Cabung Yuk

Saturday, 15 September 2012

Susan

 

Aku sedang
menyantap makan siang di
sebuah cafe yang terletak di
lantai dasar gedung kantorku.
Hari itu aku ditemani Pak Erwan,
manajer IT perusahaanku dan
Lia, sekretarisku. Biasanya aku
makan siang hanya dengan Lia,
sekretarisku, untuk kemudian
dilanjutkan dengan acara bobo
siang sejenak sebelum kembali
lagi ke kantor. Tetapi hari itu
sebelum aku pergi, Pak Erwan
ingin bertemu untuk
membicarakan proyek
komputerisasi, sehingga aku ajak
saja dia untuk bergabung
menemaniku makan siang.


Aku dan Pak Erwan berbincang-
bincang mengenai proyek
implementasi software dan juga
tambahan hardware yang
diperlukan. Memang
perusahaanku sedang ingin
mengganti sistem yang lama,
yang sudah tidak dapat
memenuhi kebutuhan
perusahaan yang terus
berkembang. Sedangkan Lia
sibuk mencatat pembicaraan kita
berdua.
Sedang asyik-asyiknya
menyantap steak yang kupesan,
tiba-tiba HPku berbunyi. Kulihat
caller idnya.. Dari Santi.
“Hallo Pak Robert. Kapan nih
kesini lagi” suara merdu
terdengar diseberang sana.
“Oh iya. Nanti sebentar lagi saya
ke sana. Saya sedang makan
siang nih. Bapak tunggu sebentar
ya” jawabku.
“He.. He.. Sedang nggak bisa
ngomong ya Pak” Santi
menggoda.
“Betul Pak.. OK sampai ketemu
sebentar lagi ya” kataku sambil
menutup pembicaraan.
“Dari klien” kataku.
Aku sangat hati-hati tidak mau
affairku dengan Santi tercium
oleh mereka. Hal ini mengingat
Pak Arief, suami Santi, adalah
manajer keuangan di kantorku.
Kebetulan Pak Arief ini sedang
aku kirim training ke Singapore,
sehingga aku bisa leluasa
menikmati istrinya.
Seusai menikmati makan siang,
aku berkata pada Lia bahwa aku
akan langsung menuju tempat
klienku. Seperti biasa, aku minta
supaya aku tidak diganggu
kecuali kalau ada emergency.
Kamipun berpisah.. Mereka
kembali ke lantai atas untuk
bekerja, sedangkan aku langsung
menuju tempat parkir untuk
berangkat mengerjai istri orang
he.. He..
Setelah kesal karena terjebak
macet, sampai jugalah aku di
rumah Santi. Hari sudah
menjelang sore. Bayangkan saja,
sudah beberapa jam aku di jalan
tadi. Segera kuparkirkan Mercy
silver metalik kesayanganku, dan
memencet bel rumahnya. Santi
sendiri yang membukakan pintu.
Dia tersenyum gembira melihat
kedatanganku.
“Aih.. Pak Robert kok lama sih”
katanya.
“Iya.. Tadi macet total tuh..
Rumah kamu sih jauh.. Mungkin
di peta juga nggak ada”
candaku.
“Bisa aja Pak Robert..” jawab
Santi sambil tertawa kecil.
Dia tampak cantik dengan baju
“you can see” nya yang
memperlihatkan lengannya yang
mulus. Buah dadanya tampak
semakin padat dibalik bajunya.
Mungkin karena sudah beberapa
hari ini aku remas dan hisap
sementara suaminya aku
“asingkan” di negeri tetangga.
Kamipun masuk ke dalam rumah
dan aku langsung duduk di sofa
ruang keluarganya. Santi
menyuguhkan orange juice
untuk menghilangkan dahagaku.
Nikmat sekali meminum orange
juice itu setelah lelah terjebak
macet tadi. Dahagakupun
langsung hilang, tetapi setelah
melihat Santi yang cantik,
dahagaku yang lainpun muncul.
Aku masih bernafsu melihat
Santi, meskipun telah lima hari
berturut-turut aku setubuhi dia.
Kucium bibirnya sambil tanganku
mengelus-elus pundaknya.
Ketika aku akan membuka
bajunya, dia menahanku.
“Pak.. Santi ada hadiah nih
untuk bapak”
“Apaan nih?” jawabku senang.
“Ini ada teman Santi yang mau
kenal sama bapak. Orangnya
cantik banget.”
Lalu dia bercerita kalau dia
berkenalan dengan seorang
wanita, Susan, saat dia sedang
berolahraga di gym. Setelah
mulai akrab, merekapun
bercerita mengenai kehidupan
seks mereka. Singkat cerita,
Susan menawarkan untuk
berpesta seks sambil bertukar
pasangan di rumah mereka.
“Dia ingin coba ini bapak.
Katanya belum pernah lihat yang
sebesar punya Pak Robert” kata
Santi sambil meraba-raba
kemaluanku.
“Saya sih OK saja” jawabku
riang.
“Oh ya.. Nanti pura-pura saja
Pak Robert suamiku” kata Santi
sambil pamit untuk menelpon
kenalan barunya itu.
Aku dan Santi kemudian
meluncur menuju rumah Susan
di kawasan Kemang. Untung
jalanan Jakarta sudah agak
lengang. Tak lama kamipun
sampai di rumahnya yang luas.
Seorang satpam tampak
membukakan pintu garasi.
Santipun menjelaskan kalau kami
sudah ada janji dengan
majikannya. Susan menyambut
kami dengan ramah.
“Ini perkenalkan suami saya”
Seorang laki-laki paruh baya
dengan kepala agak botak
memperkenalkan diri. Namanya
Harry, seorang pengusaha
properti yang sukses. Santipun
memperkenalkan diriku pada
mereka.
Aku kagum pada rumah mereka
yang sangat luas. Dengan
perabot-perabot yang mahal,
juga koleksi lukisan-lukisan
pelukis terkenal yang tergantung
di dinding. Bayangkan saja
betapa kayanya mereka, karena
orang sekelas aku saja kagum
melihat rumahnya yang sangat
wah itu.
Tetapi aku lebih kagum melihat
Susan. Wanita ini memang cantik
sekali. Terutama kulitnya yang
putih dan mulus sekali. Ibaratnya
kalau dihinggapi nyamuk, si
nyamuk akan jatuh tergelincir.
Disamping itu bodynya tampak
seksi sekali dengan buah dada
yang besar dan bentuk tubuh
yang padat. Sekilas
mengingatkan aku pada bintang
film panas di jaman tahun 80-
an.. Entah siapa namanya itu.
Merekapun menyuguhkan
makan malam. Kamipun
bercerita basa-basi ngalor ngidul
sambil menikmati hidangan yang
disediakan. Ditengah makan
malam itu, Santi pamit untuk ke
toilet. Dengan matanya dia
mengajakku untuk mengikuti dia.
“Pak, habis ini pulang aja yuk”
kata Santi berbisik perlahan
setelah keluar dari ruang makan.
“Kenapa?” tanyaku.
“Habisnya Santi nggak nafsu lihat
Pak Harry itu. Sudah tua, botak,
perutnya buncit lagi”.
Aku tertawa geli dalam hati.
Tetapi aku tentu saja tidak
menyetujui permintaan Santi.
Aku sudah ingin menikmati istri
Pak Harry yang cantik sekali
seperti boneka itu. Kupaksa saja
Santi untuk kembali ke ruang
makan.
Setelah makan, kamipun ke
ruang keluarga sambil nonton
video porno untuk
membangkitkan gairah kami. Tak
lama, seorang gadis pembantu
kecil datang untuk
menyuguhkan buah-buahan.
Tetapi mungkin karena kaget
melihat adegan di layar TV home
theater itu, tanpa sengaja dia
menjatuhkan gelas kristal
sehingga pecah berkeping-
keping. Kulihat tampak Susan
melotot memarahi pembantunya
itu, sedangkan si pembantu kecil
itu tampak ketakutan sambil
meminta maaf berkali-kali.
Adegan di TV tampak semakin
hot saja. Tampak Pak Harry
mulai mengerayangi tubuh Santi
di sofa seberang. Sedangkan
Santi tampak ogah-ogahan
melayaninya.
“Sebentar Pak.. Santi mau lihat
filmnya dulu”
Aku tersenyum mendengar
alasan Santi ini. Sementara itu
Susan minta ijin ke dapur
sebentar. Akupun mencoba
menikmati adegan di layar TV.
Meskipun sebenarnya aku tidak
perlu lihat yang seperti ini,
mengingat tubuh Susan sudah
sangat mengundang gairahku.
Tak lama akupun merasa ingin
buang air kecil, sehingga akupun
pamitan ke belakang.
Setelah dari toilet, aku berjalan
melintasi dapur untuk kembali
ke ruang keluarga. Kulihat di
dalam, Susan sedang berkacak
pinggang memarahi gadis kecil
pembantunya tadi.
“Ampun non.. Sri nggak sengaja”
si gadis kecil memohon belas
kasihan pada majikannya, Susan
yang cantik itu.
“Nggak sengaja nggak sengaja.
Enak saja kamu bicara ya. Itu
gelas harganya lebih dari
setahun gaji kamu tahu!!” bentak
Susan.
“Gajimu aku potong. Biar tau
rasa kamu..”
Si gadis kecil itu terdiam sambil
terisak-isak. Sementara wajah
Susan menampakkan kepuasan
setelah mendamprat
pembantunya habis-habisan.
Mungkin betul kata orang, kalau
wanita kurang dapat
menyalurkan hasrat seksualnya,
cenderung menjadi pemarah.
Melihat adegan itu, aku kasihan
juga melihat si gadis pembantu
itu. Tetapi entah mengapa justru
hasrat birahiku semakin timbul
melihat Susan yang sepertinya
lemah lembut dapat bersikap
galak seperti itu.
“Dasar bedinde.. Verveillen!!”
Susan masih terus berkacak
pinggang memaki-maki
pembantunya. Dengan tubuh
yang putih bersih dan tinggi,
kontras sekali melihat Susan
berdiri di depan pembantunya
yang kecil dan hitam.
“Ampun non.. Nggak akan lagi
non..”
“Oh Pak Robert..” kata Susan
ketika sadar aku berada di pintu
dapur. Diturunkannya tangan
dari pinggangnya dan beranjak
ke arahku.
“Sedang sibuk ya?” godaku.
“Iya nih sedang kasih pelajaran ik
punya pembantu” jawabnya
sambil tersenyum manis.
“Yuk kita kembali” lanjutnya.
Kamipun kembali ke ruang
keluarga. Kulihat Santi masih
menonton adegan di layar
sementara Pak Harry mengelus-
elus pahanya. Aku dan
Susanpun langsung berciuman
begitu duduk di sofa. Aku
melakukan “french kiss” dan
Susanpun menyambut penuh
gairah.
Kutelusuri lehernya yang jenjang
sambil tanganku meremas buah
dadanya yang membusung
padat. Susanpun melenguh
kenikmatan. Tangannya
meremas-remas kemaluanku.
Dia kemudian jongkok di
depanku yang masih duduk di
sofa, sambil membuka celanaku.
Celana dalamku dielusnya
perlahan sambil menatapku
menggoda. Kemudian
disibakkannya celana dalamku
ke samping sehingga
kemaluankupun mencuat keluar.
“Oh..my god.. Bener kata Santi..
Very big.. I like it..” katanya
sambil menjilat kepala
kemaluanku.
Kemudian dibukanya celana
dalamku, sehingga
kemaluankupun bebas tanpa
ada penghalang sedikitpun di
depan wajahnya. Dielus-elusnya
seluruh kemaluan termasuk
buah zakarku dengan tangannya
yang halus. Tingkah lakunya
seperti anak kecil yang baru
mendapat mainan baru.
Kemaluankupun mulai dihisap
mulut Susan dengan rakus.
Sambil mengulum dan menjilati
kemaluanku, Susan
mengerang,emmhh.. emhh,
seperti seseorang yang sedang
memakan sesuatu yang sangat
nikmat. Kuelus-elus rambutnya
yang hitam dan diikat ke
belakang itu.
Sambil menikmati permainan
oral Susan, kulihat suaminya
sedang mendapat handjob dari
Santi. Tampak Santi mengocok
kemaluan Pak Harry dengan
cepat, dan tak lama terdengar
erangan nikmat Pak Harry saat
dia mencapai orgasmenya.
Santipun kemudian
meninggalkan Pak Harry,
mungkin dia pergi ke toilet untuk
membersihkan tangannya.
Sementara itu Susan masih
dengan bernafsu menikmati
kemaluanku yang besar.
Memang kalau kubandingkan
dengan kemaluan suaminya,
ukurannya jauh berbeda. Apalagi
setelah dia mengalami orgasme,
tampak kemaluan Pak Harry
sangat kecil dan tertutup oleh
lemak perutnya yang buncit itu.
Tak heran bila istrinya sangat
menikmati kemaluanku.
Tak lama Santipun kembali
muncul di ruang itu, dan
menghampiriku. Susan masih
berjongkok di depanku sambil
mempermainkan lidahnya di
batang kemaluanku. Santi duduk
di sampingku dan mulai
menciumiku. Dibukanya bajuku
dan puting dadakupun
dihisapnya. Nikmat sekali rasanya
dihisap oleh dua wanita cantik
istri orang ini. Seorang di atas
yang lainnya di bawah.
Sementara Pak Harry tampak
menikmati pemandangan ini
sambil berusaha membangkitkan
kembali senjatanya yang sudah
loyo.
Kuangkat baju Santi dan juga
BHnya, sehingga buah dadanya
menantang di depan wajahku.
Langsung kuhisap dan kujilati
putingnya. Sementara tanganku
yang satu meremas buah
dadanya yang lain. Sementara
Susan masih mengulum dan
menjilati kemaluanku.
Setelah puas bermain dengan
kemaluanku, Susan kemudian
berdiri. Dia kemudian
melepaskan pakaiannya hingga
hanya kalung berlian dan hak
tingginya saja yang masih
melekat di tubuhnya. Buah
dadanya besar dan padat
menjulang, dengan puting yang
kecil berwarna merah muda.
Aku terkagum dibuatnya,
sehingga kuhentikan kegiatanku
menghisapi buah dada Santi.
Susan kemudian menghampiriku
dan kamipun berciuman kembali
dengan bergairah.
“Ayo isap susu ik ” pintanya
sambil menyorongkan buah
dada sebelah kanannya ke
mulutku. Tak perlu dikomando
lagi langsung kuterkam buah
dadanya yang kenyal itu.
Kuremas, kuhisap dan kujilati
sepuasnya. Susanpun mengerang
kenikmatan.
Setelah itu, dia kembali berdiri
dan kemudian berbalik
membelakangiku. Diapun
jongkok sambil mengarahkan
kemaluanku ke dalam vaginanya
yang berambut tipis itu. Kamipun
bersetubuh dengan tubuhnya
duduk di atas kemaluanku
menghadap suaminya yang
masih berusaha membangunkan
perkakasnya kembali. Kutarik
tubuhnya agak kebelakang
sehingga aku dapat menciumi
kembali bibirnya dan wajahnya
yang cantik itu.
“Eh.. Eh.. Eh..” dengus Susan
setiap kali aku menyodokkan
kemaluanku ke dalam vaginanya.
Aku terus menyetubuhinya
sambil meremas-remas buah
dadanya dan sesekali menjilati
dan menciumi pundaknya yang
mulus.
Sementara itu Santi bersimpuh di
ujung sofa sambil meraba-raba
buah zakarku, sementara aku
sedang menyetubuhi Susan.
Terkadang dikeluarkannya
kemaluanku dari vagina Susan
untuk kemudian dikulumnya.
Setelah itu Santi memasukkan
kembali kemaluanku ke dalam
liang surga Susan.
Setelah beberapa menit, aku
berdiri dan kuminta Susan untuk
menungging di sofa. Aku ingin
menggenjot dia dari belakang.
Kusetubuhi dia “doggy-style”
sampai kalung berlian dan buah
dadanya yang besar bergoyang-
goyang menggemaskan. Kadang
kukeluarkan kemaluanku dan
kusodorkan ke mulut Santi yang
dengan lahap menjilati dan
mengulumnya. Benar-benar
nikmat rasanya menyetubuhi dua
wanita cantik ini.
“Ahh.. Yes.. Yes.. Aha.. Aha..
That’s right.. Aha.. Aha..” begitu
erangan Susan menahan rasa
nikmat yang menjalari tubuhnya.
Hal itu menambah suasana erotis
di ruangan itu.
Sementara Pak Harry rupanya
telah berhasil membangunkan
senjatanya. Dihampirinya Santi
dan ditariknya menuju sofa yang
lain di ruangan itu. Santipun
mau tak mau mengikuti
kemauannya. Memang sudah
perjanjian bahwa aku bisa
menikmati istrinya sedangkan
Pak Harry bisa menikmati
“istriku”.
Sementara itu, aku masih
menggenjot Susan secara doggy-
style. Sesekali kuremas buah
dadanya yang berayun-ayun
akibat dorongan tubuhku.
Kulihat Pak Harry tampak
bernafsu sekali menyetubuhi
Santi dengan gaya missionary.
Tak beberapa lama kudengar
erangan Pak Harry. Rupanya dia
sudah mencapai orgasme yang
kedua kalinya.
Santipun tampak kembali pergi
meninggalkan ruangan.
Sementara aku masih
menyetubuhi Susan dari
belakang sambil berkacak
pinggang. Setelah itu kubalikkan
badannya dan kusetubuhi dia
lagi, kali ini dari depan. Sesekali
kuciumi wajah dan buah
dadanya, sambil terus kugenjot
vaginanya yang sempit itu.
“Ohh.. Aha.. Aha.. Ohh god.. I
love your big cock..” Susan terus
meracau kenikmatan.
Tak lamapun tubuhnya
mengejang dan dia menjerit
melepaskan segala beban
birahinya. Akupun sudah hampir
orgasme. Aku berdiri di
depannya dan kusuruh dia
menghisap kemaluanku kembali.
Sementara, aku lirik ke arah Pak
Harry, dia sedang
memperhatikan istrinya
mengulumi kemaluanku.
Kuremas rambut Susan dengan
tangan kiriku, dan aku berkacak
pinggang dengan tangan
kananku.
Tak lama akupun
menyemburkan cairan
ejakulasiku ke mulut Susan.
Diapun menelan spermaku itu,
walaupun sebagian menetes
mengenai kalung berliannya.
Diapun menjilati bersih
kemaluanku.
“Thanks Robert.. I really enjoyed
it” katanya sambil membersihkan
bekas spermaku di dadanya.
“No problem Susan.. I enjoyed it
too.. Very much” balasku.
Setelah itu, kamipun kembali
mengobrol beberapa saat sambil
menikmati desert yang
disediakan. Kamipun berjanji
untuk melakukannya lagi dalam
waktu dekat.
Dalam perjalanan pulang, Santi
tampak kesal. Dia diam saja di
dalam mobil. Akupun tidak
begitu menghiraukannya karena
aku sangat puas dengan
pengalamanku tadi. Akupun
bersenandung kecil mengikuti
alunan suara Al Jarreau di tape
mobilku.
“We’re in this love together..”
“Kenapa sih sayang?” tanyaku
ketika kami telah sampai di
depan rumahnya.
“Pokoknya Santi nggak mau lagi
deh” katanya.
“Habis Santi nggak suka sama
Pak Harry. Udah gitu mainnya
cepet banget. Santi nanggung
nih.”
Akupun tertawa geli
mendengarnya.
“Kok ketawa sih Pak Robert..
Ayo.. Tolongin Santi dong.. Santi
belum puas.. Tadi Santi horny
banget lihat bapak sama Susan
make love” rengeknya.
“Wah sudah malam nih.. Besok
aja ya.. Lagian saya ada janji
sama orang”.
“Ah.. Pak Robert jahat..” kata
Santi merengut manja.
“Besok khan masih ada sayang”
hiburku.
“Tapi janji besok datang ya..”
rengeknya lagi saat keluar dari
mobilku.
“OK so pasti deh.. Bye”
Sebenarnya aku tidak ada janji
dengan siapa-siapa lagi malam
itu. Hanya saja aku segan
memakai Santi setelah dia
disetubuhi Pak Harry tadi.
Setidak-tidaknya dia harus
bersih-bersih dulu.. He.. He..
Mungkin besok pagi saja aku
akan menikmatinya kembali,
karena Pak Arief toh masih
beberapa hari lagi di luar negeri.
Kukebut mobilku mengarungi
jalan tol di dalam kota. Semoga
saja aku masih dapat melihat film
bagus tayangan HBO di TV nanti.
Kontolku letoy kalo liat istri bos
pake daster, apalagi istri bos
kalo lagi santai…

No comments:

Post a Comment

Recent In Internet

Raja

Breaking

Entri Populer