Cabung Yuk

Friday, 14 September 2012

Audrey 3

Tidak terasa sudah 3 minggu berlalu semenjak kejadian di puncak. Selama tiga minggu itu tidak ada apapun yang terjadi. Aku dan istriku Audrey masih menuruti instruksi yang diberikan Wen sebelum kami pulang dari puncak, namun tidak ada tanda-tanda Wen akan meneruskan aksinya terhadap Audrey. Di kantor tempatku bekerja Wen tidak pernah membicarakan kejadian di puncak itu, dia bertindak seolah-olah kejadian di puncak tidak pernah terjadi dan akupun bekerja seperti biasa yaitu membantu Wen dalam manajemen kantor sehari-hari, meskipun semenjak kejadian 3 minggu lalu itu aku dan Wen menjadi tidak akrab seperti biasanya. Kami jarang mengobrol satu sama lain, adapun apabila harus berbicara dengan Wen hanyalah sebatas pembicaraan yang terkait dengan pekerjaan. Selama tiga minggu itu, Audrey tidak pernah keluar rumah. Bel kecil di bibir atas vaginanya dan larangan memakai BH dan celana dalam membuatnya risih untuk keluar rumah. Setiap Audrey melangkah pasti terdengar bel kecil itu berbunyi pelan. Mungkin pembantu-pembantu dan supir di rumah sebenarnya mendengar dentingan bel kecil itu, hal itu terlihat di raut wajah mereka ketika Audrey ada di sekitar mereka. Raut wajah mereka menampakkan kebingungan dan kecurigaan karena mendengar bunyi bel kecil dari dalam rok majikan perempuannya, namun mereka tidak ada yang berani bertanya ataupun berkata apa-apa.



Di rumahku aku dan Audrey mempekerjakan 2 pembantu wanita, 1 pembantu pria dan seorang supir. Salah satu pembantu wanita kami yang biasa kami panggil bi Minah seorang wanita tua yang bertugas memasak dan mencuci pakaian. Satu pembantu wanita kami yang lain bernama panggilan Mar seorang wanita muda berumur 18 tahunan yang bertugas membersihkan rumah, sedangkan pembantu pria dan supir kami masing-masing bernama Sudin dan Amir. Keduanya berumur sekitar 50 tahunan dan berkulit sangat hitam tanda seringnya terkena terik sinar matahari. Pembantu-pembantu dan supir di rumah terlihat menyadari perubahan pada diri Audrey, terutama Sudin dan Amir. Mereka sering terlihat memandangi istriku di rumah, meskipun setiap kali aku melihatnya mereka memalingkan muka dan pura-pura sedang tidak memandangi Audrey. Audrey di rumah tidak pernah lagi memakai BH dan celana dalam, hal itu sesuai dengan instruksi Wen. Ada rasa kekuatiran bahwa pembantu dan supir di rumah mengetahui hal itu, apalagi setelah melihat akhir-akhir ini Sudin dan Amir sering memandangi istriku dengan tatapan yang lain, sedikit mesum terpancar di muka mereka yang hitam itu. Tidak terasa sudah 3 minggu berlalu semenjak kejadian di puncak…, ketika pada suatu malam telepon kami berdering. Audrey mengangkat telepon dan terlihat berbicara dengan serius dengan orang di seberang telepon itu. Setelah 10 menit berbicara, Audrey menutup telepon dan dengan muka pucat menghampiriku. Audrey menceritakan bahwa yang menelepon barusan adalah Wen. Wen akan datang ke rumah besok siang dan memerintahkan istriku untuk mempersiapkan diri…



*******************************



Bagian II: Pelecehan di Rumah





Mr. Wen Keesokan harinya, aku ke kantor seperti biasanya, karena ketika Wen menelepon Audrey tadi malam, Wen tidak menginstruksikan apa-apa yang berkaitan dengan diriku. Hari itu di kantor Wen memberikanku banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Terus terang aku tidak bisa konsentrasi di kantor. Perasaanku campur aduk mengingat telepon Wen pada istriku tadi malam, namun Wen tidak mengatakan apapun kepadaku tentang janjinya dengan Audrey siang ini. Wen memperlakukanku seolah-olah aku tidak mengetahui rencananya siang ini dengan Audrey. Menjelang istirahat makan siang, aku melihat Wen meninggalkan kantor. Melihat itu hatiku semakin campur aduk. Aku bisa menebak Wen akan pergi kemana, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di kantor. Aku semakin tidak bisa konsentrasi dan pikiranku semakin kacau ketika jam sudah menunjukkan pukul 3 sore dan belum ada tanda-tanda Wen kembali ke kantor. Akhirnya aku memutuskan untuk menelepon Hp Audrey. “Tuut…tuut…tuut…” bunyi nada panggil di Hp Audrey tidak ada yang mengangkat. Setelah beberapa detik kemudian baru ada yang mengangkat, dan yang mengangkat adalah Wen.



“Tom, tenang saja, Audrey tidak apa-apa, kamu tidak perlu kuatir” suara Wen terdengar seakan-akan dia tahu kekuatiranku.



“Kamu tolong selesaikan dulu pekerjaan-pekerjaan yang saya kasih hari ini” perintah Wen kemudian lalu menutup Hp itu.



Perasaanku semakin kacau balau karena mengetahui ternyata Wen masih berada di rumahku, apalagi secara sayup-sayup aku mendengar erangan-erangan istriku di latar belakang suara Wen di HP. Dengan perasaan kalut akupun berusaha dengan cepat mengerjakan semua pekerjaan yang diberikan Wen kepadaku. Namun karena banyaknya pekerjaan yang diberikan Wen, aku baru bisa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tersebut kurang lebih pukul 7 malam. Begitu semua pekerjaan selesai, akupun segera pulang ke rumah. Di jalan, Amir supirku aku suruh mengendarai mobil dengan cepat sehingga aku dapat sampai ke rumah dengan segera.



Sesampainya di rumah, aku melihat mobil Wen masih berada di drive way rumahku. Aku sempat mendengar Amir supirku mengatakan “Kok ada mobil Pak Wen?”, namun aku tidak menjawab atau memperhatikan kata-kata supirku lagi, aku langsung keluar mobil dan masuk rumah dari pintu samping. Di dalam rumah, aku tidak melihat istriku atau Wen di ruang tamu maupun di ruang tengah. Akupun langsung naik ke lantai atas menuju kamar tidur utama rumahku. Pintu kamar utama ternyata terkunci dari dalam. Aku mengetuknya pelan beberapa kali sambil memanggil-manggil nama Audrey. Setelah beberapa menit, pintu kamar itu terbuka. Ternyata yang membukakan pintu adalah Wen. Kemudian Wen mempersilahkan aku masuk ke dalam kamarku sendiri tersebut. Ternyata di dalam kamar sudah ada satu lagi pria yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Wen memperkenalkan aku dengan pria tersebut yang ternyata adalah anaknya Wen. Namanya Peter, umurnya kurang lebih 20 tahun, badannya kekar tanda dia sering pergi ke fitness center dan matanya sipit seperti bapaknya. Aku belum pernah melihat Peter sebelumnya, karena Wen memang selalu tidak pernah mengajak keluarganya dalam acara-acara kantor. Aku hanya pernah mendengar bahwa Wen adalah seorang duda dengan satu orang anak. Aku mengira bahwa selama ini anaknya Wen berada di Cina, ternyata dugaanku meleset, karena sekarang berdiri di hadapanku, Peter anaknya Wen yang nampak sekali sudah cukup lama berada di Jakarta bersama bapaknya, hal itu dapat dilihat dari betapa fasihnya Peter dalam berbahasa Indonesia. Baik Wen dan Peter sudah berpakaian lengkap, hanya kaus kaki dan sepatu saja yang belum mereka kenakan. Pertama kali melihatku, Peter terlihat canggung dan merasa tidak enak.



“Ter, seperti sudah papa katakan kepadamu, Audrey itu sudah mempunyai suami, dan suaminya telah setuju bahwa kita boleh melakukan apa saja terhadap istrinya. Terbukti kan papa tidak bohong” kata Wen tiba-tiba kepada Peter karena melihat kecanggungan Peter di hadapanku.





Peter

“Sekarang kamu nikmati saja malam ini. Papa ada tontonan menarik buatmu” sambung Wen kepada Peter yang membuat jantungku semakin berdegup kencang. Peter yang diajak bicara tidak menjawab, dia hanya mengangguk-angguk pelan.



“Tontonan? Apalagi ini yang akan diperbuat Wen kepada istriku” pikirku kalut dalam hati.



Setelah beberapa menit baru aku bisa menenangkan diri, dan aku baru menyadari bahwa Audrey tidak berada di kamar itu. Rupanya Audrey sedang di kamar mandi untuk membersihkan diri, hal itu aku ketahui dari bunyi shower di kamar mandi yang memang berada di kamar itu. Aku, Peter dan Wen tidak berbicara apapun lagi, kami hanya menunggu Audrey di kamar mandi. Aku merasa canggung berada dengan 2 pria lain di kamarku sendiri. Peter juga terlihat canggung, dia hanya terlihat beberapa kali berbisik kepada Wen. Setelah beberapa menit, Audrey keluar dari kamar mandi. Audrey hanya menggunakan handuk melilit di tubuhnya. Audrey terlihat sedikit terkejut ketika dia mengetahui aku sudah berada di kamar. Mukanya terlihat malu.



“Audrey segera siap-siap sesuai perintahku” kata Wen kepada Audrey memecah keheningan kamar. Audrey hanya menggangguk menurut.



Melihat anggukan Audrey, Wen kemudian melangkah keluar kamar sambil menyuruhku dan Peter mengikutinya. Kami pun keluar dari kamar tidur utama meninggalkan Audrey sendiri dan kami menuju ruang TV di lantai bawah. Sesampainya di ruang TV, Wen menyuruh Peter dan aku meminggirkan meja di ruang TV sehingga hanya tinggal sofa dan karpet di ruang TV itu. Wen dan Peter duduk di sofa panjang sedangkan aku diminta duduk di sofa kecil di ruang TV. Setelah kurang lebih 15 menit kemudian, nampak Audrey turun dari lantai atas. Audrey sudah mengenakan make-up dengan rambut tertata rapi, namun Audrey tidak mengenakan pakaian apapun juga. Audrey turun ke ruang TV dalam keadaan telanjang bulat, di vaginanya yang bersih terlihat cincin emas dan bel kecil masih tergantung. Terus terang Audrey terlihat sangat cantik sekali dengan kepolosannya itu yang membuat penisku segera mengencang.



Sesampainya di ruang TV, Audrey langsung berdiri di tengah ruangan menghadap ke arah Wen dan Peter. Terlihat Audrey sedikit malu karena melihat kehadiranku diruang TV itu.



“Nah, Audrey, setelah saya dan anakku ini menikmati tubuhmu dari siang, sekarang saya ingin melihat apakah kamu sudah siap untuk benar-benar menjadi budak seksku” kata Wen tiba-tiba kepada Audrey.



Audrey yang ditanya hanya mengangguk pelan.



“Sekarang kamu panggil pembantu laki-laki dan supirmu kesini” perintah Wen kepada Audrey.



“Ter, kamu juga panggil si Kisno kesini” perintah Wen kepada Peter sambil menunjuk ke arah luar rumah menandakan Peter harus memanggil Kisno supir pribadi Wen yang menunggu diluar.



Mendengar apa yang dikatakan Wen, Audrey dan aku sangat kaget. Kami tidak percaya dengan apa yang baru kami dengar.



“Maaf Pak Wen, kelihatannya jangan sejauh itu” kataku kepada Wen.



“Ya terserah kamu Tom, tapi jangan salahkan saya kalau dvd rekaman persetubuhan Audrey tersiar luas di internet atau bahkan sampai ke tangan orang tua Audrey” jawab Wen kalem.



Aku tidak bisa menjawab, aku hanya bisa memandang Audrey untuk menanyakan pendapatnya. Audrey hanya diam saja, air mata menetes di kedua pipinya.



“Bagaimana? Ini terserah kalian” sahut Wen kepadaku dan Audrey sambil memberi isyarat kepada Peter untuk bangkit dari sofa.



Melihat Wen dan Peter bangkit dari sofa, Audrey segera berlutut dan meraih paha Wen.



“Ampuun Pak Wen, saya akan lakukan apa saja, asal jangan dengan pembantu atau supir…malu saya…” tangis Audrey mengiba kepada Wen.



Sudin

“Aaahh…kamu itu budak seksku, kamu harus menurut apapun yang saya suruh tahu! Lagian pembantu-pembantumu pasti sudah curiga, dari tadi siang saya ada di dalam kamarmu. Apa lagi yang kamu harus sembunyikan” hardik Wen kepada Audrey.



“Saya hitung sampai 10, apabila tetap tidak mau, saya akan pergi dari rumahmu sekarang juga, tapi jangan salahkan saya kalau rekaman persetubuhanmu sampai ke tangan orang tuamu” lanjut Wen tegas.



“1…..2……3……4…….5…….6……7…..” hitungan Wen dimulai.



Pada hitungan ke delapan, Audrey bangkit dari posisi berlutut. Dengan gemetar dan isak tangis Audrey menuju interkom yang berada di dinding ruang TV.



“Pak Sudin….Pak Amir…” suara Audrey bergetar memanggil pembantu laki-laki dan supirku.



“Ya bu..” terdengar jawaban Sudin dari seberang interkom.



“Tolong Pak Sudin dan Pak Amir ke ruang TV” lanjut Audrey masih dengan suara bergetar menahan tangis.



“Baik bu” jawab Sudin kemudian.



Mendengar itu, Wen segera meyuruh Peter untuk memanggil Kisno supir pribadinya yang menunggu diluar. Peter yang sudah dapat menebak apa yang diinginkan bapaknya dengan sedikit berlari segera keluar rumah.



“Jangan lupa bilang si Kisno bawa videocamnya” sahut Wen kepada anaknya.



Audrey telah kembali berdiri di tengah ruang TV sambil menangis ketika Sudin dan Amir tiba di ruang TV.



“Ada……aaapppaaaaaa…” Amir tidak dapat melanjutkan kata-katanya, nampak sekali dia kaget ketika tiba di ruang TV dan melihat majikan perempuannya dalam keadaan telanjang bulat di tengah ruang TV.



Baik Amir maupun Sudin hanya berdiri terpana melihat keadaan Audrey. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Meskipun raut muka mereka nampak kaget, namun mata mereka tidak bisa lepas dari pemandangan indah yang ada di hadapan mereka.





Amir “Naahh, Sudin dan Amir, malam ini majikanmu mau memberimu hadiah atas kesetian kalian selama ini” kata Wen tiba-tiba memecah keheningan di ruang TV itu.



Mendengar kata-kata Wen, Sudin dan Amir diam saja. Mereka mengerti apa maksud kata-kata Wen, namun mereka berdua langsung menatapku seakan minta kepastian dariku. Karena masih kaget dan tidak tahu apa yang harus aku perbuat, aku hanya diam saja dan malah memandang ke arah Audrey seakan-akan menyuruh Sudin dan Amir menanyakannya langsung ke Audrey.



“Audrey, hentikan tangismu! Cepat katakan apa yang saya telah ajarkan kepadamu sepanjang siang” sahut Wen dengan keras kepada Audrey.



“Tuan-tuan, sa..saya..si..siap melayani tuan-tuan…silahkan pa..pakai se..seluruh lubang yang ada pada diri saya untuk ke…kenikmatan tuan-tuan” kata Audrey terbata-bata sambil menahan tangisnya.



“Nah, Sudin dan Amir, kalian sudah dengar sendiri kan. Silahkan langsung saja jangan malu-malu. Majikanmu sudah memperbolehkan. Saya hanya minta boleh direkam ya….” kata Wen terkekeh sambil mengambil video kamera dari tangan Kisno yang ternyata juga bersama Peter telah tiba di ruang TV.



“Kisno, kamu ajari Sudin dan Amir supaya tidak malu-malu” perintah Wen kemudian kepada Kisno supirnya.



“Siaap boss” jawab Kisno cepat sambil menghampiri Audrey.



Kemudian Kisno menjambak rambut Audrey dengan tangan kirinya dan menariknya ke belakang sehingga wajah Audrey terdongak ke atas.



“Mir, Din. Majikanku ini selalu membagi budak seksnya kepadaku. Sekarang majikanmu ini sudah jadi budak seksnya, sehingga beruntunglah kalian bisa ikutan menikmatinya. Ayo jangan malu-malu, kapan lagi bisa menikmati dan memperbudak majikan sendiri…haa..haa….haa..” kata Kisno kepada Sudin dan Amir sambil tertawa dan tangan kanannya mulai meraba-raba kedua payudara dan vagina Audrey.



Dengan ragu-ragu, Sudin dan Amir menghampiri Audrey. Tangan-tangan mereka mulai menggerayangi tubuh dan paha mulus Audrey. Melihat Audrey hanya diam saja, tangan-tangan Sudin dan Amir semakin berani menggerayangi tubuh Audrey. Tangan-tangan mereka mulai ikut-ikutan meraba-raba kedua payudara dan vagina Audrey.





Kisno “Senyum! Jangan mewek aja kalau lagi ngelayanin tuan-tuanmu ini!” bentak Kisno keras kepada Audrey.



Audrey yang mendengar bentakan Kisno berusaha tersenyum dengan terpaksa.



“Cium kedua majikan kamu ini dengan mesra” perintah Kisno selanjutnya kepada Audrey sambil melepaskan jambakannya pada rambut Audrey.



Audrey meskipun terlihat terpaksa kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher Amir dan mulai mencium bibir Amir dengan mesra. Ciuman Audrey pada supirku itu tidak bertepuk sebelah tangan. Amir langsung membalas ciuman Audrey dengan ganas. Lidahnya langsung masuk ke mulut Audrey dan mengobok-obok mulut Audrey sampai-sampai Audrey kesulitan bernapas dan tersedak. Kemudian Audrey beralih kepada Sudin. Kembali kedua tangannya dilingkarkan di leher pembantuku itu, dan bibirnya mulai menciumi bibir Sudin. Tidak seperti Amir, Sudin membalas ciuman Audrey dengan mesra. Sudin sedikit menarik Audrey dari Kisno dan Amir, sehingga Audrey dan Sudin dapat berciuman dengan mesra berdua tanpa gangguan Amir dan Kisno. Sambil tetap berciuman dengan Audrey, Sudin melingkarkan tangan kirinya di pinggul Audrey dan tangan kanannya digunakan untuk meraba-raba dan mempermainkan klitoris Audrey. Setelah berciuman beberapa menit sambil mempermainkan klitoris Audrey, Sudin menurunkan tangan kirinya ke bongkahan pantat Audrey. Diraba-rabanya kedua bongkahan pantat Audrey itu, dan kemudian dengan sedikit menahan pantat Audrey dengan telapak tangan kirinya, Sudin memasukan jari tengah dan jari telunjuk tangan kanannya ke dalam vagina Audrey dengan jempol tangan kanan Sudin tetap mempermainkan klitoris Audrey.



“Eegghhh…” terdengar erangan kecil Audrey ketika kedua jari Sudin memasuki vaginanya.



“Suka?” tanya Sudin kepada Audrey sambil melepaskan ciumannya pada Audrey. Audrey tidak menjawab, dia hanya diam saja.



Melihat Audrey hanya diam saja, Sudin menekan kedua jarinya di dalam vagina Audrey dengan sedikit keras.



“Egghh….” terdengar erangan Audrey sedikit mengeras.



“Suka?” tanya Sudin lagi kepada Audrey dengan sedikit tegas.



Mendengar pertanyaan Sudin untuk kedua kalinya, Audrey mengangguk pelan untuk menjawab dan menyenangkan hati Sudin.



“Eh..sini Din, jangan dipakai sendiri aja, kita juga mau” kata Kisno tiba-tiba sambil menarik Audrey dari Sudin.



“Ayo sini, layani kita bertiga sekaligus” kata Kisno sambil menarik Audrey kembali ke tengah ruang TV yang segera diikuti oleh Amir dan Sudin.



“Ayo pelacur, kamu kan sudah diajari Pak Wen dari tadi siang, tunjukkan keahlianmu” perintah Kisno kepada Audrey.



Kini Audrey yang telanjang bulat dikelilingi oleh Kisno, Sudin dan Amir di tengah ruang TV. Tanpa perlu diperintah lebih lanjut, Audrey mulai melepaskan pakaian Kisno, Sudin dan Amir. Setelah seluruh pakaian ketiganya lepas, Audrey kemudian berlutut dan mulai melepaskan celana dan celana dalam Kisno, Sudin dan Amir sehingga Kisno, Sudin dan Amir menjadi telanjang bulat. Terlihat sedikit kaget Audrey melihat selangkangan dan penis-penis Kisno, Sudin dan Amir. Selangkangan Kisno, Sudin dan Amir ditumbuhi bulu-bulu yang sangat lebat tidak terurus, ketiga penis mereka semuanya berwarna hitam, berukuran besar-besar dan sudah mengeras. Nampak penis Kisno sedikit berbeda dari yang lainnya. Di penis Kisno terlihat mempunyai tonjolan-tonjolan bulat, sepertinya di dalam kulit penis Kisno seakan-akan ada beberapa kelereng kecil yang dapat bergerak-gerak dan membuat kulit penis Kisno menjadi tidak rata dan bergelombang. Selain daripada keanehan itu, terlihat kedua sisi penis kisno juga ditindik dengan beberapa cincin emas seperti yang ada pada bibir atas vagina Audrey, namun yang membedakannya adalah di cincin-cincin pada penis Kisno itu di beberapa bagiannya tertutup dengan bulu-bulu kasar seperti sabuk kelapa. Melihat penis Kisno yang sangat aneh itu, terlihat wajah Audrey menjadi panik dan ketakutan. Air mata kembali meleleh di kedua pipinya.



“Hehehehe….jangan takut” kata Kisno tiba-tiba kepada Audrey.



“Penis ini akan membawa kenikmatan untukmu pelacur! Pak Wen khusus membawaku ke Cina untuk menjadikan penisku ini sumber kenikmatan wanita yang tidak ada taranya. Jadi kamu harus merasa beruntung dapat mencicipi penisku ini. Kamu pasti akan ketagihan seks setelah merasakan penisku ini” kata Kisno dengan sedikit tertawa.



Setelah mengatakan hal itu, tanpa menunggu apa-apa lagi, Kisno langsung menarik muka Audrey ke arah selangkangannya. Dan dengan sedikit memaksa tangan Kisno membuka mulut Audrey dan memasukkan penisnya yang besar ke dalam mulut Audrey. Audrey dengan sedikit gelagapan berusaha membuka mulutnya lebar-lebar agar dapat menerima penis Kisno yang besar itu. Kisno langsung memompa penisnya pada mulut Audrey dengan cepat sampai Audrey tersedak-sedak. Setelah beberapa menit memompa mulut Audrey dengan penisnya, Kisno kemudian memalingkan wajah Audrey ke arah penis Amir. Audrey mengerti apa yang diminta, dia langsung membuka mulutnya dan mulai melakukan oral service pada penis Amir. Raut muka Amir menampakkan kegembiraan yang amat sangat ketika penisnya mulai dioral oleh mulut Audrey. Dia kelihatannya tidak mempercayai apa yang sedang terjadi, dia tidak pernah menyangka bahwa majikan perempuannya yang muda dan cantik mau mengulum-ngulum, menghisap-hisap dan menjilati penis tuanya. Selagi mengoral service penis Amir, Kisno meraih tangan kiri Audrey dan mengarahkan ke penisnya. Audrey seperti wanita yang sudah terlatih langsung mengerti kemauan Kisno dan mulai mengocok-ngocok penis Kisno dengan tangan kirinya. Melihat itu Sudin juga tidak mau kalah dan meraih tangan kanan Audrey dan mengarahkannya ke penisnya. Tanpa diperintah lagi Audrey juga langsung mengocok-ngocok penis Sudin. Terlihat pemandangan yang sangat menakjubkan di hadapanku. Audrey yang cantik jelita, berkulit mulus dan putih sedang melayani 3 laki-laki yang buruk rupa sekaligus.



2 laki-laki itu yang sedang dilayani Audrey adalah pembantu dan supirnya sendiri yang sudah berusia 50 tahunan, sedangkan pria satu lagi, si Kisno, meskipun umurnya kira-kira seumuranku, namun mukanya dapat dikatakan yang paling buruk jika dibandingkan dengan yang lain, dan dengan tubuh gempalnya Kisno terlihat seakan-akan seperti raksasa jika dibandingkan dengan tubuh Audrey. Setelah beberapa menit mengoral penis Amir, wajah Audrey kembali dipalingkan oleh Kisno. Kali ini ke penis Sudin. Audrey langsung menurut dan mulai menjilati dan menghisap-hisap penis Sudin sedangkan tangan kanannya beralih ke penis Amir. Setelah beberapa menit melayani penis Sudin dengan mulutnya, wajah Audrey kembali dipalingkan ke penis Kisno dan tangannyapun beralih ke penis yang lain yang sedang tidak dioralnya. Kemudian beberapa menit kemudian beralih lagi ke penis Amir dan kemudian ke penis Sudin dan begitu seterusnya sehingga ketiga penis hitam raksasa itu diservicenya bergantian. Selain menjilati dan menghisap ketiga penis itu, Wen yang sedari tadi asyik merekam adegan Audrey dengan Kisno, Sudin dan Amir memerintahkan Audrey untuk mengulum-ngulum biji-biji kemaluan Kisno, Sudin dan Amir serta juga menjilati paha dalam ketiganya. Audrey juga diperintahkan Wen, untuk melakukan deep throat pada ketiga penis itu, hal mana dipenuhi oleh Audrey dengan susah payah karena begitu besarnya penis-penis itu. Audrey menuruti semua instruksi Wen meskipun terlihat beberapa kali Audrey merasa tidak nyaman karena bau dari penis-penis dan selangkangan-selangkangan Kisno, Sudin dan Amir, namun dengan pasrah Audrey terpaksa menurutinya. Sedangkan Kisno, Sudin dan Amir terlihat keenakan dioral dan dijilati oleh Audrey, muka-muka mereka sudah nampak mesum keenakan. Setelah hampir satu jam memberikan oral service kepada Kisno, Sudin dan Amir, nampak peluh mulai sedikit membasahi tubuh Audrey. AC di ruang TV sedikit banyak membantu Audrey sehingga peluh tidak membanjiri tubuhnya. Audrey yang sedang mengulum penis Sudin mempercepat gerakannya, kelihatannya Audrey mengetahui bahwa Sudin hampir mencapai klimaksnya.



“Good…good….telan semua ya….” perintah Wen seakan-akan tahu apa yang akan terjadi.



Audrey tidak menjawab, dia malah makin mempercepat gerakannya mengoral service penis Sudin. Dan tidak beberapa lama kemudian Sudin memuntahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Audrey yang langsung ditelan semuanya oleh Audrey, hal mana terlihat dari tenggorokan Audrey yang bergerak-gerak menelan sesuatu dalam jumlah yang banyak. Setelah menelan seluruh sperma Sudin, Audrey berpindah ke penis Amir. Dihisap-hisapnya penis Amir dengan mulutnya sambil tangan kanannya yang kini bebas mengelus-elus biji kemaluan Amir. Tidak beberapa lama kemudian, Amirpun memuntahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Audrey dan seluruh sperma itupun ditelan habis oleh Audrey. Terakhir adalah giliran Kisno. Audrey menghisap-hisap dan menjilati penis Kisno dan kedua tangan Audrey mengelus-elus biji kemaluan dan paha dalam Kisno. Terlihat sekali Audrey berusaha memberikan rangsangan yang hebat untuk Kisno agar Kisno cepat mengalami orgasme dan penderitaan Audrey dalam memberikan oral service dapat segera berakhir. Namun rupanya Kisno mempunyai stamina yang cukup bagus, sehingga perlu waktu yang cukup lama bagi Audrey untuk membuat Kisno orgasme dan memuntahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Audrey. Ketika seluruh sperma Kisno telah ditelan habis oleh Audrey, Kisno kembali menjambak rambut Audrey dan menariknya ke atas dengan kasar sehingga Audrey terpaksa berdiri. Kemudian Kisno meraih cincin emas dan bel kecil di bibir atas vagina Audrey dengan kasar.



“Oooucchh….” terdengar jeritan kecil kesakitan keluar dari mulut Audrey.



Kemudian Kisno dengan menarik cincin emas dan bel kecil itu menuntun Audrey ke sofa tunggal yang menghadap TV LCD 42’ di ruang TV rumahku. Suatu pemandangan yang juga sangat menakjubkan, Kisno yang bertubuh besar dan gempal itu menarik cincin dan bel kecil itu dan dengan terpaksa dan sambil menahan sakit Audrey yang cantik mengikutinya. Kisno dengan seenaknya menarik cincin dan bel keci itu seakan-akan dia sedang menarik cincin dihidung seekor sapi, namun bukan sapi yang ditarik melainkan istriku Audrey di vaginanya.



Audrey didudukan oleh Kisno di sofa tunggal itu, masing-masing kedua kakinya dibuka lebar diletakkan di lengan-lengan sofa tersebut sehingga posisi Audrey sekarang duduk di sofa dengan kedua kaki mengangkang lebar. Wen memberi isyarat kepada Audrey untuk tidak bergerak dalam posisi itu. Kemudian Wen menyambungkan sebuah kabel panjang ke TV LCD 42’ yang berada di hadapan Audrey. Dan setelah kabel tersambung, nampaklah gambar Audrey di TV itu sedang mengangkang lebar di sofa.



“Nah, sekarang baru asyik. Kamu bisa melihat secara live persetubuhanmu sendiri” kata Wen kepada Audrey.



Audrey tidak menjawab apa-apa. Kemudian Wen memerintahkan Audrey untuk membuka vaginanya dengan jari-jari tangannya sendiri. Audrey dengan sedikit ragu menurutinya. Audrey membuka vaginanya sendiri dengan lebar-lebar. Lalu Wen memerintahkan Audrey untuk mengatakan hal-hal yang tidak senonoh, seperti “saya pelacur yang siap melayani”, “vagina saya sudah ingin sekali dimasuki penis yang besar” dan lain-lain. Audrey pada awalnya tidak mau menuruti perintah Wen, namun setelah diancam oleh Wen bahwa rekaman persetubuhannya akan tersebar di internet, Audreypun menuruti dengan sedikit isak tangis dan air mata yang meleleh di kedua pipinya. Setelah puas mempermalukan Audrey, Wen memberikan isyarat kepada Kisno, dan Kisnopun langsung berlutut didepan selangkangan Audrey dan mulai menjilati paha dalam Audrey dan terus ke vagina Audrey. Ketika lidah Kisno yang ternyata ditindik dengan besi kecil itu mulai menyapu bagian dalam vagina Audrey, terlihat tubuh Audrey sedikit menegang menerima rangsangan di vaginanya. Kedua tangan Audrey meremas-remas pegangan tangan sofa dan kadang-kadang memegang paha dalamnya sendiri agar kedua kakinya tetap mengangkang lebar. Mata Audrey tertuju pada selangkangannya sendiri untuk melihat kegiatan lidah Kisno di vaginanya.



“Audrey, ngapain kamu melihat ke bawah, di TV sudah ada gambarmu sendiri, kalau kamu mau melihat dengan jelas vaginamu tanpa terhalang kepala Kisno, akan saya zoom dan kamu bisa melihatnya secara jelas di TV” kata Wen sambil menzoom kameranya dan mengarahkannya pada posisi yang tepat sehingga di TV terlihat jelas sekali vagina Audrey yang sedang dijilati oleh Kisno dengan rakus.



Audrey menuruti apa yang dikatakan oleh Wen. Audrey mulai memandang ke arah TV dan melihat vaginanya sedang dijilati oleh Kisno di TV. Dengan tanpa menghentikan jilatan-jilatannya pada vagina dan klitoris Audrey, Kisno memasukkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya ke dalam vagina Audrey. Audrey dengan mata tetap memandang ke TV mengeluarkan erangan kecil, badannya bergoyang-goyang mengikuti irama permainan jari-jari Kisno di vaginanya. Adegan itu direkam dengan lihainya oleh Wen. Wen kadang-kadang menzoom in dan zoom out kameranya sehingga kadang-kadang hanya gambar vagina Audrey yang sedang dipermainkan Kisno nampak di layar TV dan kadang-kadang gambar keseluruhan Audrey sedang duduk mengangkang di sofa dengan badan yang bergoyang-goyang dan meliuk-liuk dengan kepala Kisno terbenam diselangkangannya nampak di layar TV. Erangan-erangan makin jelas keluar dari mulut Audrey, nampaknya Kisno dengan lihainya telah membuat Audrey terangsang hebat. Tubuh Audrey makin bergoyang mengikuti irama jilatan-jilatan lidah Kisno di vaginanya. Kadang-kadang terlihat Audrey menggigit kecil bibir bawahnya sendiri menahan rangsangan hebat yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Cukup kira-kira 10 menit permainan Kisno di vagina Audrey sudah membuat Audrey mulai lupa pada keadaan sekelilingnya. Mata Audrey tetap menatap TV yang menanyangkan dirinya sedang dirangsang oleh Kisno, namun kedua tangannya mulai mengelus-elus dan menjambak-jambak kecil rambut di kepala Kisno. Audrey mulai berani memajukan pinggulnya ke depan agar lidah dan jari-jari tangan Kisno dapat makin menekan masuk ke dalam vaginanya.



“Iyaaa…teerruss…iyaa….teeerusss” mulai terdengar rintihan-rintihan Audrey tanda dia menyukai apa yang diperbuat Kisno di vaginanya.



Mendengar itu Wen tertawa kecil dan menzoom kamera ke wajah Audrey yang cantik. Audrey yang melihat wajahnya di close-up di TV tersenyum kecil. Rangsangan yang diberikan Kisno pada vaginanya mulai menghilangkan rasa malu dan rasa jijiknya terhadap pasangan persetubuhannya.



Tidak lama setelah itu mulai nampak tanda-tanda Audrey akan mengalami orgasmenya. Pinggulnya makin ditekannya ke depan kearah mulut Kisno. Jambakan-jambakan tangannya pada rambut Kisno mulai semakin liar dan kedua kakinya semakin dibukanya lebar-lebar. Detik-detik akhir mendekati orgasme makin terlihat pada diri Audrey, gerakan pinggulnya semakin liar, erangan-erangannya semakin keras, namun ketika saat-saat orgasme tinggal selangkah lagi, tiba-tiba dengan mulutnya, Kisno menarik cincin emas yang ada di bibir atas vagina Audrey dengan keras.



“Aoouuuccch……..!!!” teriak Audrey keras karena kesakitan. Mukanya meringis menahan sakit, bibirnya menggigit tangan kanannya yang dikepal. Orgasme yang tinggal selangkah lagi dicapainya hilang karena rasa sakit itu.



Muka sedikit kecewa nampak diraut wajah Audrey, namun Kisno tidak mempedulikannya. Kisno kembali pada kegiatannya merangsang vagina Audrey kembali, dan bagi Audrey setelah beberapa menit rasa sakit itu hilang, Audreypun kembali hanyut pada permainan Kisno di vaginanya. Beberapa kali kejadian seperti itu berulang, rupanya Kisno dengan sengaja membuat Audrey ke titik hampir klimaks namun kemudian menurunkannya kembali dengan cara menarik cincin emas yang berada di bibir atas vagina Audrey, sehingga Audrey hanya mengalami rangsangan yang sangat hebat namun tidak bisa orgasme. Diperlakukan seperti itu membuat Audrey penasaran, goyangan pinggulnya semakin hebat, sedangkan kedua tangannya berusaha melindungi cincin emas dan bel kecil yang berada di bibir atas vaginanya agar tidak bisa ditarik oleh mulut Kisno. Melihat itu Wen segera menyuruh Peter untuk memegang kedua tangan Audrey dan menariknya ke atas dan ke belakang kepala Audrey, sehingga dengan kedua tangan yang dipegang Peter itu, Audrey tidak bisa mencegah perbuatan Kisno yang menghalanginya mencapai orgasme. Selama setengah jam Audrey diperlakukan demikian oleh Kisno. Audrey nampak sekali sudah tidak tahan untuk meraih orgasmenya yang tidak kunjung juga bisa dicapainya. Tatapan matanya sayu dan pasrah dan kadang-kadang dia memejamkan matanya.



“Tolong….bikin saya orgasme…jangan…ditarik lagi…” desah Audrey pelan kepada Kisno berulang-ulang.



Mendengar itu Wen kembali tertawa lebar dan berkata “Audrey, kamu itu budak seks, bukan kamu yang harus dilayani, tapi kamu harus melayani tahu!”



“Kamu kalau mau orgasme harus minta ijin, apabila diijinkan baru boleh kamu orgasme, mengerti!” lanjut wen kepada Audrey.



Audrey yang sudah tidak tahan untuk mencapai orgasme langsung menjawab “Pak Wen, bolehkah saya orgasme?”



Pertanyaan itu diulangnya berkali-kali sampai tiba-tiba Sudin dan Amir secara hampir bersamaan berkata “Pak Wen, biarkan saya yang membuatnya orgasme”.



Mendengar itu Wen tertawa kecil “Tidak usah rebutan, Audrey bisa melayani kalian berdua sekaligus”



“Audrey, kamu beruntung, ada 2 pejantan ini yang mau memuaskanmu, kamu tahu apa yang harus dilakukan” kata Wen setengah memerintah kepada Audrey.



Mendengar itu, Audrey dengan dibantu oleh Kisno bangkit dari sofa, lalu kemudian langsung merebahkan diri telentang di karpet di tengah ruang TV dengan kaki mengangkang lebar-lebar di hadapan Sudin dan Amir. Sudin dan Amir dengan penis-penisnya yang sudah kembali mengencang malah dengan bodohnya termangu melihat posisi siap disetubuhi yang dipertontonkan Audrey kepada mereka. Kelihatannya mereka tidak percaya apa yang ada di hadapan mereka dan mereka bingung siapa yang akan memulai duluan.



“Pak Amir…sini..” desah Audrey setengah memerintah kepada Amir dan dengan muka yang nampak sudah tidak sabar karena baik Amir maupun Sudin hanya termangu berdiri di hadapannya.



Amir yang mendengar namanya dipanggil dengan setengah cengengesan meledek kearah Sudin langsung memposisikan dirinya di atas tubuh Audrey. Amir segera mengarahkan penisnya yang besar dan hitam kearah vagina Audrey yang mungil dan mulus itu.



“Maaf ya bu….hehehehe…” terdengar bisikan Amir sambil terkekeh kecil kepada Audrey ketika Amir mulai memasukkan penisnya ke dalam vagina Audrey.



Terdengar erangan dan rintihan kecil dari mulut Audrey ketika penis Amir mulai memasuki vaginanya. Audrey berusaha memposisikan dirinya agar penis Amir dapat masuk dengan lancar ke dalam vaginanya. Meskipun vaginanya sudah sangat basah akibat permainan Kisno, namun terlihat Audrey sedikit kesusahan menerima penis Amir yang besar di vaginanya. Setelah beberapa puluh detik, barulah seluruh penis Amir amblas ke dalam vagina Audrey. Mata Audrey memancarkan kebahagiaan dan ketakjuban karena ternyata vaginanya dapat menampung seluruh penis Amir yang sangat besar dan panjang itu. Beberapa menit Amir mendiamkan penisnya dalam vagina Audrey untuk memberikan kesempatan pada Audrey membiasakan diri dengan penisnya yang besar itu. Kemudian tanpa basa-basi lagi Amir langsung menggenjot penisnya pada vagina Audrey dengan keras, cepat dan kasar. Audrey yang sudah terangsang berat karena permainan Kisno sebelumnya, langsung melayani permainan kasar Amir, dilayaninya genjotan-genjotan Amir dengan goyangan-goyangan pinggulnya dengan tak kalah hebat. Terlihat pemandangan yang sangat hebat. Dua manusia berbeda jenis kelamin, yang satu muda dan cantik sedangkan yang satu lagi tua dan jelek bersetubuh hanya untuk mencari kepuasan nafsu hewani masing-masing, tanpa cinta dan tanpa kemesraan tapi hanya berlomba-lomba mencari kepuasan seksnya masing-masing. Audrey dan Amir bersetubuh dengan kasar dan ganas, mereka berdua sudah tidak mempedulikan sekelilingnya. Mereka seakan-akan berlomba untuk lebih dahulu mencapai orgasmenya sebelum pasangan persetubuhannya mencapai orgasme. Hanya perlu sekitar 15 menit ketika Audrey yang memang telah terangsang hebat dengan permainan Kisno mencapai orgasmenya yang hebat dan panjang. Lenguhan keras terdengar keluar dari mulutnya, badannya menegang keras, tanggannya merangkul erat punggung Amir dan kedua kakinya dikaitkan rapat-rapat pada pinggul Amir. Setelah beberapa menit di puncak orgasme, badan Audrey melemas, kedua tangannya melepas pelukannya pada punggung Amir, kedua kakinya tergolek lemas di atas karpet.



Tidak seperti Audrey, Amir yang sebelumnya sudah mencapai orgasme ketika dioral service oleh Audrey, masih membutuhkan waktu lama untuk mencapai orgasme. Genjotan-genjotannya pada vagina Audrey malah semakin kencang, cepat dan kasar. Muka Amir tersenyum lebar karena mengetahui majikan perempuannya sudah mencapai orgasme, seakan-akan menunjukkan bahwa dia adalah pemenang dari pertarungan seks itu. Audrey yang sudah lemas, karena selain sudah orgasme juga karena sedari siang sudah melayani Wen dan anaknya hanya bisa tergoncang-goncang hebat dengan permainan kasar Amir. Kedua tangan Audrey hanya tergolek lemah di atas karpet, kedua kakinya tidak dapat diangkatnya lagi. Audrey hanya bisa tergeletak lemas dengan posisi kaki terbuka lebar di atas karpet. Ketika Amir meraih kedua pergelangan kaki Audrey dengan kedua tangannya dan mengangkatnya ke atas serta membuka kedua kakinya lebar-lebar, Audrey hanya bisa pasrah. Erangan-erangan terdengar setiap kali penis Amir yang besar membobol vaginanya berulang kali dengan kasar. Mata Audrey hanya bisa menatap kosong ke wajah Amir dan sesekali kearah vaginanya seakan-akan menunggu kapan penis Amir yang besar akan memuntahkan seluruh spermanya ke dalam vaginanya. Setelah belasan menit, Amir belum juga tampak akan orgasme. Amir merapatkan kedua kaki Audrey dan menyandarkannya pada salah satu bahunya dan semakin cepat menggenjot vagina Audrey. Audrey secara reflek merapatkan kedua tangannya sejajar di kiri dan kanan tubuhnya. Audrey hanya bisa mengerang-erang dan merintih-rintih ketika penis Amir masuk seluruhnya ke dalam vaginanya. Dengan kaki yang dirapatkan oleh Amir, vagina Audrey makin menyempit karena selangkangannya tertutup rapat. Badan Audrey hanya tergoncang-goncang mengikuti permainan Amir. Audrey sudah tidak sanggup lagi menggoyangkan pinggulnya, dia hanya bisa pasrah sambil merintih-rintih. Telah beberapa belas menit berlalu ketika tiba-tiba Wen berkata “Oooh, kita ada yang lupa nih, si pelacur tadi orgasme tanpa minta ijin terlebih dahulu, berarti dia harus dihukum”.



“Kisno, mana jepitan favorit saya, kamu bawa?” lanjut Wen kepada Kisno.



Kisno yang ditanya langsung merogoh tas kamera dan mengeluarkan dua buah jepitan besi yang berbentuk seperti jepitan jemuran. Kedua jepitan itu dihubungkan dengan sebuah rantai besi.



“Pakaikan ke Audrey” perintah Wen kepada Kisno.



Wajah Audrey nampak ketakutan melihat jepitan besi itu. Kedua tangannya langsung digunakannya untuk menutupi kedua payudaranya. Rupanya Audrey dapat langsung menebak apa kegunaan jepit besi itu.



Peter yang melihat Audrey menutupi kedua payudaranya dengan kedua tangannya langsung mendekati Audrey. Diraihnya kedua tangan Audrey dan dengan paksa ditariknya kedua tangan Audrey itu ke atas dan diletakan di atas karpet sejajar dengan kepala Audrey. Dengan posisi kedua lengan dipegangi oleh Peter dan kedua kaki yang dipegangi oleh Amir. Audrey menjadi tidak berdaya dan kedua payudaranya terekpos bebas. Kemudian Kisno menghampiri Audrey, dan dengan cekatan masing-masing jepitan itu digunakannya untuk menjepit masing-masing puting payudara Audrey. Audrey tidak dapat berkata apa-apa karena begitu cepatnya kejadian itu. Hanya terdengar jeritan keras Audrey dan diikuti dengan air mata yang meleleh di kedua pipinya ketika masing-masing jepitan sudah terpasang dengan sempurna menjepit puting payudaranya. Setelah kedua jepitan sudah terpasang sempurna pada tempatnya, Kisno menyerahkan rantai yang menghubungkan kedua jepitan itu kepada Amir. Amir dengan wajah mesum melepaskan pegangannya pada kedua kaki Audrey dan menerima rantai besi itu dari Kisno. Kemudian Amir tanpa basa basi lagi langsung menarik rantai besi itu ke arahnya sehingga kedua payudara Audrey tertarik ke atas dan ke arah Amir sampai-sampai membuat tubuh Audrey terpaksa mengikuti tarikan Amir pada rantai besi itu sehingga posisi Audrey setengah duduk namun Audrey tidak dapat duduk dengan sempurna karena dalam vaginanya masih tertancap penis Amir yang besar.



“Ngangkang yang lebar dan angkat kakinya atau saya tarik sampai putingnya putus!” sahut Amir tiba-tiba kepada Audrey yang cukup membuatku kaget karena baru pertama kalinya aku mendengar supirku ini berani membentak istriku.



Dengan kedua jepit diputingnya dan rantai yang ditangan Amir, Audrey hanya bisa menurut. Diangkatnya dan dibukanya lebar-lebar kedua kakinya sehingga kini Audrey dalam posisi setengah duduk dengan hanya sedikit pantat yang menumpu tubuhnya dan kedua tapak tangannya yang bertumpu pada karpet agar tubuhnya tidak jatuh ke belakang.



Amir kembali mempercepat genjotannya pada vagina Audrey. Kedua tangan Amir memegang rantai jepit itu dan menarik-nariknya sehingga nampak seperti seperti seseorang yang sedang memegang tali kendali kuda. Sesekali tangan kirinya menampar-nampar paha luar Audrey sehingga Amir seperti seorang joki. Tapi bukan joki yang menunggang kuda tapi joki yang sedang menyetubuhi seorang wanita yang sangat cantik. Payudara Audrey nampak tertarik dengan kencang kedepan, badannya bergoyang hebat karena genjotan ganas Amir pada vaginanya. Audrey nampak kerepotan untuk menjaga keseimbangannya, namun karena jepitan pada kedua payudaranya itu nampak Audrey tetap berusaha tetap pada posisinya. Setelah beberapa menit diperlakukan kasar begitu oleh Amir, nampak perubahan pada diri Audrey. Rupanya diperlakukan kasar oleh supirnya membuat sensasi sendiri pada diri Audrey. Vaginanya nampak mulai banjir dengan cairan kewanitaannya. Bunyi vagina basah yang dimasuki penis mulai terdengar keras setiap kali Amir dengan kasar memasukkan penisnya dalam vagina Audrey. Mata Audrey menjadi berbinar, matanya memandang bergantian kearah Amir, kearah kedua payudaranya dan kearah vaginanya yang sedang digenjot dengan ganas oleh penis Amir yang besar dan hitam itu. Ketika Amir menyodorkan jari tengah dan jari telunjuk tangan kirinya kearah muka Audrey, Audrey langsung menyambutnya dengan mulutnya dan mulai mengulum-ngulum kedua jari Amir itu dengan tatapan yang seksi kearah Amir. Desahan-desahan kenikmatan mulai keluar dari mulut Audrey, rupanya dia sudah benar-benar tunduk pada supirku itu. Audrey menuruti apa saja perintah Amir. Ketika Amir menyuruhnya menjulurkan lidah, Audrey langsung menurutinya. Tangan kiri Amir langsung meraih lidah Audrey itu dan menarik-nariknya, Audrey bukan kesakitan tapi malah membiarkan Amir dan tersenyum dengan mulut yang terbuka. Setiap adegan-adegan itu direkam dengan baik oleh Wen dan nampak dengan jelas dilayar TV. Terlihat Wen sangat puas dengan hasil karyanya. Audrey nampak sekali menikmati persetubuhannya dengan Amir. Audrey nampak sekali berusaha menyenangkan dan melayani Amir dengan sebaik-baiknya, rasa sakit pada puting payudaranya sudah berubah menjadi kenikmatan yang luar biasa. Setiap genjotan kasar Amir pada vaginanya selalu diiringi dengan jeritan seksi kenikmatan yang tiada tara dari mulut Audrey.



Sudin yang dari tadi hanya menjadi penonton kelihatannya sudah tidak bisa menahan diri untuk ikut menyetubuhi majikan perempuannya. Sudin mendekati Audrey, diambilnya rantai yang menghubungkan kedua jepitan dari tangan Amir dan direbahkannya Audrey telentang di atas karpet. Kemudian Sudin berlutut menghadap kearah Amir dan mengangkangi wajah Audrey sehingga sekarang wajah Audrey berada di bawah selangkangannya. Setelah itu Sudin menarik rantai itu ke atas, sehingga mau tidak mau Audrey harus mengangkat dada dan wajahnya sehingga wajahnya menempel di biji kemaluan dan lubang pantat Sudin. Dengan sekali hentakan pada rantai itu oleh Sudin, kelihatannya Audrey sudah dilanda birahi yang sangat hebat mengerti apa maunya Sudin. Audrey mulai menjilati dan mengulum biji kemaluan Sudin dari bawah. Audrey juga tanpa malu-malu lagi menjilati lubang pantat pembantu prianya itu. Muka Sudin tampak sumringah ketika merasakan jilatan dan kuluman Audrey di selangkangannya, sedangkan Amir sekarang meraih kedua pergelangan kaki Audrey dan mengangkatnya serta membuka lebar-lebar kedua kaki Audrey sambil terus menggenjot vagina Audrey dengan penisnya. Desahan-desahan Audrey semakin menggila, rasa malunya disetubuhi oleh supir dan pembantu prianya telah hilang sama sekali. Rintihan-rintihan nikmat membahana di ruangan itu. Bel kecil di vagina Audrey menambah ramainya suara yang terdengar. Kurang lebih 10 menit kemudian terdengar suara dari bawah selangkangan Sudin.



“Tuan….tuuu…an….boleh sa…saya orgasme?” desah Audrey cukup keras.



“Hahaha….boleh…boleh….” tawa Sudin dan Amir hampir bersamaan.



Beberapa detik setelah itu terlihat tubuh Audrey mengejang hebat, terdengar lenguhan hebat keluar dari mulutnya menggambarkan seakan-akan Audrey melepas suatu kenikmatan yang luar biasa yang telah tertahan lama di tubuhnya. Wen dengan cekatan merekam semua adegan itu, mukanya terlihat puas melihat Audrey sekarang benar-benar tunduk dan menerima semua yang dilakukan terhadap dirinya. Setelah beberapa menit di puncak orgasme, akhirnya tubuh Audrey melemas. Wajahnya terlihat lelah namun senyum kepuasan terlihat di bibirnya.



“Sekarang gentian saya yang dilayani dong” kata Amir kepada Audrey tiba-tiba sambil mencabut penisnya dari vagina Audrey serta merebahkan diri disamping Audrey.



Audrey terlihat berusaha keluar dari bawah selangkangan Sudin, dan Sudinpun mengerti dan membolehkannya. Dengan senyum Audrey kemudian menaiki tubuh Amir sehingga sekarang Audrey dan Amir dalam posisi woman on top. Segera setelah menaiki tubuh Amir, Audrey membimbing penis Amir dengan tangannya ke dalam vaginanya, kemudian ditekannya vaginanya ke bawah sehingga penis Amir amblas seluruhnya ke dalam vagina Audrey. Kemudian Audrey menggerakan pinggulnya naik turun serta memutar, membuat Amir merasakan penisnya diservice oleh vagina Audrey. Tidak itu saja yang dilakukan Audrey, Audrey juga menciumi dan menjilati dada dan leher Amir yang membuat Amir sedikit melenguh kenikmatan.



“Kok Amir saja, saya juga mau” sahut Sudin tiba-tiba dengan nada yang sudah tidak sabar.



Audrey hanya tersenyum kearah Sudin dan merebahkan tubuhnya di dada Amir. Kemudian dengan tanpa mengatakan apa-apa lagi kedua tangan Audrey membuka kedua pantatnya sendiri sehingga lubang anus Audrey terlihat jelas dan menantang untuk dimasuki. Sudin si pria tua itu mengerti apa maksud Audrey. Sudin segera berjongkok dan mengarahkan penisnya ke lubang anus Audrey. Sedikit demi sedikit terlihat penis Sudin memasuki lubang anus Audrey. Lubang anus Audrey masih cukup seret karena hanya keringat dan cairan kewanitaan Audrey yang membasahi anus tersebut. Terlihat wajah Audrey di dada Amir menahan sakit. Mata Audrey terpejam menahan sakit dan Audrey menggigit bibir bawahnya sendiri ketika senti demi senti penis Sudin yang besar mulai menerobos masuk ke dalam lubang anus Audrey. Namun tidak ada keluhan atau jeritan sakit keluar dari mulut Audrey. Audrey dengan tabah menerima penis Sudin di anusnya. Setelah penis Sudin masuk seluruhnya ke dalam lubang anus Audrey, baik Audrey, Amir dan Sudin berdiam diri beberapa menit dalam keadaan penis Amir seluruhnya masuk dalam vagina Audrey dan seluruh penis Sudin seluruhnya masuk dalam lubang anus Audrey.



Beberapa menit berlalu ketika terlihat Audrey mulai dapat membiasakan diri dengan dua penis besar masing-masing di vagina dan anusnya. Kemudian Audrey mengangkat tubuhnya sedikit dan bertumpu dengan kedua tangannya di karpet dan secara bersamaan mulai memutar-mutar pantatnya sendiri. Amir dan Sudin mengerti bahwa majikan perempuannya itu sudah siap melakukan persetubuhan dan keduanya segera menggenjot penis mereka masing-masing dari pelan-pelan makin lama makin cepat. Amir dari bawah dengan buasnya menggenjotkan penisnya ke vagina Audrey, sedangkan Sudin dengan tidak kalah ganasnya menggenjot penisnya ke anus Audrey dari belakang. Menerima serangan dari dua arah pada kedua lubangnya, wajah Audrey menampakkan kepuasan, senyumnya kembali terlihat dan desahan-desahan nikmat mulai keluar dari mulutnya. Amir kemudian dari bawah menyerahkan rantai yang menghubungkan kedua jepitan di payudara Audrey ke mulut Audrey, dan Audreypun langsung menyambutnya dengan menggigit rantai tersebut. Kemudian Audrey sedikit merebahkan tubuhnya ke depan sehingga kedua payudaranya persis di atas wajah Amir yang langsung disambut Amir dengan genggaman kedua tangan Amir di kedua payudara tersebut dan disertai jilatan dan kuluman mulut Amir di payudara Audrey. Sudin yang sedang menggasak anus Audrey dengan penisnya tidak mau kalah, ditariknya rambut Audrey ke belakang sehingga kepala Audrey terdongak ke atas yang menyebabkan kedua payudara Audrey ikut tertarik. Lenguhan kecil terdengar dari mulut Audrey ketika kedua payudaranya tertarik kencang, namun wajah Audrey tetap terlihat kenikmatan. Mendengar itu, Sudin makin menarik-narik rambut Audrey, setiap tarikannya selalu disertai lenguhan nikmat Audrey sehingga membuat Sudin semakin berani menarik-narik rambut Audrey dengan kasar. Setelah 20 menit terlihat Amir mulai akan mencapai orgasmenya. Audrey menyadari hal itu dan semakin menggerak-gerakan pinggulnya dengan liar sehingga dalam waktu tidak beberapa lama kemudian Amir mencapai orgasmenya dan memuntahkan seluruh spermanya ke dalam vagina Audrey.



Melihat Amir telah orgasme, Sudin kemudian mencabut penisnya dari anus Audrey dan menarik tubuh Audrey ke belakang dan segera men-doggy style Audrey dengan kasar. Audrey terlihat puas dengan perlakuan pembantu pria dan supirnya. Mulut Audrey yang sekarang tepat diselangkangan Amir tidak tinggal diam, dikulum dan dijilatinya penis Amir sehingga semua sperma dan cairan kewanitaan yang menempel di penis Amir dijilat dan ditelannya sampai bersih. Kedua tangan Audrey mengocok-ngocok penis Amir seakan-akan tidak rela kalau penis Amir sudah melayu.



Kegiatan Audrey pada penis Amir baru terhenti ketika tiba-tiba Sudin meraih kedua pundak Audrey dan menariknya ke belakang sehingga sekarang posisi Audrey dan Sudin dalam keadaan berlutut tegak dengan penis Sudin menggasak vagina Audrey dari belakang. Sudin terus menggasak vagina Audrey dengan penisnya, gerakan-gerakannya sungguh liar, kedua tangan Sudin meraih kedua payudara Audrey dari belakang. Diremas-remasnya kedua payudara Audrey dengan ganas. Audreypun tidak mau kalah, diputar-putarnya pinggulnya dengan disertai tekanan-tekanan ke belakang kearah penis Sudin. Selain menggenjot vagina Audrey dari belakang dan meremas-remas payudara Audrey dengan ganasnya, Sudin juga menciumi dan menjilati leher Audrey yang jenjang itu dan juga mengulum-ngulum kuping Audrey. Sambil terus menjilati leher dan kuping Audrey, Sudin kemudian mengarahkan tangan kanannya ke klitoris Audrey dan mulai menggosok-gosok klitoris Audrey dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya.



Diperlakukan demikian, Audrey menggelinjang-gelinjang kenikmatan, kedua tangan Audrey meraih pantat Sudin dan menarik-nariknya ke depan sehingga penis Sudin semakin keras menghujam vaginannya. Kemudian Audrey mendongakkan kepalanya ke belakang ke bahu kanan Sudin dan mulai menciumi bibir Sudin yang langsung disambut Sudin dengan ganas. Audrey dan Sudin berciuman dan saling memainkan lidahnya masing-masing. Terdengar rintihan-rintihan nikmat Audrey dan dengan mata sayu Audrey memandangi mata Sudin sambil terus berciuman dengan Sudin.



“Aaah…ahhh…nikmat pak Sudin….aam..pun….nikmat sekali…” terdengar desahan-desahan kecil keluar dari mulut Audrey.



Benar-benar pemandangan yang hebat, seorang wanita cantik berkulit putih bersetubuh dengan seorang pria tua setengah baya berkulit hitam legam. Keringat mengucur deras dikeduanya sehingga nampak kedua tubuh mereka mengkilap karena keringat itu dan semuanya terekam dengan baik di kamera video Wen.



Setelah sekian puluh menit, kembali Audrey berkata “Tuuaan bolehkah saya orgasme lagi….”



“Tunggu, saya juga hampir orgasme, kita orgasme sama-sama ya” jawab Sudin kepada budak seksnya yang dahulu adalah majikan perempuannya.



Audrey tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepala dan terlihat berusaha sekuat tenaga menahan orgasmenya dengan susah payah. Setelah beberapa belas menit kemudian terlihat Sudin akan mencapai orgasmenya, Audrey menyadari hal itu dan raut mukanya terlihat lega. Beberapa detik kemudian kedua manusia berlainan jenis itu mencapai orgasme secara bersama-sama. Kembali tubuh Audrey mengejang hebat, diremas-remasnya rambut kepala Sudin, diciuminya bibir Sudin dan secara bersamaan, Sudin juga memuntahkan sperma di dalam vagina Audrey. Beberapa menit Audrey dan Sudin berada di puncak orgasme, kemudian kedua tubuh mereka rebah bersamaan di atas karpet kelelahan





Bersambung ......

No comments:

Post a Comment

Recent In Internet

Raja

Breaking

Entri Populer