Cabung Yuk

Saturday, 15 September 2012

Annisa

 
Tubuh Anissa menjadi gemetar dan panas karena menahan amarah. “Bajingan bejat… tidak tahu diri… Pak Bejo… benar – benar bejat…”

“Bukan bejat, aku hanya mengagumi tubuh molek kalian. Aku sudah merasakan memekmu dan Alya. Tinggal memek Dina dan Lidya yang aku incar, sepertinya masih sempit juga.”

Anis menatap Pak Bejo dengan geram, “Jangan. Pernah. Dekati. Atau. Sakiti. Mereka. Lagi.” Katanya terpatah – patah karena menahan amarah yang menggelegak. Rasa sakit di lehernya juga masih membuatnya tak mampu mengucapkan kata – kata dengan lancar.

Pak Bejo mencibir hina, ia menebaskan abu rokok ke asbak. “maka dari itu, ikuti semua kemauanku, mengerti? Semudah itu saja syaratnya.”



“Mengerti…” desahan lirih penuh kekalahan bercampur geram tertahan keluar dari mulut mungil si cantik itu. Apalagi yang bisa ia lakukan selain menyerahkan tubuhnya pada orang bejat ini? Dia tidak punya pilihan, Anissa benar – benar geram karenanya. Tidak ada pilihan selain memberikan jawaban yang sangat ia benci.

Sebuah jawaban yang akan sangat ia sesali.

###

Hujan yang turun deras disertai guntur di sekitar kampus menjelang sore itu tak membuat Pak Doni beranjak dari mejanya untuk pulang ke rumah. Ia tak mempedulikan guntur yang menderu di luar ruangan dan menyebabkan kacanya sedikit berderak karena bergetar. Sebaliknya, dosen paruh baya itu justru sibuk berkutat dengan skripsi yang dikumpulkan oleh beberapa mahasiswa bimbingannya.

Pak Doni menarik nafas panjang dengan berat, entah mengapa ia tak bersemangat pulang cepat beberapa hari terakhir ini, ia lebih memilih lembur di kantor walaupun alasan lembur itu ia buat – buat sendiri. Terlebih sekali hari ini, ruang dosen yang kaku dan tak bersahabat ini justru membuatnya betah dan ingin berlama – lama. Walaupun barisan teks yang berjajar di buku – buku skripsi bagaikan kumpulan tentara berukuran mini yang menembaki matanya hingga terasa pedih karena terlalu banyak dibaca, namun ia tetap urung pulang ke rumah.

Pak Doni melambaikan lamunannya.

Dia ingin sendiri, ingin disibukkan, ingin bekerja, ingin melakukan sesuatu yang tidak akan mengingatkannya pada hal yang membuatnya gelisah dan merasa bersalah…

Pria setengah baya itu tertegun dalam renungannya.

Benar. Inikah yang dinamakan rasa bersalah? Inikah yang dinamakan pelarian? Apakah pelarian ini bisa menenangkan rasa bersalah yang membuat beban hidupnya sedemikian berat? Ia tahu apa yang ia lakukan beberapa hari yang lalu adalah perbuatan yang salah dan terkutuk. Tak pantas dilakukan oleh seorang guru dengan muridnya, seorang dosen dengan mahasiswinya, seorang pengajar dengan anak didiknya… apa yang telah ia lakukan? Apa sebenarnya yang telah membuat keteguhannya melayang? Kesetiaannya terbuang?

Pintu ruangan diketuk dari luar, membangunkan Pak Doni dari lamunannya yang lelap.

“Permisi. Apa Pak Doni ada di dalam?” terdengar suara dari luar, suara laki – laki. Jika orang ini bisa sampai di depan pintu ruangannya, tentunya satpam sudah mengijinkannya masuk. Ia pun tak curiga. Tapi aneh, kenapa satpam tidak menelponnya dulu untuk memberitahukan kedatangan tamu?

“Masuk saja, pintunya tidak dikunci.” Jawab Pak Doni dengan suara agak keras agar orang yang berada di luar bisa mendengar.

Pintu dibuka dengan sedikit berderak, seorang laki – laki memasuki ruangan. Mata bertemu mata dan dosen itupun terbelalak karena terkejut.

“Kamu!!??” Pak Doni seperti tersengat listrik ribuan watt.

“Saya.” Orang itu adalah Imron, sang penjaga sekolah.

Imron! Orang yang tempo hari memergokinya bercinta dengan Anissa!

Penjaga kampus berwajah buruk itu menebarkan senyuman tipis yang membuat Pak Doni jengah.

Dia memang sudah menduga Imron akan datang kepadanya karena si penjaga kampus itu telah memergokinya menggauli Anis bahkan telah merekamnya! Walaupun begitu ia tetap saja kaget karena tak menyangka si penjaga kampus itu akan menemuinya secepat ini. Dada Pak Doni berdegup kencang melihat senyuman hina dari wajah pria itu.

“Merasa muda kembali setelah kejadian itu, pak dosen yang terhomat?” Imron sengaja memberi tekanan pada kata terhormat untuk membuat Pak Doni makin gerah.

“Apa maumu? Aku sedang sibuk.” Kata Pak Doni ketus. Keringat dingin membasahi seluruh tubuh dosen yang tengah berhadapan dengan Imron itu, dia tahu Dewi Fortuna sedang tidak memihak kepadanya. Keluarganya, istri dan anak – anaknya, orangtuanya, karirnya, segalanya, semuanya bisa lenyap hanya gara – gara kebodohan dan nafsu buta semata. Semua gara – gara dia tak mampu mengendalikan hasrat binatangnya, semua hancur karena dia tergiur kemolekan mahasiswinya yang memang sangat aduhai. Parahnya orang gila bernama Imron ini melihatnya bermain cinta dengan Anis dan semuanya bisa hancur berantakan. Hancur semudah membalikkan telapak tangan.

Kartu as jelas ada di tangan Imron. Pak Doni ingin melihat bagaimana penjaga sekolah ini memainkan kartunya.

“Tidak perlu cemberut seperti itu, Pak Doni. Saya cuma ingin berbincang – bicang sejenak sambil membicarakan sebuah proyek yang sepertinya mau tidak mau akan Pak Doni setujui.” Imron kegirangan melihat Pak Doni mulai gelisah, wajahnya yang sejak tadi menampilkan cengiran penuh kemenangan berubah menjadi wajah serius yang menyeramkan. Ia menatap Pak Doni lekat tanpa rasa takut sedikitpun, “tentu saja Pak Doni harus setuju karena kalau tidak rahasia busuk dosen paling terkemuka di kampus ini akan hancur berantakan.”

“…bajingan kamu, Imron.”

“Cih… ada maling teriak maling.” Imron mencibir, “Kita kembali ke akar permasalahan, Pak Doni. Siapa suruh bapak meniduri Anissa? Siapa suruh bapak meniduri mahasiswi sendiri? Saya tidak pernah meminta bapak melakukannya, kan? BAPAK MELAKUKANNYA DENGAN KESADARAN SENDIRI!!” Penjaga kampus berwajah buruk rupa itu menggebrak meja Pak Doni yang langsung bergetar karena kaget sekaligus takut, wajahnya pucat pasi. “Jangan lupa kalau bapak sendiri yang telah melakukan perbuatan itu tanpa ada paksaan, ingat itu baik – baik! Semua dilakukan dengan kemauan sendiri! Tidak ada yang meminta dan tidak ada yang menyuruh. Jangan sedikitpun berlagak seperti orang suci karena Bapak tidak pernah menolak ketika Anissa datang kesini dan menawarkan tubuhnya! Kalau Bapak memang orang yang tahu diri, ingat keluarga, ingat anak istri… bapak tidak akan pernah mau dirayu gadis itu! Laki – laki macam apa bapak ini… menggauli gadis yang lebih pantas jadi anaknya dan menolak mengakui perbuatannya…”

“… dasar… bajingan…”

“Jangan salah, saya juga tahu logika. Saya tidak akan pernah menyalahkan Pak Doni. Kenapa? Karena saya tahu tidak ada lelaki normal manapun di dunia ini yang sanggup menolak gadis semolek Anissa. Omong – omong, bagaimana rasanya? Pasti enak sekali ya? Paha seputih itu, kulit yang mulus, wajah cantik, tubuh tinggi, susu yang besar… bagaimana memeknya? Masih sempit? Saya sendiri belum pernah mencicipi anak ayam satu itu, mungkin nanti kalau ada waktu…”

“Begitu rupanya. Ini semua pasti sudah kamu rencanakan. Anissa juga jadi pion kamu, kan? Kalian memang berniat menjebakku… apa mau yang kalian inginkan? Apa untungnya ini semua buat kalian?”

“Kalau baru tahu sekarang ini semua jebakan, itu bodoh namanya. Yah, tidak percuma Pak Doni jadi dosen senior karena akhirnya berhasil menebak arah tujuan kita. Kami memang ada tujuan tertentu melakukan semua ini.”

“Baik… baik… BAIK! Kuturuti kemauanmu… bajingan tengik kamu, Imron…” deru nafas Pak Doni menggerus seperti seekor banteng yang hendak melabrak matador yang menggoyangkan kain merah. “Apa maumu? Berapa yang kamu inginkan?”

“Cih… lagi – lagi sikap meremehkan. Aku tahu berapa gaji bapak dan walaupun cukup besar, uang segitu tidaklah cukup untuk tutup mulut.” Imron memajukan tubuhnya, mendekatkan diri dengan Pak Doni yang menahan amarah. “Kampus ini kampus favorit, Pak Doni. Banyak calon mahasiswa yang bersedia mengorbankan apa saja untuk masuk ke sini namun gagal karena ketatnya persaingan dan susahnya tes masuk…”

Pak Doni mengernyitkan dahi, apalagi mau Imron tengik ini? Apa yang sebenarnya dia incar?

“…bayangkan kalau setiap orangtua yang mau memasukkan anaknya ke kampus ini kita tarik bayaran antara empat puluh sampai tujuh puluh juta perkepala untuk memastikan anak mereka bisa menjadi mahasiswa tanpa harus lulus tes tertulis. Kita bahkan akan menyediakan joki resmi sebagai pelengkap administrasi. Dengan mengesampingkan semua birokrasi, anak itu hanya tinggal datang pada saat kuliah dimulai.”

Pak Doni terbelalak saat menyadari apa yang diinginkan oleh Imron. “Gila kamu Imron… kamu… mau jadi calo?”

Imron menebarkan senyum sinis, “Boleh jujur? Aku tidak punya waktu untuk hal semacam itu. Males banget.” Imron duduk dengan santai dan menyilangkan kedua tangan di dada. “Sebetulnya, bukan aku yang akan mengerjakan semua ini, aku bukan tipe orang yang butuh cari uang, yang aku butuhkan gadis – gadis muda yang segar dan seksi.” Imron tertawa terbahak dengan suara yang tidak nyaman didengarkan. “…tapi ada beberapa orang yang aku kenal yang mau masuk ke bisnis ini dan sebagai teman yang baik tugasku adalah menyediakan lahan dan tugas anda, Pak Doni yang terhormat… adalah memastikan kalau segepok uang itu sanggup membawa para pelanggan masuk tanpa halangan ke kampus kita, tentu setelah dikurangi pajak administrasi dari aku dan teman-teman lain.”

“Gila! Aku tidak mungkin melakukannya. Kampus ini kampus terhormat! Di sini punya sistem, tidak punya celah, aku tidak bisa…”

“Aku tidak peduli bagaimana caranya. Bapak kan punya banyak kenalan di bagian akademik dan petinggi kampus, Bapak juga punya banyak uang. Aku akan memberikan sebagian dari pembayaran ‘pelanggan’ kita untuk menambah uang pelicin kalau diperlukan.” Imron semakin mendekatkan wajahnya yang sangat bau. “aku akan tutup mulut tentang perilaku liar Pak Doni kalau proyek kita ini lancar, yang mana tentu saja aku tidak akan ikut campur karena semuanya ada di bawah komando seorang teman. Aku hanyalah seorang pengawas yang menjadi perantara.”

Pak Doni menundukkan kepalanya.

Apa yang harus dilakukannya? Apa yang sebaiknya dia perbuat? Haruskah dia menuruti kemauan orang – orang yang hendak memerasnya ini?

Cukup lama dosen yang cukup disegani di kampus itu terdiam. Wajahnya mengerut karena pikirannya kalut. Imron menunggu dengan santai, ia tahu hasilnya karena ia sudah sering memeras orang. Apapun pilihan Pak Doni, dia akan kalah, Imron yakin sekali.

Dengan lemas Pak Doni mengangguk, sepertinya memang tidak ada pilihan lain, “…kalian menang.”

Imron tertawa menghina, dia berdiri, melenggang keluar sambil terlebih dahulu menepuk pundak Pak Doni dengan kurang ajar. “Prosedurnya kita bicarakan lagi nanti. Terima kasih atas kerjasamanya. Saya tidak sabar lagi memulai proyek kita ini.”

Pak Doni menunduk kalah ketika Imron melangkah keluar dari ruangan sambil bersiul.

###

“Kamu kenapa, sayang?” tanya Dodit saat mobilnya melintas di jalan tol yang lengang.

Tidak ada jawaban. Mulut Anis seperti terkunci dengan rapat, bahkan tipis semburat senyumpun tak nampak. Anissa seperti bukan Anissa, dia seperti batu karang teguh tak tergoyahkan. Mereka baru saja berangkat untuk makan malam di malam minggu pertama yang bisa dilalui bersama setelah beberapa bulan meninggalkan rumah Mas Hendra.

“Anis?”

Masih belum ada jawaban.

Sejak tinggal di rumah Mas Hendra beberapa bulan yang lalu Anissa terlihat berubah, perangainya yang lembut dan ceria kini hilang ditelan sosok pendiam yang menutup diri dan pemarah. Dia jarang sekali tersenyum dan lebih senang melamun. Anissa dan Dodit sendiri sudah cukup lama tidak jalan berdua, calon suami istri ini seperti kehilangan gairah cinta di antara mereka.

“Kemarin aku sudah bertanya kesana kemari tentang jadwal gedung – gedung yang mungkin kosong pada tanggal yang sudah kita rencanakan tahun depan. Ada tiga gedung, hampir semuanya punya biaya sewa mahal, tapi salah satunya ternyata dikelola teman omku, kita bisa menyewanya dengan potongan harga yang lumayan.” Kata Dodit membuka cerita, ia membicarakan rencana pernikahan mereka. “Untuk pre – wedding kita bisa pergi ke studio foto milik Dimas, dia cukup bisa diandalkan. Baik untuk foto maupun pembuatan kartu undangan. Yang masih bikin bingung itu masalah catering dan baju… bagaimana sayang?”

Mendengar pernyataan Dodit itu Anis seperti ingin menangis, ingin berteriak dan ingin melemparkan dirinya ke api. Tahukah kamu, Mas Dodit… kalau kekasihmu ini, kalau wanita yang kami cintai ini… telah menjadi wanita yang sangat kotor? Yang telah bersetubuh tidak hanya dengan Pak Bejo yang sangat menjijikkan itu melainkan juga dengan Pak Doni, dosennya sendiri? Kekasihmu ini sudah tidak pantas lagi mendapatkan cinta sejatimu, Mas Dodit. Sudah tidak pantas lagi memperoleh kasih yang tulus… dia telah kotor… sangat – sangat kotor…

“Aku tidak pantas lagi…”

“Apa maksudmu, sayang?”

Anis mendesah kecewa, pandangannya kembali dilemparkan ke luar, “tidak apa – apa. Lupakan saja. Lupakan…”

Dodit mengernyitkan kening. Ada apa lagi ini?

“Lupakan apa, sayang?”

“Bukan apa – apa. Aku… ceritakan lagi mengenai gedungnya….”

Malam itu berlalu begitu saja dan Anissa masih terdiam seribu bahasa. Bahkan ketika mereka berdua duduk di sebuah kafe sambil menikmati minuman hangat. Sepasang calon pengantin yang biasanya mesra dan saling memuji ini bagaikan kehilangan nyala api mereka. Tidak ada canda, tidak ada kata. Sepi, senyap, kaku dan menjemukan.

“Sebenarnya kamu ini kenapa, Nis? Kenapa diam terus? Ini tidak seperti biasanya…”

Anissa terdiam.

“Apa aku telah melakukan kesalahan? Apa aku membuatmu jengkel?”

Tidak ada jawaban.

“Apa karena aku terlalu sibuk sehingga beberapa hari terakhir ini aku tidak menjemputmu?”

Anissa menggelengkan kepala, suara lirih keluar dari mulut mungilnya. “Tidak ada apa – apa. Aku hanya capek saja. Akhir – akhir ini aku mudah capek. Kita pulang yuk, aku pusing sekali, mau tidur.”

Dodit mendesah kecewa, apa yang terjadi padamu, sayang? Kenapa kamu tidak mau cerita? Adakah sesuatu yang kamu sembunyikan? Tapi Dodit tidak menolak ketika Anissa sudah bangkit dari duduk dan ingin segera pulang. Paling tidak hanya itu yang bisa dilakukannya untuk sang tunangan saat ini, melakukan apa yang diinginkan Anissa tanpa banyak berucap.

###

“Gadis ini berbakat jadi pelacur. Wajah cantiknya seperti tanpa dosa, mana ia juga sangat lembut. Ia penggoda yang hebat tanpa harus mengeluarkan sepatah katapun. Tidak ada laki – laki yang bisa menolak cewek seperti ini. Dia bisa seksi tanpa harus menjadi seksi.” Kata Pak Dahlan memuji kemolekan Anissa. “hebat kamu menemukan barang bagus seperti ini, Bejo.”

Pak Bejo mengangguk – angguk dengan bangga. “Pastinya.”

“Lain kali aku ajak kamu keliling kampus buat belanja barang dagangan baru, Jo. Jadi tidak fokus cuma ke tetangga – tetanggamu saja.” Susul Imron yang langsung disetujui oleh Pak Dahlan dan Pak Kobar. Mulut penjaga kampus itu komat – kamit sibuk mengunyah makanan yang sepertinya sangat lezat. “Tapi yang ada di hapemu itu semuanya memang seksi. Lebih lagi yang namanya Alya dan Lidya…”

“Terima kasih, Bro… tapi saat ini aku cuma pengen kipas – kipas pake duit yang disetor ke kita. Dosen goblok satu itu ternyata menepati janjinya. Kalau begini terus, kita bisa kaya.” Jawab Pak Bejo jumawa.

“He he he, jangan melecehkan institusi kampus, aku kan juga dosen. Tapi Pak Doni itu memang sok alim, giliran dapet anak ayam saja dia jadi penakut. Dia kan sebenarnya ada niat buat mencalonkan diri jadi rektor di tahun mendatang, satu skandal seperti kemarin bakal menghancurkan reputasinya. Tahu rasa dia sekarang, dasar sok alim, sukanya cari muka.” kembali Pak Dahlan pegang peranan menjelaskan. “Aku tahu awalnya kalian meminta aku menjadi orang dalam, tapi bukankah cara seperti ini lebih seru? Lagipula dengan reputasi yang bersih aku bisa mencalonkan diri menjadi rektor di tahun mendatang tanpa gangguan. Posisiku aman, uangpun datang.”

Pak Dahlan menghentikan ucapannya dan segera beralih ke orang – orang di sekitarnya, “Silahkan, silahkan dimakan… perjamuan makan seperti ini konsepnya dari Jepang, kebetulan aku baru belajar dan dengan bantuan salah satu lontenya Imron untuk memasak, kami bisa menyajikannya.” Pak Dahlan mempersilahkan semua yang ada di ruangan itu untuk makan, berbagai macam jenis penganan disajikan di tatakan besar.

Pak Kobar meneguk ludah, “Aku baru tahu ada jamuan makan seperti ini, siapa yang punya ide?” dia mencomot satu makanan berlapis daun. “Ini apa ya? Lemper?”

Pak Dahlan tergelak, “jamuan makan seperti ini ideku, dan yang anda makan itu namanya Makizushi, bisa dibilang semacam lemper Jepang.”

“Aneh – aneh aja, lemper ya lemper bukan mitsubishi. Aku sih tidak peduli lempernya, aku peduli sama tatakannya ini…” kata Pak Kobar mengedipkan mata sambil mencolek tatakan makanan yang ia maksud.

Terdengar suara erangan.

Pak Bejo dan Pak Dahlan tertawa, sementara Imron berusaha menahan tawa karena masih mengunyah makanan.

“Lemper yang ini rasanya manis.” Kata Pak Kobar lagi setelah mencicipi makanan yang ia ambil, “ambil lagi boleh, kan?”

Pak Dahlan mengangguk – angguk sembari juga menjumput satu penganan, “silahkan pak, silahkan…”

Ketika mengambil sekali lagi, secara sengaja… atau mungkin juga tidak, makanan yang diambil Pak Kobar jatuh ke tatakan. “Aduh… cerobohnya aku. Makanan enak sebaiknya jangan disia – siakan!” Pak Kobar memajukan kepalanya dan memakan apa yang tadi jatuh langsung di tatakan! Mulutnya mengunyah dan menjilat di tatakan itu.

Saat lidah Pak Kobar menjilat, tatakan itupun bergetar.

Bukannya jijik, bapak – bapak itu justru tertawa bersamaan.

Bibir Pak Kobar tidak berhenti begitu saja, ia masih terus menjilat dan mencium, sementara tatakannya juga tidak berhenti bergetar.

Kenapa bisa demikian?

Wajar saja, karena apa yang disebut tatakan itu sebenarnya adalah Anissa! Gadis malang itu berbaring telanjang dengan bagian mata ditutup handuk yang dilipat, tubuhnya yang indah dihidangkan tepat di muka Pak Dahlan, Pak Bejo, Imron dan Pak Kobar yang duduk bersila. Di atas tubuh Anis dihidangkan makanan – makanan kecil, ada yang makanan asli lokal, ada yang ala Jepang. Selama makanan dihidangkan dan belum habis, Anissa harus diam saja terbaring mematung tanpa boleh bergerak sedikitpun.

“Konsep jamuan makan menggunakan tatakan hidangan cewek telanjang seperti ini namanya nyotaimori dan asalnya dari Jepang,” kata Pak Dahlan. “Agar bisa menghidangkan makanan di atas tubuh cewek telanjang seperti ini, tubuh si cewek harus benar – benar bersih. Dimandikan dengan sabun khusus yang memiliki aroma wangi spesial agar membangkitkan selera. Itu sebabnya si Anis ini tadi sudah saya minta mandi sampai bersih. Tentu saja, Pak Bejo yang memandikannya.”

Pak Bejo terkekeh sementara Pak Kobar tidak peduli apa yang dikatakan oleh Pak Dahlan, ia terus saja menjilati perut Anis, pemilik hotel melati tempat mereka berkumpul saat ini itu mengincar buah dada sang dara jelita. Namun rupanya Imron jauh lebih cepat, dengan cekatan penjaga kampus itu mengambil makanan yang mirip lemper yang diletakkan di atas buah dada Anissa. Geliat lidah Imron yang menyusuri lekuk dada membulat milik Anissa membuat si cantik itu menggelinjang tak henti, antara geli dan jijik. Ia mengeluarkan desahan dan erangan.

Walaupun mata si cantik itu ditutup oleh handuk, namun Pak Bejo bisa melihat air mata menetes di pipi Anissa. Ia hanya tertawa, “eh, kalau jadi tatakan kamu tidak boleh menangis. Lagipula kamu kan tidak diapa – apain.”

“Jangan lama – lama ya kalian, kalau makanannya sudah habis aku mau mencicipi tatakannya.” Kata Pak Dahlan. “Aku sudah mengeluarkan uang buat mempersiapkan jamuan ini, jadi pantas kalau aku duluan yang pakai hari ini.”

Pak Kobar mengerang kecewa karena sebenarnya dia berharap bisa memakai Anissa.

Pak Dahlan tertawa nakal, dia memberi tanda dengan menyilangkan telunjuk secara vertikal di depan mulut pada Imron dan Pak Kobar agar mereka tidak mempermasalahkan siapa yang akan memakai Anissa hari ini. Imron geleng – geleng kepala, “dasar otak kontol. Tidak bisa lihat barang bagus nganggur sebentar saja.”

Mendengar apa yang akan terjadi pada dirinya sebentar lagi, lelehan tangis Anissa makin deras turun meski tidak sampai bersuara. Tubuhnya menggigil saat ia senggugukan.

Imron memberi tanda pada Pak Bejo yang langsung berbisik pada Anis. “Kalau kamu tidak diam, kami yang ada di sini akan langsung memperkosamu beramai – ramai sampai pagi. Kalau kamu tidak mau itu terjadi biar kami selesaikan makan dengan tenang dan nanti kamu hanya perlu melayani Pak Dahlan. Mengerti?”

Anissa mengangguk karena ketakutan.

“Ayo kita lanjutkan pestanya!” teriak Pak Bejo dengan senang. Iapun mengambil kesempatan untuk mencium bibir Anissa yang tengah merekah. Bibir mereka bertemu dan bertumbuk, bibir tebal milik seorang pria berusia lanjut dengan seorang gadis muda yang sangat seksi.

Lidah Pak Bejo menggeliat cepat di antara struktur manis bibir Anis, menjelajahi dan mengelilinginya. Membuat si cantik itu menggelinjang karena selain dicium begitu nafsu oleh Pak Bejo, Imron tengah menjelajahi buah dadanya sementara perutnya menjadi bagian dari serangan Pak Kobar.

Pak Dahlan sendiri tidak ikut menyerang karena setelah ini, dialah yang akan meniduri Anissa. Dia menyimpan tenaganya.

Anissa hanya bisa diam dan pasrah membiarkan para pria tua ini menjilati tubuhnya beramai – ramai. Ia teringat wajah Dodit yang kecewa kemarin, wajah orangtuanya, wajah Pak Doni… mengapa dia sampai jatuh ke perangkap Pak Bejo seperti ini?

Kenapa dia setuju mengikuti semua perintahnya?

Anissa kembali melelehkan air mata.

###

Sepeninggal Pak Dahlan dan Anissa yang masuk ke kamar berdua, Imron, Pak Kobar dan Pak Bejo melanjutkan bersenda gurau. Setelah cukup lama berbincang – bincang, tiba – tiba telepon genggam Pak Kobar berdering nyaring.

“Halo? Ya, aku masih di motel. Kamu mau kesini? Boleh, ya kesini saja.” Pak Kobar menutup hape dan kembali mengantonginya, “Keponakanku. Minta duit buat pinjem bokep di rental, aku suruh kesini saja.” Kata Pak Kobar. “Walaupun sudah sering ngewe tapi ponakanku ini masih malu – malu kucing, kucingnya ya kucing garong, dibilang malu tapi suka nyolong. Daripada belajar dari bokep, mending kita kasih dia pertunjukan langsungnya.”

Pak Bejo dan Imron tertawa bersama.

Tak sampai lima menit kemudian terdengar ketukan di pintu, ketika Pak Kobar membukanya masuklah seorang pemuda. Kulitnya gelap dan wajahnya jauh dari tampan. Rambutnya yang keriting tak terawat membuatnya makin terlihat kumal. Usianya sebenarnya baru menjelang 20, tapi wajahnya terlihat lebih tua dari itu.

“Ini keponakan saya, Bahrudin, tapi panggilannya Udin.” Kata Pak Kobar.

Pemuda yang berpenampilan kusut dengan rambut semrawut itu segera menyalami kedua orang yang ada di hadapan Pak Kobar. Sambil menunjuk, Pak Kobar mengenalkan mereka, “yang ini Imron, yang itu Pak Bejo. Mereka berdua kawan bisnisku.”

“Selamat datang, Din.” Kata Imron sambil memberi salam.

“Salam kenal, santai saja di sini.” Kata Bejo.

“Rasanya wajahmu nggak asing, Din?” tanya Imron. “kamu kuliah di Universitas X?”

“Betul. Saya kuliah di sana di Fakultas X.”

“Ooo, pantes aja kok aku sepertinya pernah lihat.” Lanjut Imron. “Dunia memang sempit. Aku penjaga kampus itu, tapi lebih sering berkeliaran di Fakultas XX.”

“Oooh, itu sebabnya tadi wajah Om Imron tidak asing.” Kata Udin sambil cengar cengir.

“Ayo duduk sini, itu ada bir atau kalau tidak minum bir, di sana ada teh botol.” kata Pak Bejo sambil menunjuk ke arah meja sajian. “Kamu sedikit terlambat, tadi di sini ada sajian spesial.” Katanya sambil tersenyum lebar.

“Iya, Pak.” Udin mengangguk sopan dan duduk di samping Pak Kobar.

“Gimana, Din? Kamu nggak jadi pinjem bokep ke rental?” tanya Pak Kobar yang disambut gelak tawa Imron dan Pak Bejo. “Di sini saja banyak live show, kenapa harus pinjem di rental?”

“Itulah, Pakde.” Kata Udin ikut tergelak, “saya jadi tertarik waktu tadi Pakde bilang ada live show. Memangnya live show macam apa?”

“Pakdemu itu kan orang kreatif, Din.” Timpal Imron, “begitu punya duit, dia langsung pasang CCTV di semua sudut kamar, hasilnya kalau ada pasangan ngewe, pakdemu ini dapat tontonan gratis. Kalau kamu mau lihat, bisa nonton di TV yang ada di kamar pojok. Aku yang bantuin masang kabel CCTVnya tempo hari.”

“Oooo, gitu. Wah menarik sekali, saya boleh lihat dong, Pakde?”

“Boleh aja, mau langsung sekarang?” tanya Pak Kobar, melihat anggukan Udin, iapun geleng – geleng sambil tersenyum lebar. “Dasar anak jaman sekarang, otak gak jauh dari selangkangan. Pak Bejo mau ke belakang? Sekalian tolong anterin ya si Udin ya?”

“Oke.” Pak Bejo yang sedikit mabuk karena kebanyakan minum bir berdiri sempoyongan. Ia harus menjejakkan kaki beberapa kali untuk bisa berdiri tegak. Setelah yakin bisa berdiri, pria tua itu merangkul Udin tanpa lupa menarik satu botol minuman keras. Mulutnya yang bau bir membuat Udin agak sedikit jengah namun dia tetap tersenyum, jangan sampai gagal nonton live show nih!

Sembari berangkulan Pak Bejo dan Udin berjalan keluar ruangan penjaga motel dan berjalan menuju sebuah kamar kecil di pojok. Kamar itu sebenarnya disediakan Pak Kobar untuk karyawannya yang mau tidur usai jaga malam, tapi hari ini kamar itu sepi karena Pak Kobar meliburkan karyawannya berkaitan dengan jamuan makan spesial bersama Pak Dahlan, Pak Bejo dan Imron.

Masuk ke ruangan, Udin mengajak Pak Bejo untuk menonton bersama namun orang tua itu menolak, karena mabuk gelengan kepalanya lebih kencang dari seharusnya.

“Tidak usah, aku mau ke belakang dan tidur setelah ini. Kamu nonton saja di situ, gambarnya lumayan jelas. Aku juga sering nonton kalau lagi ada pasangan ngewe.” Kata Pak Bejo sambil menyalakan layar CCTV, suara desahan terdengar cukup keras ketika suara dikencangkan. Pak Bejo tergelak ketawa, “Itu Pak Dahlan sedang ngentotin kembang baruku, masih muda dan cantik. Kamu kenal Pak Dahlan kan?”

“Tahu, Pak. Dosen di Universitas X. Saya kan juga kuliah di sana, cuma beda jurusan. Pakde Kobar yang cerita.”

“Iya betul. Ya sudah, nonton saja.”

“Iya, Pak. Terima kasih.”

“Aku tinggal dulu ya,” kata Pak Bejo sambil menenggak birnya sekali lagi.

“Iya Pak.”

Udin mengeluskan telapak tangannya mengusir dingin, ini nih! Nonton live show! Seru!

Layar CCTV itu berwarna dan memiliki suara yang jernih walaupun hanya bisa ditonton melalui sebuah tv berukuran 14”, tapi bagi Udin semua jadi serasa high-def karena dia ingin sekali menyaksikan live show seks semacam ini. Udin cekikikan melihat di layar ada seorang pria yang sudah berumur menggumuli seorang gadis yang sepertinya cukup cantik dan muda belia.

Ya, gadis itu sangat cantik. Terlalu cantik malah untuk pria seperti Pak Dahlan, wajahnya yang cantik itu…

Udin memicingkan matanya, kenapa kok rasanya dia mengenal gadis itu ya? Pernah lihat dimana ya? Seperti…

Udin terbelalak kaget!

ITU KAN ANISSA??!!

Lampunya redup, tapi Udin bisa melihat dengan jelas. Gadis yang sangat ia kenal, yang pernah mengisi relung hatinya, yang membuatnya tak bisa tidur siang malam, yang ia inginkan seumur hidup, yang ingin ia jadikan ibu dari anak – anaknya, gadis yang ia cintai… bagaimana mungkin gadis itu sekarang berada di sana sedang bergumul tanpa busana dengan Pak Dahlan?!

Tak salah lagi, ia hapal benar wajah dan lekuk tubuh Anis! Benar itu Anissa! Anissa ada di sana! Terbaring telanjang di samping Pak Dahlan, salah seorang dosen Universitas X. Tangan Anis bergerak lincah menyusuri penis Pak Dahlan dan mengocoknya pelan sementara dosen itu memainkan payudara Anissa dengan bebas.

Udin benar – benar terkejut, dia tak mampu menggerakkan badan sedikitpun.

Bangsat tua itu!! Apa ia lakukan pada Anissa?!

Namun Udin perlahan menyadari, Anissa tidak seperti terpaksa melakukan ini semua, dia diam saja dan menerima perlakuan Pak Dahlan dengan pasrah, bahkan terkadang membalas perlakukan pria tua itu dengan lembut.

Apakah… apakah Anis sebenarnya adalah seorang pelacur?

Tidak mungkin.

Tidak mungkin…

Tidak mungkin!

Tidak mungkin itu Anissa?!!!

Walaupun besar keinginan Udin untuk mengingkari perasaannya bahwa gadis yang tengah bergumul dan berpagutan dengan Pak Dahlan di ruangan itu adalah Anissa, namun setelah detik demi detik berlalu untuk memastikan gerak tubuh yang sangat ia hapal itu memang benar yang ia kenal, Udin semakin dihadapkan pada kenyataan bahwa gadis itu memang benar Anissa.

Jemari Pak Dahlan terus saja memainkan puting susu Anissa dengan bebasnya, gadis itu menggelinjang karena rangsangan yang terus ia terima. Pak Dahlan tak berlama – lama di sana, tangan dosen tua itu akhirnya sampai di bibir kemaluan Anis.

“Ja, jangan, Pak…” protes si cantik itu ketakutan.

Pak Dahlan tentunya tidak mau berhenti begitu saja, jari tengahnya dengan lembut mengelus ujung kelentit Anissa.

“Sa, saya puaskan cuma pakai tangan saja boleh, Pak?” Anis masih terdengar takut.

“Aku mau merasakan memekmu.” Tangan dosen itu menangkup kemaluan Anis yang merekah merah dengan malu.

Anissa mendesah ketika jemari Pak Dahlan makin nakal, membuat si cantik itu mau tak mau membuka jenjang kakinya lebar. Salah satu tangan Anis mencoba menahan jemari Pak Dahlan agar tidak terus menerus menggoyang kelentitnya yang makin membuat Anissa gila.

“Ja, jangan… pak…”

Pak Dahlan tidak menjawab, bibirnyalah yang bergerak maju untuk mencium bibir mungil Anis. Udin tidak bisa mendengar bunyi ciuman mereka dari tempat ia menonton, tapi ia seakan bisa mendengar kecupan yang berkecipak cukup keras, basah dan lengket. Jelas mereka melakukannya dengan mulut yang terbuka. Tangan Pak Dahlan makin maju, kini masuk ke dalam liang cinta Anis dan bergerak memutar di dalam. Pemandangan ini, suara desahan yang kian lama terdengar makin keras dari keduanya, membuat Udin makin panas, ia tak bisa bergerak sedikitpun.

Udin bersumpah ia bisa melihat jempol Pak Dahlan bergerak untuk menstimulasi kelentit Anis menggantikan jari tengahnya yang kini masuk ke dalam memek Anissa menemani jari telunjuknya. Kaki Anissa yang jenjang ditekuk lututnya ke kanan dan kiri untuk memudahkan Pak Dahlan bermain. Bahkan pantat Anis pun kini bergerak seiring dengan gerakan jemari nakal Pak Dahlan. Udin bahkan bisa melihat saat Pak Dahlan membuka bibir kemaluan si cantik itu lebar – lebar untuk memperlihatkan bagian dalam liang yang berwarna merah muda. Udin gemetar, itu adalah bibir kemaluan gadis yang ia cintai!

Detak jantung Udin makin lama makin keras, ia tidak tau apakah sebaiknya menangis atau berteriak. Ia tidak rela Anissa diperlakukan seperti ini, namun ia juga tak bisa mengingkari kalau pemandangan ini membuatnya terangsang hebat. Udin hanya bisa terpaku karena tak percaya apa yang ia lihat, ia bahkan tak percaya ia masih bisa bernafas setelah melihat semua ini.

Tangan Pak Dahlan kini bergerak dari bawah ke atas kembali, mengincar buah dada sempurna milik Anis, ia meremas – remas kenyal payudara itu dan memilin pentilnya yang mungil. Ia tak lama melakukannya karena kemudian salah satu tangannya segera membimbing penisnya yang sudah mengeras ke bibir kemaluan Anissa. Udin bisa melihat kalau Anis ketakutan melihat penis itu mulai bergerak tanpa henti di mulut vaginanya, benar saja, dengan satu sodokan tanpa aba – aba Pak Dahlan melesakkan kontolnya ke dalam memek Anissa, membelahnya tanpa ampun, Anis hanya bisa menjerit karena sakit. Udin gemetar karena marah dan cemburu, pria itu tak pantas menyetubuhi Anis! Ia tak rela penis Pak Dahlan masuk ke dalam vagina Anissa yang ia cintai! Tapi… tapi pemandangan ini membuatnya… sangat panas… emosi dan nafsu Udin berbaur menjadi satu menimbulkan percikan perasaan yang tak bisa ia gambarkan.

Bibir kemaluan Anissa merekah menyambut penis Pak Dahlan yang keluar masuk tanpa ampun, bergerak cepat penuh tuntutan. Tubuh Udin gemetar antara tak tega melihat Anis diperlakukan seperti itu dan nafsu birahi binatang yang menggelegak dalam tubuhnya. Gadis yang cantik itu, yang jadi pujaan di kampus, yang telah bertunangan dengan seorang pria yang baik, sedang digauli oleh seorang serigala tua yang buas. Udin masih terus menatap tak percaya.

Ujung gundul penis Pak Dahlan menumbuk Anissa seperti pejuang yang hendak meruntuhkan tembok pertahanan musuh, cepat dan keras, tubuh Anis berulangkali terlonjak antara rasa sakit dan desakan yang sangat keras dari bawah. Udin sadar tak ada gunanya ia memprotes apa yang terjadi. Dalam alam bawah sadarnya ia ingin ini terjadi, ia ingin Anissa yang telah menolaknya itu dihakimi dan direndahkan seperti ini. Namun kecipak ciuman yang terjadi antara dosen dan mahasiswi dengan rentang usia jauh itu membuat Udin sakit hati.

Kenapa bukan dia yang ada di sana memeluk sang buah hati?

Kenapa bukan dia yang ada di sana mencium Anissa?

“Kamu manis sekali.” kata Pak Dahlan yang masih memeluk Anis.

Pak Dahlan mencium bibir Anis sekali lagi dan membisikkan beberapa kata yang terlalu pelan bagi Udin untuk bisa mendengarkannya. Tapi ia bisa melihat dengan jelas penis Pak Dahlan masih terus keluar masuk, menguasai vagina Anissa.

Yang bisa didengarkan Udin adalah suara erangan penuh nafsu yang dikeluarkan dari mulut manis Anissa. Gadis itu mendesah, mengembik dan mengerang ketika penis lelaki tua yang pantas menjadi ayahnya itu menguasai liang cintanya yang mungil.

Air mata hampir menetes di pelupuk mata Udin.

Sudah cukup. Sepertinya itu semua sudah cukup, batin Udin sambil berdiri dan mematikan TV. Ia tidak butuh melihat ini lebih lama lagi. Ia berhenti bukan karena ia tidak ingin melihat kemolekan Anissa, ia berhenti karena tidak kuat menahan gejolak cemburu dan nafsu yang terus menggelegak dan memangsanya dari dalam. Dengan pilu Udin meninggalkan tempatnya menonton. Pedih rasanya melihat Anissa seperti itu. Kenapa, Nis? Kenapa kamu lakukan ini? Kenapa kamu jatuh ke dalam situsasi hina seperti itu? Apa yang telah terjadi?

Tangan pemuda itu terkepal dan nafasnya menjadi tak teratur.

Ya. Udin tahu apa yang ia inginkan.

Bukan. Ia tidak menginginkan jawaban kenapa Anissa berbuat demikian.

Yang ia inginkan adalah Anissa. Ia ingin tubuh indah itu jadi miliknya.

Ketika ia kembali ke ruangan tempat Pak Kobar, Pak Bejo dan Imron berada, mereka masih saja bersenda gurau dan bermabuk-mabukan. Udin menolak tawaran bir, duduk di pojok dan langsung memeras otak. Besok dia harus bicara dari hati ke hati dengan Anissa.

Oh ya, hati – hatilah Anissa.

Udin yang baru telah datang.

…dan kamu akan membayar mahal atas semua ini.

No comments:

Post a Comment

Recent In Internet

Raja

Breaking

Entri Populer