Cabung Yuk

Minggu, 03 Februari 2013

Pesta ulang tahun



Saya ibu rumah tangga berumur 36
tahun yang sehari-sehari mempunyai
kegiatan terkait dengan kegiatan sosial
yang kadang-kadang menyelenggarakan
kegiatan di luar rumah, termasuk rapat-
rapatnya. Suami bekerja di
pemerintahan. Anak kami dua yang
tertua berumur 14 tahun. Saya sewaktu
masih muda kadang-kadang ikut sebagai
peragawati dan kadang-kadang juga foto
model, dengan tinggi badan 165 cm.
Dengan bagian-bagian tubuh depan dan
belakang termasuk bagus. Berat badan
sekitar 47,5 kg.

Orang bilang saya
punya penampilan yang menarik dan seksi
terutama juga bibir saya. Apa yang saya
akan ceritakan adalah pengalaman saya
yang menarik yang telah menjadikan
hidup saya terpuaskan lahiriah dan
batiniah. Dan telah memperkuat
kehidupan perkawinan kami.
Ceritanya berawal pada suatu peringatan
ulang tahun suami kakak saya kurang
lebih dua tahun yang lalu, dimana banyak
sudara-saudara yang membantu dalam
persiapannya. Ikut pula membantu
keponakan saya Martin, anak kakak
saya yang lain lagi. Martin berumur 25
tahunan, masih kuliah, berperawakan
tegap atletis tinggi kurang lebih 1,7 m.
Tampangnya cakep dengan rambut hitam
bergelombang. Termasuk seksi juga.
Genit juga. Suka mencuri-curi
memandangi saya, sepert mau menelan.
Kalau bertatap pandang matanya
sepertinya tersenyum. Kurang ajar juga
pikiran saya, tetapi terus terang saya
juga senang. Anaknya simpatik sih.
Kadang-kadang ada juga pikiran, enak
barangkali kalau mencium Martin atau
memeluknya/dipeluk. Kelihatannya ada
setrum dan chemistry di antara kami.
Sore itu kakak meminta saya untuk
mengambilkan kue tart, karena tidak ada
yang bisa dimintai tolong. Karena tidak
ada yang lain juga terpaksa Martin yang
mengantarkan dengan mobilnya. Apa yang
terjadi adalah ketika secara bersama
Martin dan saya memungut dompet saya
yang terjatuh di garasi. Martin
memegang tangan saya menarik dan
mencium pipi saya dengan senyum. Saya
tidak bereaksi tetapi juga tidak marah
tetapi berusaha memberikan kesan kalau
saya juga senang. Sikap saya yang tidak
menentang membuatnya kemudian
mengulangi ciumannya dalam mobil ketika
berhenti di lampu merah. Kali ini
ciumannya di mulut sambil menekankan
tangannya pada paha. Martin mencium
dengan melumat dan memainkan lidahnya.
Meski ini bukan pengalaman saya
pertama untuk dicium tetapi saya
tergetar seluruh tubuh dan merasakan
ada rasa menggelitik dan mengalir di
kemaluan saya. Selintas terjadi
pertempuran antara ya dan tidak, antara
pertahanan kejujuran terhadap suami
melawan spontanitas keindahan
kemunculan gairah, dan nampaknya
kejujuran akan terkalahkan. Getaran
terus menggebu sampai kesadaran muncul
dengan reaksi mendorong sambil
menggumam, "Jangan di sini, jangan di
sini, dilihat orang." Terus terang
keinginan sangat besar untuk tidak
menghentikannya, tetapi memang
tempatnya tidak tepat. Babak awal telah
terbuka, dan cerita tidak ingin terputus
dan babak berikut perlu dipanggungkan
secara berkelanjutan.
Sepanjang proses pengambilan kue tart
Martin pada kesempatan yang
memungkinkan selalu mencuri untuk
mencium dan sesekali membisikkan kata-
kata, "You are beautiful," dan terakhir
menjelang sampai kembali ke rumah dia
bisikkan, "I want you," sambil mencium
telinga saya. Sekali lagi saya tergetar
sampai ke bawah. Melirik ke arah dia
sambil senyum. Saya harap Martin bisa
menangkap senyum saya dan pandangan
mata saya sebagai tanda "OK". Kami
diam. Sesampai di pagar rumah saya
bisikkan pada Martin, "Telepon saya
besok pagi." Pesta ulang tahun berjalan
dengan lancar. Martin tetap mencuri-
curi pandang pada setiap kesempatan.
Akhirnya semua pulang, saya pun
pulang, bersama suami, dengan berbagai
perasaan seperti gadis yang jatuh cinta.
Malam hari menjelang tidur pikiran tidak
bisa terlepas dari Martin. Gelitik dan
kelembaban terasa disela-sela paha.
Karena pikiran dipenuhi Martin mata
pun tidak bisa terpejam. Mengharap pagi
hari lekas datang. Gila kalau dipikir, kok
bisa tergoda, hanyut.
Keesokan harinya pagi-pagi Martin
sudah menelepon. Untung bukan suami
yang mengangkat. Singkatnya siang itu
Martin dan saya lunch, menikmati
keberduaan dan kedekatan yang
merangsang. Kami meninggalkan dengan
Martin memegang inisiatip yang
kemudian berakhir di salah satu motel di
timur Jakarta, tanpa ada sikap
keberatan atau protes dari saya. Tanpa
menunggu pintu kamar motel tertutup
rapat, sambil berdiri saya telah berada
dipelukan Martin, melumat mulut dengan
ciuman yang berapi-api. Tangannya
menjelajah keseluruh bagian tubuh saya.
Ke bawah rok menekan pantat saya dan
menekankan badannya dan burungnya.
Saya menyerah, tangan saya pun jadi
ikut menjelajah ke burungnya yang telah
sangat keras. Meremasnya dari luar
dengan keinginan yang makin menggebu
untuk membukanya. "Gila nih, gila nih!"
terngiang di benak, tetapi tak mampu
menyetop gairah yang sudah memuncak
ini.
Setelah memastikan bahwa tidak akan
ada gangguan dari room service Martin
menggiring saya ke tempat tidur tanpa
melepaskan pelukannya. Pelan-pelan dia
tidurkan saya dan secara lembut mulai
menciumi dari telinga leher mulut, sambil
kancing bacu dibuka, dan terus menciumi
buah dada saya secara bergantian kanan
kiri, BH dilepas, dihisapnya puting dan
dijilatnya secara halus. Seluruh badan
terasa kena setrum, terangsang.
Kewanitaan saya terasa basah karena
memang saya mempunyai kekhasan
produksi cairan kewanitaan yang banyak.
Martin pun memulai membuka satu
persatu bajunya, masih tertinggal CD-
nya. Secara pelahan Martin membuka
bagian bawah rok sambil tak hentinya
menciumi seluruh bagian yang terbuka.
Perut saya dia ciumi bermesra-mesra.
Tangannya menjalar juga keseluruh
badan dan mendekap pada kewanitaan
saya yang telah membasahi CD, sambil
mulut Martin mendesah penuh gairah.
Saya sudah tak bisa menahan
kenikmatan yang rasanya sudah lama tak
saya alami lagi. Tangan Martin mulai
dimasukkan ke dalam CD menulusuri
kewanitaan saya dengan menggerakkan
jarinya. Gila setengah mati rasanya.
Mau teriak rasanya. Martin secara
halus dan pandai memainkan seluruh
badan dan bagian-bagian peka saya.
Kewanitaan saya mulai banjir merespon
pada rangsangan yang selangit. Gila
benar rasanya.
Martin berlanjut dengan membuka CD
dan memulai mengkonsentrasikan
perhatiannya pada kewanitaan saya.
Diciumnya secara perlahan dengan
memainkan lidahnya dari atas ke bawah.
Paha saya ditegakkan dan dibukanya
lebar-lebar. Diciumnya bibir kemaluan
dengan bibirnya secara penuh, dihisapnya
secara berkali-kali sambil lidahnya
memasuki celah-celah kemaluan saya.
Aduh gila rasanya selangit. Ganti dia
hisap klitoris secara halus. Dihisapnya,
terus. Sampai saya tidak tahan dan
sampailah saya pada puncak. Terasa
cairan mengalir. Disertai dengan
teriakan ringan tangan memeras rambut
Martin. Ini menjadikan Martin lebih lagi
menggumuli lubang kemaluan saya. Dia
benamkan dan usapkan seluruh wajahnya
pada kemaluan saya yang basah dengan
desahan kepuasan. Saya sudah tidak
bisa lagi menguasai diri dan terasa selalu
tercapai puncak-puncak yang nikmat.
Gila benar. Belum pernah saya
dibeginikan. Pintar sekali si Martin ini,
sepertinya pengalamannya sudah banyak.
Saya hanya bisa menggerakkan kepala ke
kanan kiri dengan mata terpajam mulut
terbuka, dengan suara mendesah
keenakan. Gila benar. Selangit.
Kini giliran saya. Martin saya tarik ke
atas. Kini batang kemaluannya terasa
menekan paha saya. Martin saya
balikkan dan batang kemaluannya saya
genggam. Wah besar juga dan kencang
lagi, sudah basah pula. Langsung saya
hisap dengan gairah. Lidah saya
permainkan di ujung kemaluannya sambil
dikeluar-masukkan. Martin mengerang.
Setelah kurang lebih sepuluh menit
Martin melepaskannya. Dia lebih
menghendaki keluar di liang kemaluan
saya. Kini dia di atas saya lagi dengan
posisi batang kemaluan di depan lubang
kemaluan. Dengan ujungnya digerak-
gerakkan di bibir kemaluan ke atas ke
bawah. Enak sekali. Mabok benar.
Kemudian secara perlahan masuklah
batang kemaluan ke lubang kemaluan saya
dan terus menekan sampai terasa penuh
sekali, dan terasa sampai di dasar
rahim. Gila rasanya benar-benar
selangit. Tidak pernah rasanya seenak
seperti ini. Martin menekan terus sambil
menggoyang-goyangkan pantatnya. Gila!
Enak benar! Terus dia putar-putar
sambil keluar masuk. Sampai saya lebih
dulu tidak tahan dan sampai di puncak,
keluar dengan meledak-ledak terasa
melayang kehilangan nafas sampai terasa
hampa saking nikmatnya. Kemaluan saya
terasa basah sekali. Martin masih terus
memompa dan belum mau menyelesaikan
cepat-cepat. Batang kemaluannya masih
diputar dengan keluar masuk di lubang
kemaluan, sehingga saya pun tidak tahan
keluar lagi, yang ketiga atau yang
keenam dengan yang keluar karena
dihisap tadi. Gila benar! Seluruh badan
basah rasanya. Sprei sudah basah betul
dari cairan kewanitaan saya.
Martin masih terus menekan, memutar,
menggaruk-garuk dan mencium sekali-
sekali. Ciumannya di telinga bersamaan
dengan tekanan batang kemaluan di dalam
lubang kemaluan saya sungguh membuat
seluruh badan menggigil nikmat dan
membuat saya keluar secara dahsyat.
Kemaluan saya terangkat menyongsong
tekanan batang kemaluan Martin. Gila
benar, sungguh nikmat tiada tandingan.
Akhirnya Martin mulai menggerang-
ngerang berbisik mau keluar. Dengan
tekanan yang mantap keluarlah dia
dengan semprotan yang keras ke dalam
liang kemaluan saya. Hangat, banyak
dan terasa mesra dan memuaskan. Oh
Tuhan, sungguh tak ada tandingannya.
Dia remas badan saya dengan
menekankan bibirnya pada bibir saya.
Hampir habis nafas. Kehangatan
semprotan Martin menggelitik lagi
kemaluan saya sehingga orgasme saya
pun keluar lagi yang kedelapan menyusul
semprotan Martin. Kami bersama-sama
keluar dengan nikmat sekali. Sesaat
terasa pingsan kami. Setelah selesai
terasa kepuasan yang menyeluruh
terasakan di badan. Pikiran terasa
terlepas dari semua masalah dan hanya
keindahanlah yang ada. Kami masih
berpelukan menikmati tanpa kata-kata,
sambil memulihkan kembali energi yang
telah tercurahkan secara intensif. Kami
tertidur sejenak. Siuman setelah sepuluh
menit dengan perasaan yang lega, dan
puas.
Meski demikian rasa mengelitik, gatal-
gatal kecil masih terasa di kemaluan
saya, seolah belum puas dengan
kenikmatan yang begitu hebat. Tangan
saya mendekap batang kemaluan Martin
mengusap-usapnya sayang. Ingin
rasanya batang kemaluan Martin
memenuhi lagi di lubang kemaluan saya.
Bibir tidak bisa menahan, saya tarik
batang kemaluan Martin dan mulai
meluncur ke bawah dan menghisapnya
lagi dengan kasih sayang, diliputi bau
campuran antara cairan saya dan mani
yang terasa sedap. Kemaluan Martin
terasa sangat lunak tidak segagah tadi.
Serasa menghisap marshmallow. Tetapi
hal itu tidak berlangsung lama karena
secara perlahan batang kemaluannya
mulai membengkak dan menyesaki mulut.
Sekali lagi kewanitaan saya tergelitik.
Tanpa bertanya saya bangkit jongkok di
atas Martin dan memasukkan Martin
pelan-pelan. Seluruhnya masuk terasa
sampai di ujung perut dan mulai
menggelitik G-spot. Ganti saya pompa
ambil kadang merunduk memeluk Martin
dan menciumnya. Kadang sambil duduk
menikmati penuhnya di kemaluan saya.
Rasanya enak sekali karena saya yang
mencari posisi yang terenak untuk saya.
Setelah beberapa waktu merasakan
kenikmatan yang masih datar, kenikmatan
mulai memuncak lagi dan terus memuncak
sampai akhirnya sampai puncak tertinggi.
Meledak-ledak lagi orgasme dengan
teriakan-teriakan nikmat. Yang ternyata
diikuti oleh Martin dengan semprotan
kedua. Tangannya memeluk erat-erat
dengan gerangan pula. Gila enaknya
sungguh sesuatu yang belum pernah saya
rasakan sebelumnya. Ini kali rasanya
surga dunia. Kalau bisa maunya
seharian begini terus rasanya. Gila!
Gila benar, sungguh nikmat memuaskan.
Tetapi kami harus pulang. Saya kembali
ke rumah, ke suami dan keluarga saya.
Dengan suatu pengalaman yang tak
terlupakan selama hidup. Sepanjang jalan
kami diam tetapi tangan saling memegang.
Malamnya menjelang tidur, sekali lagi
kemaluan saya menggelitik dengan ingatan
pengalaman siang tadi tidak bisa hilang.
Ini memang pembawaan saya yang orang
barangkali mengatakannya sebagai
maniak seks, histeris, multi orgasme,
kelaparan terus. Sekali terbuka lebar
dan dirangsang maunya terus dipenuhi.
Sejauh ini dengan suami tidak pernah
tercapai apa yang Martin bisa lakukan.
Kepuasan dengan suami sama-sama
tercapai tetapi kepuasan yang tidak
mendalam seperti Martin. Suami yang
lekas selesai menjadikan "bakat" saya
tidak berkembang. Sekarang yang ada
hanya suami di samping saya. Saya
merengek minta pada suami dengan
tangan meraba burungnya dan memijat-
mijatnya halus. Dia tertawa sambil
mengejek, "Gatel nih ya." Dalam hati
saya bilang memang gatal. Saya mencoba
menikmati penetrasi kemaluannya dengan
membayangkan kemaluan Martin.
Kewanitaan saya, saya goyangkan
mencari spot yang nikmat sambil
mendekap. Dia menekan menarik beritme
sampai kemudian saya mencapai puncak
dulu diikuti dengan semprotan maninya.
Selesailah sudah. Kemaluan saya masih
ingin sebetulnya, tetapi dia biasanya
sudah tidak bisa lagi. Jadinya tanganlah
yang bergerak "Self Service". Memang
penyakit saya (atau karunia) ya itu.
Sekali sudah diobok-obok tidak bisa
berhenti. Saya tidur dengan nyenyak
malam itu.
Seperti yang bisa diduga pertemuan saya
dengan Martin berlanjut. Semua fantasi
seks dan impian-impian tak ada yang
tidak kami wujudkan. Sungguh sangat-
sangat nikmat. Teknik kami makin
sempurna dan Martin bisa membuat saya
orgasme sampai tiga belas kali. Pada
kesempatan lain akan saya ceritakan
pengalaman-pengalaman kami yang
aduhai. Semoga saya tidak jatuh cinta
dan menghendaki hubungan yang lebih
dalam, dan mengacaukan rumah tangga
saya yang sudah ada. Saya hanya mau
seksnya. Sama seperti Martin juga.
Sehingga dari luar, partner seks saya
resmi adalah suami. Dibalik itu Martin
lah yang menjadi pemuas seks dan fantasi
saya dan ini telah berjalan selama dua
tahunan. Dua kali dalam seminggu paling
sedikit. Suami tetap dilayani seminggu
sekali, kadang sepuluh harian sekali.
Saya merasa bahagia dengan pengaturan
sedemikian. Keluarga tetap tidak
terganggu. Hubungan dengan anak-anak
dan suami tetap seperti biasa, bahkan
kehidupan seks dengan suami menjadi
lebih baik. Ternyata selingkuh ada
manfaat dan kebaikannya juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Raja

Entri Populer