Cabung Yuk

Jumat, 14 September 2012

Audrey 4

Wen rupanya belum puas dengan Audrey. Segera ditariknya rantai penjepit payudara Audrey sehingga terpaksa membuat Audrey bangkit. Kemudian Wen memerintahkan Audrey untuk duduk di sofa kecil dengan kedua kaki mengangkang bertumpu pada kedua lengan sofa. Kemudian wen memerintahkan Kisno untuk mengikat masing-masing pergelangan kaki Audrey pada kaki-kaki sofa, demikian juga kedua pergelangan tangan Audrey diikat pada kaki-kaki sofa yang lainnya, sehingga kini posisi Audrey menjadi tidak berdaya dengan posisi duduk mengangkang di sofa dan masing-masing kakinya terikat di kaki-kaki depan sofa serta masing-masing tangan terikat di kaki-kaki belakang sofa. Audrey yang masih kelelahan tidak banyak melawan, kelihatannya Audrey sudah benar-benar pasrah dengan apa yang akan dialaminya.



“Nah, Audrey, sekarang pelajaran baru buat kamu” kata Wen tiba-tiba sambil menyerahkan kamera video kepada Kisno.



“Kisno, kamu rekam ya yang bagus” lanjut Wen kepada Kisno.



Kisno yang mendengar perintah majikannya hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum dan mulai merekam Audrey dalam keadaan tidak berdaya itu. Wen kemudian berlutut dihadapan selangkangan Audrey, tangan kanannya kemudaian menggosok-gosok vagina Audrey, dan kemudian jari tengah dan jari telunjuk tangan kanannya mulai memasuki vagina Audrey. Audrey sedikit menggelinjang ketika 2 jari tangan Wen masuk ke dalam vaginanya. Desahan kecil keluar dari mulut Audrey. Setelah beberapa menit memainkan vagina Audrey dengan 2 jarinya, Wen kemudian meraih rantai penjepit payudara Audrey dengan tangan kirinya serta mulai menarik-nariknya pelan-pelan namun panjang sehingga kedua payudara Audrey benar-benar tertarik ke depan. Suara rintihan terdengar lagi dari mulut Audrey ketika rantai tersebut ditarik-tarik oleh Wen. Beberapa menit berlalu ketika Wen mulai menggunakan ibu jari tangan kanannya untuk memainkan klitoris Audrey, dan secara pelan-pelan memasukkan jari manis tangan kanannya ke dalam vagina Audrey sehingga kini 3 jari Wen masuk ke dalam vagina Audrey.



Setelah 3 jari Wen masuk ke vagina Audrey, Wen mulai memompa ketiga jarinya keluar masuk vagina Audrey dengan cepat. Wen secara lihai memainkan vagina Audrey dengan ketiga jarinya ditambah ibu jarinya di klitoris Audrey yang membuat Audrey menggelinjang hebat dan merintih-rintih kenikmatan dengan keras. Terdengar bunyi keciplak kecipluk ketika vagina Audrey yang sudah basah dengan sperma Amir dan Sudin serta ditambah cairan kewanitaannya sendiri dikerjai habis-habisan oleh jari-jari tangan Wen. Setelah beberapa menit, Wen mulai memasukkan jari kelingkingnya ke dalam vagina Audrey, sehingga sekarang 4 jari tangan Wen memompa vagina Audrey. Terlihat raut wajah Audrey menampakkan sedikit kekuatiran, tapi ikatan pada kedua kaki dan kedua tangannya membuat Audrey tidak dapat berbuat banyak serta ditambah lagi kelihaian jari-jari tangan Wen di vaginanya membuat Audrey hanyut dalam birahinya meskipun terdapat sedikit kekuatiran karena vaginanya tidak pernah dimasuki 4 jari tangan sebelumnya. Cukup lama Wen memainkan vagina Audrey dengan keempat jari tangannya sehingga Audrey makin menggelinjang-gelinjang dan mendesah-desah kenikmatan. Kemudian Wen memperlambat genjotan keempat jarinya pada vagina Audrey dan kemudian mulai mencoba memasukkan ibu jari tangan kanannya ke dalam vagina Audrey.



“Jaaa…ngggaan..Pak Wen..ugggghhhh…” terdengar suara kuatir Audrey ketika ibu jari tangan Wen mulai memasuki vaginanya.



“Ini namanya fisting, kamu harus terbiasa dengan ini, kamu sebagai budak seks harus bisa menerima dan menikmati apa saja perlakuan tuanmu” Wen menjawab kekuatiran Audrey dengan tegas.



“Sekarang perhatikan ini! Kamu akan takjub dengan dengan apa yang vaginamu bisa terima” lanjut Wen sambil terus memasukkan ibu jarinya ke dalam vagina Audrey.



Setelah kelima jari tangan kanan Wen masuk seluruhnya ke dalam vagina Audrey, Wen tidak berhenti sampai situ saja, namun telapak tangan kanannya terus mendesak masuk ke dalam vagina Audrey sedangkan tangan kirinya makin menarik rantai penjepit payudara Audrey makin ke depan.



“Ooogghhh…..uuugghh…..aaaggghhhhh….” jerit Audrey keras ketika telapak tangan kanan sampai pergelangan tangan kanan Wen masuk seluruhnya ke dalam vagina Audrey.



“Gigit ini supaya tidak terlalu sakit” kata Wen kemudian sambil menyerahkan rantai penjepit payudara itu ke dalam mulut Audrey yang langsung dituruti oleh Audrey.



Wen tidak langsung memompa lengannya pada vagina Audrey. Didiamkannya telapak tangannya di dalam vagina Audrey. Audrey sambil menggigit rantai itu terlihat meringis-ringis sambil berusaha membenarkan posisinya badannya. Mata Audrey terlihat menatap takjub kearah vaginanya sendiri. Sekali lagi benar-benar pemandangan yang diluar dugaanku, istriku yang cantik jelita duduk mengangkang terikat di atas sofa tidak berdaya dengan telapak tangan Wen tertancap kuat didalam vaginanya. Setelah beberapa waktu, Wen mulai menggerakkan telapak tangannya keluar masuk vagina Audrey secara perlahan-lahan yang disertai rintihan-rintihan Audrey setiap kali telapak tangan Wen memasuki vagina Audrey.



“Uuughhh…..ooogggh……aahhh….” desah Audrey cukup keras sambil menggelinjang-gelinjang serta meringis-ringis antara menahan sakit dan nikmat.



Beberapa menit kemudian Wen mulai mempercepat gerakan tangannya keluar masuk vagina Audrey. Wen juga mengkombinasikan gerakan tangannya dengan gerakan memutar-mutar telapak tangannya di dalam vagina Audrey. Gerakan-gerakan tangan Wen tersebut makin membuat Audrey menggelinjang-gelinjang. Audrey mulai menggerakan pinggulnya maju mundur serta memutar mengikuti irama permainan tangan Wen pada vaginanya. Desahan-desahan yang keluar dari mulut Audrey semakin keras, dan sekarang nampaknya tinggal desahan-sesahan kenikmatan. Wajah Audrey terdongak ke atas sambil sesekali menunduk menatap kearah vaginanya, sedangkan dada Audrey membusung ke depan dan meliuk-liuk tidak karuan. Kedua payudaranya tertarik keras setiap kali Audrey mendongakkan kepalanya ke atas karena rantai yang digigitnya menjadi menarik kedua payudaranya.



“Ooohh…..ohhhh…Pak Wen….Oohhh..ooohhh” terdengar desahan-desahan Audrey telah berubah menjadi lolongan-lolongan panjang kenikmatan.



Beberapa menit kemudian, Audrey sudah benar-benar hanyut dalam kenikmatan birahinya. Mata Audrey berubah menjadi benar-benar sayu dan sesekali Audrey memejamkan matanya. Liukan-liukan pinggul dan badannya memelan seakan-akan sedang bergerak dalam slow motion. Mulut Audrey terbuka sedikit, rantai dimulutnya sudah terlepas dari gigitannya. Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan serta memutar dengan pelan, lolongan-lolongannya mejadi semakin panjang dan lambat-lambat. Melihat perubahan pada diri Audrey, Wen tersenyum sinis dan memerintahkan Amir untuk melepaskan seluruh ikatan pada kaki-kaki dan tangan-tangan Audrey. Begitu seluruh ikatan terlepas, Audrey yang kini bebas bergerak, mulai mengeliat-geliat seperti orang yang baru bangun tidur. Kedua tangan Audrey kadang menggeliat ke atas sambil meremas-remas pelan rambutnya sendiri, kadang mengusap-usap perutnya sendiri dan naik ke atas untuk mengelus-ngelus kedua payudaranya sendiri. Audrey semakin membuka lebar kedua kakinya untuk memberikan akses lebih luas bagi tangan Wen, sedangkan bibir Audrey mulai menciumi dan menjilati serta mengigit-gigit kecil lengan atasnya sendiri persis di atas ketiaknya, dan kadangkala digigitnya sendiri bibir bawahnya. Beberapa belas menit kemudian terlihat Audrey sudah siap orgasme. Dengan kedua tangannya Audrey meraih tangan kanan Wen yang sedang mengobok-ngobok vaginanya sehingga Wen tidak dapat lagi memompa tangannya keluar masuk vagina Audrey. Wen mengerti apa yang diinginkan Audrey. Wen menghentikan kegiatannya dan membiarkan telapak tangan kanannya terbenam seluruhnya di vagina Audrey. Sedangkan Audrey dengan kedua tangannya yang masih memegang tangan kanan Wen mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur dan memutar, sehingga kini Audrey yang bergerak sendiri untuk memuaskan nafsu birahinya dan mengarahkan tangan Wen agar mengenai titik-titik kenikmatan dalam vaginanya. Tidak lama setelah itu, badan Audrey mengejang hebat. Kedua tangannya menarik kuat-kuat tangan kanan Wen agar semakin dalam tertancap vaginanya.



“Tuuuuaaaan…. bbolehhh..saya orgasme….pleaaaassseeee…..” teriak Audrey keras dengan terbata-bata memohon kepada Wen. Wen yang ditanya hanya mengangguk pelan, dan tak lama kemudian terdengar suara Audrey berteriak keras dengan badan yang mengejang hebat, “Oogggghhh…terimaaa…kassiiihhhh….tuaaaan…eennaakk!!”



Setelah badan Audrey melemas, Wen pun mengeluarkan tangan kanannya dari vagina Audrey. Audrey langsung rubuh ke sofa ketika tangan Wen seluruhnya tercabut dari vaginanya. Nafas Audrey terengah-engah kelelahan, kedua kakinya dirapatkannya kembali, keringat membasahi sekujur tubuhnya.



“Kisno, tuh sekarang ambil bagianmu” kata Wen memecah keheningan ruangan sambil meminta kamera videonya kembali dari Kisno.



Mendengar itu terlihat Kisno kegirangan. Dikembalikannya kamera video yang sedang digenggamnya kepada majikannya. Dengan sedikit melonjak-lonjak kegirangan Kisno mendekati Audrey. Audrey yang masih kelelahan terlihat sedikit ketakutan melihat tingkah laku Kisno. Sesampainya di dekat Audrey, tanpa bicara apapun lagi, Kisno langsung menjambak rambut Audrey dengan keras dan menarik Audrey sehingga Audrey terjerembab ke karpet.



“Aooowwww…..!!!” terdengar terikan Audrey keras ketika tubuhnya terjerembab ke karpet karena tarikan Kisno pada rambutnya.



“Diam kamu pelacur! Sekarang kamu milikku! Nurut aja! Ayo bangun posisi merangkak seperti anjing!” bentak Kisno kepada Audrey sambil menendang-nendang pelan pantat Audrey.



Dengan gerakan menjambak rambut Audrey ke atas, Kisno berhasil membuat Audrey menuruti kemauannya, kini Audrey dalam posisi merangkak seperti anjing dengan Kisno menjambak rambutnya kuat-kuat. Kemudian Kisno dengan tetap menjambak rambut Audrey berjalan mengelilingi ruangan sehingga Audrey harus merangkak-rangkak mengikutinya. Kisno sambil mengelilingi ruangan mengatakan kepada semua yang ada di ruangan itu bahwa dia akan membuat Audrey benar-benar bertekuk lutut padanya dan membuat Audrey benar-benar kecanduan akan penisnya.



Kemudian Kisno menghentikan langkahnya ketika sampai ditempat aku duduk. Diarahkannya Audrey berlutut dihadapan selangkanganku.



“Nah, sebelum kamu merasakan penisku, sebagai perbandingan kamu nikmati dulu penis suamimu, nanti setelah itu kamu akan mengerti apa itu kenikmatan. Buka celana suamimu sekarang” kata Kisno memerintahkan Audrey.



Dengan sekali tarikan pada rambut Audrey, Kisno berhasil membuat Audrey menurut. Audrey mulai membuka dan menurunkan celana dan celana dalamku. Aku yang sudah sangat terangsang karena melihat persetubuhan istriku dengan Amir, Sudin dan tangan Wen hanya berdiam diri saja, malah pada saat itu aku berpikir ini adalah kesempatan karena sudah lama aku tidak bersetubuh dengan istriku mengingat Wen sebelumnya hanya membolehkan Audrey untuk mengoral service penisku saja. Ketika celana dan celana dalamku sudah terlepas, terlihat penisku sudah sangat menegang. Terlihat wajah Audrey sedikit kecewa mengetahui bahwa aku terangsang melihat dirinya dikerjai oleh laki-laki lain.



“Wah, si suami rupanya sudah sangat terangsang nih karena melihat istrinya kita kerjain” kata Kisno kepada semua yang ada di ruangan itu sambil tertawa. Kemudian Kisno memerintahkan Audrey untuk menaiki diriku dan memasukkan penisku ke dalam vaginanya, sehingga kini Audrey duduk di atasku dengan penisku tertancap di vaginanya.



Seperti mengerti apa yang diinginkan Kisno, Audrey mulai menggerakkan tubuh dan pinggulnya naik turun memompa penisku. Mula-mula gerakan tersebut dilakukan Audrey dengan perlahan namun lama-lama makin cepat. Vagina Audrey yang basah masih terasa rapat di penisku. Hal ini membuat aku sedikit terkejut karena vagina itu sebelumnya baru dimasuki tangan Wen yang besar. Ternyata vagina Audrey tidak melonggar atau rusak karena tangan Wen, vagina Audrey tetap seperti sediakala, namun ada yang beda pada diri Audrey, yaitu dalam melakukan persetubuhannya denganku ini, Audrey tidak mengeluarkan desahan apapun, Audrey melakukannya hanya seperti robot, nampak sekali Audrey tidak menikmatinya. Sedangkan aku yang sudah lama tidak merasakan vagina wanita sangat menikmati persetubuhan tersebut.



Tidak memerlukan waktu terlalu lama bagiku untuk mengalami orgasme. Aku muntahkan seluruh spermaku di dalam vagina Audrey.



“Tuan, Tommy sudah klimaks” kata Audrey tiba-tiba sambil menoleh ke Kisno setelah aku selesai memuntahkan seluruh spermaku di dalam vaginanya.



“Cepat amat…ya sudah sekarang duduk mengangkang disitu” kata Kisno amemerintahkan istriku sambil menujuk sofa panjang.



Audrey menuruti kemauan Kisno. Audrey duduk di sofa panjang dengan kaki mengangkang lebar. Terlihat lelehan spermaku ada yang keluar dari selangkangannya yang dicukur bersih itu. Kemudian Kisno memposisikan dirinya di hadapan Audrey, diarahkannya penisnya yang berbentuk aneh dan dipenuhi tindikan itu kearah vagina Audrey. Audrey nampak ketakutan ketika penis Kisno yang mempunyai tonjolan-tonjolan bulat yang dapat bergerak-gerak dengan tindikan beberapa cincin emas yang sebagiannya tertutup dengan bulu-bulu kasar seperti sabuk kelapa mendekati vaginanya.



“Jangan takut, kamu akan segera tahu enaknya ini penis ini. Ini penis spesial, cuma ada satu di Indonesia. Untuk jadi seperti ini harus dibuat di Cina hehehehehe” tawa Kisno melihat raut muka Audrey yang memperlihatkan kekuatiran.



Secara pelan-pelan, Kisno mulai memasukan penisnya ke dalam vagina Audrey yang langsung disambut dengan teriakan histeris dari Audrey.



“Aaaah…….ugggghhhhhh….jangan tuan….apa ini….” jerit histeris Audrey sambil berusaha melepaskan diri dari Kisno.



Sebelum Audrey bisa berbuat banyak, Kisno dengan cekatan memegang kedua tangan Audrey dan memposisikan Audrey kembali ke posisi semula.



“Jangan banyak bergerak, kamu mau saya sakiti atau mau menerima kenikmatan luar biasa! Pilih! Ini baru kepala penisku yang masuk!” bentak Kisno kepada Audrey sambil memegang kedua tangan Audrey sejajar dengan kepala Audrey.



Audrey hanya mengangguk lemah tanda persetujuannya. Air mata terlihat berlinang dikedua matanya. Kemudian Kisno melanjutkan memasukkan penisnya ke dalam vagina Audrey secara perlahan sekali, senti demi senti masuk pelan-pelan ke dalam vagina Audrey, seakan-akan Kisno memang sengaja agar dinding vagina Audrey merasakan gesekan penis bertindik cincin emas yang dibaluti oleh bulu-bulu seperti sabuk kelapa itu.



“Ooooggghhh…….” desah Audrey panjang sekali ketika Kisno menekan pantatnya ke depan sehingga sebagian kecil batang penis Kisno mulai masuk ke dalam vagina Audrey. Mata Audrey melotot tajam memandangi vaginanya mulai dimasuki penis Kisno. Mulut Audrey terbuka lebar dan pinggulnya bergerak sedikit mengatur posisinya agar lebih nyaman dalam menerima penis Kisno.



“UUggghhhhhh….” teriakan kecil tapi panjang keluar dari mulut Audrey ketika Kisno menekan lagi pantatnya ke depan sehingga batang penis Kisno makin masuk ke dalam vagina Audrey. Badan Audrey bergetar hebat. Audrey membuka kakinya lebar-lebar, matanya masih melotot tajam memandangi vaginanya sendiri.



“Ooogggghhh……” teriakan Audrey semakin panjang ketika untuk ketiga kalinya Kisno menekan pantatnya ke depan sehingga batang penis Kisno semakin dalam lagi memasuki vagina Audrey. Audrey mendongakkan kepalanya ke belakang, matanya tertutup rapat namun mulutnya makin terbuka lebar.



Beberapa saat Kisno menghentikan gerakannya, kemudian terdengar lagi teriakan panjang “Ooogghhh…” keluar dari mulut Audrey ketika Kisno kembali menekan pantatnya ke depan sehingga batang penis Kisno semakin dalam lagi memasuki vagina Audrey. Kepala Audrey yang masih terdongak itu terlihat bergerak ke kiri dan ke kanan. Kedua tangan Audrey yang telah dilepas dari genggaman Kisno terlihat masing-masing memegang bahu Kisno. Badan Audrey semakin bergetar hebat, kakinya yang mengangkang terlihat menendang-nendang kecil ke udara. Sekali lagi Kisno menghentikan gerakannya untuk beberapa saat sebelum untuk kelima kalinya menekan pantatnya kedepan yang membuat batang penisnya semakin dalam lagi masuk ke dalam vagina Audrey. Teriakan Audrey terdengar semakin keras dan liar ketika batang penis Kisno makin dalam masuk ke dalam vaginanya. Badan Audrey yang bergetar hebat sekarang bergoyang-goyang tidak karuan. Kedua kakinya semakin keras menendang-nendang ke udara sedangkan masing-masing tangannya memukul-mukul bahu Kisno.



“Aaaammmppppuuunnnn…..tuaaaannnn…..saya tidak tahan….” Kata Audrey dengan badan yang menggeliat-geliat hebat sambil memandang Kisno.



Kisno kembali menghentikan gerakannya, namun kontras dengan Kisno, justru badan Audrey semakin keras menggeliat-geliat, kakinya semakin keras menendang-nendang ke udara dan kedua tangannya kini menjambak-jambak rambut Kisno. Kemudian Kisno dengan keras menekan pantatnya ke depan sehingga seluruh penisnya amblas ke dalam vagina Audrey yang disertai lolongan sangat panjang dari mulut Audrey. Menerima seluruh penis Kisno di dalam vaginanya membuat badan Audrey menegang dan menggeliat-geliat, kedua kakinya mengangkang lurus ke atas dan bibir Audrey menggigit keras tangan kirinya sendiri yang dikepal sedangkan tangan kanannya tetap menjambak keras rambut Kisno.



“Hehehe…. enak ya?” tanya Kisno kepada Audrey. Audrey tidak menjawab, matanya nanar melihat ke wajah Kisno.



Lalu tiba-tiba Kisno memutar-mutar pinggulnya sehingga seluruh penis Kisno menggesek-gesek dinding dalam vagina Audrey. Masing-masing tangan Audrey meremas keras pegangan sofa, kepalanya kembali terdongak ke belakang, badannya makin menegang hebat, dadanya membusung ke depan sehingga punggung Audrey sampai melengkung ke depan ketika Audrey merasakan penis Kisno bergesekan dengan dinding dalam vaginanya. Beberapa detik kemudian terdengar lolongan panjang Audrey tanda Audrey mencapai orgasmenya. Vagina Audrey memuncratkan cairan kewanitaan dengan cukup banyak dan berulang-ulang sampai-sampai sofa yang didudukinya menjadi sangat basah. Tidak mempedulikan Audrey yang sedang orgasme, Kisno mulai memompa penisnya secara perlahan keluar masuk vagina Audrey. Diperlakukan demikian Audrey menggelinjang-gelinjang hebat seperti cacing kepanasan. Kemudian Kisno mulai mempercepat genjotan penisnya pada vagina Audrey. Badan Audrey makin bergerak tidak karuan, kedua tangannya memukul-mukul lengan sofa. Nafas Audrey tersengal-sengal, rintihan-rintihan nikmatnya makin menjadi-jadi. Terdengar suara kecipak kecipuk yang sangat keras ketika penis Kisno keluar masuk vagina Audrey yang sudah sangat becek.



“Terus….teruuussss….jangaaannn…berhenti……lebih keras…lebih keras…..lebih dalam…lebih dalam….” jeritan Audrey terdengar keras mengiba-ngiba kepada Kisno.



“Jagoanku….jagoanku….hajar terus…vaginaku ini….ini milikmu semua….” Audrey merintih-rintih nikmat sambil masing-masing tangannya memegang pipi Kisno dengan keras dan matanya memandang liar ke mata Kisno.



Hanya perlu kurang lebih lima menit untuk Audrey mencapai orgasmenya kembali. Vagina Audrey kembali memuncratkan cairan kewanitaannya, badan Audrey menegang hebat, mata Audrey tertutup rapat dan lolongan yang panjang membuat semua orang tahu ketika Audrey sedang orgasme. Setelah orgasme, Audrey kembali menggeliat-geliat hebat, matanya kembali terbuka, tangannya menekan-nekan pantat Kisno agar penis Kisno makin dalam masuk ke vaginanya, dan selalu kurang lebih lima menit kemudian, badan Audrey menegang kembali, lolongan panjang terdengar dari mulutnya, badannya seperti kaku ketika Audrey mengalami orgasmenya kembali dan cairan kewanitaan kembali memuncrat hebat dari vaginanya. Kejadian tersebut kembali terjadi berulang-ulang sampai kurang lebih 40 menit. Badan Audrey dan Kisno sudah mandi keringat, namun keduanya nampak menikmati sekali permainan seks mereka, terutama Audrey terlihat sekali sudah tidak dapat mengontrol dirinya, lenguhan-lenguhannya semakin keras. Audrey mulai meracau dan mengeluarkan kata-kata cabul untuk menyemangati Kisno. Sangat berbeda dari Audrey yang pertama kali kukenal dan kunikahi. Audery sekarang telah berubah menjadi wanita yang gila seks, semakin kasar perlakuan Kisno terlihat semakin Audrey menikmatinya. Kemudian secara tiba-tiba, Kisno mencabut penisnya yang besar dari vagina Audrey. Langsung saja terdengar keluhan keras dari mulut Audrey.



“Jangan….dilepaaasss…..ooouuccchh……” terdengar teriakan Audrey ketika Kisno menjambak rambutnya dengan kasar dan menariknya serta memposisikannya berdiri menungging dengan kedua tangan berpangku pinggir meja di ruangan TV itu.



Tanpa mengatakan apapun lagi, Kisno dengan kasar lalu memasukkan penisnya ke dalam vagina Audrey dari belakang. Terdengar jeritan dari mulut Audrey ketika penis Kisno yang berbentuk aneh itu kembali mengoyak vaginanya. Kisno kemudian langsung memompa dengan kasar vagina Audrey dengan gaya doggy style. Tangan kiri Kisno melingkar ke depan kearah klitoris Audrey dan tangan kiri Kisno mulai memainkan, mencubit-cubit dan memilin-milin klitoris Audrey. Diperlakukan demikian langsung badan Audrey bereaksi. Badan Audrey menggelinjang-gelinjang hebat seperti orang kegelian. Terlihat cairan kewanitaan Audrey meleleh dari vaginanya makin membasahi kedua paha dalamnya. Mulut Audrey terbuka lebar, kepalanya bergoyang-goyang tidak beraturan, sedangkan kedua tangannya berusaha dengan susah payah tetap bertumpu pada pinggir meja. Suara lolongan dan rintihan nikmat Audrey membahana di ruangan itu bersahut-sahutan dengan bunyi keciplak kecipluk dari vaginanya yang basah dan bunyi bel kecil yang tersangkut di bibir atas vaginanya. Mata Audrey merem melek dan mendelik-delik karena kenikmatan yang tidak ada taranya, dan setiap kurang lebih lima menit Audrey kembali mencapai orgasmenya yang selalu ditandai dengan badannya yang mengejang hebat dan vaginanya yang memuncratkan cairan kewanitaan dengan cukup banyak. Kurang lebih 30 menit Adrey didoggy style oleh Kisno, keringat Audrey sudah mengucur deras. Cairan kewanitaannya sudah benar-benar membasahi kedua paha dalamnya. Karpet di antara kedua kaki Audrey sudah basah karena cairan kewanitaan Audrey yang mengucur deras ke bawah. Meja kaca tempat kedua tangan Audrey bertumpu sudah juga basah dengan lelehan keringat Audrey dan cairan kewanitaan Audrey yang memuncrat cukup jauh. Kemudian Wen dengan kamera ditangan kanannya menjambak rambut Audrey dengan tangan kirinya dan menarik rambut Audrey ke belakang sehingga wajah Audrey terdongak ke atas. Kamera lalu menclose-up wajah Audrey yang sedang meringis-ringis kenikmatan itu.



“Enak? Jawab ke kamera ini bagaimana rasanya” tanya Wen tegas kepada Audrey.



“Eeen..naaakkk…sekkaaali tuuuaaan” jawab Audrey sambil menggeliat-liat liar karena sodokan-sodokan penis Kisno dari belakang, “Penis tuan Kisno seperti hidup dan mengigit-gigit bagian dalam vagina saya…uuugghhh…aagghhh…..” lanjut Audrey sambil memandang kamera dan merintih-rintih kenikmatan.



“OOoooogggghhh………!!!” kemudian terdengar lolongan panjang Audrey yang disertai dengan vagina yang kembali memuncratkan cairan kewanitaannya tanda Audrey kembali mengalami orgasme yang panjang.



“Cepat sekali kamu orgasme ya. Mulai sekarang kamu harus juga menuruti apa kemauan Kisno, Amir dan Sudin. Kamu harus menyerahkan seluruh tubuhmu pada mereka, mau? Siap?” lanjut Wen sambil menjambak-jambak rambut Audrey ke belakang.



Setelah sedikit reda dari orgasmenya, Audrey menjawab dengan terbata-bata “Mau…tuuuaan…maaauu…, saya siap melayani dan menuruti apa maunya tuan Kisno, Amir dan Sudin”



“Sayaa….sepenuhnya milik mereka…eegghhh…aaaggghhh….ugghhhhh….” lanjut Audrey sambil menggelinjang-gelinjang dan merem melek kenikmatan.



Lalu Wen melepaskan jambakannya pada rambut Audrey dan mundur beberapa langkah untuk memberikan keleluasaan bagi Audrey untuk kembali konsentrasi ke persetubuhannya dengan Kisno. Melihat Wen telah membiarkan Audrey, Amir dan Sudin maju ke depan dan berdiri masing-masing disamping kiri dan kanan wajah Audrey. Kemudian Amir dan Sudin memerintahkan Audrey untuk mengocok masing-masing penis mereka dengan masing-masing tangan Audrey. Audrey segera menuruti meskipun hal tersebut membuat dirinya susah untuk berdiri karena kedua tangannya yang tadinya digunakannya untuk menumpu badannya sekarang harus dipergunakan untuk mengocok-ngocok penis Sudin dan Amir. Melihat Audrey yang kesulitan berdiri sambil menungging, Kisno malah menggunakan kedua tangannya untuk memegang erat pinggul Audrey dan makin memompa dengan keras penisnya pada vagina Audrey yang membuat Audrey makin kesulitan berdiri menungging. Ditambah lagi sekarang Amir dan Sudin dengan tangannya masing-masing mulai meraba-raba dan mempermainkan klitoris dan kedua payudara Audrey sehingga Audrey makin menggelinjang-gelinjang seperti cacing kepanasan yang membuatnya tambah sulit mempertahankan posisi berdirinya. Audrey yang sudah benar-benar kehilangan kontrol atas dirinya sudah benar-benar pasrah. Kenikmatan yang diberikan Kisno pada dirinya telah benar-benar menghilangkan harga dirinya sebagai wanita terhormat. Menyadari Audrey sudah benar-benar hanyut dalam kenikmatan seksual, Amir dan Sudin tidak tahan untuk mengetahui seberapa menurutnya Audrey pada mereka.



“Hayo…menggonggong seperti anjing betina yang sedang dientot” perintah Amir kasar tiba-tiba kepada Audrey.



“Gu…guk…guuk…oghhh…..aghhh..guuuk….” Audrey langsung menuruti perintah Amir yang disambut oleh tawa lebar dari Amir, Sudin dan Kisno.



“Hayo keluarkan lidahmu seperti anjing kehausan” perintah Sudin kemudian yang langsung dituruti oleh Audrey yang cantik sambil menggelinjang-gelinjang kenikmatan sehingga sekarang Audrey dalam posisi berdiri menungging didoggy style Kisno dengan masing-masing tangan sibuk mengocok penis Amir dan penis Sudin serta mulut terbuka dengan lidah menjulur keluar serta nafas terengah-engah seperti anjing kehausan.



“Hahahahaha…” terdengar tawa semua yang ada di ruangan TV itu melihat Audrey menuruti semua perintah Amir dan Sudin. Hanya aku yang tidak ikut tertawa. Aku sekarang melihat istriku yang cantik benar-benar dipermalukan oleh supir dan pembantunya sendiri tapi istriku menikmatinya. Audrey sudah benar-benar takluk pada keperkasaan Kisno sehingga mau dipermalukan oleh Sudin dan Amir.



“OOOggggghhhh…..” terdengar lolongan panjang dari mulut Audrey setiap kali Audrey mencapai orgasmenya. Tubuhnya selalu mengejang hebat dan vaginanya selalu memuncratkan cairan kewanitaan setiap kali Audrey mencapi orgasme namun Audrey tidak melemas setelah mengalami orgasme. Vaginanya langsung siap meneruskan persetubuhannya dengan Kisno.



Setelah berpuluh-puluh menit dan setelah Audrey mengalami orgasme yang sudah tidak terhitung lagi, Amir dan Sudin mencapai orgasmenya. Dimuntahkannya sperma mereka masing-masing ke wajah Audrey, dan mereka memerintahkan Audrey membersihkan sisa-sisa sperma dari penis mereka dengan menggunakan lidah dan mulut Audrey yang langsung dituruti Audrey tanpa ragu-ragu. Sudin dan Amir juga memerintahkan Audrey untuk membersihkan muka Audrey dari sperma dengan tangan Audrey, kemudian mereka meminta Audrey untuk menjilati tangannya sendiri dan menelan seluruh sperma yang ada ditangannya.



Tidak seperti Amir dan Sudin, rupanya Kisno benar-benar seorang pria yang tangguh dalam hal seks. Belum ada tanda-tanda Kisno akan orgasme. Amir dan Sudin yang sudah lemas berejakulasi kemudian hanya menonton persetubuhan Kisno dan Audrey. Demikian juga yang lainnya hanya menonton Audrey dikerjai habis-habisan oleh Kisno. Audrey dan Kisno melanjutkan pertarungan seks yang tidak seimbang itu. Audrey setiap kurang lebih 5 menit menyerah kalah dan mengalami orgasme yang dahsyat sedangkan Kisno dengan perkasanya tetap memompa vagina Audrey dengan cepat dan kasar. Audrey dan Kisno bersetubuh dengan berbagai macam gaya, baik itu dalam posisi Kisno di atas menindih tubuh Audrey maupun gaya woman on top serta gaya lainnya yang aneh-aneh dan belum pernah aku lihat sebelumnya. Audrey dan Kisno juga bersetubuh di berbagai tempat di lantai bawah rumah kami, baik itu di atas karpet, di atas sofa, ditangga maupun di atas meja makan. Kami semua yang menonton mengikuti kemana saja persetubuhan Audrey dan Kisno dilakukan. Setelah beberapa jam, akhirnya terlihat Kisno akan mengalami orgasmenya. Diperintahkannya Audrey berlutut sambil kedua tangannya memegang mangkuk dan menengadahkannya kearah penis Kisno. Dengan sedikit kocokan pada penisnya, Kisno memuntahkan banyak sekali sperma ke mangkuk itu. Kemudian Kisno memerintahkan Audrey untuk meletakkan mangkuk itu di lantai dan memerintahkan Audrey mulai meminum dan menjilat abis sperma yang berada di mangkuk itu sehingga sekarang posisi Audrey seperti anjing yang sedang minum di mangkuknya. Audrey menuruti segala perintah Kisno tanpa melakukan protes apapun. Nampaknya sudah benar-benar habis harga diri istriku ini. Audrey sudah benar-benar menjadi budak seks sejati. Hal itu makin terlihat ketika sedang menjilati mangkuk berisi sperma Kisno dengan posisi menungging seperti anjing yang sedang minum, Amir memasukkan gagang sapu ke vagina Audrey dari belakang dan memerintahkan Audrey untuk menggerakkan pinggul dan badannya sehingga vagina Audrey mengocok-ngocok gagang sapu, dan hal tersebut dipatuhi oleh Audrey tanpa protes sehingga Audrey dengan rela menyetubuhi dirinya sendiri dengan gagang sapu yang dipegang Amir.



“Oke, Tommy….saya dan Peter pulang dulu. Kisno kamu disini dulu saja, kelihatannya Audrey sangat menyukaimu. Biar Peter yang menyetir mobil pulang ke rumah. kata Wen tiba-tiba kepadaku dan Kisno.



Kisno hanya mengangguk riang, sedangkan aku mengantarkan Wen dan Peter ke mobilnya. Ketika aku kembali ke dalam rumah, ternyata Kisno, Amir dan Sudin sudah mulai lagi menyetubuhi Audrey secara bersamaan. Posisi Sudin berbaring di atas karpet ditindih Audrey sedangkan Kisno menindih Audrey dari belakang. Penis Sudin tertancap keras di vagina Audrey dan penis Kisno sedang membobol lubang anus Audrey, sedangkan Amir sibuk memompa penisnya dalam mulut Audrey sehingga kini seluruh lubang Audrey dipenuhi penis-penis yang besar-besar. Jeritan-jeritan dan rintihan-rintihan nikmat terdengar lagi membahana di rumahku. Aku hanya melihat sebentar persetubuhan mereka dan naik ke atas ke kamar tidur utama untuk beristirahat. Aku melihat istriku sangat menikmati persetubuhannya dengan Kisno, Amir dan Sudin sehingga aku membiarkan istriku menikmatinya tanpa gangguan dariku. Di dalam kamar, meskipun pintu kamarku tertutup rapat, masih jelas terdengar jeritan-jeritan dan rintihan-rintihan mereka. Terdengar jelas lolongan istriku tanda dia orgasme yang disertai suara tawa dari Kisno, Amir dan Sudin. Aku merebahkan diriku di kasur sambil membayangkan apa yang kira-kira sedang dilakukan Kisno, Amir dan Sudin terhadap istriku di ruang bawah sampai akhirnya aku terlelap dalam tidur.



********************************



Bagian IV: Penutup



Keesokan harinya, ternyata aku bangun cukup siang. Sudah jelas aku terlambat datang ke kantor. Buru-buru aku mandi dan berpakaian dan setelah siap aku turun ke ruang bawah. Ketika melewati ruang TV aku melihat dari belakang Kisno, Amir dan Sudin duduk di sofa sambil merokok dan menonton TV. Aku tidak melihat istriku, oleh karenanya aku bergegas menghampiri mereka di ruang TV. Ternyata setelah dekat dengan tempat Kisno, Amir dan Sudin duduk, aku melihat istriku sedang duduk bersimpuh setengah berbaring di atas karpet sambil menjilati jari-jari kaki Kisno, Amir dan Sudin. Di vagina istriku tertancap sebuah mentimun besar dan di lubang anusnya tertancap sebuah pisang ambon yang belum dikupas.



Melihat aku datang dan sudah siap dengan pakaian kantor, Kisno berkata “Pak, mau ke kantor ya, saya nebeng ya pak, tadi pak Wen menelepon dan memerintahkan saya segera ke kantor.



Aku hanya mengangguk dan memerintahkan Amir untuk segera menyiapkan mobil dan mengantarku ke kantor. Pada mulanya Amir terlihat tidak mau menuruti perintahku, tapi dengan satu pelototan tajam dari mataku, Amir segera mengerti dan menuruti perintahku. Sudin yang melihat Amir pontang-panting mengenakan bajunya dan lari ke garasi mobil hanya tertawa kecil sambil dengan kaki kirinya mengarahkan kepala istriku untuk menjilati jari-jari kaki kanannya. Melihat tingkah Sudin aku hanya diam saja mengacuhkan karena aku melihat Audrey juga tidak protes dan menerima perlakuan pembantu priaku itu. Setelah mobil selesai dipanaskan oleh Amir, aku dan Kisno masuk ke dalam mobil menuju kantor dengan disupiri oleh Amir. Sepintas aku lihat ketika keluar rumah, Sudin dengan memegang rantai yang menyambungkan kedua jepitan pada kedua payudara Audrey sedang menarik Audrey ke atas menuju kamar tidur utama di lantai atas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Raja

Entri Populer