Cabung Yuk

Minggu, 03 Februari 2013

Bu Tus



Aku bekerja di perusahaan kontraktor
swasta di daerah Indramayu yang
mempunyai sekitar 20 pegawai dan 3
orang diantaranya adalah wanita. Pada
umumnya pegawai-pegawai itu datang
dari desa sekitar perusahaan ini berada
dan rata-rata pegawai prianya sudah
bekerja di perusahaan ini sekitar 15
tahunan lebih, sedangkan aku
diperbantukan dari kantor pusat di
Jakarta dan baru sekitar 1 tahun di
kantor cabang ini sebagai kepala
personalia merangkap kepala keuangan.
Karena pindahan dari kantor pusat,


maka aku dapat tinggal di rumah yang
disewa oleh perusahaan. Istriku tidak
ikut tinggal di sini, karena dia juga kerja
di Jakarta, jadi kalau tidak aku yang ke
Jakarta setiap Jum'at sore dan kembali
hari Minggu sore atau istriku yang
datang.
Hubungan antar para pekerja begitu
akrab, sehingga beberapa diantara
mereka ada yang sudah menganggap aku
sebagai saudara atau anaknya saja.
Dalam situasi seperti sekarang ini,
perusahaan dimana aku bekerja juga
mengalami krisis yang cukup serius dan
jasa pekerjaan yang kami terima dari
perusahaan kilang minyak dan
perusahaan lainnya juga semakin
berkurang. Hal ini mengakibatkan
pimpinanku memerintahkan untuk
mengurangi beberapa orang pegawainya
dan ini harus kulaksanakan dalam waktu
sebulan ini. Setelah kupilah-pilah dari 20
orang pegawai itu, lalu aku mengambil 5
orang pegawai yang paling tua dan yang
dalam 1 atau 2 tahun ini akan mencapai
usia 55 tahun, lalu aku menyuruh
sekretaris kantor yang bernama Sri
(samaran) dan juga dari penduduk di
sekitar perusahaan untuk mengetik draft
surat-surat yang sudah kupersiapkan
dan rencanaku dalam 2 minggu ini
masing-masing pegawai akan kupanggil
satu persatu untuk keberikan penjelasan
sekaligus memberikan golden shake hand
pesangon yang cukup besar. Sri adalah
salah satu diantara 3 pekerja wanita di
sini dan umur mereka bertiga sekitar 30
tahunan. Sri, menurut teman-teman
kerjanya adalah seorang pegawai yang
agak sombong, entah apa yang
disombongkan atau mungkin karena
merasa yang paling cantik diantara ke 2
wanita lainnya.
Padahal kalau aku bandingkan dengan
pekerja wanita di kantor pusat Jakarta,
belum ada apa-apanya. Suaminya Sri
menurut mereka itu sudah setahun ini
bekerja di Arab sebagai TKI. Di hari
Jum'at sore, sewaktu aku besiap siap
akan pulang, tiba-tiba muncul salah
seorang pegawai yang biasa kupanggil
Pak Tus datang menghadap ke ruangan
kantorku. "Ada apa Pak Tus", tanyaku.
"Ini..., Pak..., kalau Bapak ada waktu,
besok saya ingin mengajak Bapak untuk
melihat kebun buah-buahan di daerah
pegunungan sekitar Kuningan dan
peninggalan orang tua saya, siapa tahu
Bapak tertarik untuk membelinya".
Setelah kipikir sejenak dan sekaligus
untuk menyenangkan hatinya karena Pak
Tus ini adalah salah satu dari pegawai
yang akan terkena PHK, segera saja
permintaannya kusetujui. "Oke..., Pak
Tus, boleh deh, kebetulan saya tidak
punya acara di hari Sabtu dan Minggu
ini..., kita pulang hari atau nginap
Pak...? "Kalau Bapak nggak
keberatan..., kita nginap semalam di
gubuk kami..., Pak.., dan kalau Bapak
tidak berkeberatan, saya akan membawa
Istri, anak dan cucu saya, Biar agak
ramai sekaligus untuk masak.., karena
tempatnya agak jauh dari warung",
jawab Pak Tus dengan wajah berseri.
"Yapi..., Pak..., saya tidak punya
kendaraan.., lanjut Pak Tus dengan
wajah agak sedih". "Pak..., Tus..., soal
kendaraan jangan terlalu di pikir, kita
pakai Kijang saya saja.., dan Pak Tus
boleh membawa semua keluarganya, asal
mau berdesak-desakan di Kijang dan
besok jam 10 pagi akan saya jemput ke
rumah Pak Tus", sahutku dan Pak Tus
dengan wajah berseri kembali lalu
mengucapkan terima kasih dan pamit
untuk pulang.
Besok paginya sekitar jam 10 pagi aku
menjemput ke rumah Pak Tus yang boleh
dibilang rumah sangat sederhana. Di
depan rumahnya aku disambut oleh Pak
Tus dan Istrinya. Aku agak terkejut,
karena Isrinya kelihatan jauh lebih muda
dari yang kuduga. Dia kutaksir berumur
sekitar 35 tahunan dan walau tinggal di
kampung tapi sepertinya tidak ketinggalan
jaman. Istri Pak Tus mengenakan rok
dan baju agak ketat tanpa lengan serta
ukuran dadanya sekitar 36C. "silakan
masuk..., Pak...", katanya hampir
serentak, "Ma'af Pak..., rumahnya
jelek", sambung Pak Tus. "Ah, Bapak
dan Ibu.., bisa saja, Oh iya..., anak dan
cucu nya apa jadi ikut?", sahutku sambil
bertanya karena aku tidak melihat
mereka. "Oh..., si Aminah (mana
disamarkan) sedang di belakang
menyiapkan barang-barang bawaannya
dan cucu saya tidak mau pisah dari
ibunya", sahut Pak Tus. Tidak lama
kemudian dari belakang muncul wanita
muda yang tidak bisa dibilang jelek
dengan tinggi sekitar 160 Cm serta
memakai T shirt ketat sedang
menggendong anak laki-laki dan tangan
satunya menjinjing tas agak besar,
mungkin berisi pakaian. "Pak..", kata
Pak Tus, yang membuatku agak kaget
karena aku sempat terpesona dengan body
Aminah yang yang aduhai serta berjalan
dengan dada yang menantang walau
ukuran dadanya boleh dibilang tidak
besar. "Paak..., ini kenalkan anak
perempuan saya..., Aminah dan ini cucu
saya Dodi". Kusambut uluran tangan
Aminah serta kujabat tangannya yang
terasa agak dingin dan setelah itu kucubit
pipi Dodi. "Ayo..., Pak...", ajak Pak
Tus, "Kita semua sudah siap dan bisa
berangkat sekarang". "Lho..., apa
bapaknya Dodi tidak ikut..., Pak?,
tanyaku dan kulihat Pak Tus saling
berpandangan dengan Istrinya, tapi yang
menyahut malah Aminah. "Enggak
kok..., Pak..., dia lagi pergi jauh".
"Ayo..., lah kalau begitu..., kita bisa
berangkat sekarang.., Pak", kataku
walau aku masih ada tanda tanya besar
dalam hatiku soal suami Aminah.
Sesampainya tempat yang dituju, aku
jadi terkagum-kagum dengan kebun yang
dimiliki Pak Tus yang cukup luas dan
tertata rapi serta seluruhnya ditanami
pohon buah-buahan, bahkan banyak yang
sedang berbuah. Rumah yang boleh
dibilang tidak besar, terletak di bagian
belakang kebun itu. "Ayo..., Pak, kita
beristirahat dulu di gubuk, nanti setelah
itu kita bisa keliling kebun melihat pohon-
pohon yang ada", kata bu Tus dan
disambut dengan sahutan Pak Tus.
"Iyaa..., Pak..., silakan istirahat ke
rumah dulu, biar Istri saya menyiapkan
minum buat Bapak, sedang saya mau
ketemu dengan yang menjaga kebun ini.
Lalu aku dan Bu Tus berjalan beriringan
menuju rumahnya dan sepanjang
perjalanan menuju rumah kupuji kalau
kebunnya cukup luas serta terawat
sangat baik. "Aahh..., Bapak..., jangan
terlalu memuji..., kebun begini.., kok
dibilang bagus.., tapi inilah kekayaan
kami satu-satunya dan peninggalan
mertua", kata bu Tus yang selalu murah
senyum itu. Ketika mendekati rumah,
Bu Tus lalu berkata, "silakan Pak...,
masuk", dan aku segera katakan,
"silakan..., sambil bergeser sedikit untuk
memberi jalan pada bu Tus.
Entah mengapa, kami berdua berjalan
bersama masuk pintu rumah sehingga
secara tidak sengaja tangan kiriku telah
menyenggol bagian dada bu Tus yang
menonjol dan kurasakan empuk sekali.
Sambil kupandangi wajah bu Tus yang
kelihatan memerah, segera kukatakan.
"Maaf..., bu..., saya tidak sengaja", Bu
Tus tidak segera menjawab permintaan
maafku, aku jadi merasa agak nggak
enak dan takut dia marah, sehingga
kuulangi lagi. "Benar..., buu..., saya
tidak sengaja...". "Aahh..", Pak Pur..,
saya nggak apa apa kok..., hanya...,
agak kaget saja, lupakan.., Pak..., cuma
gitu saja..., kok", kata bu Tus sambil
tersenyum. "Oh iya..., Bapak mau
minum apa", tanya bu Tus. "Terserah
Ibu saja deh". "Lhoo..., kok terserah
saya..?"."Air putih juga boleh kok bu".
Setelah bu Tus ke belakang, aku lalu
duduk di ruang tamu sambil
memperhatikan ruangan nya model rumah
kuno tetapi terawat dengan baik. Tidak
terlalu lama, kulihat bu Tus yang telah
mengganti bajunya dengan baju terusan
seperti baju untuk tidur yang longgar
berjalan dari belakang sambil membawa
baki berisi segelas teh dan sesampainya di
meja tamu dimana aku duduk, bu Tus
meletakkan gelas minuman untukku sambil
sedikit membungkuk, sehingga dengan jelas
terlihat dua gundukan besar yang
menggantung didadanya yang tertutup
BH dan bagian dalam badannya,
membuat mataku sedikit melotot
memperhatikannya. "Iihh..., matanya
Pak Puur..., kok..., nakal.., yaa",
katanya sambil menyapukan tangannya
dimukaku serta tersenyum. Aku jadi
agak malu dikatakan begitu dan untuk
menutupi rasa maluku, aku jawab saja
sambil agak bergurau. "Habiis..., bu Tus
berdirinya begitu..., sih. "Aahh..., bapak
ini..., kok sepertinya..., belum pernah
melihat seperti itu saja", sahut bu Tus
yang masih berdiri di dekatku dan
mencubit tanganku. "Betul kok..., buu...,
saya belum pernah melihat yang seperti
itu, jadi boleh kan buu..., saya lihat
lagi..?". "aahh..., bapak..", kembali
mencubitku tetapi sekarang di pipiku
sambil terus berjalan ke belakang.
Setelah minuman kuhabiskan, aku lalu
balik keluar menuju ke kebun dan ngobrol
dengan pak Tus yang sedang
membersihkan daun-daun yang
berserakan. Selang berapa lama, kulihat
bu Tus datang dari dalam rumah sambil
membawa gulungan tikar dan setelah
dekat lalu menggelar tikarnya di kebun
sambil berkata kepada suaminya.
"Paak..., kita ajak Pak Pur makan
siang disini saja..., yaa", dan pak Tus
tidak menjawab pertanyaan istrinya
tetapi bertanya kepadaku. "Nggak...,
apa-apa..., kan.., paak.., makan di
kebun..? Biar tambah nikmat". "Nggak
apa apa kok.., paak", jawabku. Tidak
lama kemudian dari arah rumah
tetangganya, kulihat Aminah yang sudah
mengganti bajunya dengan baju terusan
yang longgar seperti ibunya datang
membawa makanan dan sambil
membungkuk meletakkan makanan itu di
tikar dan aku yang sedang duduk di tikar
itu kembali melihat buah yang
menggantung di dada, dan sekarang
dadanya Aminah. Kelihatan sekali kalau
Aminah tidak mengenakan BH dan
ukurannya tidak besar. Aminah tidak
sadar kalau aku sedang memperhatikan
buah dadanya dari celah bajunya pada
saat menaruh dan menyusun makanan di
tikar. Setelah Aminah pergi, sekarang
datang Ibunya sambil membawa makanan
lainnya dan ketika dia membungkuk
menaruh makanan, kembali aku
disungguhi pemandangan yang sama dan
sekarang agak lama karena makanan
yang disusun oleh Aminah, disusun
kembali oleh bu Tus. Tidak kuduga, tiba-
tiba bu Tus sambil tetap menyusun
makanan lalu berkata agak berbisik,
mungkin takut didengar oleh suaminya
yang tetap masih bekerja membersihkan
daun-daun tidak jauh dari tempatku
duduk. "Paak..., sudah puas
melihatnyaa..?" . Lalu kudekatkan
wajahku sambil membantu menyusun
makanan dan kukatakan pelan,
"Beluum..., buu..., saya kepingin
memegangnya dan menghisapnyaa". Bu
Tus langsung mencubitkan tangannya di
pahaku sambil berkata pelan, "Awas...,
yaa..., nanti saya gigit punya bapak..,
baru tahu", sambil terus berjalan.
Sekarang muncul lagi Aminah dan
kembali meletakkan makanan sambil
membungkuk dan kembali terlihat buah
dadanya dan kepingin rasanya kupegang.
Rupanya Aminah tahu kalau aku sedang
memperhatikan dadanya, lalu dia
berbisik. "Paakk..., matanya kok
nakal..., yaa...", tapi tanpa menutupnya
dan langsung saja kujawab, "aam..., habis
bagus siih..., pingin pegang...,boleh apa
nggak?", Aminah hanya tersenyum sambil
mencubit tanganku lalu pergi. Setelah itu
kami berempat makan di tikar dan nikmat
sekali rasanya makan di kebun dan
setelah selesai makan, Aminah pamit
untuk memberi makan anaknya di rumah
bibinya. Ketika kutanyakan ke Pak Tus,
kemana suaminya Aminah segera Pak
Tus menceritakan keluarganya., bahwa
Istri Pak Tus ini adalah adik kandung
dari Istri pertamanya yang sudah
meninggal dan Aminah adalah anak satu-
satunya dari istri pertamanya. Sedang
Aminah sudah bercerai dari suaminya
pada saat Aminah hamil, suaminya
meninggalkan begitu saja karena kawin
dengan wanita lain. Tidak terasa kami
ngobrol di kebun cukup lama dan mungkin
karena hawanya agak dingin dan
anginnya agak keras, aku merasa seperti
sedang masuk angin.
Sementara Pak Tus dan istrinya
membereskan sisa makan siang, aku
memukul-mukul perutku untuk
membuktikan apa benar aku sedang masuk
angin dan ternyata benar. Perbuatanku
memukul perut rupanya diketahui oleh
Pak Tus dan istrinya. "Kenapa paak..",
tanya mereka hampir serentak. "Nggak
apa apa kok..., cuman masuk angin
sedikit". "Paak..., masuk angin kok...,
dibilang nggak apa apa..", jawab Pak
Tus "Apa bapak biasa dikerokin",
lanjutnya. "Suka juga sih paak",
jawabku. "Buu..., biar saya yang beresin
ini semua..., itu tolong kerokin dan pijetin
Pak Puur, biar masuk anginnya hilang",
kata Pak Tus. "Oh..., iya.., Buu",
lanjut Pak Tus, "Habis ini saya mau
mancing ikan di kali belakang, siapa tahu
dapat ikan untuk makan malam nanti...".
"Pak Tuus..., nanti kalau masuk angin
saya hilang, saya mau ikut mancing
juga", kataku. "Ayoo..., pak Puurr..,
kita ke rumah..., biar saya kerokin di
sana..., kalau di sini nanti malah bisa
sakit beneran. Sesampainya di dalam
rumah lalu bu Tus berkata, "Paak...,
silakan bapak ke kamar sini saja", sambil
menunjuk salah satu kamar, dan "Saya
ke belakang sebentar untuk mengambil
uang untuk kerokannya". Tidak lama
kemudian bu Tus muncul ke dalam kamar
dan menutup pintunya dan menguncinya.
"Paak..., kerokannya di tempat tidur
saja yaa..., dan tolong buka kaosnya".
Setelah beberapa tempat di punggungku
dikerokin, bu Tus berkomentar.
"Paakk..., rupanya bapak masuk angin
beneran..., sampai merah semua badan
bapak".
Setelah hampir seluruh punggungku
dikerokin dan dipijitin, lalu bu Tus
memintaku untuk tidur telentang.
"Paak..., sekarang tiduran telentang...,
deh..., biar bisa saya pijitin agar angin
yang di dada dan perut bisa keluar juga.
Kuturuti permintaannya dan bu Tus naik
ke tempat tidur di samping kiriku dan
mulai memijit kedua bahuku. Dengan
posisi memijit seperti ini, tentu saja
kedua payudara bu Tus terlihat sangat
jelas dan bahkan seringkali menyentuh
wajahku sehingga mau tak mau membuat
penisku menjadi tegang. Karena sudah
tidak kuat menahan diri, kuberanikan
untuk memegang kedua payudaranya dan
bu Tus hanya berkata pelan.
"Jangaan..., paak..., sambil tetap memijit
bahuku. "Kenapa buu...", tanyaku sambil
melepas pegangan di payudaranya.
"Nggak..., apa apa kok..., paak",
jawabnya pelan sambil tersenyum.
Karena tidak ada kata-kata lainnya,
maka kuberanikan lagi untuk
menyelusupkan tangan kiriku ke dalam
bajunya bagian bawah serta kupegang
vaginanya dan kembali terdengar suara
bu Tus. "Paakk..., sshh..., jangaan...,
aahh...", dan badannya dijatuhkan ke
badanku serta bibirnya bertemu dengan
bibirkuDengan tidak sabar, lalu kuangkat
rok terusannya ke atas dan kulepaskan
dari kepalanya sehingga badannya
telanjang hanya tertutup oleh BH dan
CD saja, lalu segera badannya kubalik
sehingga aku sekarang ada di atas
badannya dan segera kaitan BH-nya
kulepas sehingga tersembul buah dadanya
yang besar. Kujilati dan kuhisap kedua
payudaranya bergantian dan bu Tus
hanya berdesah pelan. "sshh..., aahh...,
paak..., sshh..., dan tangan kiriku
kugunakan untuk melepas CD-nya dan
kumasukkan jariku diantara belahan
vaginanya yang sudah basah dan ini
mungkin membuat bu Tus semakin
keenakan dan terus mendesah. "sshh...,
aduuhh..., paakk..., sshh..., aahh".
Sambil tetap Kujilati payudaranya,
sekarang kugunakan tanganku untuk
melepas celana panjang dan CD-ku dan
setelah berhasil, kembali kugunakan jari
tanganku untuk mempermainkan
vaginanya dan kembali kudengar
desahannya. "sshh..., aahh..., paak...,
sshh..., ayoo.., paak", dan kurasakan bu
Tus telah membukakan kedua kakinya
agak lebar. Walau tidak bilang kurasa bu
Tus sudah tidak tahan lagi, maka segera
saja kuarahkan penisku ke arah
vaginanya dan kedua tangannya telah
melingkar erat di punggungku. Belum
sempat aku siap-siap, "Bleess...",
penisku masuk ke dalam vaginanya akibat
bu Tus menekan kuat-kuat punggungku
dan bu Tus berteriak agak keras,
"aahh..", sehingga terpaksa mulutnya
segera kusumpal dengan bibirku agar
teriakannya tidak terdengar sampai
keluar kamar. Sambil kujilati
payudaranya, aku menggerakkan
pantatku naik turun sehingga penisku
keluar masuk vaginanya dan menimbulkan
bunyi. "ccrreett..., ccrreett..., ccrreett",
dan dari mulut bu Tus terdengar desahan
yang agak keras, "Aahh..., sshh...,
paak..., aahh..", dan tidak lama
kemudian bu Tus semakin cepat
menggerakkan pinggulnya dan tiba-tiba
kedua kakinya dilingkarkan kuat-kuat di
punggungku sehingga mempersulit gerakan
keluar masuk penisku dan terdengar
suaranya yang agak keras, "aaduuhh..,
sshh..., aahh..., aaduuhh..., paakk...,
aarrhh.., sambil menekan kuat-kuat
badanku lalu bu Tus terdiam, dengan
nafas yang cepat.
Untuk sementara, kudiamkan dulu sambil
menunggu nafas bu Tus agak normal
kembali dan tidak lama kemudian, sambil
menciumi wajahku, bu Tus berkata.
"Paakk..., sudah lamaa..., saya..., tidak
pernah seperti ini..., terima kasih...,
paak". Setelah nafasnya kembali normal
dan penisku masih tetap di dalam
vaginanya, lalu kuminta bu Tus untuk
menungging. "Paak..., saya belum pernah
seperti itu", katanya pelan. "Nggak apa-
apa kok buu..., nanti juga bisa", kataku
sambil mencabut penisku dari vaginanya
yang sangat basah. Kubalik badannya dan
kuatur kakinya sehingga posisinya
nungging, bu Tus hanya mengikuti
kemauanku dan menaruh kepalanya di
bantal. Lalu kudekatkan wajahku di dekat
vaginanya dan kujulurkan lidahku ke
dalam lubang vaginanya dan
kupermainkan, sambil kupegang kedua
bibir vaginanya, bu Tus hanya
menggerakkan pantatnya pelan-pelan.
Tetapi setelah bu Tus memalingkan
kepalanya dan menengok ke arah bawah
serta tahu apa yang kuperbuat, tiba-tiba
bu Tus menjatuhkan badannya serta
berkata agak keras, "Paakk..., jangaan",
sambil berusaha menarik badanku ke atas.
Terpaksa kudekati dia dan sambil kucium
bibirnya yang mula-mula ditolaknya, lalu
kutanya, "Kenapa..., buu..? "Paakk...,
jangaan..., itu kan kotoor..", Sambil
agak berbisik, segera kutanyakan.
"Buu..., apa ibu belum pernah..., dijilati
seperti tadi..?". "Beluum.., pernah
paak..", katanya. "Buu..., nggak apa-
apa.., kok..., coba deh..., pasti nanti ibu
akan nikmat..", sambil kutelentangkan dan
kutelisuri badannya dengan jilatan
lidahku. Sesampainya di vaginanya,
kulihat tangan bu Tus digunakan untuk
menutupi vaginanya, tapi dengan pelan-
pelan berhasil kupindahkan tangannya dan
segera kuhisap clitorisnyanya yang
membuat bu Tus menggelinjang dan
mendesah. "Paakk..., jangaann...,
aahh..., aduuhh", tapi kedua tangannya
malah diremaskan di kepalaku dan
menekannya ke vaginanya. Kelihatannya
bu Tus sudah tahu nikmat vaginanya
dihisap dan dijilati, sehingga sekarang
semakin sering kepalaku ditekan ke
vaginanya disertai desahan-desahan
halus, "aahh..., sshh..., aahh...,
aaccrrhh", seraya menggerak-gerakkan
pinggulnya.
Jilatan serta hisapanku ke seluruh
vagina bu Tus membuat gerakan
pinggulnya semakin cepat dan remasan
tangannya di rambutku semakin kuat dan
tidak lama kemudian, lagi-lagi kedua
kakinya dilingkarkan ke bahuku dan
menjepitnya kuat-kuat disertai dengan
desahan yang cukup keras "aahh...,
aaduuh..., sshh..., aaccrrhh..., paakk...,
adduuhh..., aacrrhh. Kulihat bu Tus
terdiam lagi dengan nafasnya yang
terengah-engah sambil mencoba menarik
badanku ke atas dan kuikuti tarikannya
itu, sesampainya kepalaku di dekat
kepalanya, bu Tus sambil masih
terengah-engah mengatakan, "Paakk...,
enaak..., sekalii..., paak..,. terima
kasiih..". Pernyataannya itu tidak
kutangapi tetapi aku berusaha
memasukkan penisku ke dalam vaginanya,
dan karena kakinya masih terbuka, maka
penisku yang masih sangat tegang itu
dapat masuk dengan mudah. Karena
nafas bu Tus masih belum normal
kembali, aku hanya menciumi wajahnya
dan diam menunggu tanpa menggerakkan
pinggulku, tetapi dalam keadaan diam
seperti ini, terasa sekali penisku terhisap
keras oleh vaginanya dan terasa sangat
nikmat dan kubilang, "Buu..., ituu...,
Buu..., enaakk..., laggii..., buu", dan
mungkin ingin membuatku keenakan,
kurasakan sedotannya semakin keras saja
dan, "Buu..., teruuss..., buu...,
enaakk.., aaduuh". Setelah nafasnya
kembali normal, lalu kuangkat kedua kaki
bu Tus dan kutempatkan di atas bahuku
dan bu Tus hanya diam saja mengikuti
kemauanku.
Dengan posisi begini, terasa penisku
semakin dalam menusuk ke vaginanya dan
ketika penisku kuhentakkan keluar masuk
vaginanya, bu Tus kembali berdesah,
"Aahh..., Paakk..., enaakk..., Paakk...,
aahh..., sshh", dan akupun yang sudah
hampir mendekati klimaks ikut berdesah,
"aahh..., sshh..., aaccrrhh..., Buu..,
aahh", sambil mempercepat gerakan
penisku keluar masuk vaginanya dan
ketika aku sudah tidak dapat menahan
air maniku segera saja kukatakan,
"Buu..., Buu..., saayaa..., sudah mau
keluar..., aahh..., taahaan..., yaa...,
Buu..", dan bu Tus sambil memelukku
kuat-kuat, menganggapinya dengan
mengatakan, "Paakk..., ayoo...,
cepaatt..., Paakk...", dan kutekan
penisku kuat-kuat menusuk vaginanya
sambil berteriak agak keras, "aahh...,
aacrrhh..., bbuu..., aahh..", Aku sudah
tidak memperhatikan lagi apa yang
diteriakkan bu Tus dan yang aku dengar
dengan nafasnya yang terengah-engah bu
Tus menciumi wajahku sambil berkata,
"Teriimaa..., kasiih..., paakk...,
saayyaa..., capeek..., sekali.., paakk".
Setelah istirahat sebentar dan nafas kami
kembali agak normal, bu Tus mengambil
CD-nya dan dibersihkannya penisku
hati-hati. Aku segera mengenakan
pakaianku dan keluar menuju sungai
untuk menemani pak Tus memancing.
"Sudah dapat berapa Paak ikannya..",
tanyaku setelah dekat. "ooh..., bapaak...,
sudah tidak masuk angin lagi...,
paak..?", dan lanjutnya, "Lumayan
paak.., sudah dapat beberapa ekor dan
bisa kita bakar nanti malam.
Malam harinya setelah makan dengan
ikan bakar hasil pancingannya pak Tus,
kami berempat hanya ngobrol di dalam
rumah dan suasananya betul-betul sepi
karena tidak ada TV ataupun radio,
yang terdengar hanyalah suara binatang-
binatang kecil dan walaupun sudah di
dalam rumah tetapi hawanya terasa
dingin sekali, maklum saja karena kebun
pak Tus berada di kaki bukit. Sambil
ngobrol kutanyakan pada Aminah,
"Aam..., ke mana anaknya..? Kok dari
tadi tidak kelihatan" "oohh..., sudah tidur
paak", katanya. Karena suasana yang
sepi ini, membuat orang jadi cepat
ngantuk dan benar saja tidak lama
kemudian Aminah pamit mau tidur
duluan. Sebetulnya aku juga sudah
mengantuk demikian juga kulihat mata bu
Tus sudah layu, tetapi karena pak Tus
masih bersemangat untuk ngobrol maka
obrolan kami lanjutkan bertiga. Tidak
lama kemudian, bu Tus juga pamit untuk
tidur duluan dan mungkin pak Tus
melihatku menguap beberapa kali, lalu
pak Tus berkata padaku, "Paak..., lebih
baik kita juga nyusul tidur". "Betul...,
paak, karena hawanya dingin membuat
orang cepat mengantuk", jawabku.
"ooh..., iyaa..., paak.., silakan bapak
tidur di kamar yang sebelah depan", kata
pak Tus sambil menunjuk arah kamar dan
lanjutnya lagi, "Maaf..., yaa.., paakk..,
rumahnya kecil dan kotor lagi". "aahh...,
pak Tus..., ini selalu begitu",jawabku.
Aku segera bangkit dari dudukku dan
berjalan menuju kamar depan yang
ditunjuk oleh pak Tus. Tetapi setelah
masuk ke kamar yang ditunjuk oleh pak
Tus, aku jadi sangat terkejut karena di
kamar itu telah ada penghuninya yang
telah tidur terlebih dahulu yaitu Aminah
dan anaknya. Karena takut salah kamar,
aku segera keluar kembali untuk
menanyakan kepada pak Tus yang
kebetulan baru datang dari arah belakang
rumah, lalu segera kutanyakan,
"Maaf..., paak..., apa saya tidak masuk
kamar yang salah?", kataku sambil
menunjuk kamar dan pak Tus langsung
saja menjawab, "Betuul..., paak..., dan
maaf kalau Aminah dan anaknya tidur di
situ..., habis kamarnya hanya dua...,
mudah-mudahan mereka tidak
mengganggu tidur bapak", kata pak Tus.
"ooh..., ya sudah kalau begitu paak...,
saya hanya takut salah masuk kamar...,
oke kalau begitu paak..., selamat
malaam". Aku segera kembali masuk ke
kamar dan menguncinya. Dapat
kuceritakan kepada para penggemar situs
17Tahun, kamar ini mempunyai hanya
satu tempat tidur yang lebar dan Aminah
serta anaknya tidur disalah satu sisi,
tetapi anaknya ditaruh di sebelah pinggir
tempat tidur dan dijaga dengan sebuah
bantal agar supaya tidak jatuh.
Setelah aku ganti pakaianku dengan
sarung dan kaos oblong, pelan-pelan aku
menaiki tempat tidur agar keduanya
tidak terganggu dan aku mencoba
memejamkan mataku agar cepat tidur dan
tidak mempunyai pikiran macam-macam,
apalagi badanku terasa lelah sekali.
Baru saja aku akan terlelap, aku
terjaga dan kaget karena dadaku
tertimpa tangan Aminah yang merubah
posisi tidurnya menjadi telentang. Aku
jadi penasaran, ini sengaja apa kebetulan
tetapi setelah kulirik ternyata nafas
Aminah sangat teratur sehingga aku
yakin kalau Aminah memang telah tidur
lelap, tetapi kantukku menjadi hilang
melihat cara Aminah tidur. Mungkin
sewaktu tidur tadi dia lupa
mengancingkan rok atasnya sehingga agak
tersingkap dan belahan dada yang putih
terlihat jelas dan rok bawahnya
tersingkap sebagian, hingga pahanya yang
mulus itu terlihat jelas. Hal ini membuat
kantukku hilang sama sekali dan membuat
penisku menjadi tegang. Kepingin
rasanya memegang badannya, tetapi aku
takut kalau dia berteriak dan akan
membangunkan seluruh rumah. Setelah
kuperhatikan sejenak lalu kugeser
tubuhku menjauh sehingga tangannya yang
berada di dadaku terjatuh di samping
badannya dan kudengar Aminah menarik
nafas panjang seperti terjaga.
Setelah kudiamkan sejenak, seolah
mengganti posisi tidur lalu kumiringkan
tidurku menghadap ke arahnya dan
kujatuhkan tangan kiriku pelan-pelan
tepat di atas buah dadanya. Aminah
tidak bereaksi jadi aku mempunyai
kesimpulan kalau dia memang telah tidur
nyenyak sekali. Perasaanku semakin
tidak menentu apalagi tangan kiriku
berada di badannya yang paling empuk,
tetapi aku tidak berani berbuat lebih jauh,
takut Aminah jadi kaget dan berteriak.
Aku berpikir harus bagaimana agar
Aminah tidak kaget, tetapi belum sempat
aku menemukan apa yang akan
kulakukan, Aminah bergerak lagi
mengganti posisi tidurnya dan sekarang
menghadap ke arahku dan tangan
kanannya dipelukkan di pinggangku.
Dengan posisi ini, wajahnya sudah
sangat dekat dengan wajahku, sehingga
nafasnya terasa menyembur ke arahku.
Dengan posisi wajahnya yang sudah
sangat dekat ini, perasaanku sudah
semakin kacau dan penisku juga sudah
semakin tegang, lalu tanpa kupikir
panjang kulekatkan bibirku pelan-pelan di
bibirnya, tetapi tanpa kuduga Aminah
langsung memelukku erat sambil berbisik,
"Paakk..", dan langsung saja dengan
sangat bernafsu mencium bibirku dan
tentu saja kesempatan ini tidak kusia-
siakan.
Sambil berciuman, kupergunakan tangan
kiriku untuk mengusap-usap dahi dan
rambutnya. Aminah sangat aktif dan
bernafsu serta melepaskan ciuman di bibir
dan mengalihkan ciumannya ke seluruh
wajahku dan ketika menciumi di dekat
telingaku, dia membisikkan, Paak...,
sshh..., cepaatt..., Paakk..., toloong...,
puasiinn..., am.., Paakk..,sshh", setelah
itu dia mengulum telingaku. Setelah aku
ada kesempatan mencium telinganya, aku
segera mengatakan, "Aamm..., kita
pindahkan Dody di bawah..., yaa", dan
Aminah langsung saja menjawab, "Yaa...,
paak", dan segera saja aku melepaskan
diri dan bangun menyusun batal di bawah
dan kutidurkan dody di bawah. Selagi
aku sibuk memindahkan Dody, kulihat
Aminah membuka pakaian dan BH-nya
dan hanya tinggal memakai CD
berwarna merah muda dan kulihat buah
dadanya yang boleh dibilang kecil dan
masih tegang, sehingga sulit dipercaya
kalau dia sudah pernah kawin dan
mempunyai anak. Aku langsung saja
melepaskan semua pakaian termasuk
CD-ku dan baru saja aku melepas CD-
ku,langsung saja aku diterkam oleh
Aminah dan kembali kami berciuman
sambil kubimbing dia ke tempat tidur dan
kutidurkan telentang. "Ayoo..., Paak...",
kembali Aminah berbisik di telingaku,
"Am..., sudah..., tidak tahaan..., paak".
Aminah sepertinya sudah tidak sabar
saja, ini barangkali karena dia sudah
lama cerai dan tidak ada laki-laki yang
menyentuhnya, tetapi permintaannya itu
tidak aku turuti. Pelan-pelan kualihkan
ciumanku di bibirnya ke payudaranya
dan ketika kusentuh payudaranya dengan
lidahku, terasa badannya menggelinjang
dan terus saja kuhisap-hisap puting
susunya yang kecil, sehingga Aminah
secara tidak sadar mendesah, "Sshh...,
aahh..., Paakk.., aduuh..., sshh",dan
seluruh badannya yang berada di
bawahku bergerak secara liar. Sambil
tetap kijilati dan kuhisap payudaranya,
kuturunkan CD-nya dan kupermainkan
vaginanya yang sudah basah sekali dan
desahannya kembali terdengar, "sshh...,
aahh..., ayoo..., paak.., aduuh.., paak",
seperti menyuruhku untuk segera
memasukkan penisku ke vaginanya. Aku
tidak segera memenuhi permintaannya,
karena aku lebih tertarik untuk
menghisap vaginanya yang kembung
menonjol dan tidak berbulu sama sekali.
Segera saja kulepaskan hisapanku di
payudaranya dan aku pindahkan badanku
diantara kedua kakinya yang telah
kulebarkan dahulu dan ketika lidahku
kujilatkan di sepanjang belahan bibir
vaginanya yang basah dan terasa agak
asin, Aminah tergelinjang dengan keras
dan mengangkat-angkat pantatnya dan
kedua tangannya mencengkeram keras di
kasur sambil mendesah agak keras,
"aahh..., Paakk..., adduuhh.., paak.
Aku teruskan jilatan dan hisapan di
seluruh vagina Aminah sambil kedua bibir
vaginanya kupegangi dan kupermainkan,
sehingga gerakan badan Aminah semakin
menggila dan tangannya sekarang sudah
tidak meremas kasur lagi melainkan
meremas rambut di kepalaku dan menekan
ke vaginanya dan tidak lama kemudian
terdengar Aminah mengucap,
"Aaduuhh..., adduuh..., Paak...,
aahh..., aduuh.., aahh.., paak", dan
badannya menggelepar-gelepar tidak
karuan, lalu terdiam dengan nafas
terengah-engah, tetapi dengan masih
tetap meremasi rambutku. Aku hentikan
jilatanku di vaginanya dan merayap
keatas lalu kucium dahinya, sedangkan
Aminah dengan nafasnya yang masih
terengah-engah menciumi seluruh
wajahku sambil memanggilku, "Paakk...,
paak", entah untuk apa. Ketika nafas
Aminah sudah mulai agak teratur, lalu
kutanya, "aam.., boleh kumasukkan
sekarang.., aam..", Aminah tidak segera
menjawab hanya terus menciumi
wajahku, tetapi tak lama kemudian
terdengar suara pelan di telingaku,
"Paak..., pelaan..., pelaan..., yaa...,
Paak", dan dengan tidak sabar lalu
kupegang batang penisku dan kugesek
gesekan pada belahan vaginanya dengan
sedikit kutekan dan ketika kuanggap pas
di lubang vaginanya, segera kutekan
pelan-pelan dan Aminah sedikit
mengeluh, "Paak..., sakiit..., paak".
Mendengar keluhannya ini, segera
kuhentikan tusukan penisku ke vaginanya.
Sambil kucium dahinya, kembali ketekan
penisku pelan-pelan dan terasa kepala
penisku masuk sedikit demi sedikit ke
lubang vaginanya dan lagi-lagi terpaksa
gerakan penisku kuhentikan, ketika
Aminah mengeluh, "Adduuh..., paak..".
Setelah kudiamkan sebentar dan Aminah
tidak mengeluh lagi, kuangkat penisku
keluar dari vaginanya dan kembali
kutusukkan pelan-pelan, ketika penisku
terasa masuk, kulihat wajah Aminah
hanya mengerenyit sedikit tetapi tidak
ada keluhan, sehingga kembali kutusukkan
penisku lebih dalam dan, "Bleess..",
masuk disertai dengan teriakan Aminah,
"Aduuh..., paak", dan tangannya
mencengkeram pantatku, terpaksa penisku
yang sudah masuk sebagian kutahan dan
kudiamkan di tempatnyaTidak lama
kemudian, terasa tangan Aminah
menekan pantatku pelan-pelan dan
kembali kutekan penisku sehingga
sekarang sudah masuk semua dengan
tanpa ada keluhan dari Aminah."Aam...,
masih sakiitt..?", Tanyaku dan Aminah
hanya menggelengkan kepalanya
pelan.Karena Aminah sudah tidak
merasakan kesakitan lagi, segera saja
aku mulai menggerakkan penisku pelan-
pelan keluar masuk vaginanya, sedangkan
Aminah hanya mengelus-eluskan
tangannya di punggungku.Makin lama
gerakan penisku kupercepat dan Aminah
mulai ikut menggerakkan pinggulnya
sambil bersuara,"aahh..., sshh..., aahh...,
aahh..., sshh..., teruus..., Paak". Aku
tidak menuruti permintaannya dan segera
kuhentikan gerakan penisku dan kucabut
keluar dari vaginanya dan Aminah
kelihatannya memprotes kelakuanku,"Paa
k..., kenapaa..". Aku tidak menjawab
protesnya tetapi kubilang,"aam..., coba
sekarang Aminah berbalik dan
nungging".Aminah menuruti permintaanku
tanpa protes dan setelah kuatur kakinya,
secara pelan-pelan kutusukkan penisku
ke dalam vaginanya dari belakang dan
kutekan agak kuat sehingga membuat
Aminah berteriak kecil,"aahh..", dan
segera kugerakkan penisku keluar masuk
vaginanya dan Aminah bersuara,"aahh.
.., oohh..., aah..., ooh..., aahh", seirama
dengan kocokan penisku keluar masuk.
Tidak lama kemudian kudengar keluhan
Aminah,"Paak..., aam..., capeek...,
paak", sambil terus menjatuhkan badannya
tengkurap, sehingga penisku jadi lepas
dari vaginanya.Langsung badan Aminah
kubalik telentang dan kembali kutancapkan
penisku dengan mudah ke dalam
vaginanya yang masih tetap basah dan
kuayun keluar masuk, sehingga membuat
Aminah merasa keenakan dan
mendesah,"aahh..., oohh..., sshh...,
aahh..., ssh", demikian juga aku.Setelah
beberapa saat, lalu kuhentikan gerakan
senjataku dan kubalik badanku sehingga
posisi Aminah sekarang berada di
atas."aam..., sekarang Aminah yang
maiin..., yaa..., biar aku juga enaak",
kataku.Mula-mula Aminah hanya diam
saja, mungkin malu tetapi lama-lama
mulai mau menggerakkan pinggulnya ke
atas dan ke bawah sehingga vaginanya
menelan penisku sampai habis dan
gerakannya semakin lama semakin cepat
yang membuatku semakin
keenakan,"aahh..., sshh..., aamm..,
truus..., aam..., enaak.., aam", dan
Aminah hanya mendesah,"aahh...,
oohh..., aahh..". Karena gerakan
Aminah semakin cepat, membuatku
semakin mendekati klimaks dan segera
saja kukatakan,"Aam..., sshh..., ayoo...,
aam..., sayaa..., sudah mau keluaar..,
cepaat.., aam"."Paak..., ayoo.., kita..,
sama samaa", katanya sambil
mempercepat gerakan pinggulnya ke atas
dan ke bawah dan akhirnya aku sudah
nggak kuat menahan air maniku supaya
tidak keluar dan,"Aam..., sekaraang",
kataku cepat sambil kutekan pinggulnya
kuat-kuat dan Aminah hanya
berteriak,"aahh", dan terus sama-sama
terdiam dengan nafas terengah-engah.
Kami berdua lalu tidur dengan penisku
tetap masih berada di dalam
vaginanya.Pagi harinya, ketika aku
makan pagi ditemani oleh bu Tus sendiri
dan Pak Tus katanya sedang ke kebun
dan Aminah sedang menyuapi anaknya di
depan, bu Tus bertanya, "Paak..., apa
benar..., suami saya..., akan di
PHK?".Aku jadi sangat terkejut dengan
pertanyaan itu, karena setahuku belum
ada orang lain yang kuberitahu, kecuali
pimpinanku dan sekretaris yang kusuruh
menyiapkan surat-surat."Buu..., lebih
baik kita bicarakan dengan Bapak
sekalian agar bisa tuntas. Ayoo..., kita
temui Bapak di kebun ajakku.Karena
Pak Tus sudah tahu dan mungkin dari
sekretaris kantor, lalu aku terangkan
semuanya dan apa yang menjadi
pertimbanganku dan yang lebih penting
soal pesangonnya yang spesial dan cukup
besar.Pada mulanya, di wajah Pak Tus
kulihat ada perasaan kurang senang,
tetapi setelah kuberikan penjelasan dan
kuberitahu besar uang pesangonnya, Pak
Tus dengan wajah berseri malah berbalik
bertanya,"Paak..., kapan uang
pesangonnya bisa diambil..., saya mau
gunakan untuk kebun saya ini dan
ditabung".Aku jadi lega bisa
menyelesaikan masalah ini dan sekaligus
dapat vaginanya bu Tus dan
Aminah.Siangnya kami kembali ke
Indramayu dan sesampainya di rumah
mereka, Pak Tus mengatakan,"Paak...,
jangan kapok..., ya paak", dan
kujawab,"Paak..., pokoknya kalau Pak
Tus ajak lagi..., saya akan ikut", sambil
aku melihat bu Tus yang tersenyum
penuh arti.Pada hari Senin pagi
kupanggil Sri sekretaris kantor yang
pernah kusuruh mempersiapkan surat
berhenti untuk pegawai-pegawai yang
telah kupilih.Setelah Sri menghadap di
kantorku, kumarahi dan kudamprat dia
habis-habisan karena tidak bisa menjaga
rahasia.Kuperhatikan wajah Sri yang
ketakutan sambil menangis, tetapi apa
peduliku dan saking kesalku, kusuruh dia
untuk pulang dan memikirkan apa yang
telah dilakukannya.Aku lalu meneruskan
pekerjaanku tanpa memikirkan hal
tadi.Malam harinya, dengan hanya
mengenakan kaos singlet dan sarung, aku
duduk di ruang tamu sambil melihat
acara sinetron di salah satu stasion TV,
tiba-tiba kudengar ada orang mengetuk
pintu rumahku yang sudah kukunci.Aneh
juga, selama ini belum ada tamu yang
datang ke rumahku malam-mala, aku
jadi sedikit curiga siapa tahu ada orang
yang kurang baik, maklum saja di masa
krisis seperti sekarang ini, tetapi ketika
kuintip ternyata yang di depan adalah
Sri.Hatiku yang tadinya sudah
melupakan kejadian tadi siang, mendadak
jadi dongkol kembali dan sambil kubukakan
pintu, kutanya dia dengan nada
dongkol,"Ngapain malam-malam ke sini".
Sri tidak menjawab tapi malah
bertanya,"Paak..., boleh saya
masuk?"Yaa..., sana duduk", kataku
dengan dongkol, sambil menutup pintu
rumah.Sri segera duduk di sofa panjang
dan terus menangis tanpa mengeluarkan
kata-kata apapun.Aku diamkan saja dia
menangis dan aku segera duduk di
sampingnya tanpa peduli.Lama juga aku
menunggu dia menangis dan ketika
tangisnya agak mereda, dengan tanpa
melihat ke arahku dan diantara suara
senggukan tangisnya, Sri akhirnya
berkata dengan nada penuh iba,"Paak...,
maafkan Srii..., paak, saya mengaku
salah..., paak dan tidak akan mengulangi
lagi", dan terus menangis lagi, mungkin
karena tidak ada jawaban dariku.Lama
sekali si Sri menangis sambil menutup
mukanya dengan sapu tangan yang sudah
terlihat basah oleh air matanya, lama-
lama aku menjadi tidak tega mendengar
tangisannya yang belum juga mereda, lalu
kugeser dudukku mendekati Sri dan
kuraih kepalanya dengan tangan kiriku
dan kusandarkan di bahuku.Ketika
kuusap-usap kepalanya sambil
kukatakan,"Srii..., sudaah..., jangan
menangis lagi..., Srii", Sri bukannya
berhenti menangis, tetapi tangisnya
semakin keras dan memeluk pinggangku
serta menjatuhkan kepalanya tepat di
antara kedua pahaku.Dengan keadaan
seperti ini dan apalagi kepala Sri tepat
ada di dekat penisku yang tertutup
dengan sarung, tentu saja membuat
penisku pelan-pelan menjadi berdiri dan
sambil kuusap punggungnya dengan tangan
kiriku dan kepalanya dengan tangan
kananku lalu kukatakan,"Srii...,
sudah..., laah..., jangan menangis
lagi".Setelah tangisnya mereda,
perlahan-lahan Sri menengadahkan
kepalanya seraya berkata dengan
isaknya,"Paak..., maafkan..., srii...,
yaa", sambil kucium keningnya lalu
kukatakan,"Srii..., sudah.., laah..., saya
maafkan..., dan mudah-mudahan tidak
akan terulang lagi". Mendengar
jawabanku itu, Sri seperti kesenangan
langsung memelukku dan menciumi
wajahku berulangkali serta mengatakan
dengan riang walaupun dengan matanya
yang masih basah,"Terima kasiih...,
paak..., terima kasiih", lalu memelukku
erat-erat sampai aku sulit
bernafas."Sudah.., laah..., Sri", kataku
sambil mencoba melepaskan pelukannya
dan kulanjutkan kata-kataku."Gara-
gara kamu nangis tadi..., aku jadi
susah..."."Ada apa paak", tanyanya
sambil memandangku dengan wajah yang
penuh kekuatiran. Sambil kurangkul lalu
kukatakan pelan di dekat telinganya,"Sri
i..., itu lhoo..., gara-gara kamu nangis
di pangkuanku tadi..., adikku yang tadi
tidur..., sekarang jadi bangun", kataku
memancing dan mendengar jawabanku itu,
Sri mencubit pinggangku dan
berguman,"iihh..., bapaak", dan sambil
mencium pipiku kudengar Sri agak
berbisik di dekat telingaku, "Paak...,
Sri..., suruh..., tiduur..., yaa?",
seraya tangannya menyingkap sarungku
ke atas dan menurunkan CD-ku sedikit
sehingga penisku yang sudah tegang dari
tadi tersembul keluar dan dengan
dorongan tanganku sedikit, kepala Sri
menunduk mendekati penisku
serta,"Huup..", penisku hilang
setengahnya tertelan oleh mulutnya. Sri
segera menggerakkan kelapanya naik
turun serta terasa lidahnya dipermainkan
di kepala penisku sehingga membuatku
seperti terbang di awang-awang,"Ss
hh..., aahh..., oohh.., Srii..., sshh...,
aahh", desahku keenakan tanpa
sadar."Srii..., lepas sebentaar...,
Srii..., saya mau lepas sarung dan
CD-ku dulu..", kataku sambil sedikit
menarik kepalanya dan setelah keduanya
terlepas, kembali Sri melahap penisku
sambil tangannya sekarang
mempermainkan buahku dan aku gunakan
tanganku untuk meremas-remas
payudara Sri dan sekaligus mencari
serta membuka kancing bajunya. Setelah
baju atas Sri berhasil kulepas dari
tubuhnya, maka sambil kuciumi
punggungnya yang bersih dan mulus, aku
juga melepas kaitan BH-nya dan
kulepas juga dari tubuhnya. Sementara
Sri masih menggerakkan kepalanya naik
turun, aku segera meremas-remas
payudaranya serta kucium dan kujilati
punggungnya, sehingga badan Sri
bergerak-gerak entah menahan geli atau
keenakan, tetapi dari mulutnya yang
masih tersumpal oleh penisku terdengar
suara,"Hhmm..., hhmm..., hhmm".Dalam
posisi seperti ini, aku tidak bisa berbuat
banyak untuk membuat nikmat Sri,
segera saja kukatakan," Srii..., sudah
duluu...", sambil menarik kepalanya dan
Sri lalu kupeluk serta berciuman, sedang
nafasnya Sri sudah menjadi lebih
cepat."Srii..., kita pindah ke kamar...,
yaa", kataku sambil mengangkat Sri
berdiri tanpa menunggu persetujuannya
dan Sri mengikuti saja tarikanku dan
sambil kurangkul kuajak dia menuju
kamarku lalu langsung saja kutidurkan
telentang di tempat tidurku.Segera
kulepas singletku sehingga aku sudah
telanjang bulat dan kunaiki badannya
serta langsung kucium dan kujilati
payudaranya yang terasa sudah
lembek.Tapi..., ah.., cuek saja.Sambil
terus kujilati kedua payudara Sri
bergantian yang makin lama sepertinya
membuat Sri semakin naik nafsunya, aku
juga sedang berusaha melepas kaitan dan
ritsluiting yang ada di rok nya
Sri.Sementara aku menarik roknya
turun lalu menarik turun CD-nya juga,
Sri sepertinya sudah tidak sabar lagi
dan terus mendesah,"Paak..., paak...,
ayoo..., paak..., cepaat..., paak...,
masukiin..., sshh", dan setelah aku
berhasil melepas CD dari tubuhnya,
segera saja Sri melebarkan kakinya
serta berusaha menarik tubuhku ke atas
seraya masih tetap berguman,"Paak...,
ayoo..., cepaat.., Srii..., aah..., sudah
nggak tahaan..., paak". Aku turuti
tarikannya dan Sri seperti sudah tidak
sabar lagi, segera bibirku dilumatnya dan
tangan kirinya berhasil memegang penisku
dan dibimbingnya ke aah vaginanya."Srii
..., aku masukin sekarang..., yaa",
tanyaku minta izin dan Sri cepat
menjawab, "Paak..., cepaat..., paak",
dan segera saja kutekan penisku
serta,"Blees..", disertai teriakan ringan
Sri,"aahh..", masuk sudah penisku
dengan mudah ke dalam vaginanya
Sri.Sri yang sepertinya sudah tidak
bisa menahan dirinya lagi, mendekap
diriku kuat-kuat dan menggerakkan
pinggulnya dengan cepat dan kuimbangi
dengan menggerakkan penisku keluar
masuk vaginanya disertai
bunyi"Ccrreet..., creet.., crreet", dari
vaginanya mungkin sudah sangat basah
dan dari mulutnya terdengar,"oohh...,
aahh..., sshh..., paak..., aah".Gerakan
penisku kupercepat sehingga tak lama
kemudian gerakan badan Sri semakin
liar saja dan berteriak,"Adduuh...,
paak..., aahh..., oohh..., aduuhh...,
paak..., aduuhh..., paak", sambil
mempererat dekapannya di tubuhku dan
merangkulkan kedua kakinya kuat-kuat
di punggungku sehingga aku kesulitan
untuk bergerak dan tak lama kemudian
terkapar dan melepas pelukannya dan
rangkuman kakinya dengan nafasnya
yang memburu.Aku agak sedikit kecewa
dengan sudahnya Sri, padahal aku juga
sebetulnya sudah mendekati puncak, hal
ini membuat nafsuku sedikit surut dan
kuhentikan gerakan penisku keluar
masuk."Srii..., kenapa nggaak bilang-
bilang..., kalau mau keluar", tanyaku
sedikit kecewa. "Paakk.., jawab Sri
dengan masih terengah engah,"Sri...,
sudah nggak..., tahaan..., paak.." Agar
Sri tidak mengetahui kekecewaanku dan
untuk menaikkan kembali nafsuku, aku
ciumi seluruh wajahnya, sedangkan
penisku tetap kudiamkan di dalam
vaginanya. eeh, tidak terlalu lama terasa
penisku seperti terhisap dan tersedot-
sedot di dalam vaginanya."Srii...,
teruus..., Srii..., enaak..., teruuss...,
Srii", dan membuatku secara tidak sadar
mulai menggerakkan penisku kembali
keluar masuk, dan Sri pun mulai
menggerakkan pinggulnya kembali.Aku
semakin cepat mengerakkan penisku
keluar masuk sehingga kembali terdengar
bunyi,"Ccrroot..., crreet..., ccrroot...,
creet", dari arah vaginanya."Srii...,
Srii..., ayoo..., cepaat..., Srii", dan
seruanku ditanggapi oleh Sri."Paak...,
iyaa..., paak..., ayoo", sambil
mempercepat gerakan pinggulnya."aah
h..., sshh..., Ssrrii..., ayoo..., Srrii..,
saya.., sudah dekaat srii." "Ayoo...,
paak..., cepaatt..., sshh..., paak" Aku
sudah tidak bisa menahan lagi dan sambil
mempercepat gerakanku, aku
berteriak"Srrii..., ayoo..., Srrii...,
sekaraang", sambil kutusukan penisku
kuat-kuat ke dalam vaginanya Sri dan
ditanggapi oleh Sri."Paak..., ayoo...,
aduuh..., aah..., paak", sambil kembali
melingkarkan kedua kakinya di
punggungku kuat-kuat.Setelah
beristirahat cukup lama sambil tetap
berpelukan dan penisku tetap di dalam
vaginanya, segera aku ajak Sri untuk
mandi, lalu kuantar dia pulang dengan
kendaraanku.Minggu depannya, aku
berhasil melaksanakan PHK tanpa ada
masalah, tetapi beberapa hari kemudian
setelah pegawai-pegawai yang tersisa
mengetahui besarnya uang pesangon yang
diberikan kepada 5 orang ter-PHK,
mereka mendatangiku untuk minta di-
PHK juga. Tentu saja permintaan ini
tidak dapat dipenuhi oleh pimpinanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Raja

Arsip Blog

Entri Populer