesuatu untuk mengerjai anak itu. (oh ya perlu pembaca ketahui bahwa Mbak Dina, Tante Lusi dan Tante Lia adalah wanita-wanita nakal. bagaimana ceritanya? kita lanjut ya)
Kedua wanita itu banyak bertanya pada Rudi mengenai darimana asalnya, sudah berapa lama hidup di jalanan, apakah masih punya keluarga, dll. Ternyata ia sudah lama di jalan, sekitar lima tahun, sejak kecil ia tidak punya keluarga, hanya tinggal bersama neneknya. Setelah neneknya meninggal, ia merantau ke kota hingga akhirnya terdampar di jalanan seperti sekarang ini. Tak terasa Rudi sudah cukup lama bercerita hingga malam pun makin larut.

"Mbak, nanti tolong anterin Rudi ke kamarnya ya, siapin ranjangnya juga, saya mau istirahat dulu" kata tante Lia sambil bangkit berdiri dan kemudian meninggalkan Rudi bersama Mbak Dina.
Sambil berjalan ke belakang di mana kamarnya terletak, Mbak Dina mengajak anak itu keliling rumah besar itu dan menjelaskan situasi di sana.
"Eh...hhhm Mbak sudah lama kerja di sini?" tanyanya dengan suara yang sedikit terputus-putus,
Mbak Dina terseyum "kira-kira dua tahun lebih lah" jawabnya singkat,

Mereka tiba di kolam renang belakang dan bertemu dengan seorang pria setengah baya bertubuh kurus tinggi sedang merokok di depan kamar yang kelihatannya kamar tempat tidurnya.

“Sapa tuh Din?” tanyanya bangkit berdiri dan bertanya pada Dina dengan pandangan penuh selidik pada Rudi.

“Ini…Nyonya yang bawa, kenalin namanya Rudi!” Mbak Dina memperkenalkan Rudi pada pria itu, “nah…Rud, ini Pak Kadir, tukang kebun di sini.”

Mbak Dina

Setelah memperkenalkan Rudi pada pria itu, Mbak Dina terus membawa ABG itu ke kamar yang dituju.

"Rudi. sekarang kamu ikut Mbak, biar Mbak tunjukin di mana kamar kamu," Mbak Dina berdiri sambil merapikan dasternya.

Masih dengaan perasaan yang bercampur aduk antara senang, dan bingung Rudi mengikuti langkah Mbak Dina menuju kamar yang akan ditempatinya. Kamar itu terletak di pojok agak belakang dari rumah besar itu, naik tangga ke tingkat dua. Sesampai di kamar, Rudi semakin bingung karena di dalam kamar terletak dua kasur yang pastinya satu lagi ditempati orang lain tapi entah siapa.
"Kasurnya kok ada dua, satunya lagi buat siapa Mbak??" tanya Rudi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung.
"Kasur satunya lagi itu punya Mbak, jadi kamu itu tidur satu kamar sama Mbak!!!" jawab Mbak Dina sambil membereskan kasur tersebut

Posisinya yang sedikit membungkuk membuat Rudi leluasa menatap pantatnya yang begitu membulat indah, perlahan penis Rudi kembali tegang.
"oohh...gitu ya Mbak..." jawab Rudi gelagapan.
Mata Rudi menyapu penjuru ruangan kamar yang berukuran sedang itu. Jendela kamar itu mengarah ke kolam renang, dari situ juga nampak kamar si tukang kebun, Pak Kadir. Ia mengintip dari balik tirai jendela melihat pria itu masih menghisap rokoknya di luar kamar. Pria itu melirikkan matanya ke arah jendela seolah tahu dirinya sedang diintip dari situ. Sebuah senyum terkembang di wajahnya membuat Rudi segera menarik diri dari pinggir jendela karena takut. Setelah membereskan tempat tidur Mbak Dina menyuruh Rudi untuk membersihkan badannya karena memang sudah sangat lama Rudi tidak mandi. Ia menunjukkan kamar mandi yang terletak tak jauh dari kamar itu dan mengambil handuk dari lemari lalu menyerahkannya pada anak itu. Shower air hangat menyiram tubuhnya dan memberinya kesegaran. Di dalam kamar mandi, ia mengocok penisnya sendiri sambil membayangkan tubuh Mbak Dina dan Tante Lia. Entah nasib atau apa yang telah membawanya ke rumah ini.
#########

Sekitar jam 12 malam Rudi terbangun karena ingin buang air kecil, ia pun melangkahkan kakinya ke kamar mandi yang tidak terlalu jauh dari kamarnya. Selesai buang air, ia ingin minum, namun galon dispenser di luar kamarnya sudah habis isinya sehingga hanya mengeluarkan beberapa tetes air saja. Seingatnya dispenser lain terletak di dalam rumah sehingga mau tidak mau ia pun melangkahkan kakinya menuruni tangga. Udara malam cukup dingin sehingga ia memeluk dirinya sendiri, ini jauh lebih nyaman dari kesehariannya, di tubuhnya telah melekat baju kaos bersih dan layak pakai juga celana boxer yang walaupun bekas tapi nyaman. Ia menggeser pintu memasuki ruang tamu yang telah dimatikan lampunya itu. Ketika hendak menekan kran dispenser, sebuah suara memancing perhatiannya. Ia berkonsentrasi menajamkan pendengarannya, suara itu ternyata berasal dari kamar yang adalah kamar Tante Lia, dari jendela di atas pintunya nampak lampu remang-remang menyala di dalam sana. Rudi menempelkan kepalanya ke pintu itu dan benar suara itu terdengar semakin jelas…suara erangan wanita. Timbul niatnya untuk mengintip apa yang terjadi di dalam sana, namun pintu tertutup rapat tanpa ada celah sedikitpun, jendela di atas pintu terlampau tinggi. Ia segera ingat di samping ada jendela yang kelihatannya jendela kamar tersebut. Dengan mengendap-endap hati-hati ia pun segera menuju samping. Tirai dari jendela samping sedikit terbuka sehingga ia bisa mengintip ke dalam. Adegan di dalam kamar membuat penis anak itu menegang, bagaimana tidak, di atas ranjang nampak Tante Lia yang sudah tidak berpakaian sama sekali sedang menaik-turunkan tubuhnya di atas selangkangan Pak Kadir, si tukang kebun itu. Wanita berusia 30an yang cantik itu begitu bergairah melakukannya, kedua payudaranya bergoyang naik-turun seirama gerak badannya yang liar. Suara desahannya terdengar sayup-sayup ke luar tempat Rudi mengintip. Rudi menelan ludah melihat adegan panas itu, ia mengeluarkan penisnya dari balik celana dan mulai mengocoknya pelan. Pak Kadir juga turut menyentak-nyentak pinggulnya ke atas sehingga tumbukan alat kelamin mereka pun semakin kencang dan tubuh Tante Lia pun otomatis semakin menggelinjang karenanya.

Tante Lia
Kedua tangan tukang kebun tua itu meremas-remas bongkahan bokong Tante Lia yang semakin lama bergerak berputar-putar tak karuan. Dari goyangan tubuhnya yang semakin liar, Tante Lia terlihat mulai mulai mencapai puncak kenikmatannya, ia meraih tangan Pak Kadir ke payudaranya, tangan itu pun serta merta langsung meremasi gunung kenyal itu dengan gemasnya. Tante Lia lalu mencondongkan badannya ke depan sehingga bibirnya dapat berpagutan dengan Pak Kadir. Merekapun bercumbu dengan panas, lidah beradu, air liur menetes-netes di pinggir bibir.

“Aaaahh….aahhh…Pak, sodok terus ke atas Pakk…!” Tante Lia tiba-tiba mengerang keras, tubuhnya menegang dan goyangannya makin cepat.

Rupanya ia sudah mencapai puncak, tubuhnya melenting ke belakang hingga payudaranya yang montok itu semakin membusung. Ia terus menaik-turunkan tubuhnya di atas penis Pak Kadir sebelum akhirnya tak lama kemudian ambruk menindih tubuh si tukang kebun tua itu. Pak Kadir yang masih belum keluar, segera merubah posisi. Ia berputar ke samping dan menindih tubuh sang nyonya cantik itu, diangkatnya pinggul Tante Lia sehingga membentuk sudut 45 derajat dengan permukaan ranjang dan ia naikkan kedua betis si nyonya ke bahunya. Setelah itu Pak Kadir melanjutkan menyodokkan penisnya yang belum lepas. Dalam posisi sekarang, pria setengah baya itu dapat lebih memegang kendali, penisnya menghujam-hujam lebih keras ke vagina sang nyonya sehingga membuatnya menjerit-jerit tak karuan. Libido Tante Lia pun dengan cepat bangkit kembali, tangannya mencengkram lengan pria itu dan kukunya menggores kulit yang sudah agak keriput itu. Sambil menggenjot, Pak Kadir meremasi payudara kanan Tante Lia, jarinya dengan nakal memilin-milin putingnya hingga mengeras. Penis pria itu semakin lancar keluar masuk di liang Tante Lia karena sudah sangat basah oleh cairan orgasme sehingga menimbulkan bunyi berdecak setiap Pak Kadir menghujamkan penisnya. Kenikmatan yang diterima sang nyonya bukan main dahsyatnya, kepalanya tak bisa diam, meggeleng ke kanan dan ke kiri menahan sensasi itu. Lima menit kemudian Pak Kadir mengerang panjang, genjotannya semakin kencang dan dalam, otot-ototnya menegang hingga akhirnya Tante Lia merasakan vaginanya terisi penuh oleh cairan kental yang hangat, cairan itu sebagian meleleh-leleh keluar vaginanya karena pria itu masih terus menyodokkan penisnya walau kecepatannya semakin berkurang.

Pak Kadir setelah mencapai orgasme dan menumpahkan spermanya di dalam rahim Tante Lia, rebah di samping nyonya cantik itu. Tante Lia tersenyum nakal meraih penisnya yang sudah menyusut, ia lalu bergerak ke bawah dan mulai menjilatinya membersihkannya dari cairan-cairan yang blepotan di sana. Setelah itu mereka tidur berpelukan sambil bercium-ciuman mesra seperti suami istri saja. Rudi pun menyudahi acara mengintipnya, ia melihat ke bawah sana, tanpa disadari penisnya sudah mengeluarkan sperma yang menyemprot membasahi dinding di bawah jendela kamar Tante Lia

“Ah biarlah, besok juga pasti kering, gak keliatan lagi” pikirnya dalam hati lalu pergi meninggalkan tempat itu tanpa bersuara dengan dada masih berdebar-debar.

Sepulang dari mengintip, Rudi kembali terhenyak dengan pemandangan yang begitu menakjubkan. Di atas ranjang Mbak Dina sedang tertidur pulas, saat itu posisinya telentang dengan selimut tersingkap dan baju tidurnya sedikit terangkat hingga perutnya. Perlahan Rudi mendekati Mbak Dina, matanya mulai menyelusuri lekuk-lekuk tubuh gadis itu dari ujung kaki sampai ke wilayah segitiga kecil yang masih tertutup cd putih, nampak bulu-bulu hitam lebat dari balik bahan kainnya yang tipis.
"hhhmmm....sshhhh" suara napas Rudi yang semakin memburu karena nafsunya sudah di ubun-ubun, dengan perlahan ia memberanikan diri mengelus-elus paha Mbak Dina yang begitu mulus bak pualam
Mbak Dina yang masih tertidur dengan pulas tidak menyadari apa yang sekarang dilakukan oleh si ABG anak jalanan itu,
"hhhmmm....ssssssttt....Mbak seksi banget malam ini" gumam Rudi sambil memainkan jari-jarinya yang berada di paha bagian dalam Mbak Dina.
Walau dalam keadaan tidur Mbak Dina dapat merasakan sentuhan-sentuhan yang di berikan Rudi terhadapnya sehingga ia pun merasa terangsang.

"eeeehhh...oohhkk..." suara-suara desahan mulai keluar dari bibir manis Mbak Dina.
Mendengar suara tersebut Rudi sedikit takut kalau-kalau Mbak Dina sadar apa yang di lakukan olehnya terhadap gadis itu, maka ia pun menarik kembali tangannya untuk melihat reaksi Mbak Dina. Semenit berlalu, Mbak Dina tetap diam tertidur, ia hanya menggeliat sebentar tanpa terbangun. Karena merasa aman Rudi pun kembali melanjutkan aksinya. Perlahan-lahan tangannya mulai mendekati vagina Mbak Dina yang masih terbungkus cd nya, pertama-tama ia menggunakan jari telunjuknya untuk menyentuh daerah sensitif Mbak Dina. Ketika jarinya menyentuh daerah tersebut, Mbak Dina sedikit menggoyangkan kakinya yang disusul dengan desahan.
"Oohhkk...aahhkkk...." suara desahan Mbak Dina semakin keras seiring jari-jari Rudi yang bermain di vagina Mbak Dina yang masih terbungkus celana dalam.
Tiba-tiba Rudi merasa jarinya mulai sedikit basah, dengan perlahan dia menarik tangannya.

"loh... kok jariku jadi basah ya? perasaan tadi jariku kering..hhhmmm....." sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, perlahan dia mencium jarinya, "hhmmm... kok baunya gitu ya... aneh."

Rudi yang masih hijau dalam seks itu sedikit merasa aneh dengan aroma jarinya yang tadi dimain kan di sela-sela vagina Mbak Dina yang masih terbungkus celana dalam. Karena penasarannya belum juga hilang, akhirnya Rudi mencoba untuk menjilat cairan tersebut yang ada di jarinya, dan dia merasakan sedikit asin dan begitu gurih baginya, berkali-kali dia mengemut jarinya. Setelah puas mengemut jarinya Rudi kembali dengan aksinya, perlahan dia mengeluarkan penisnya dari celana boxernya. dan di tempelkan ke vagina Mbak Dina yang masih terbungkus celana dalam, perlahan-lahan ia gesekkan penisnya itu ke belahan vagina Mbak Dina,

"oohh...Mbak enak Mbak...hhhmmm...." cerocos Rudi sambil terus menggesekan penisnya pada wilayah itu.
"AahhKk...aaahhkkk..." desahan Mbak Dina juga mengiringi gesekkan-gesekan kontol Rudi.

Tangan Rudi juga tidak mau diam, perlahan ia menggapai payudara Mbak Dina yang masih terbungkus baju kaosnya, remasan demi remasan dia lancarkan dengan bernafsu namun perlahan agar tidak membangunkannya. Hal ini membuat Mbak Dina semakin mengelinjang, larut dalam birahi, dalam mimpinya ia merasa sedang bermesraan dengan aktor tampan yang diidolakannya. Rudi mengangkat baju Mbak Dina lebih ke atas sehingga nampaklah sepasang payudaranya yang tidak terbungkus bra itu. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke gunung yang sebelah kiri dan lidahnya mulai menjilati putingnya sementara tangan yang satunya meremas payudara yang kanan. Tidak butuh waktu lama kira-kira setelah 15 menit Rudi menggesekan penisnya, tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang mendesak ke lubang kencingnya yang dirasakannya begitu nikmat, sama seperti ketika sedang mengintip Tante Lia dengan Pak Kadir tadi, tapi yang satu ini lebih nikmat, maklum biasanya hanya cuman dengan tangannya.
“Ccrroottt.....Ccrroottss....Ooooohhkk.....ssstttt..." Rudi menahan desahannya agar tidak terlalu keras ketika mencapai orgasmenya dan tidak lama kemudian tubuh Mbak Dina pun mengejang dan....ssssssssseeeeeerrrrr.....ssssseeeerrr........
"Eeeeehhhkkkk...." Mbak Dina juga mendesah mencapai orgasme dari pergesekkan alat kelamin mereka.
Setelah merasa puas Rudi langsung kembali ke kasurnya dengan hati puas namun juga deg-degan dan ada rasa takut, seumur-umur ia belum pernah melakukannya dengan wanita. Ia menoleh ke samping melihat Mbak Dina yang masih terlelap seolah tanpa terganggu apapun. Setelah menenangkan diri, ia pun memejamkan mata dan akhirnya tertidur dengan pulas, tetapi dia lupa sesuatu yaitu membersihkan bekas ejakulasinya yang berserakan ke mana-mana dan sebagian berada di celana dalam Mbak Dina. Entah apa reaksi gadis itu begitu besok terbangun? Apa pula yang sebenarnya terjadi di rumah besar itu?

Entri Populer