Cabung Yuk

Sabtu, 10 Juni 2017

Nafsu Terpendam Biarawan

Cersex artikel dewasa khususnya Cerita Sex, Pesta Sex, Cerita –Sr. Leoni yang berusia 39 tahun adalah seorang suster dengan badan sintal dan sensual. Karena tubuhnya cukup pendek (155 cm) maka ia kelihatan sedikit gemuk. Sikapnya yang agak genit ditambah lagi dengan ukuran pinggulnya yang aduhai dapat membuat para pria yang menghadapinya salah tingkah. Apalagi payudaranya yang berukuran 36B, tampak indah membusung di balik baju putihnya, membuat jantung para pria berdebar keras saat menatapnya. Jadi meskipun kulitnya berwarna coklat gelap, hal itu tidak mengurangi sensualitasnya.
cerita-sex-nafsu-terpendam-biarawati
https://e-loket.com/?reff=kia1567


Cerita Sex Biarawati – Semasa kuliahnya Sr. leoni pernah menonton film xxx dan membaca beberapa buku buku dewasa. Pada masa awalnya sebagai suster, Sr. Leoni pernah satu kali melakukan hubungan seksual dengan murid di sekolah tempatnya mengajar. Hilangnya keperawanan itu begitu membekas sehingga dia kerap merindukan saat-saat menggairahkan itu. Sayang sekali muridnya itu telah pindah jauh ke luar kota.
Sebagai seorang suster yang tidak boleh menikah dan tidak diperbolehkan melakukan hubungan seksual, perbuatan Sr. Leoni itu tentu saja merupakan pelanggaran yang sangat berat. Tapi selain Sr. Leoni dan muridnya itu, tak seorangpun tahu mengenai aib itu. Untunglah Sr. Leoni tidak sampai hamil karenanya.
“Ah…. toh cuma sekali saja, yang penting sekarang aku tidak pernah melakukannya lagi”, begitu pikir Sr. Leoni tatkala ingatan tentang hubungan sex pertamanya itu terbayang kembali.
Sikap Sr.Leoni yang seolah menantang dan menggoda para pria yang bertemu dengannya itu sebenarnya dimaksudkan untuk mengakrabkan diri, agar tidak dianggap sebagai suster yang angkuh dan sombong. Di saat-saat yang memerlukan pertimbangan dan pengambilan keputusan yang sulit, Sr. Leoni tetap menjaga sikap tegasnya sebagai seorang suster.
Namun sikap Sr. Leoni itu ditangkap lain oleh 4 orang pemuda yaitu Felix, Joni, Herman dan Cerita Sex Biarawati – Semasa kuliahnya Sr. leoni pernah menonton film xxx dan membaca beberapa buku buku dewasa. Pada masa awalnya sebagai suster, Sr. leoni pernah satu kali melakukan hubungan seksual dengan murid di sekolah tempatnya mengajar. Hilangnya keperawanan itu begitu membekas sehingga dia kerap merindukan saat-saat menggairahkan itu. Sayang sekali muridnya itu telah pindah jauh ke luar kota.
Sebagai seorang suster yang tidak boleh menikah dan tidak diperbolehkan melakukan hubungan seksual, perbuatan Sr. leoni itu tentu saja merupakan pelanggaran yang sangat berat. Tapi selain Sr. leoni dan muridnya itu, tak seorangpun tahu mengenai aib itu. Untunglah Sr. leoni tidak sampai hamil karenanya.
“Ah…. toh cuma sekali saja, yang penting sekarang aku tidak pernah melakukannya lagi”, begitu pikir Sr. leoni tatkala ingatan tentang hubungan sex pertamanya itu terbayang kembali.
Sikap Sr.leoni yang seolah menantang dan menggoda para pria yang bertemu dengannya itu sebenarnya dimaksudkan untuk mengakrabkan diri, agar tidak dianggap sebagai suster yang angkuh dan sombong. Di saat-saat yang memerlukan pertimbangan dan pengambilan keputusan yang sulit, Sr. leoni tetap menjaga sikap tegasnya sebagai seorang suster.
Namun sikap Sr. leoni itu ditangkap lain oleh 4 orang pemuda yaitu Felix, Joni, Herman dan raffi. Keempat pemuda itu sepakat untuk menculik dan memperkosa Sr. leoni. Tempat untuk itu sudah dipersiapkan, sebuah vila di tengah-tengah kebun teh yang terpencil. Jarak dari villa tersebut ke desa terdekat kira-kira 6 kilometer. Sebuah tempat ideal untuk bermain seks, apalagi hawa daerah itu yang cukup dingin dianggap cocok untuk berhangat-hangat dengan tubuh Sr. leoni yang sintal itu.
Di pagi hari yang masih dingin, Sr. leoni berjalan dari gedung biara ke gedung sekolah tempatnya mengajar, yang letaknya tidak terlalu jauh. Karena hari masih sangat pagi, jalanan sepi. Hal ini dimanfaatkan oleh keempat pemuda itu yang sudah mengamati kebiasaan Sr. leoni selama beberapa waktu.
Tiba-tiba sebuah mobil dengan pintu tengah model geser berhenti mendadak, memepet Sr. leoni. Sr. leoni yang terkejut tak sempat bereaksi apa-apa saat Felix dan Joni melompat turun dan menyeretnya masuk mobil. Dalam mobil, Herman telah menyiapkan chloroform yang dibekapkan ke mulut Sr. leoni. Tanpa sempat menjerit, Sr.leoni langsung pingsan terbius chloroform. raffi yang mengemudikan mobil itu langsung tancap gas ke villa yang telah mereka persiapkan.
Sesampai di villa mereka mendudukkan Sr. leoni di kursi rendah dan mengikat tangannya di belakang sandaran kursi itu. Payudara di dada Sr. leoni yang naik turun seiring napasnya itu makin membuat mereka bernafsu. Mereka telah sepakat membagi-bagi ‘jatah’. Jatah pertama untuk urusan ‘karaoke’ atau oral seks adalah Herman. Joni kebagian penetrasi vagina pertama, sedangkan Felix yang merupakan pemimpin di antara mereka bertugas melucuti pakaian Sr. leoni. Ia juga mendapat kehormatan sebagai yang pertama menikmati dan menjilati payudara serta vagina Sr. leoni. raffi sendiri kebagian jatah menggarap mulut dan leher Sr. leoni.
Pukul 07:22 Sr. leoni tersadar dari pingsannya. Perlahan-lahan ingatannya pulih dari pengaruh chloroform, begitu pula tenaganya berangsur-angsur kembali seperti sediakala. Menyadari dirinya diikat, Sr. leoni meronta, tapi ikatan itu terlalu kuat. Sia-sialah ia meronta. Sr. leoni melihat ke sekeliling ruangan tempat ia diikat. Ia ditempatkan di ruangan berukuran besar. Pintu ruangan itu tertutup dan terletak agak jauh di sisi kirinya. Di tengah ruangan, terhampar kasur tebal yang juga berukuran besar.
Ia diikat di sebuah kursi rendah. Kira-kira 4 meter di depannya ada sebuah kursi lain yang jauh lebih tinggi daripada kursi tempatnya diikat. Ia heran karena belum pernah melihat kursi setinggi itu dan juga tidak tahu apa gunanya. Pukul 07:24 Sr.leoni tersentak terkejut karena tiba-tiba pintu ruangan itu membuka dan masuklah 4 orang pemuda berbadan kekar. Keempat pemuda itu dikenalnya, karena beberapa kali pernah bertemu. Yang lebih membuat Sr.leoni terkejut lagi adalah karena keempat pemuda itu dalam keadaan telanjang bulat. Penis mereka mengacung tanda birahi. Semuanya berukuran besar. Paling panjang adalah milik Felix, panjangnya kira- kira 25 cm dan berdiameter 8 cm. Namun penis Joni, Herman dan raffi pun panjang. Rata-rata panjangnya mencapai 20-an cm dan diameternya 5 cm.
Keempat pemuda itu menyeringai nakal.
“Halo, Suster….menggairahkan sekali bukan, suasana pagi ini ?” begitu sapa Felix sambil terus menyeringai.
“MAU APA KALIAN ? LEPASKAN SAYA !!” Sr.leoni masih mencoba meronta.
“Hmmm….. jangan pura-pura alim deh, Suster tentu tahu apa yang kami mau. Suster akan kami ajari beberapa permainan menyenangkan yang takkan pernah Suster lupakan” giliran Joni bersuara.
Keempat pemuda itu terbahak-bahak mendengar perkataan Joni. Jantung Sr.leoni berdebar keras. Ia sadar dirinya akan jadi ’santapan’ keempat pemuda telanjang itu. Ia sadar, dirinya takkan mampu melawan mereka.
“Jangankan melawan keempatnya, melawan seorang saja aku belum tentu mampu”, demikian pikirnya kalut.
“Felix, LEPASKAN SAYA !! KALAU TIDAK SAYA AKAN BERTERIAK-TERIAK SAMPAI TETANGGA MENDENGARNYA !!”
“Ha…ha…ha… silakan berteriak, kita berada di tengah kebun teh yang sepi. Jarak terdekat ke rumah orang kira-kira 6 kilometer !” Felix berkata sambil tertawa.
Pukul 07:26 Sr.leoni makin panik mendengar hal itu. Ketakutannya kian terbukti. Dirinya akan diperkosa beramai-ramai oleh keempat pemuda itu. Ia terus meronta-ronta hendak melepaskan diri. “Lebih baik melawan daripada menyerah sama sekali. Jika aku diperkosa, setidak- tidaknya aku sudah melawan”, begitu pikir Sr.leoni.
“Ha…ha…ha… rontaanmu sungguh menggairahkan, Suster ! Ayo, teman-teman, kita mulai !!” seru Felix.
Mereka menarik kursi tinggi yang tadi dilihat Sr.leoni, sehingga tepat berada di hadapan Sr.leoni. Kursi itu memang dibuat untuk tujuan khusus, yaitu sebagai sarana ‘karaoke paksa’ bagi korban-korban keempat pemuda itu. Herman duduk di atas kursi tinggi itu dan memegang rambut dan kepala Sr.leoni yang masih terbungkus slayer (kerudung penutup kepala bagi suster-suster) hingga tidak dapat bergerak.
“Ayo kulum punya saya, Suster ! Cicipi sarapanmu pagi ini: kontol split, variasi seksual dari banana spilit, ha…ha…ha…” sambil berkata begitu Herman menarik kepala Sr.leoni.
Ia memajukan penisnya mendekati muka Sr.leoni sambil menjepit hidung Sr.leoni untuk membuat Sr.leoni membuka mulutnya. Ketika Sr.leoni kehabisan nafas dan membuka mulutnya untuk menghirup udara, Herman mendorong penisnya ke dalam mulut Sr.leoni. Laki-laki itu berhenti begitu bibir Sr.leoni telah melingkar di penisnya dan mulai mendorong dan menarik kepala Sr.leoni. Kepala Sr.leoni bergerak maju dan mundur terus menerus. Saat kepala penis itu masuk ke tenggorokannya Sr.leoni tersedak, tapi Herman tetap mendorong hingga kepala penis itu masuk lebih dalam di tenggorokan Sr.leoni. Sr.leoni dipegangi agar tak bergerak dengan penis yang terbenam hingga tenggorokannya, sementara mereka berbicara satu sama lain.
“Enak, lho ! Hangat-hangat empuk ! Tapi gua pikir dia musti banyak berlatih soal beginian.” kata Herman.
“Mungkin dia belon pernah pake mulutnya buat karaoke. Gimana, Suster?” tanya Joni penuh nafsu.
“Bisa nggak makan kontol split, Sr.leoni sayang?” tanya Felix.
“Terang aja dia bisa ! Mulutnya nggak dipake buat makan nasi doang tau?! Liat aja, punya gua dijepit sama bibirnya, kan?” kata Herman.
Tangan Herman kemudian menjambak rambut Sr.leoni dan mulai menggerakannya lagi dengan kasar membuat penisnya kembali bergerak keluar masuk di mulut Sr.leoni. Semua orang dapat mendengar erangan Sr.leoni yang terdengar setiap kali penis itu masuk jauh ke tenggorokannya. Ketika Herman akan mengalami ejakulasi ia menarik kepala Sr.leoni hingga terbenam dalam-dalam di rimbunan rambut kemaluannya. Sperma langsung menyembur keluar memenuhi mulut Sr.leoni. Dan dari sudut mulut Sr.leoni sperma menetes keluar, mengalir turun, menggantung di dagu Sr.leoni.
“Aaaaaaggghhhhh……. enak, Suster ! Terus telan semua sperma saya, kalo nggak, saya bakal terus menekan kepala Suster kaya gini!” Kemudian Herman mulai bergerak lagi.
Sperma terus mengalir keluar, jatuh dari leher Sr.leoni ke atas pakaian putih yang dikenakan Sr.leoni. Ketika akhirnya ia menarik penisnya dari mulut Sr.leoni, Sr.leoni megap-megap menarik nafas dan tersedak saat berusaha menelan sisa sperma yang masih ada di mulutnya. Sr.leoni sendiri lunglai tak berdaya setelah baru saja ia mengalami shock, merasakan sperma yang disemburkan masuk ke dalam mulutnya. Pelan tapi pasti Felix membuka kancing-kancing baju Sr.leoni. Begitu kancing-kancing yang terletak di bagian dada itu terbuka, tampaklah dua payudara montok membulat yang terbungkus BH putih berenda. Puting susu Sr.leoni tampak menonjol dari balik BH yang tipis itu. Felix mengecup dan mencaplok (menyupang) payudara Sr.leoni dengan bibirnya, satu demi satu. Kiri, lalu kanan.
Ia sengaja tidak mengulum putingnya, menyisakan kenikmatan itu untuk tahap selanjutnya. Meskipun payudara Sr.leoni masih terbungkus BH, namun Felix dapat merasakan ketegangan yang timbul akibat rangsangannya. “Aah, Suster, kau punya payudara yang menggairahkan” kata Felix kagum.
“LEPASKAN, BANGSAT!! LEPASKAAAAAAANN!!”
“Tenang, Suster…… kami akan buat Suster menikmati dan ketagihan seks!” kata raffi.
Tanpa diduga Sr.leoni, Felix menghentikan ’serbuannya’. kini giliran Joni duduk di kursi tinggi itu. S ama seperti Herman, ia menyodorkan penisnya untuk dikaraoke oleh Sr.leoni. Bedanya, raffi menahan ejakulasinya. Ia bertekad menghemat spermanya untuk session berikutnya. Begitu hendak ejakulasi, posisinya digantikan oleh Felix, lalu kemudian oleh Joni. Mereka berdua pun sama seperti raffi, menahan ejakulasi untuk tahap perkosaan selanjutnya. Menyimpan sperma untuk kenikmatan berikutnya.
Pukul 08:45 Kursi tinggi itu disingkirkan dari hadapan Sr.leoni.
“Nah, Suster manis, sekarang gantian, ya. Kami pun ingin sarapan. Gimana kalo Suster sediakan omelettte vagina ? Ha…ha…ha…” Felix tertawa sambil berjongkok di depan Sr.leoni, lalu melucuti rok bawah dan celana dalam Sr.leoni.
Usaha itu harus dibantu oleh Joni dan raffi yang masing-masing memegangi kaki Sr.leoni, karena Sr.leoni tak hentinya meronta dan menggeliat. Sebenarnya Sr.leoni sudah mulai terangsang ketika Felix menggarap payudaranya.
“Celaka!! Felix membuatku terangsang, padahal payudaraku masih terbungkus BH. Apa jadinya kalau aku sudah telanjang ?? Aku harus terus melawan. Aku takkan pasrah begitu saja!!” Sr.leoni berpikir dengan panik bercampur cemas.
Setelah rok bawah dan celana dalam Sr.leoni terlucuti, tampaklah vagina Sr.leoni yang berwarna kemerahan dan ditumbuhi sedikit bulu-bulu halus. Tanpa ragu Felix menggarap vagina itu. Pertama-tama ia menciumi vagina itu, lalu sedikit demi sedikit mulutnya menyeruak masuk ke bagian dalam. Lidahnya mencari-cari clitoris Sr.leoni. Begitu ditemukan, clitoris itu dijilat dan dikulumnya dengan penuh nafsu.
“Hhmm…..mmnnyemm…ccp…slu uurppp” Felix dengan bernafsu menyantap clitoris Sr.leoni. Ia sama sekali tidak mengacuhkan Sr.leoni yang merintih dan memohon agar semuanya ini dihentikan.
“AAAAAGGHHH…….STOP…..SSS STTOOOPPPP……ARRRNNNOOLLLD, TTO.. TTOOLONGG SS… SSSTOOPPP…………. ADUUUUUHHH………… HHE… HENTIKAAAAN, OOOHHHH…. HHE.. HHENTTIKAAAAAN!!!!”
“Alaaa, Suster…… bilang aja enak, gitu…. Emangnya kalo udah enak kaya gini, Suster mau berhenti ?” tanya raffi gemas.
“AAAAGGHHH…… ENAK ATAU TIDAK, SAYA TIDAK MAU INI DITERUSKAN!! TOLONG JANGAN RANGSANG SAYA TERUS!!” Sedetik kemudian Sr.leoni sadar bahwa ia kelepasan omong !!
“Ah, jadi Suster sudah terangsang, ya ? Hei, ayo kita rangsang terus sampe dia nyerah!!” Joni berkata dengan penuh semangat.
Sementara itu dari arah samping, Herman menggarap payudara Sr.leoni yang masih terbungkus BH. Sr.leoni menjerit putus asa ketika Felix meningkatkan volume serangannya. Kini ia juga menggigit-gigit clitoris Sr.leoni, sehingga tak ayal lagi Sr.leoni makin mengggelinjang-gelinjang. Jeritan Sr.leoni teredam oleh raffi yang mengulum bibirnya dengan penuh nafsu. Aksi raffi tidak di situ saja, melainkan juga menggarap leher Sr.leoni. ia menyupangnya, menjadikan leher Sr.leoni penuh bekas kemerahan. raffi kembali mengulum mulut Sr.leoni dalam mulutnya. Lidahnya menjelajahi mulut Sr.leoni dengan penuh nafsu.
Sementara itu Sr.leoni tak hentinya meronta. Rontaannya seolah terbagi dua, hendak menghentikan perkosaan ini tapi juga menikmati gairah birahinya yang kian memuncak. Vagina Sr.leoni sudah basah oleh cairan yang keluar dari kelenjar seksualnya. Ia kini tak dapat memungkiri lagi. Ia tahu, keempat pemerkosanya pun tahu, bahwa kini Sr.leoni sudah terangsang. Pukul 09:01 Felix mengentikan ’sarapan’-nya dan posisinya digantikan oleh Herman. Posisi Herman yang menggarap payudara Sr.leoni digantikan oleh Joni yang juga sudah tak sabar lagi mencicipi tubuh Sr.leoni. Felix tersenyum melihat teman-temannya begitu bersemangat menggarap Sr.leoni. Bergantian mereka menyantap vagina Sr.leoni sampai mereka puas.
Pukul 09:49 Sr.leoni lunglai……. ia kelelahan merasakan kenikmatan gairah yang timbul akibat rangsangan pada payudara dan vaginanya.
“Aduh….. payudaraku masih terbungkus BH dan mereka belum melakukan penetrasi, tapi aku sudah begini terangsang. Apa jadinya nanti? Bagaimana jika aku ‘kalah’ ? Haruskah aku menyerah pada mereka? Tidak…tidaaaaakkk!!” Sr.leoni berpikir makin kalut.
Ia cemas atas nasibnya di tangan keempat pemuda ini. Ia malu jika harus mengakui ‘kekalahannya’ ini. Pukul 09:50 Belum sempat Sr.leoni pulih dari kelelahannya, Felix dan Joni melepaskan Sr.leoni dari ikatannya. Mereka menyeret Sr.leoni dan menghempaskannya ke kasur besar di lantai tengah ruangan itu. Kesempatan ini dipakai oleh Sr.leoni untuk berusaha kabur, tapi usahanya itu kandas ketika Herman dan raffi memegangi tangan dan kakinya. Kedua tangan Sr.leoni direntangkan sambil terus dipegangi oleh Herman. raffi dan Felix masing-masing memegangi kakinya yang juga direntangkan lebar-lebar. Joni mulai merendahkan dan hendak menelungkupkan tubuhnya, siap mempenetrasi lubang vagina Sr.leoni dengan penisnya yang besar dan panjang.
Sr.leoni panik, ia makin meronta-ronta dan menggeliat-geliat.
“LEPASKAN!! OH!! LEPASKAN!! KALIAN MEMANG BANGSAT!! AAAGHHH…….. HENTIKAN……. LEPASKAN, BANGSAAAAATT!!” Sr.leoni menjerit-jerit.
“Wah, kok seorang suster ngomongnya kasar gitu ? Kalem aja, Suster sayang……. kami pasti bisa bikin Suster merasa nikmat. Ayo mulai, Joni!” kata Felix sambil tersenyum.
Joni tidak segera mempenetrasi Sr.leoni. Ia menunggu hingga Felix selesai merenggut BH putih tipis yang berenda itu. Pelindung terakhir payudara Sr.leoni pun terbuka, mempertontonkan dua bukit kembar yang amat menggiurkan birahi. Mereka semua mendesis menyaksikan kemolekan payudara Sr.leoni. Dengan ganas Joni mulai mempenetrasi Sr.leoni. Ia menggenjotnya dengan kuat dan mantap. Karena baru sekali berhubungan seks, vagina itu masih sempit sekali. Penis Joni serasa dijepit oleh sesuatu yang hangat dan kenyal.
Namun walau begitu, Joni bisa merasakan bahwa Sr.leoni tidak lagi memiliki selaput dara, tanda keperawanan.
“Astaga!!!! Suster kita ini rupanya udah pernah ngentot!! Selaput daranya udah hilang!!” Joni berseru kaget.
“Haa? Biarawati kan nggak boleh ngentot, gimana bisa hilang, hah??” Felix juga tak kalah kaget.
“Naaaahhh….. ketahuan deh….. rupanya diam-diam dia binal juga. Ngentot sama siapa, Suster?” Herman bertanya. “AAAAGHHH, LEPASKKAAAANNN……. SAYA CUMA SEKALI… OHHHHH….TIDAK…TIDDAAAKKKK” Lagi-lagi Sr.leoni kelepasan omong !!
“Astaga, kenapa aku ini, aku kelepasan omong lagi! Kenapa aku nggak bilang saja aku dulu pernah diperkosa?” Sr.leoni berpikir dengan rasa putus asa dan sesal yang mendalam.
“Lhooo…. dia ngaku rupanya… hayooo sama siapa, Suster?” tanya Felix.
“AGGGHHHH…….GGGHHHH… .. JJA…JAA…JJAANGANHH…. HHHAARRAP SSA….SSAYA MAU BBBI… BBI…BILANGG…GHHHH” Sr.leoni terus merintih dan mendesah.
“Ah, nanti juga Suster pasti mau bilang. Saya punya ‘resep khusus’ supaya Suster mau bilang, siapa yang ngejebol selaput dara Suster yang pertama itu” kata Felix.
Tanpa belas kasihan Joni menggenjot Sr.leoni. Payudara Sr.leoni yang sudah tak berpelindung BH itupun digarap oleh Joni, bersamaan dengan Felix yang memegangi tangan Sr.leoni. Mereka menjilat, menyupang dan menggigiti payudara Sr.leoni. Kali ini puting payudara Sr.leoni yang berwarna coklat kemerahan itu ikut menjadi sasaran serbuan. Sr.leoni terus meronta dan menggelinjang. Vagina Sr.leoni benar-benar sempit. Vagina itu menjepit dengan ketat serta berdenyut-denyut terus-menerus. Penis Joni yang berada di dalam vaginanya terasa bagaikan diremas-remas dengan keras.
“Layani ketiga teman saya dulu, Suster. Setelah itu saya ada kejutan buat Suster!” kata Felix sambil nyengir.
Pukul 10:27 Akhirnya Joni pun tidak tahan lagi, saat tubuh Sr.leoni mengejang karena sampai pada puncak kenikmatan (orgasme), Joni mempercepat gerakan naik turun sampai spermanya menyembur-nyembur ke dalam vagina Sr.leoni. Joni tidak langsung menarik penisnya keluar dari vagina Sr.leoni. Ia ingin merasakan kehangatan vagina Sr.leoni setelah lelah menggenjotnya. Pukul 10:31 Joni menarik penisnya keluar. Kelegaan Sr.leoni tak berlangsung lama karena raffi menggantikan peran Joni. Kini giliran raffi mempenetrasi vagina Sr.leoni. raffi pun mulai berpacu menuju puncak birahi. Genjotannya agak berbeda dengan gaya genjotan Joni. Kalau Joni menggenjot dengan ganas dan cepat, raffi menggenjot lebih pelan tapi sambil menghunjamkan penisnya dalam-dalam ke vagina Sr.leoni. Penetrasi raffi lebih dalam daripada Joni.
Hal ini membuat Sr.leoni makin kelimpungan. Ia menggelinjang setiap kali penis raffi menghunjam dalam-dalam. Tentu saja urusan penggarapan payudara pun tidak dilupakan raffi. Mana ada pria normal yang mau melewatkan kesempatan mencicipi payudara indah milik Sr.leoni!! Tapi rupanya Sr.leoni ini bukan wanita dengan seksualitas biasa- biasa saja. Ketahanan seksualnya sungguh luar biasa. Wanita normal biasanya akan orgasme setelah penetrasi dan rangsangan selama kira- kira 5 sampai 10 menit, tapi rupanya Sr.leoni ini mampu berlama- lama mencapai orgasme. Ia gampang atau cepat terangsang, tapi lama mencapai orgasme. Sungguh suatu tantangan tersendiri bagi kaum pria!! Pukul 11:04 Seperti Joni, raffi pun harus menunggu sampai setengah jam sebelum ada tanda-tanda bahwa Sr.leoni akan mencapai orgasme.
Ketika ia merasa bahwa otot vagina Sr.leoni makin kencang menjepit penisnya dan payudara Sr.leoni pun mulai mengeras, raffi pun makin memperdalam hunjaman penisnya dan menyemprotkan spermanya ke dalam vagina Sr.leoni. Ia menggeletak lemas di atas tubuh Sr.leoni yang juga lunglai kelelahan.
Pukul 11:08 Setelah raffi, kini giliran Herman. Karena spermanya sudah terkuras akibat karaoke paksa pada awal perkosaan ini, Herman membutuhkan waktu agak lama mencapai ejakulasi dibanding kedua pendahulunya. Tipe genjotan Herman merupakan gabungan gaya genjotan Joni dan raffi. Brutal dan dalam. Hal ini membuat Sr.leoni tak mampu menghentikan rontaannya. Ia sebenarnya sudah lelah meronta, tapi gaya genjotan Herman sungguh membuatnya tak bisa pasrah begitu saja.
Pukul 11:44 Sperma yang disemburkan Herman tidak sebanyak Joni ataupun raffi, tapi makin membuat vagina Sr.leoni makin banjir karena leleran sperma dan juga cairan vagina Sr.leoni sendiri. Setelah mencabut penisnya dari vagina Sr.leoni, Herman menggeletak lemas.
Pukul 11:47
“Nah, gimana, Suster ? Ngaku deh…. siapa sih cowok beruntung yang merebut mahkota kewanitaan Suster?” tanya Felix.
“HHJJJHHAA….JJJA…JJANGAN.. .. HHA…HHHA…HHHHARRAPP SSA… SSAYA MMAU NGG…NNGG…NNGGAAKKU” kata Sr.leoni tersengal kelelahan.
“Coba saya lihat, sampai seberapa jauh Suster tahan terhadap saya! Akan saya buat Suster memohon-mohon minta diberi orgasme!” kata Felix. “JJJA…JJANGAN HARAP SAYA MENYERAH, BANGSAT!!!!”
Pukul 11:48 Tanpa ba bi bu lagi Felix menghunjamkan penisnya ke dalam vagina Sr.leoni. Ketiga teman Felix kini sudah tergeletak. Satu demi satu tertidur kelelahan. Mereka tak menyangka suster ini mampu membuat mereka lemas karena nikmat. Tanpa ada yang memeganginya lagi, Sr.leoni mencoba sekali lagi untuk berontak. Tapi Felix yang sudah dikuasai nafsu birahi itu mampu menahannya. Felix memegang kedua tangan Sr.leoni dan merentangkannya lebar-lebar. Yang lebih tak disangka lagi oleh Sr.leoni adalah gaya genjotan Felix yang luar biasa. Felix mampu memadukan berbagai gaya dan rangsangan. Payudara ? Ah, payudara Sr.leoni kini dipenuhi bekas cupangan berwarna merah.
Putingnya makin memerah karena hisapan, gigitan dan kenyotan bibir Felix. Mulut Felix beraksi silih berganti antara payudara, belahan payudara, leher dan bibir Sr.leoni. Saat berciuman, mulut Sr.leoni dikuasai dan dijelajahi sepenuhnya oleh Felix. Genjotannya bervariasi antara lembut dan dalam, dangkal dan cepat, brutal dan mengoyak, dan sebagainya. Bagi Felix, seolah Sr.leoni merupakan inspirasi seksualitas tanpa batas.
“Nnnaaahhh…. Susterku sayang….. siapa cowok beruntung itu…hhmmm…? Ayo jawab, Suster sayang!” kata Felix di sela-sela genjotannya.
“JJHHJA…… JJJHA…JJJANGAN HHHA… HHA..RRAP SSS… SS.. SSAYA MAU KKATT …TTA….TTTAKAN….” Di saat Sr.leoni hendak mencapai klimaks, Felix menghentikan genjotannya, membuat Sr.leoni penasaran.
“Ayo, Suster…… siapa ?” tanya Felix menggoda. Sr. leoni tidak menjawab, ia hanya meronta-ronta dengan liar.
Maka Felix pun mulai lagi merangsang mulai dari bibir, leher, lalu turun ke belahan payudaranya. Puting payudara Sr.leoni yang seolah menunggu untuk digarap, dibiarkannya dahulu. Hal ini membuat Sr.leoni makin penasaran. Sr.leoni meronta-ronta, menggeliat-geliat dan menggelinjang-gelinjang dengan liar. Felix yang sudah berpengalaman menghadapi wanita binal, mengetahui dengan pasti bahwa semua rontaan Sr.leoni itu adalah hasrat terpendamnya untuk dipuaskan secara total.
“SShhh…..shhh…. Suster…. saya akan puaskan Suster kalo Suster mau bilang ke saya dua hal. Pertama, siapa cowok yang mengambil keperawanan Suster, lalu kedua: Suster harus memohon pada saya untuk dipuaskan. Pikirkanlah, Suster….. bayangkan kenikmatan yang bisa saya berikan….. Pokoknya, Suster akan saya puaskan setelah Suster menjawab pertanyaan saya dan melakukan permintaan saya. Oh ya,.. satu lagi. Sebelum saya puaskan, saya ingin Suster melayani saya dengan binal dan penuh gairah. Lepaskan semua hasrat terpendam Suster selama ini……!” Felix terus merayu Sr.leoni.
“JJA…JJAJJANGAN…….SSSSTT TOOPPP….. OOOOGHHHH…. SSTTOOPP………” “Yakin nih, mau berhenti….?” tanya Felix makin menggoda.
Felix memang menghentikan serangannya, tapi lalu dimulai lagi dengan lembut lalu makin lama makin ganas, panas dan bergairah. Dan ketika Sr.leoni untuk kesekian kalinya hampir mencapai orgasme, Felix berhenti.
“Ssstt….ayo Suster……buat apa Suster mempertahankan gengsi? Kalau dengan saya, nggak usah malu. Terus terang saya pun kagum dengan Suster. Jarang wanita punya daya seks sekuat Suster. Seandainya Suster bukan biarawati, pasti Suster sudah saya lamar untuk dijadikan istri!” Felix terus merayu Sr.leoni dengan perkataan dan rangsangannya.
Pukul 13:40 Hampir dua jam Felix menggauli Sr.leoni, akhirnya Sr.leoni menyerah……..
“AAAGGHHH…..AAGHHHH…..OOOO HHH…. ARRNOOOOLD…… BBE…BEBBBE…BBENARKAH YANG KKAU KATTT… TTA…TTAKAN?” “Suster ingin kenikmatan, kan ? Kalo mau, percayalah pada saya….. mari kita capai kenikmatan itu bersama-sama, Suster manis…..
Tapi sebelum itu, jawab dulu dua pertanyaan saya dan satu permintaan saya tadi” kata Felix berusaha meyakinkan Sr.leoni.
“NNNNA……NNNA……..NNNAMM MA… CCHHO…CCOWWOKK IT.. ITTU SANN…NNNO, MMURRID SSA..SSAYYA DDULU….. KKEJJA… JJADIANNYA TTIGATTA… TTAHUNN LALU DDI..DDI… RRUANG UKS…SSE.. SSSEEKKOLAHHH………….” Sr.leoni pun menceritakan pengalaman pertamanya itu.
“SSSA…SSA…SSA….SSSAA YYYA MMO…MMOHHON, Fel.. Felixx SUDI MMEMMME…MMMEMMUASKKHAN SSA.. SSAYA…” Sr.leoni memohon-mohon sambil meronta dan menggeliat. “Ssssttt….. masih ada permintaaan saya yang Suster belum penuhi…..” kata Felix sambil mengedipkan mata.
“AA…AAAPPPA ITU, Felixxx.. SSA…SSSHAYANNGG….” Sr.leoni pun rupanya berusaha merayu Felix dengan panggilan ’sayang’ agar ia cepat dipuaskan.
“Ah, masa lupa…?? Hayoo…. apa…?? Jangan malu, Susterku sayang! Ayo katakan, Sayang………” Felix menyeringai nakal.
“SSA…SSSA…. SSAYYA RRE..RRELLA MME… MMELAYY… YYANI Felixxx..”
“Suster mau bermain seks dengan binal?” tanya Felix. Sr.leoni mengangguk lemah.
“Jangan cuma mengangguk, Suster leoni sayang…….., katakan bahwa Suster juga mau bermain seks dengan binal demi kepuasan kita berdua” kata Felix lembut tetapi mengandung ketegasan dan perintah.
“SSA…SSA…YYA RRELA MME..MMEMMMELLAYYANI ARR.. RRNOLD DDE…DDENGAN BINAL…… DDE..DDEMI KKEBAHAGGIAAAN KKITA BBE..BBEBBBERRDUA…… AAAAGGGHHH……. TTU TTUTTUNNGGU APP…PPPPA LLAGGI, ARRR..RRNOLD SSA..SSAYYANG?” kata Sr.leoni makin memelas.
Felix tersenyum, lalu ia mulai menggarap Sr.leoni dengan lebih bergairah. Rontaan dan geliat Sr.leoni kini berubah menjadi gerakan-gerakan erotis yang liar dan binal. Jeritan dan rintihan Sr.leoni kini menjadi erangan penuh kenikmatan saat mereka berpacu menuju puncak birahi. Sr.leoni ternyata sangat binal. Erotismenya liar sekali. Pengalaman pertamanya yang lama belum terulang membuatnya haus seks luar biasa. Ia bagaikan musafir yang penuh dahaga. Felix memenuhi janjinya. Dibawanya Sr.leoni menuju puncak birahi, seluruh daya seksnya dikerahkan untuk merangsang Sr.leoni. Mulut, leher, belahan payudara, payudara dan putingnya dilalap oleh Felix dengan penuh nafsu.
Vagina Sr.leoni digenjot dan dijelajahi oleh Felix, termasuk bagian G-spotnya (bagian tersensitif dalam vagina wanita). Keperkasaan Felix diimbangi oleh kebinalan Sr.leoni. Pukul 15:55 Akhirnya setelah lebih dari 4 jam Felix menggaulinya, Sr.leoni merasa bahwa orgasmenya tak mungkin ditahan lagi. Felix pun menyadarinya. Tanda-tanda itu jelas terlihat dan terasakan olehnya. Payudara Sr.leoni mengencang, putingnya menegang disertai mengerasnya jepitan vagina Sr.leoni. Gerakannya makin erotis. Dadanya membusung, seolah menyodorkan dan menawarkan payudaranya seluruhnya penuh damba.
Dengan penuh gairah, Felix menyemburkan seluruh spermanya ke dalam vagina Sr.leoni, sambil mengenyot puting payudara Sr.leoni, bergantian kiri dan kanan. Sr.leoni memekik tatkala dirasakannya cairan hangat memenuhi vaginanya. Rasa nikmat itu sungguh luar biasa. Rasa nikmat itu terasakan di sekujur tubuhnya, terutama di bagian dalam vaginanya dan di puting payudaranya.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAGGGGGHHHHHHH HHH…………. AAAAAAAAGGGHBB …….” pekikannya itu diredam oleh kuluman mulut Felix.
Setelah semburan puncak birahi selama beberapa detik yang berharga itu, mereka lunglai lemas. Penis Felix bersarang di vagina Sr.leoni yang kini sudah banjir oleh sperma dan cairan vaginanya sendiri. Mereka tertidur dalam kebahagiaan seksual. ……..…Cerita Sex Biarawati – Semasa kuliahnya Sr. leoni pernah menonton film xxx dan membaca beberapa buku buku dewasa. Pada masa awalnya sebagai suster, Sr. leoni pernah satu kali melakukan hubungan seksual dengan murid di sekolah tempatnya mengajar. Hilangnya keperawanan itu begitu membekas sehingga dia kerap merindukan saat-saat menggairahkan itu. Sayang sekali muridnya itu telah pindah jauh ke luar kota.
Sebagai seorang suster yang tidak boleh menikah dan tidak diperbolehkan melakukan hubungan seksual, perbuatan Sr. leoni itu tentu saja merupakan pelanggaran yang sangat berat. Tapi selain Sr. leoni dan muridnya itu, tak seorangpun tahu mengenai aib itu. Untunglah Sr. leoni tidak sampai hamil karenanya.
“Ah…. toh cuma sekali saja, yang penting sekarang aku tidak pernah melakukannya lagi”, begitu pikir Sr. leoni tatkala ingatan tentang hubungan sex pertamanya itu terbayang kembali.
Sikap Sr.leoni yang seolah menantang dan menggoda para pria yang bertemu dengannya itu sebenarnya dimaksudkan untuk mengakrabkan diri, agar tidak dianggap sebagai suster yang angkuh dan sombong. Di saat-saat yang memerlukan pertimbangan dan pengambilan keputusan yang sulit, Sr. leoni tetap menjaga sikap tegasnya sebagai seorang suster.
Namun sikap Sr. leoni itu ditangkap lain oleh 4 orang pemuda yaitu Felix, Joni, Herman dan raffi. Keempat pemuda itu sepakat untuk menculik dan memperkosa Sr. leoni. Tempat untuk itu sudah dipersiapkan, sebuah vila di tengah-tengah kebun teh yang terpencil. Jarak dari villa tersebut ke desa terdekat kira-kira 6 kilometer. Sebuah tempat ideal untuk bermain seks, apalagi hawa daerah itu yang cukup dingin dianggap cocok untuk berhangat-hangat dengan tubuh Sr. leoni yang sintal itu.
Di pagi hari yang masih dingin, Sr. leoni berjalan dari gedung biara ke gedung sekolah tempatnya mengajar, yang letaknya tidak terlalu jauh. Karena hari masih sangat pagi, jalanan sepi. Hal ini dimanfaatkan oleh keempat pemuda itu yang sudah mengamati kebiasaan Sr. leoni selama beberapa waktu.
Tiba-tiba sebuah mobil dengan pintu tengah model geser berhenti mendadak, memepet Sr. leoni. Sr. leoni yang terkejut tak sempat bereaksi apa-apa saat Felix dan Joni melompat turun dan menyeretnya masuk mobil. Dalam mobil, Herman telah menyiapkan chloroform yang dibekapkan ke mulut Sr. leoni. Tanpa sempat menjerit, Sr.leoni langsung pingsan terbius chloroform. raffi yang mengemudikan mobil itu langsung tancap gas ke villa yang telah mereka persiapkan.
Sesampai di villa mereka mendudukkan Sr. leoni di kursi rendah dan mengikat tangannya di belakang sandaran kursi itu. Payudara di dada Sr. leoni yang naik turun seiring napasnya itu makin membuat mereka bernafsu. Mereka telah sepakat membagi-bagi ‘jatah’. Jatah pertama untuk urusan ‘karaoke’ atau oral seks adalah Herman. Joni kebagian penetrasi vagina pertama, sedangkan Felix yang merupakan pemimpin di antara mereka bertugas melucuti pakaian Sr. leoni. Ia juga mendapat kehormatan sebagai yang pertama menikmati dan menjilati payudara serta vagina Sr. leoni. raffi sendiri kebagian jatah menggarap mulut dan leher Sr. leoni.
Pukul 07:22 Sr. leoni tersadar dari pingsannya. Perlahan-lahan ingatannya pulih dari pengaruh chloroform, begitu pula tenaganya berangsur-angsur kembali seperti sediakala. Menyadari dirinya diikat, Sr. leoni meronta, tapi ikatan itu terlalu kuat. Sia-sialah ia meronta. Sr. leoni melihat ke sekeliling ruangan tempat ia diikat. Ia ditempatkan di ruangan berukuran besar. Pintu ruangan itu tertutup dan terletak agak jauh di sisi kirinya. Di tengah ruangan, terhampar kasur tebal yang juga berukuran besar.
Ia diikat di sebuah kursi rendah. Kira-kira 4 meter di depannya ada sebuah kursi lain yang jauh lebih tinggi daripada kursi tempatnya diikat. Ia heran karena belum pernah melihat kursi setinggi itu dan juga tidak tahu apa gunanya. Pukul 07:24 Sr.leoni tersentak terkejut karena tiba-tiba pintu ruangan itu membuka dan masuklah 4 orang pemuda berbadan kekar. Keempat pemuda itu dikenalnya, karena beberapa kali pernah bertemu. Yang lebih membuat Sr.leoni terkejut lagi adalah karena keempat pemuda itu dalam keadaan telanjang bulat. Penis mereka mengacung tanda birahi. Semuanya berukuran besar. Paling panjang adalah milik Felix, panjangnya kira- kira 25 cm dan berdiameter 8 cm. Namun penis Joni, Herman dan raffi pun panjang. Rata-rata panjangnya mencapai 20-an cm dan diameternya 5 cm.
Keempat pemuda itu menyeringai nakal.
“Halo, Suster….menggairahkan sekali bukan, suasana pagi ini ?” begitu sapa Felix sambil terus menyeringai.
“MAU APA KALIAN ? LEPASKAN SAYA !!” Sr.leoni masih mencoba meronta.
“Hmmm….. jangan pura-pura alim deh, Suster tentu tahu apa yang kami mau. Suster akan kami ajari beberapa permainan menyenangkan yang takkan pernah Suster lupakan” giliran Joni bersuara.
Keempat pemuda itu terbahak-bahak mendengar perkataan Joni. Jantung Sr.leoni berdebar keras. Ia sadar dirinya akan jadi ’santapan’ keempat pemuda telanjang itu. Ia sadar, dirinya takkan mampu melawan mereka.
“Jangankan melawan keempatnya, melawan seorang saja aku belum tentu mampu”, demikian pikirnya kalut.
“Felix, LEPASKAN SAYA !! KALAU TIDAK SAYA AKAN BERTERIAK-TERIAK SAMPAI TETANGGA MENDENGARNYA !!”
“Ha…ha…ha… silakan berteriak, kita berada di tengah kebun teh yang sepi. Jarak terdekat ke rumah orang kira-kira 6 kilometer !” Felix berkata sambil tertawa.
Pukul 07:26 Sr.leoni makin panik mendengar hal itu. Ketakutannya kian terbukti. Dirinya akan diperkosa beramai-ramai oleh keempat pemuda itu. Ia terus meronta-ronta hendak melepaskan diri. “Lebih baik melawan daripada menyerah sama sekali. Jika aku diperkosa, setidak- tidaknya aku sudah melawan”, begitu pikir Sr.leoni.
“Ha…ha…ha… rontaanmu sungguh menggairahkan, Suster ! Ayo, teman-teman, kita mulai !!” seru Felix.
Mereka menarik kursi tinggi yang tadi dilihat Sr.leoni, sehingga tepat berada di hadapan Sr.leoni. Kursi itu memang dibuat untuk tujuan khusus, yaitu sebagai sarana ‘karaoke paksa’ bagi korban-korban keempat pemuda itu. Herman duduk di atas kursi tinggi itu dan memegang rambut dan kepala Sr.leoni yang masih terbungkus slayer (kerudung penutup kepala bagi suster-suster) hingga tidak dapat bergerak.
“Ayo kulum punya saya, Suster ! Cicipi sarapanmu pagi ini: kontol split, variasi seksual dari banana spilit, ha…ha…ha…” sambil berkata begitu Herman menarik kepala Sr.leoni.
Ia memajukan penisnya mendekati muka Sr.leoni sambil menjepit hidung Sr.leoni untuk membuat Sr.leoni membuka mulutnya. Ketika Sr.leoni kehabisan nafas dan membuka mulutnya untuk menghirup udara, Herman mendorong penisnya ke dalam mulut Sr.leoni. Laki-laki itu berhenti begitu bibir Sr.leoni telah melingkar di penisnya dan mulai mendorong dan menarik kepala Sr.leoni. Kepala Sr.leoni bergerak maju dan mundur terus menerus. Saat kepala penis itu masuk ke tenggorokannya Sr.leoni tersedak, tapi Herman tetap mendorong hingga kepala penis itu masuk lebih dalam di tenggorokan Sr.leoni. Sr.leoni dipegangi agar tak bergerak dengan penis yang terbenam hingga tenggorokannya, sementara mereka berbicara satu sama lain.
“Enak, lho ! Hangat-hangat empuk ! Tapi gua pikir dia musti banyak berlatih soal beginian.” kata Herman.
“Mungkin dia belon pernah pake mulutnya buat karaoke. Gimana, Suster?” tanya Joni penuh nafsu.
“Bisa nggak makan kontol split, Sr.leoni sayang?” tanya Felix.
“Terang aja dia bisa ! Mulutnya nggak dipake buat makan nasi doang tau?! Liat aja, punya gua dijepit sama bibirnya, kan?” kata Herman.
Tangan Herman kemudian menjambak rambut Sr.leoni dan mulai menggerakannya lagi dengan kasar membuat penisnya kembali bergerak keluar masuk di mulut Sr.leoni. Semua orang dapat mendengar erangan Sr.leoni yang terdengar setiap kali penis itu masuk jauh ke tenggorokannya. Ketika Herman akan mengalami ejakulasi ia menarik kepala Sr.leoni hingga terbenam dalam-dalam di rimbunan rambut kemaluannya. Sperma langsung menyembur keluar memenuhi mulut Sr.leoni. Dan dari sudut mulut Sr.leoni sperma menetes keluar, mengalir turun, menggantung di dagu Sr.leoni.
“Aaaaaaggghhhhh……. enak, Suster ! Terus telan semua sperma saya, kalo nggak, saya bakal terus menekan kepala Suster kaya gini!” Kemudian Herman mulai bergerak lagi.
Sperma terus mengalir keluar, jatuh dari leher Sr.leoni ke atas pakaian putih yang dikenakan Sr.leoni. Ketika akhirnya ia menarik penisnya dari mulut Sr.leoni, Sr.leoni megap-megap menarik nafas dan tersedak saat berusaha menelan sisa sperma yang masih ada di mulutnya. Sr.leoni sendiri lunglai tak berdaya setelah baru saja ia mengalami shock, merasakan sperma yang disemburkan masuk ke dalam mulutnya. Pelan tapi pasti Felix membuka kancing-kancing baju Sr.leoni. Begitu kancing-kancing yang terletak di bagian dada itu terbuka, tampaklah dua payudara montok membulat yang terbungkus BH putih berenda. Puting susu Sr.leoni tampak menonjol dari balik BH yang tipis itu. Felix mengecup dan mencaplok (menyupang) payudara Sr.leoni dengan bibirnya, satu demi satu. Kiri, lalu kanan.
Ia sengaja tidak mengulum putingnya, menyisakan kenikmatan itu untuk tahap selanjutnya. Meskipun payudara Sr.leoni masih terbungkus BH, namun Felix dapat merasakan ketegangan yang timbul akibat rangsangannya. “Aah, Suster, kau punya payudara yang menggairahkan” kata Felix kagum.
“LEPASKAN, BANGSAT!! LEPASKAAAAAAANN!!”
“Tenang, Suster…… kami akan buat Suster menikmati dan ketagihan seks!” kata raffi.
Tanpa diduga Sr.leoni, Felix menghentikan ’serbuannya’. kini giliran Joni duduk di kursi tinggi itu. S ama seperti Herman, ia menyodorkan penisnya untuk dikaraoke oleh Sr.leoni. Bedanya, raffi menahan ejakulasinya. Ia bertekad menghemat spermanya untuk session berikutnya. Begitu hendak ejakulasi, posisinya digantikan oleh Felix, lalu kemudian oleh Joni. Mereka berdua pun sama seperti raffi, menahan ejakulasi untuk tahap perkosaan selanjutnya. Menyimpan sperma untuk kenikmatan berikutnya.
Pukul 08:45 Kursi tinggi itu disingkirkan dari hadapan Sr.leoni.
“Nah, Suster manis, sekarang gantian, ya. Kami pun ingin sarapan. Gimana kalo Suster sediakan omelettte vagina ? Ha…ha…ha…” Felix tertawa sambil berjongkok di depan Sr.leoni, lalu melucuti rok bawah dan celana dalam Sr.leoni.
Usaha itu harus dibantu oleh Joni dan raffi yang masing-masing memegangi kaki Sr.leoni, karena Sr.leoni tak hentinya meronta dan menggeliat. Sebenarnya Sr.leoni sudah mulai terangsang ketika Felix menggarap payudaranya.
“Celaka!! Felix membuatku terangsang, padahal payudaraku masih terbungkus BH. Apa jadinya kalau aku sudah telanjang ?? Aku harus terus melawan. Aku takkan pasrah begitu saja!!” Sr.leoni berpikir dengan panik bercampur cemas.
Setelah rok bawah dan celana dalam Sr.leoni terlucuti, tampaklah vagina Sr.leoni yang berwarna kemerahan dan ditumbuhi sedikit bulu-bulu halus. Tanpa ragu Felix menggarap vagina itu. Pertama-tama ia menciumi vagina itu, lalu sedikit demi sedikit mulutnya menyeruak masuk ke bagian dalam. Lidahnya mencari-cari clitoris Sr.leoni. Begitu ditemukan, clitoris itu dijilat dan dikulumnya dengan penuh nafsu.
“Hhmm…..mmnnyemm…ccp…slu uurppp” Felix dengan bernafsu menyantap clitoris Sr.leoni. Ia sama sekali tidak mengacuhkan Sr.leoni yang merintih dan memohon agar semuanya ini dihentikan.
“AAAAAGGHHH…….STOP…..SSS STTOOOPPPP……ARRRNNNOOLLLD, TTO.. TTOOLONGG SS… SSSTOOPPP…………. ADUUUUUHHH………… HHE… HENTIKAAAAN, OOOHHHH…. HHE.. HHENTTIKAAAAAN!!!!”
“Alaaa, Suster…… bilang aja enak, gitu…. Emangnya kalo udah enak kaya gini, Suster mau berhenti ?” tanya raffi gemas.
“AAAAGGHHH…… ENAK ATAU TIDAK, SAYA TIDAK MAU INI DITERUSKAN!! TOLONG JANGAN RANGSANG SAYA TERUS!!” Sedetik kemudian Sr.leoni sadar bahwa ia kelepasan omong !!
“Ah, jadi Suster sudah terangsang, ya ? Hei, ayo kita rangsang terus sampe dia nyerah!!” Joni berkata dengan penuh semangat.
Sementara itu dari arah samping, Herman menggarap payudara Sr.leoni yang masih terbungkus BH. Sr.leoni menjerit putus asa ketika Felix meningkatkan volume serangannya. Kini ia juga menggigit-gigit clitoris Sr.leoni, sehingga tak ayal lagi Sr.leoni makin mengggelinjang-gelinjang. Jeritan Sr.leoni teredam oleh raffi yang mengulum bibirnya dengan penuh nafsu. Aksi raffi tidak di situ saja, melainkan juga menggarap leher Sr.leoni. ia menyupangnya, menjadikan leher Sr.leoni penuh bekas kemerahan. raffi kembali mengulum mulut Sr.leoni dalam mulutnya. Lidahnya menjelajahi mulut Sr.leoni dengan penuh nafsu.
Sementara itu Sr.leoni tak hentinya meronta. Rontaannya seolah terbagi dua, hendak menghentikan perkosaan ini tapi juga menikmati gairah birahinya yang kian memuncak. Vagina Sr.leoni sudah basah oleh cairan yang keluar dari kelenjar seksualnya. Ia kini tak dapat memungkiri lagi. Ia tahu, keempat pemerkosanya pun tahu, bahwa kini Sr.leoni sudah terangsang. Pukul 09:01 Felix mengentikan ’sarapan’-nya dan posisinya digantikan oleh Herman. Posisi Herman yang menggarap payudara Sr.leoni digantikan oleh Joni yang juga sudah tak sabar lagi mencicipi tubuh Sr.leoni. Felix tersenyum melihat teman-temannya begitu bersemangat menggarap Sr.leoni. Bergantian mereka menyantap vagina Sr.leoni sampai mereka puas.
Pukul 09:49 Sr.leoni lunglai……. ia kelelahan merasakan kenikmatan gairah yang timbul akibat rangsangan pada payudara dan vaginanya.
“Aduh….. payudaraku masih terbungkus BH dan mereka belum melakukan penetrasi, tapi aku sudah begini terangsang. Apa jadinya nanti? Bagaimana jika aku ‘kalah’ ? Haruskah aku menyerah pada mereka? Tidak…tidaaaaakkk!!” Sr.leoni berpikir makin kalut.
Ia cemas atas nasibnya di tangan keempat pemuda ini. Ia malu jika harus mengakui ‘kekalahannya’ ini. Pukul 09:50 Belum sempat Sr.leoni pulih dari kelelahannya, Felix dan Joni melepaskan Sr.leoni dari ikatannya. Mereka menyeret Sr.leoni dan menghempaskannya ke kasur besar di lantai tengah ruangan itu. Kesempatan ini dipakai oleh Sr.leoni untuk berusaha kabur, tapi usahanya itu kandas ketika Herman dan raffi memegangi tangan dan kakinya. Kedua tangan Sr.leoni direntangkan sambil terus dipegangi oleh Herman. raffi dan Felix masing-masing memegangi kakinya yang juga direntangkan lebar-lebar. Joni mulai merendahkan dan hendak menelungkupkan tubuhnya, siap mempenetrasi lubang vagina Sr.leoni dengan penisnya yang besar dan panjang.
Sr.leoni panik, ia makin meronta-ronta dan menggeliat-geliat.
“LEPASKAN!! OH!! LEPASKAN!! KALIAN MEMANG BANGSAT!! AAAGHHH…….. HENTIKAN……. LEPASKAN, BANGSAAAAATT!!” Sr.leoni menjerit-jerit.
“Wah, kok seorang suster ngomongnya kasar gitu ? Kalem aja, Suster sayang……. kami pasti bisa bikin Suster merasa nikmat. Ayo mulai, Joni!” kata Felix sambil tersenyum.
Joni tidak segera mempenetrasi Sr.leoni. Ia menunggu hingga Felix selesai merenggut BH putih tipis yang berenda itu. Pelindung terakhir payudara Sr.leoni pun terbuka, mempertontonkan dua bukit kembar yang amat menggiurkan birahi. Mereka semua mendesis menyaksikan kemolekan payudara Sr.leoni. Dengan ganas Joni mulai mempenetrasi Sr.leoni. Ia menggenjotnya dengan kuat dan mantap. Karena baru sekali berhubungan seks, vagina itu masih sempit sekali. Penis Joni serasa dijepit oleh sesuatu yang hangat dan kenyal.
Namun walau begitu, Joni bisa merasakan bahwa Sr.leoni tidak lagi memiliki selaput dara, tanda keperawanan.
“Astaga!!!! Suster kita ini rupanya udah pernah ngentot!! Selaput daranya udah hilang!!” Joni berseru kaget.
“Haa? Biarawati kan nggak boleh ngentot, gimana bisa hilang, hah??” Felix juga tak kalah kaget.
“Naaaahhh….. ketahuan deh….. rupanya diam-diam dia binal juga. Ngentot sama siapa, Suster?” Herman bertanya. “AAAAGHHH, LEPASKKAAAANNN……. SAYA CUMA SEKALI… OHHHHH….TIDAK…TIDDAAAKKKK” Lagi-lagi Sr.leoni kelepasan omong !!
“Astaga, kenapa aku ini, aku kelepasan omong lagi! Kenapa aku nggak bilang saja aku dulu pernah diperkosa?” Sr.leoni berpikir dengan rasa putus asa dan sesal yang mendalam.
“Lhooo…. dia ngaku rupanya… hayooo sama siapa, Suster?” tanya Felix.
“AGGGHHHH…….GGGHHHH… .. JJA…JAA…JJAANGANHH…. HHHAARRAP SSA….SSAYA MAU BBBI… BBI…BILANGG…GHHHH” Sr.leoni terus merintih dan mendesah.
“Ah, nanti juga Suster pasti mau bilang. Saya punya ‘resep khusus’ supaya Suster mau bilang, siapa yang ngejebol selaput dara Suster yang pertama itu” kata Felix.
Tanpa belas kasihan Joni menggenjot Sr.leoni. Payudara Sr.leoni yang sudah tak berpelindung BH itupun digarap oleh Joni, bersamaan dengan Felix yang memegangi tangan Sr.leoni. Mereka menjilat, menyupang dan menggigiti payudara Sr.leoni. Kali ini puting payudara Sr.leoni yang berwarna coklat kemerahan itu ikut menjadi sasaran serbuan. Sr.leoni terus meronta dan menggelinjang. Vagina Sr.leoni benar-benar sempit. Vagina itu menjepit dengan ketat serta berdenyut-denyut terus-menerus. Penis Joni yang berada di dalam vaginanya terasa bagaikan diremas-remas dengan keras.
“Layani ketiga teman saya dulu, Suster. Setelah itu saya ada kejutan buat Suster!” kata Felix sambil nyengir.
Pukul 10:27 Akhirnya Joni pun tidak tahan lagi, saat tubuh Sr.leoni mengejang karena sampai pada puncak kenikmatan (orgasme), Joni mempercepat gerakan naik turun sampai spermanya menyembur-nyembur ke dalam vagina Sr.leoni. Joni tidak langsung menarik penisnya keluar dari vagina Sr.leoni. Ia ingin merasakan kehangatan vagina Sr.leoni setelah lelah menggenjotnya. Pukul 10:31 Joni menarik penisnya keluar. Kelegaan Sr.leoni tak berlangsung lama karena raffi menggantikan peran Joni. Kini giliran raffi mempenetrasi vagina Sr.leoni. raffi pun mulai berpacu menuju puncak birahi. Genjotannya agak berbeda dengan gaya genjotan Joni. Kalau Joni menggenjot dengan ganas dan cepat, raffi menggenjot lebih pelan tapi sambil menghunjamkan penisnya dalam-dalam ke vagina Sr.leoni. Penetrasi raffi lebih dalam daripada Joni.
Hal ini membuat Sr.leoni makin kelimpungan. Ia menggelinjang setiap kali penis raffi menghunjam dalam-dalam. Tentu saja urusan penggarapan payudara pun tidak dilupakan raffi. Mana ada pria normal yang mau melewatkan kesempatan mencicipi payudara indah milik Sr.leoni!! Tapi rupanya Sr.leoni ini bukan wanita dengan seksualitas biasa- biasa saja. Ketahanan seksualnya sungguh luar biasa. Wanita normal biasanya akan orgasme setelah penetrasi dan rangsangan selama kira- kira 5 sampai 10 menit, tapi rupanya Sr.leoni ini mampu berlama- lama mencapai orgasme. Ia gampang atau cepat terangsang, tapi lama mencapai orgasme. Sungguh suatu tantangan tersendiri bagi kaum pria!! Pukul 11:04 Seperti Joni, raffi pun harus menunggu sampai setengah jam sebelum ada tanda-tanda bahwa Sr.leoni akan mencapai orgasme.
Ketika ia merasa bahwa otot vagina Sr.leoni makin kencang menjepit penisnya dan payudara Sr.leoni pun mulai mengeras, raffi pun makin memperdalam hunjaman penisnya dan menyemprotkan spermanya ke dalam vagina Sr.leoni. Ia menggeletak lemas di atas tubuh Sr.leoni yang juga lunglai kelelahan.
Pukul 11:08 Setelah raffi, kini giliran Herman. Karena spermanya sudah terkuras akibat karaoke paksa pada awal perkosaan ini, Herman membutuhkan waktu agak lama mencapai ejakulasi dibanding kedua pendahulunya. Tipe genjotan Herman merupakan gabungan gaya genjotan Joni dan raffi. Brutal dan dalam. Hal ini membuat Sr.leoni tak mampu menghentikan rontaannya. Ia sebenarnya sudah lelah meronta, tapi gaya genjotan Herman sungguh membuatnya tak bisa pasrah begitu saja.
Pukul 11:44 Sperma yang disemburkan Herman tidak sebanyak Joni ataupun raffi, tapi makin membuat vagina Sr.leoni makin banjir karena leleran sperma dan juga cairan vagina Sr.leoni sendiri. Setelah mencabut penisnya dari vagina Sr.leoni, Herman menggeletak lemas.
Pukul 11:47
“Nah, gimana, Suster ? Ngaku deh…. siapa sih cowok beruntung yang merebut mahkota kewanitaan Suster?” tanya Felix.
“HHJJJHHAA….JJJA…JJANGAN.. .. HHA…HHHA…HHHHARRAPP SSA… SSAYA MMAU NGG…NNGG…NNGGAAKKU” kata Sr.leoni tersengal kelelahan.
“Coba saya lihat, sampai seberapa jauh Suster tahan terhadap saya! Akan saya buat Suster memohon-mohon minta diberi orgasme!” kata Felix. “JJJA…JJANGAN HARAP SAYA MENYERAH, BANGSAT!!!!”
Pukul 11:48 Tanpa ba bi bu lagi Felix menghunjamkan penisnya ke dalam vagina Sr.leoni. Ketiga teman Felix kini sudah tergeletak. Satu demi satu tertidur kelelahan. Mereka tak menyangka suster ini mampu membuat mereka lemas karena nikmat. Tanpa ada yang memeganginya lagi, Sr.leoni mencoba sekali lagi untuk berontak. Tapi Felix yang sudah dikuasai nafsu birahi itu mampu menahannya. Felix memegang kedua tangan Sr.leoni dan merentangkannya lebar-lebar. Yang lebih tak disangka lagi oleh Sr.leoni adalah gaya genjotan Felix yang luar biasa. Felix mampu memadukan berbagai gaya dan rangsangan. Payudara ? Ah, payudara Sr.leoni kini dipenuhi bekas cupangan berwarna merah.
Putingnya makin memerah karena hisapan, gigitan dan kenyotan bibir Felix. Mulut Felix beraksi silih berganti antara payudara, belahan payudara, leher dan bibir Sr.leoni. Saat berciuman, mulut Sr.leoni dikuasai dan dijelajahi sepenuhnya oleh Felix. Genjotannya bervariasi antara lembut dan dalam, dangkal dan cepat, brutal dan mengoyak, dan sebagainya. Bagi Felix, seolah Sr.leoni merupakan inspirasi seksualitas tanpa batas.
“Nnnaaahhh…. Susterku sayang….. siapa cowok beruntung itu…hhmmm…? Ayo jawab, Suster sayang!” kata Felix di sela-sela genjotannya.
“JJHHJA…… JJJHA…JJJANGAN HHHA… HHA..RRAP SSS… SS.. SSAYA MAU KKATT …TTA….TTTAKAN….” Di saat Sr.leoni hendak mencapai klimaks, Felix menghentikan genjotannya, membuat Sr.leoni penasaran.
“Ayo, Suster…… siapa ?” tanya Felix menggoda. Sr. leoni tidak menjawab, ia hanya meronta-ronta dengan liar.
Maka Felix pun mulai lagi merangsang mulai dari bibir, leher, lalu turun ke belahan payudaranya. Puting payudara Sr.leoni yang seolah menunggu untuk digarap, dibiarkannya dahulu. Hal ini membuat Sr.leoni makin penasaran. Sr.leoni meronta-ronta, menggeliat-geliat dan menggelinjang-gelinjang dengan liar. Felix yang sudah berpengalaman menghadapi wanita binal, mengetahui dengan pasti bahwa semua rontaan Sr.leoni itu adalah hasrat terpendamnya untuk dipuaskan secara total.
“SShhh…..shhh…. Suster…. saya akan puaskan Suster kalo Suster mau bilang ke saya dua hal. Pertama, siapa cowok yang mengambil keperawanan Suster, lalu kedua: Suster harus memohon pada saya untuk dipuaskan. Pikirkanlah, Suster….. bayangkan kenikmatan yang bisa saya berikan….. Pokoknya, Suster akan saya puaskan setelah Suster menjawab pertanyaan saya dan melakukan permintaan saya. Oh ya,.. satu lagi. Sebelum saya puaskan, saya ingin Suster melayani saya dengan binal dan penuh gairah. Lepaskan semua hasrat terpendam Suster selama ini……!” Felix terus merayu Sr.leoni.
“JJA…JJAJJANGAN…….SSSSTT TOOPPP….. OOOOGHHHH…. SSTTOOPP………” “Yakin nih, mau berhenti….?” tanya Felix makin menggoda.
Felix memang menghentikan serangannya, tapi lalu dimulai lagi dengan lembut lalu makin lama makin ganas, panas dan bergairah. Dan ketika Sr.leoni untuk kesekian kalinya hampir mencapai orgasme, Felix berhenti.
“Ssstt….ayo Suster……buat apa Suster mempertahankan gengsi? Kalau dengan saya, nggak usah malu. Terus terang saya pun kagum dengan Suster. Jarang wanita punya daya seks sekuat Suster. Seandainya Suster bukan biarawati, pasti Suster sudah saya lamar untuk dijadikan istri!” Felix terus merayu Sr.leoni dengan perkataan dan rangsangannya.
Pukul 13:40 Hampir dua jam Felix menggauli Sr.leoni, akhirnya Sr.leoni menyerah……..
“AAAGGHHH…..AAGHHHH…..OOOO HHH…. ARRNOOOOLD…… BBE…BEBBBE…BBENARKAH YANG KKAU KATTT… TTA…TTAKAN?” “Suster ingin kenikmatan, kan ? Kalo mau, percayalah pada saya….. mari kita capai kenikmatan itu bersama-sama, Suster manis…..
Tapi sebelum itu, jawab dulu dua pertanyaan saya dan satu permintaan saya tadi” kata Felix berusaha meyakinkan Sr.leoni.
“NNNNA……NNNA……..NNNAMM MA… CCHHO…CCOWWOKK IT.. ITTU SANN…NNNO, MMURRID SSA..SSAYYA DDULU….. KKEJJA… JJADIANNYA TTIGATTA… TTAHUNN LALU DDI..DDI… RRUANG UKS…SSE.. SSSEEKKOLAHHH………….” Sr.leoni pun menceritakan pengalaman pertamanya itu.
“SSSA…SSA…SSA….SSSAA YYYA MMO…MMOHHON, AARR.. ARRRNNOLD SUDI MMEMMME…MMMEMMUASKKHAN SSA.. SSAYA…” Sr.leoni memohon-mohon sambil meronta dan menggeliat. “Ssssttt….. masih ada permintaaan saya yang Suster belum penuhi…..” kata Felix sambil mengedipkan mata.
“AA…AAAPPPA ITU, Felixxx..SSA…SSSHAYANNGG….” Sr.leoni pun rupanya berusaha merayu Felix dengan panggilan ’sayang’ agar ia cepat dipuaskan.
“Ah, masa lupa…?? Hayoo…. apa…?? Jangan malu, Susterku sayang! Ayo katakan, Sayang………” Felix menyeringai nakal.
“SSA…SSSA…. SSAYYA RRE..RRELLA MME… MMELAYY… YYANI ARR…RRNOLD…”
“Suster mau bermain seks dengan binal?” tanya Felix. Sr.leoni mengangguk lemah.
“Jangan cuma mengangguk, Suster leoni sayang…….., katakan bahwa Suster juga mau bermain seks dengan binal demi kepuasan kita berdua” kata Felix lembut tetapi mengandung ketegasan dan perintah.
“SSA…SSA…YYA RRELA MME..MMEMMMELLAYYANI ARR.. RRNOLD DDE…DDENGAN BINAL…… DDE..DDEMI KKEBAHAGGIAAAN KKITA BBE..BBEBBBERRDUA…… AAAAGGGHHH……. TTU TTUTTUNNGGU APP…PPPPA LLAGGI, ARRR..RRNOLD SSA..SSAYYANG?” kata Sr.leoni makin memelas.
Felix tersenyum, lalu ia mulai menggarap Sr.leoni dengan lebih bergairah. Rontaan dan geliat Sr.leoni kini berubah menjadi gerakan-gerakan erotis yang liar dan binal. Jeritan dan rintihan Sr.leoni kini menjadi erangan penuh kenikmatan saat mereka berpacu menuju puncak birahi. Sr.leoni ternyata sangat binal. Erotismenya liar sekali. Pengalaman pertamanya yang lama belum terulang membuatnya haus seks luar biasa. Ia bagaikan musafir yang penuh dahaga. Felix memenuhi janjinya. Dibawanya Sr.leoni menuju puncak birahi, seluruh daya seksnya dikerahkan untuk merangsang Sr.leoni. Mulut, leher, belahan payudara, payudara dan putingnya dilalap oleh Felix dengan penuh nafsu.
Vagina Sr.leoni digenjot dan dijelajahi oleh Felix, termasuk bagian G-spotnya (bagian tersensitif dalam vagina wanita). Keperkasaan Felix diimbangi oleh kebinalan Sr.leoni. Pukul 15:55 Akhirnya setelah lebih dari 4 jam Felix menggaulinya, Sr.leoni merasa bahwa orgasmenya tak mungkin ditahan lagi. Felix pun menyadarinya. Tanda-tanda itu jelas terlihat dan terasakan olehnya. Payudara Sr.leoni mengencang, putingnya menegang disertai mengerasnya jepitan vagina Sr.leoni. Gerakannya makin erotis. Dadanya membusung, seolah menyodorkan dan menawarkan payudaranya seluruhnya penuh damba.
Dengan penuh gairah, Felix menyemburkan seluruh spermanya ke dalam vagina Sr.leoni, sambil mengenyot puting payudara Sr.leoni, bergantian kiri dan kanan. Sr.leoni memekik tatkala dirasakannya cairan hangat memenuhi vaginanya. Rasa nikmat itu sungguh luar biasa. Rasa nikmat itu terasakan di sekujur tubuhnya, terutama di bagian dalam vaginanya dan di puting payudaranya.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAGGGGGHHHHHHH HHH…………. AAAAAAAAGGGHBB …….” pekikannya itu diredam oleh kuluman mulut Felix.
Setelah semburan puncak birahi selama beberapa detik yang berharga itu, mereka lunglai lemas. Penis Felix bersarang di vagina Sr.leoni yang kini sudah banjir oleh sperma dan cairan vaginanya sendiri. Mereka tertidur dalam kebahagiaan seksual. ……..…Cerita Sex Biarawati – Semasa kuliahnya Sr. leoni pernah menonton film xxx dan membaca beberapa buku buku dewasa. Pada masa awalnya sebagai suster, Sr. leoni pernah satu kali melakukan hubungan seksual dengan murid di sekolah tempatnya mengajar. Hilangnya keperawanan itu begitu membekas sehingga dia kerap merindukan saat-saat menggairahkan itu. Sayang sekali muridnya itu telah pindah jauh ke luar kota.
Sebagai seorang suster yang tidak boleh menikah dan tidak diperbolehkan melakukan hubungan seksual, perbuatan Sr. leoni itu tentu saja merupakan pelanggaran yang sangat berat. Tapi selain Sr. leoni dan muridnya itu, tak seorangpun tahu mengenai aib itu. Untunglah Sr. leoni tidak sampai hamil karenanya.
“Ah…. toh cuma sekali saja, yang penting sekarang aku tidak pernah melakukannya lagi”, begitu pikir Sr. leoni tatkala ingatan tentang hubungan sex pertamanya itu terbayang kembali.
Sikap Sr.leoni yang seolah menantang dan menggoda para pria yang bertemu dengannya itu sebenarnya dimaksudkan untuk mengakrabkan diri, agar tidak dianggap sebagai suster yang angkuh dan sombong. Di saat-saat yang memerlukan pertimbangan dan pengambilan keputusan yang sulit, Sr. leoni tetap menjaga sikap tegasnya sebagai seorang suster.
Namun sikap Sr. leoni itu ditangkap lain oleh 4 orang pemuda yaitu Felix, Joni, Herman dan raffi. Keempat pemuda itu sepakat untuk menculik dan memperkosa Sr. leoni. Tempat untuk itu sudah dipersiapkan, sebuah vila di tengah-tengah kebun teh yang terpencil. Jarak dari villa tersebut ke desa terdekat kira-kira 6 kilometer. Sebuah tempat ideal untuk bermain seks, apalagi hawa daerah itu yang cukup dingin dianggap cocok untuk berhangat-hangat dengan tubuh Sr. leoni yang sintal itu.
Di pagi hari yang masih dingin, Sr. leoni berjalan dari gedung biara ke gedung sekolah tempatnya mengajar, yang letaknya tidak terlalu jauh. Karena hari masih sangat pagi, jalanan sepi. Hal ini dimanfaatkan oleh keempat pemuda itu yang sudah mengamati kebiasaan Sr. leoni selama beberapa waktu.
Tiba-tiba sebuah mobil dengan pintu tengah model geser berhenti mendadak, memepet Sr. leoni. Sr. leoni yang terkejut tak sempat bereaksi apa-apa saat Felix dan Joni melompat turun dan menyeretnya masuk mobil. Dalam mobil, Herman telah menyiapkan chloroform yang dibekapkan ke mulut Sr. leoni. Tanpa sempat menjerit, Sr.leoni langsung pingsan terbius chloroform. raffi yang mengemudikan mobil itu langsung tancap gas ke villa yang telah mereka persiapkan.
Sesampai di villa mereka mendudukkan Sr. leoni di kursi rendah dan mengikat tangannya di belakang sandaran kursi itu. Payudara di dada Sr. leoni yang naik turun seiring napasnya itu makin membuat mereka bernafsu. Mereka telah sepakat membagi-bagi ‘jatah’. Jatah pertama untuk urusan ‘karaoke’ atau oral seks adalah Herman. Joni kebagian penetrasi vagina pertama, sedangkan Felix yang merupakan pemimpin di antara mereka bertugas melucuti pakaian Sr. leoni. Ia juga mendapat kehormatan sebagai yang pertama menikmati dan menjilati payudara serta vagina Sr. leoni. raffi sendiri kebagian jatah menggarap mulut dan leher Sr. leoni.
Pukul 07:22 Sr. leoni tersadar dari pingsannya. Perlahan-lahan ingatannya pulih dari pengaruh chloroform, begitu pula tenaganya berangsur-angsur kembali seperti sediakala. Menyadari dirinya diikat, Sr. leoni meronta, tapi ikatan itu terlalu kuat. Sia-sialah ia meronta. Sr. leoni melihat ke sekeliling ruangan tempat ia diikat. Ia ditempatkan di ruangan berukuran besar. Pintu ruangan itu tertutup dan terletak agak jauh di sisi kirinya. Di tengah ruangan, terhampar kasur tebal yang juga berukuran besar.
Ia diikat di sebuah kursi rendah. Kira-kira 4 meter di depannya ada sebuah kursi lain yang jauh lebih tinggi daripada kursi tempatnya diikat. Ia heran karena belum pernah melihat kursi setinggi itu dan juga tidak tahu apa gunanya. Pukul 07:24 Sr.leoni tersentak terkejut karena tiba-tiba pintu ruangan itu membuka dan masuklah 4 orang pemuda berbadan kekar. Keempat pemuda itu dikenalnya, karena beberapa kali pernah bertemu. Yang lebih membuat Sr.leoni terkejut lagi adalah karena keempat pemuda itu dalam keadaan telanjang bulat. Penis mereka mengacung tanda birahi. Semuanya berukuran besar. Paling panjang adalah milik Felix, panjangnya kira- kira 25 cm dan berdiameter 8 cm. Namun penis Joni, Herman dan raffi pun panjang. Rata-rata panjangnya mencapai 20-an cm dan diameternya 5 cm.
Keempat pemuda itu menyeringai nakal.
“Halo, Suster….menggairahkan sekali bukan, suasana pagi ini ?” begitu sapa Felix sambil terus menyeringai.
“MAU APA KALIAN ? LEPASKAN SAYA !!” Sr.leoni masih mencoba meronta.
“Hmmm….. jangan pura-pura alim deh, Suster tentu tahu apa yang kami mau. Suster akan kami ajari beberapa permainan menyenangkan yang takkan pernah Suster lupakan” giliran Joni bersuara.
Keempat pemuda itu terbahak-bahak mendengar perkataan Joni. Jantung Sr.leoni berdebar keras. Ia sadar dirinya akan jadi ’santapan’ keempat pemuda telanjang itu. Ia sadar, dirinya takkan mampu melawan mereka.
“Jangankan melawan keempatnya, melawan seorang saja aku belum tentu mampu”, demikian pikirnya kalut.
“Felix, LEPASKAN SAYA !! KALAU TIDAK SAYA AKAN BERTERIAK-TERIAK SAMPAI TETANGGA MENDENGARNYA !!”
“Ha…ha…ha… silakan berteriak, kita berada di tengah kebun teh yang sepi. Jarak terdekat ke rumah orang kira-kira 6 kilometer !” Felix berkata sambil tertawa.
Pukul 07:26 Sr.leoni makin panik mendengar hal itu. Ketakutannya kian terbukti. Dirinya akan diperkosa beramai-ramai oleh keempat pemuda itu. Ia terus meronta-ronta hendak melepaskan diri. “Lebih baik melawan daripada menyerah sama sekali. Jika aku diperkosa, setidak- tidaknya aku sudah melawan”, begitu pikir Sr.leoni.
“Ha…ha…ha… rontaanmu sungguh menggairahkan, Suster ! Ayo, teman-teman, kita mulai !!” seru Felix.
Mereka menarik kursi tinggi yang tadi dilihat Sr.leoni, sehingga tepat berada di hadapan Sr.leoni. Kursi itu memang dibuat untuk tujuan khusus, yaitu sebagai sarana ‘karaoke paksa’ bagi korban-korban keempat pemuda itu. Herman duduk di atas kursi tinggi itu dan memegang rambut dan kepala Sr.leoni yang masih terbungkus slayer (kerudung penutup kepala bagi suster-suster) hingga tidak dapat bergerak.
“Ayo kulum punya saya, Suster ! Cicipi sarapanmu pagi ini: kontol split, variasi seksual dari banana spilit, ha…ha…ha…” sambil berkata begitu Herman menarik kepala Sr.leoni.
Ia memajukan penisnya mendekati muka Sr.leoni sambil menjepit hidung Sr.leoni untuk membuat Sr.leoni membuka mulutnya. Ketika Sr.leoni kehabisan nafas dan membuka mulutnya untuk menghirup udara, Herman mendorong penisnya ke dalam mulut Sr.leoni. Laki-laki itu berhenti begitu bibir Sr.leoni telah melingkar di penisnya dan mulai mendorong dan menarik kepala Sr.leoni. Kepala Sr.leoni bergerak maju dan mundur terus menerus. Saat kepala penis itu masuk ke tenggorokannya Sr.leoni tersedak, tapi Herman tetap mendorong hingga kepala penis itu masuk lebih dalam di tenggorokan Sr.leoni. Sr.leoni dipegangi agar tak bergerak dengan penis yang terbenam hingga tenggorokannya, sementara mereka berbicara satu sama lain.
“Enak, lho ! Hangat-hangat empuk ! Tapi gua pikir dia musti banyak berlatih soal beginian.” kata Herman.
“Mungkin dia belon pernah pake mulutnya buat karaoke. Gimana, Suster?” tanya Joni penuh nafsu.
“Bisa nggak makan kontol split, Sr.leoni sayang?” tanya Felix.
“Terang aja dia bisa ! Mulutnya nggak dipake buat makan nasi doang tau?! Liat aja, punya gua dijepit sama bibirnya, kan?” kata Herman.
Tangan Herman kemudian menjambak rambut Sr.leoni dan mulai menggerakannya lagi dengan kasar membuat penisnya kembali bergerak keluar masuk di mulut Sr.leoni. Semua orang dapat mendengar erangan Sr.leoni yang terdengar setiap kali penis itu masuk jauh ke tenggorokannya. Ketika Herman akan mengalami ejakulasi ia menarik kepala Sr.leoni hingga terbenam dalam-dalam di rimbunan rambut kemaluannya. Sperma langsung menyembur keluar memenuhi mulut Sr.leoni. Dan dari sudut mulut Sr.leoni sperma menetes keluar, mengalir turun, menggantung di dagu Sr.leoni.
“Aaaaaaggghhhhh……. enak, Suster ! Terus telan semua sperma saya, kalo nggak, saya bakal terus menekan kepala Suster kaya gini!” Kemudian Herman mulai bergerak lagi.
Sperma terus mengalir keluar, jatuh dari leher Sr.leoni ke atas pakaian putih yang dikenakan Sr.leoni. Ketika akhirnya ia menarik penisnya dari mulut Sr.leoni, Sr.leoni megap-megap menarik nafas dan tersedak saat berusaha menelan sisa sperma yang masih ada di mulutnya. Sr.leoni sendiri lunglai tak berdaya setelah baru saja ia mengalami shock, merasakan sperma yang disemburkan masuk ke dalam mulutnya. Pelan tapi pasti Felix membuka kancing-kancing baju Sr.leoni. Begitu kancing-kancing yang terletak di bagian dada itu terbuka, tampaklah dua payudara montok membulat yang terbungkus BH putih berenda. Puting susu Sr.leoni tampak menonjol dari balik BH yang tipis itu. Felix mengecup dan mencaplok (menyupang) payudara Sr.leoni dengan bibirnya, satu demi satu. Kiri, lalu kanan.
Ia sengaja tidak mengulum putingnya, menyisakan kenikmatan itu untuk tahap selanjutnya. Meskipun payudara Sr.leoni masih terbungkus BH, namun Felix dapat merasakan ketegangan yang timbul akibat rangsangannya. “Aah, Suster, kau punya payudara yang menggairahkan” kata Felix kagum.
“LEPASKAN, BANGSAT!! LEPASKAAAAAAANN!!”
“Tenang, Suster…… kami akan buat Suster menikmati dan ketagihan seks!” kata raffi.
Tanpa diduga Sr.leoni, Felix menghentikan ’serbuannya’. kini giliran Joni duduk di kursi tinggi itu. S ama seperti Herman, ia menyodorkan penisnya untuk dikaraoke oleh Sr.leoni. Bedanya, raffi menahan ejakulasinya. Ia bertekad menghemat spermanya untuk session berikutnya. Begitu hendak ejakulasi, posisinya digantikan oleh Felix, lalu kemudian oleh Joni. Mereka berdua pun sama seperti raffi, menahan ejakulasi untuk tahap perkosaan selanjutnya. Menyimpan sperma untuk kenikmatan berikutnya.
Pukul 08:45 Kursi tinggi itu disingkirkan dari hadapan Sr.leoni.
“Nah, Suster manis, sekarang gantian, ya. Kami pun ingin sarapan. Gimana kalo Suster sediakan omelettte vagina ? Ha…ha…ha…” Felix tertawa sambil berjongkok di depan Sr.leoni, lalu melucuti rok bawah dan celana dalam Sr.leoni.
Usaha itu harus dibantu oleh Joni dan raffi yang masing-masing memegangi kaki Sr.leoni, karena Sr.leoni tak hentinya meronta dan menggeliat. Sebenarnya Sr.leoni sudah mulai terangsang ketika Felix menggarap payudaranya.
“Celaka!! Felix membuatku terangsang, padahal payudaraku masih terbungkus BH. Apa jadinya kalau aku sudah telanjang ?? Aku harus terus melawan. Aku takkan pasrah begitu saja!!” Sr.leoni berpikir dengan panik bercampur cemas.
Setelah rok bawah dan celana dalam Sr.leoni terlucuti, tampaklah vagina Sr.leoni yang berwarna kemerahan dan ditumbuhi sedikit bulu-bulu halus. Tanpa ragu Felix menggarap vagina itu. Pertama-tama ia menciumi vagina itu, lalu sedikit demi sedikit mulutnya menyeruak masuk ke bagian dalam. Lidahnya mencari-cari clitoris Sr.leoni. Begitu ditemukan, clitoris itu dijilat dan dikulumnya dengan penuh nafsu.
“Hhmm…..mmnnyemm…ccp…slu uurppp” Felix dengan bernafsu menyantap clitoris Sr.leoni. Ia sama sekali tidak mengacuhkan Sr.leoni yang merintih dan memohon agar semuanya ini dihentikan.
“AAAAAGGHHH…….STOP…..SSS STTOOOPPPP……ARRRNNNOOLLLD, TTO.. TTOOLONGG SS… SSSTOOPPP…………. ADUUUUUHHH………… HHE… HENTIKAAAAN, OOOHHHH…. HHE.. HHENTTIKAAAAAN!!!!”
“Alaaa, Suster…… bilang aja enak, gitu…. Emangnya kalo udah enak kaya gini, Suster mau berhenti ?” tanya raffi gemas.
“AAAAGGHHH…… ENAK ATAU TIDAK, SAYA TIDAK MAU INI DITERUSKAN!! TOLONG JANGAN RANGSANG SAYA TERUS!!” Sedetik kemudian Sr.leoni sadar bahwa ia kelepasan omong !!
“Ah, jadi Suster sudah terangsang, ya ? Hei, ayo kita rangsang terus sampe dia nyerah!!” Joni berkata dengan penuh semangat.
Sementara itu dari arah samping, Herman menggarap payudara Sr.leoni yang masih terbungkus BH. Sr.leoni menjerit putus asa ketika Felix meningkatkan volume serangannya. Kini ia juga menggigit-gigit clitoris Sr.leoni, sehingga tak ayal lagi Sr.leoni makin mengggelinjang-gelinjang. Jeritan Sr.leoni teredam oleh raffi yang mengulum bibirnya dengan penuh nafsu. Aksi raffi tidak di situ saja, melainkan juga menggarap leher Sr.leoni. ia menyupangnya, menjadikan leher Sr.leoni penuh bekas kemerahan. raffi kembali mengulum mulut Sr.leoni dalam mulutnya. Lidahnya menjelajahi mulut Sr.leoni dengan penuh nafsu.
Sementara itu Sr.leoni tak hentinya meronta. Rontaannya seolah terbagi dua, hendak menghentikan perkosaan ini tapi juga menikmati gairah birahinya yang kian memuncak. Vagina Sr.leoni sudah basah oleh cairan yang keluar dari kelenjar seksualnya. Ia kini tak dapat memungkiri lagi. Ia tahu, keempat pemerkosanya pun tahu, bahwa kini Sr.leoni sudah terangsang. Pukul 09:01 Felix mengentikan ’sarapan’-nya dan posisinya digantikan oleh Herman. Posisi Herman yang menggarap payudara Sr.leoni digantikan oleh Joni yang juga sudah tak sabar lagi mencicipi tubuh Sr.leoni. Felix tersenyum melihat teman-temannya begitu bersemangat menggarap Sr.leoni. Bergantian mereka menyantap vagina Sr.leoni sampai mereka puas.
Pukul 09:49 Sr.leoni lunglai……. ia kelelahan merasakan kenikmatan gairah yang timbul akibat rangsangan pada payudara dan vaginanya.
“Aduh….. payudaraku masih terbungkus BH dan mereka belum melakukan penetrasi, tapi aku sudah begini terangsang. Apa jadinya nanti? Bagaimana jika aku ‘kalah’ ? Haruskah aku menyerah pada mereka? Tidak…tidaaaaakkk!!” Sr.leoni berpikir makin kalut.
Ia cemas atas nasibnya di tangan keempat pemuda ini. Ia malu jika harus mengakui ‘kekalahannya’ ini. Pukul 09:50 Belum sempat Sr.leoni pulih dari kelelahannya, Felix dan Joni melepaskan Sr.leoni dari ikatannya. Mereka menyeret Sr.leoni dan menghempaskannya ke kasur besar di lantai tengah ruangan itu. Kesempatan ini dipakai oleh Sr.leoni untuk berusaha kabur, tapi usahanya itu kandas ketika Herman dan raffi memegangi tangan dan kakinya. Kedua tangan Sr.leoni direntangkan sambil terus dipegangi oleh Herman. raffi dan Felix masing-masing memegangi kakinya yang juga direntangkan lebar-lebar. Joni mulai merendahkan dan hendak menelungkupkan tubuhnya, siap mempenetrasi lubang vagina Sr.leoni dengan penisnya yang besar dan panjang.
Sr.leoni panik, ia makin meronta-ronta dan menggeliat-geliat.
“LEPASKAN!! OH!! LEPASKAN!! KALIAN MEMANG BANGSAT!! AAAGHHH…….. HENTIKAN……. LEPASKAN, BANGSAAAAATT!!” Sr.leoni menjerit-jerit.
“Wah, kok seorang suster ngomongnya kasar gitu ? Kalem aja, Suster sayang……. kami pasti bisa bikin Suster merasa nikmat. Ayo mulai, Joni!” kata Felix sambil tersenyum.
Joni tidak segera mempenetrasi Sr.leoni. Ia menunggu hingga Felix selesai merenggut BH putih tipis yang berenda itu. Pelindung terakhir payudara Sr.leoni pun terbuka, mempertontonkan dua bukit kembar yang amat menggiurkan birahi. Mereka semua mendesis menyaksikan kemolekan payudara Sr.leoni. Dengan ganas Joni mulai mempenetrasi Sr.leoni. Ia menggenjotnya dengan kuat dan mantap. Karena baru sekali berhubungan seks, vagina itu masih sempit sekali. Penis Joni serasa dijepit oleh sesuatu yang hangat dan kenyal.
Namun walau begitu, Joni bisa merasakan bahwa Sr.leoni tidak lagi memiliki selaput dara, tanda keperawanan.
“Astaga!!!! Suster kita ini rupanya udah pernah ngentot!! Selaput daranya udah hilang!!” Joni berseru kaget.
“Haa? Biarawati kan nggak boleh ngentot, gimana bisa hilang, hah??” Felix juga tak kalah kaget.
“Naaaahhh….. ketahuan deh….. rupanya diam-diam dia binal juga. Ngentot sama siapa, Suster?” Herman bertanya. “AAAAGHHH, LEPASKKAAAANNN……. SAYA CUMA SEKALI… OHHHHH….TIDAK…TIDDAAAKKKK” Lagi-lagi Sr.leoni kelepasan omong !!
“Astaga, kenapa aku ini, aku kelepasan omong lagi! Kenapa aku nggak bilang saja aku dulu pernah diperkosa?” Sr.leoni berpikir dengan rasa putus asa dan sesal yang mendalam.
“Lhooo…. dia ngaku rupanya… hayooo sama siapa, Suster?” tanya Felix.
“AGGGHHHH…….GGGHHHH… .. JJA…JAA…JJAANGANHH…. HHHAARRAP SSA….SSAYA MAU BBBI… BBI…BILANGG…GHHHH” Sr.leoni terus merintih dan mendesah.
“Ah, nanti juga Suster pasti mau bilang. Saya punya ‘resep khusus’ supaya Suster mau bilang, siapa yang ngejebol selaput dara Suster yang pertama itu” kata Felix.
Tanpa belas kasihan Joni menggenjot Sr.leoni. Payudara Sr.leoni yang sudah tak berpelindung BH itupun digarap oleh Joni, bersamaan dengan Felix yang memegangi tangan Sr.leoni. Mereka menjilat, menyupang dan menggigiti payudara Sr.leoni. Kali ini puting payudara Sr.leoni yang berwarna coklat kemerahan itu ikut menjadi sasaran serbuan. Sr.leoni terus meronta dan menggelinjang. Vagina Sr.leoni benar-benar sempit. Vagina itu menjepit dengan ketat serta berdenyut-denyut terus-menerus. Penis Joni yang berada di dalam vaginanya terasa bagaikan diremas-remas dengan keras.
“Layani ketiga teman saya dulu, Suster. Setelah itu saya ada kejutan buat Suster!” kata Felix sambil nyengir.
Pukul 10:27 Akhirnya Joni pun tidak tahan lagi, saat tubuh Sr.leoni mengejang karena sampai pada puncak kenikmatan (orgasme), Joni mempercepat gerakan naik turun sampai spermanya menyembur-nyembur ke dalam vagina Sr.leoni. Joni tidak langsung menarik penisnya keluar dari vagina Sr.leoni. Ia ingin merasakan kehangatan vagina Sr.leoni setelah lelah menggenjotnya. Pukul 10:31 Joni menarik penisnya keluar. Kelegaan Sr.leoni tak berlangsung lama karena raffi menggantikan peran Joni. Kini giliran raffi mempenetrasi vagina Sr.leoni. raffi pun mulai berpacu menuju puncak birahi. Genjotannya agak berbeda dengan gaya genjotan Joni. Kalau Joni menggenjot dengan ganas dan cepat, raffi menggenjot lebih pelan tapi sambil menghunjamkan penisnya dalam-dalam ke vagina Sr.leoni. Penetrasi raffi lebih dalam daripada Joni.
Hal ini membuat Sr.leoni makin kelimpungan. Ia menggelinjang setiap kali penis raffi menghunjam dalam-dalam. Tentu saja urusan penggarapan payudara pun tidak dilupakan raffi. Mana ada pria normal yang mau melewatkan kesempatan mencicipi payudara indah milik Sr.leoni!! Tapi rupanya Sr.leoni ini bukan wanita dengan seksualitas biasa- biasa saja. Ketahanan seksualnya sungguh luar biasa. Wanita normal biasanya akan orgasme setelah penetrasi dan rangsangan selama kira- kira 5 sampai 10 menit, tapi rupanya Sr.leoni ini mampu berlama- lama mencapai orgasme. Ia gampang atau cepat terangsang, tapi lama mencapai orgasme. Sungguh suatu tantangan tersendiri bagi kaum pria!! Pukul 11:04 Seperti Joni, raffi pun harus menunggu sampai setengah jam sebelum ada tanda-tanda bahwa Sr.leoni akan mencapai orgasme.
Ketika ia merasa bahwa otot vagina Sr.leoni makin kencang menjepit penisnya dan payudara Sr.leoni pun mulai mengeras, raffi pun makin memperdalam hunjaman penisnya dan menyemprotkan spermanya ke dalam vagina Sr.leoni. Ia menggeletak lemas di atas tubuh Sr.leoni yang juga lunglai kelelahan.
Pukul 11:08 Setelah raffi, kini giliran Herman. Karena spermanya sudah terkuras akibat karaoke paksa pada awal perkosaan ini, Herman membutuhkan waktu agak lama mencapai ejakulasi dibanding kedua pendahulunya. Tipe genjotan Herman merupakan gabungan gaya genjotan Joni dan raffi. Brutal dan dalam. Hal ini membuat Sr.leoni tak mampu menghentikan rontaannya. Ia sebenarnya sudah lelah meronta, tapi gaya genjotan Herman sungguh membuatnya tak bisa pasrah begitu saja.
Pukul 11:44 Sperma yang disemburkan Herman tidak sebanyak Joni ataupun raffi, tapi makin membuat vagina Sr.leoni makin banjir karena leleran sperma dan juga cairan vagina Sr.leoni sendiri. Setelah mencabut penisnya dari vagina Sr.leoni, Herman menggeletak lemas.
Pukul 11:47
“Nah, gimana, Suster ? Ngaku deh…. siapa sih cowok beruntung yang merebut mahkota kewanitaan Suster?” tanya Felix.
“HHJJJHHAA….JJJA…JJANGAN.. .. HHA…HHHA…HHHHARRAPP SSA… SSAYA MMAU NGG…NNGG…NNGGAAKKU” kata Sr.leoni tersengal kelelahan.
“Coba saya lihat, sampai seberapa jauh Suster tahan terhadap saya! Akan saya buat Suster memohon-mohon minta diberi orgasme!” kata Felix. “JJJA…JJANGAN HARAP SAYA MENYERAH, BANGSAT!!!!”
Pukul 11:48 Tanpa ba bi bu lagi Felix menghunjamkan penisnya ke dalam vagina Sr.leoni. Ketiga teman Felix kini sudah tergeletak. Satu demi satu tertidur kelelahan. Mereka tak menyangka suster ini mampu membuat mereka lemas karena nikmat. Tanpa ada yang memeganginya lagi, Sr.leoni mencoba sekali lagi untuk berontak. Tapi Felix yang sudah dikuasai nafsu birahi itu mampu menahannya. Felix memegang kedua tangan Sr.leoni dan merentangkannya lebar-lebar. Yang lebih tak disangka lagi oleh Sr.leoni adalah gaya genjotan Felix yang luar biasa. Felix mampu memadukan berbagai gaya dan rangsangan. Payudara ? Ah, payudara Sr.leoni kini dipenuhi bekas cupangan berwarna merah.
Putingnya makin memerah karena hisapan, gigitan dan kenyotan bibir Felix. Mulut Felix beraksi silih berganti antara payudara, belahan payudara, leher dan bibir Sr.leoni. Saat berciuman, mulut Sr.leoni dikuasai dan dijelajahi sepenuhnya oleh Felix. Genjotannya bervariasi antara lembut dan dalam, dangkal dan cepat, brutal dan mengoyak, dan sebagainya. Bagi Felix, seolah Sr.leoni merupakan inspirasi seksualitas tanpa batas.
“Nnnaaahhh…. Susterku sayang….. siapa cowok beruntung itu…hhmmm…? Ayo jawab, Suster sayang!” kata Felix di sela-sela genjotannya.
“JJHHJA…… JJJHA…JJJANGAN HHHA… HHA..RRAP SSS… SS.. SSAYA MAU KKATT …TTA….TTTAKAN….” Di saat Sr.leoni hendak mencapai klimaks, Felix menghentikan genjotannya, membuat Sr.leoni penasaran.
“Ayo, Suster…… siapa ?” tanya Felix menggoda. Sr. leoni tidak menjawab, ia hanya meronta-ronta dengan liar.
Maka Felix pun mulai lagi merangsang mulai dari bibir, leher, lalu turun ke belahan payudaranya. Puting payudara Sr.leoni yang seolah menunggu untuk digarap, dibiarkannya dahulu. Hal ini membuat Sr.leoni makin penasaran. Sr.leoni meronta-ronta, menggeliat-geliat dan menggelinjang-gelinjang dengan liar. Felix yang sudah berpengalaman menghadapi wanita binal, mengetahui dengan pasti bahwa semua rontaan Sr.leoni itu adalah hasrat terpendamnya untuk dipuaskan secara total.
“SShhh…..shhh…. Suster…. saya akan puaskan Suster kalo Suster mau bilang ke saya dua hal. Pertama, siapa cowok yang mengambil keperawanan Suster, lalu kedua: Suster harus memohon pada saya untuk dipuaskan. Pikirkanlah, Suster….. bayangkan kenikmatan yang bisa saya berikan….. Pokoknya, Suster akan saya puaskan setelah Suster menjawab pertanyaan saya dan melakukan permintaan saya. Oh ya,.. satu lagi. Sebelum saya puaskan, saya ingin Suster melayani saya dengan binal dan penuh gairah. Lepaskan semua hasrat terpendam Suster selama ini……!” Felix terus merayu Sr.leoni.
“JJA…JJAJJANGAN…….SSSSTT TOOPPP….. OOOOGHHHH…. SSTTOOPP………” “Yakin nih, mau berhenti….?” tanya Felix makin menggoda.
Felix memang menghentikan serangannya, tapi lalu dimulai lagi dengan lembut lalu makin lama makin ganas, panas dan bergairah. Dan ketika Sr.leoni untuk kesekian kalinya hampir mencapai orgasme, Felix berhenti.
“Ssstt….ayo Suster……buat apa Suster mempertahankan gengsi? Kalau dengan saya, nggak usah malu. Terus terang saya pun kagum dengan Suster. Jarang wanita punya daya seks sekuat Suster. Seandainya Suster bukan biarawati, pasti Suster sudah saya lamar untuk dijadikan istri!” Felix terus merayu Sr.leoni dengan perkataan dan rangsangannya.
Pukul 13:40 Hampir dua jam Felix menggauli Sr.leoni, akhirnya Sr.leoni menyerah……..
“AAAGGHHH…..AAGHHHH…..OOOO HHH…. ARRNOOOOLD…… BBE…BEBBBE…BBENARKAH YANG KKAU KATTT… TTA…TTAKAN?” “Suster ingin kenikmatan, kan ? Kalo mau, percayalah pada saya….. mari kita capai kenikmatan itu bersama-sama, Suster manis…..
Tapi sebelum itu, jawab dulu dua pertanyaan saya dan satu permintaan saya tadi” kata Felix berusaha meyakinkan Sr.leoni.
“NNNNA……NNNA……..NNNAMM MA… CCHHO…CCOWWOKK IT.. ITTU SANN…NNNO, MMURRID SSA..SSAYYA DDULU….. KKEJJA… JJADIANNYA TTIGATTA… TTAHUNN LALU DDI..DDI… RRUANG UKS…SSE.. SSSEEKKOLAHHH………….” Sr.leoni pun menceritakan pengalaman pertamanya itu.
“SSSA…SSA…SSA….SSSAA YYYA MMO…MMOHHON, fel..felixx.. SUDI MMEMMME…MMMEMMUASKKHAN SSA.. SSAYA…” Sr.leoni memohon-mohon sambil meronta dan menggeliat. “Ssssttt….. masih ada permintaaan saya yang Suster belum penuhi…..” kata Felix sambil mengedipkan mata.
“AA…AAAPPPA ITU, Felixxx..SSA…SSSHAYANNGG….” Sr.leoni pun rupanya berusaha merayu Felix dengan panggilan ’sayang’ agar ia cepat dipuaskan.
“Ah, masa lupa…?? Hayoo…. apa…?? Jangan malu, Susterku sayang! Ayo katakan, Sayang………” Felix menyeringai nakal.
“SSA…SSSA…. SSAYYA RRE..RRELLA MME… MMELAYY… YYANI ARR…RRNOLD…”
“Suster mau bermain seks dengan binal?” tanya Felix. Sr.leoni mengangguk lemah.
“Jangan cuma mengangguk, Suster leoni sayang…….., katakan bahwa Suster juga mau bermain seks dengan binal demi kepuasan kita berdua” kata Felix lembut tetapi mengandung ketegasan dan perintah.
“SSA…SSA…YYA RRELA MME..MMEMMMELLAYYANI ARR.. RRNOLD DDE…DDENGAN BINAL…… DDE..DDEMI KKEBAHAGGIAAAN KKITA BBE..BBEBBBERRDUA…… AAAAGGGHHH……. TTU TTUTTUNNGGU APP…PPPPA LLAGGI, ARRR..RRNOLD SSA..SSAYYANG?” kata Sr.leoni makin memelas.
Felix tersenyum, lalu ia mulai menggarap Sr.leoni dengan lebih bergairah. Rontaan dan geliat Sr.leoni kini berubah menjadi gerakan-gerakan erotis yang liar dan binal. Jeritan dan rintihan Sr.leoni kini menjadi erangan penuh kenikmatan saat mereka berpacu menuju puncak birahi. Sr.leoni ternyata sangat binal. Erotismenya liar sekali. Pengalaman pertamanya yang lama belum terulang membuatnya haus seks luar biasa. Ia bagaikan musafir yang penuh dahaga. Felix memenuhi janjinya. Dibawanya Sr.leoni menuju puncak birahi, seluruh daya seksnya dikerahkan untuk merangsang Sr.leoni. Mulut, leher, belahan payudara, payudara dan putingnya dilalap oleh Felix dengan penuh nafsu.
Vagina Sr.leoni digenjot dan dijelajahi oleh Felix, termasuk bagian G-spotnya (bagian tersensitif dalam vagina wanita). Keperkasaan Felix diimbangi oleh kebinalan Sr.leoni. Pukul 15:55 Akhirnya setelah lebih dari 4 jam Felix menggaulinya, Sr.leoni merasa bahwa orgasmenya tak mungkin ditahan lagi. Felix pun menyadarinya. Tanda-tanda itu jelas terlihat dan terasakan olehnya. Payudara Sr.leoni mengencang, putingnya menegang disertai mengerasnya jepitan vagina Sr.leoni. Gerakannya makin erotis. Dadanya membusung, seolah menyodorkan dan menawarkan payudaranya seluruhnya penuh damba.
Dengan penuh gairah, Felix menyemburkan seluruh spermanya ke dalam vagina Sr.leoni, sambil mengenyot puting payudara Sr.leoni, bergantian kiri dan kanan. Sr.leoni memekik tatkala dirasakannya cairan hangat memenuhi vaginanya. Rasa nikmat itu sungguh luar biasa. Rasa nikmat itu terasakan di sekujur tubuhnya, terutama di bagian dalam vaginanya dan di puting payudaranya.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAGGGGGHHHHHHH HHH…………. AAAAAAAAGGGHBB …….” pekikannya itu diredam oleh kuluman mulut Felix.
Setelah semburan puncak birahi selama beberapa detik yang berharga itu, mereka lunglai lemas. Penis Felix bersarang di vagina Sr.leoni yang kini sudah banjir oleh sperma dan cairan vaginanya sendiri. Mereka tertidur dalam kebahagiaan seksual. ……..…Cerita Sex Biarawati – Semasa kuliahnya Sr. leoni pernah menonton film xxx dan membaca beberapa buku buku dewasa. Pada masa awalnya sebagai suster, Sr. leoni pernah satu kali melakukan hubungan seksual dengan murid di sekolah tempatnya mengajar. Hilangnya keperawanan itu begitu membekas sehingga dia kerap merindukan saat-saat menggairahkan itu. Sayang sekali muridnya itu telah pindah jauh ke luar kota.
Sebagai seorang suster yang tidak boleh menikah dan tidak diperbolehkan melakukan hubungan seksual, perbuatan Sr. leoni itu tentu saja merupakan pelanggaran yang sangat berat. Tapi selain Sr. leoni dan muridnya itu, tak seorangpun tahu mengenai aib itu. Untunglah Sr. leoni tidak sampai hamil karenanya.
“Ah…. toh cuma sekali saja, yang penting sekarang aku tidak pernah melakukannya lagi”, begitu pikir Sr. leoni tatkala ingatan tentang hubungan sex pertamanya itu terbayang kembali.
Sikap Sr.leoni yang seolah menantang dan menggoda para pria yang bertemu dengannya itu sebenarnya dimaksudkan untuk mengakrabkan diri, agar tidak dianggap sebagai suster yang angkuh dan sombong. Di saat-saat yang memerlukan pertimbangan dan pengambilan keputusan yang sulit, Sr. leoni tetap menjaga sikap tegasnya sebagai seorang suster.
Namun sikap Sr. leoni itu ditangkap lain oleh 4 orang pemuda yaitu Felix, Joni, Herman dan raffi. Keempat pemuda itu sepakat untuk menculik dan memperkosa Sr. leoni. Tempat untuk itu sudah dipersiapkan, sebuah vila di tengah-tengah kebun teh yang terpencil. Jarak dari villa tersebut ke desa terdekat kira-kira 6 kilometer. Sebuah tempat ideal untuk bermain seks, apalagi hawa daerah itu yang cukup dingin dianggap cocok untuk berhangat-hangat dengan tubuh Sr. leoni yang sintal itu.
Di pagi hari yang masih dingin, Sr. leoni berjalan dari gedung biara ke gedung sekolah tempatnya mengajar, yang letaknya tidak terlalu jauh. Karena hari masih sangat pagi, jalanan sepi. Hal ini dimanfaatkan oleh keempat pemuda itu yang sudah mengamati kebiasaan Sr. leoni selama beberapa waktu.
Tiba-tiba sebuah mobil dengan pintu tengah model geser berhenti mendadak, memepet Sr. leoni. Sr. leoni yang terkejut tak sempat bereaksi apa-apa saat Felix dan Joni melompat turun dan menyeretnya masuk mobil. Dalam mobil, Herman telah menyiapkan chloroform yang dibekapkan ke mulut Sr. leoni. Tanpa sempat menjerit, Sr.leoni langsung pingsan terbius chloroform. raffi yang mengemudikan mobil itu langsung tancap gas ke villa yang telah mereka persiapkan.
Sesampai di villa mereka mendudukkan Sr. leoni di kursi rendah dan mengikat tangannya di belakang sandaran kursi itu. Payudara di dada Sr. leoni yang naik turun seiring napasnya itu makin membuat mereka bernafsu. Mereka telah sepakat membagi-bagi ‘jatah’. Jatah pertama untuk urusan ‘karaoke’ atau oral seks adalah Herman. Joni kebagian penetrasi vagina pertama, sedangkan Felix yang merupakan pemimpin di antara mereka bertugas melucuti pakaian Sr. leoni. Ia juga mendapat kehormatan sebagai yang pertama menikmati dan menjilati payudara serta vagina Sr. leoni. raffi sendiri kebagian jatah menggarap mulut dan leher Sr. leoni.
Pukul 07:22 Sr. leoni tersadar dari pingsannya. Perlahan-lahan ingatannya pulih dari pengaruh chloroform, begitu pula tenaganya berangsur-angsur kembali seperti sediakala. Menyadari dirinya diikat, Sr. leoni meronta, tapi ikatan itu terlalu kuat. Sia-sialah ia meronta. Sr. leoni melihat ke sekeliling ruangan tempat ia diikat. Ia ditempatkan di ruangan berukuran besar. Pintu ruangan itu tertutup dan terletak agak jauh di sisi kirinya. Di tengah ruangan, terhampar kasur tebal yang juga berukuran besar.
Ia diikat di sebuah kursi rendah. Kira-kira 4 meter di depannya ada sebuah kursi lain yang jauh lebih tinggi daripada kursi tempatnya diikat. Ia heran karena belum pernah melihat kursi setinggi itu dan juga tidak tahu apa gunanya. Pukul 07:24 Sr.leoni tersentak terkejut karena tiba-tiba pintu ruangan itu membuka dan masuklah 4 orang pemuda berbadan kekar. Keempat pemuda itu dikenalnya, karena beberapa kali pernah bertemu. Yang lebih membuat Sr.leoni terkejut lagi adalah karena keempat pemuda itu dalam keadaan telanjang bulat. Penis mereka mengacung tanda birahi. Semuanya berukuran besar. Paling panjang adalah milik Felix, panjangnya kira- kira 25 cm dan berdiameter 8 cm. Namun penis Joni, Herman dan raffi pun panjang. Rata-rata panjangnya mencapai 20-an cm dan diameternya 5 cm.
Keempat pemuda itu menyeringai nakal.
“Halo, Suster….menggairahkan sekali bukan, suasana pagi ini ?” begitu sapa Felix sambil terus menyeringai.
“MAU APA KALIAN ? LEPASKAN SAYA !!” Sr.leoni masih mencoba meronta.
“Hmmm….. jangan pura-pura alim deh, Suster tentu tahu apa yang kami mau. Suster akan kami ajari beberapa permainan menyenangkan yang takkan pernah Suster lupakan” giliran Joni bersuara.
Keempat pemuda itu terbahak-bahak mendengar perkataan Joni. Jantung Sr.leoni berdebar keras. Ia sadar dirinya akan jadi ’santapan’ keempat pemuda telanjang itu. Ia sadar, dirinya takkan mampu melawan mereka.
“Jangankan melawan keempatnya, melawan seorang saja aku belum tentu mampu”, demikian pikirnya kalut.
“Felix, LEPASKAN SAYA !! KALAU TIDAK SAYA AKAN BERTERIAK-TERIAK SAMPAI TETANGGA MENDENGARNYA !!”
“Ha…ha…ha… silakan berteriak, kita berada di tengah kebun teh yang sepi. Jarak terdekat ke rumah orang kira-kira 6 kilometer !” Felix berkata sambil tertawa.
Pukul 07:26 Sr.leoni makin panik mendengar hal itu. Ketakutannya kian terbukti. Dirinya akan diperkosa beramai-ramai oleh keempat pemuda itu. Ia terus meronta-ronta hendak melepaskan diri. “Lebih baik melawan daripada menyerah sama sekali. Jika aku diperkosa, setidak- tidaknya aku sudah melawan”, begitu pikir Sr.leoni.
“Ha…ha…ha… rontaanmu sungguh menggairahkan, Suster ! Ayo, teman-teman, kita mulai !!” seru Felix.
Mereka menarik kursi tinggi yang tadi dilihat Sr.leoni, sehingga tepat berada di hadapan Sr.leoni. Kursi itu memang dibuat untuk tujuan khusus, yaitu sebagai sarana ‘karaoke paksa’ bagi korban-korban keempat pemuda itu. Herman duduk di atas kursi tinggi itu dan memegang rambut dan kepala Sr.leoni yang masih terbungkus slayer (kerudung penutup kepala bagi suster-suster) hingga tidak dapat bergerak.
“Ayo kulum punya saya, Suster ! Cicipi sarapanmu pagi ini: kontol split, variasi seksual dari banana spilit, ha…ha…ha…” sambil berkata begitu Herman menarik kepala Sr.leoni.
Ia memajukan penisnya mendekati muka Sr.leoni sambil menjepit hidung Sr.leoni untuk membuat Sr.leoni membuka mulutnya. Ketika Sr.leoni kehabisan nafas dan membuka mulutnya untuk menghirup udara, Herman mendorong penisnya ke dalam mulut Sr.leoni. Laki-laki itu berhenti begitu bibir Sr.leoni telah melingkar di penisnya dan mulai mendorong dan menarik kepala Sr.leoni. Kepala Sr.leoni bergerak maju dan mundur terus menerus. Saat kepala penis itu masuk ke tenggorokannya Sr.leoni tersedak, tapi Herman tetap mendorong hingga kepala penis itu masuk lebih dalam di tenggorokan Sr.leoni. Sr.leoni dipegangi agar tak bergerak dengan penis yang terbenam hingga tenggorokannya, sementara mereka berbicara satu sama lain.
“Enak, lho ! Hangat-hangat empuk ! Tapi gua pikir dia musti banyak berlatih soal beginian.” kata Herman.
“Mungkin dia belon pernah pake mulutnya buat karaoke. Gimana, Suster?” tanya Joni penuh nafsu.
“Bisa nggak makan kontol split, Sr.leoni sayang?” tanya Felix.
“Terang aja dia bisa ! Mulutnya nggak dipake buat makan nasi doang tau?! Liat aja, punya gua dijepit sama bibirnya, kan?” kata Herman.
Tangan Herman kemudian menjambak rambut Sr.leoni dan mulai menggerakannya lagi dengan kasar membuat penisnya kembali bergerak keluar masuk di mulut Sr.leoni. Semua orang dapat mendengar erangan Sr.leoni yang terdengar setiap kali penis itu masuk jauh ke tenggorokannya. Ketika Herman akan mengalami ejakulasi ia menarik kepala Sr.leoni hingga terbenam dalam-dalam di rimbunan rambut kemaluannya. Sperma langsung menyembur keluar memenuhi mulut Sr.leoni. Dan dari sudut mulut Sr.leoni sperma menetes keluar, mengalir turun, menggantung di dagu Sr.leoni.
“Aaaaaaggghhhhh……. enak, Suster ! Terus telan semua sperma saya, kalo nggak, saya bakal terus menekan kepala Suster kaya gini!” Kemudian Herman mulai bergerak lagi.
Sperma terus mengalir keluar, jatuh dari leher Sr.leoni ke atas pakaian putih yang dikenakan Sr.leoni. Ketika akhirnya ia menarik penisnya dari mulut Sr.leoni, Sr.leoni megap-megap menarik nafas dan tersedak saat berusaha menelan sisa sperma yang masih ada di mulutnya. Sr.leoni sendiri lunglai tak berdaya setelah baru saja ia mengalami shock, merasakan sperma yang disemburkan masuk ke dalam mulutnya. Pelan tapi pasti Felix membuka kancing-kancing baju Sr.leoni. Begitu kancing-kancing yang terletak di bagian dada itu terbuka, tampaklah dua payudara montok membulat yang terbungkus BH putih berenda. Puting susu Sr.leoni tampak menonjol dari balik BH yang tipis itu. Felix mengecup dan mencaplok (menyupang) payudara Sr.leoni dengan bibirnya, satu demi satu. Kiri, lalu kanan.
Ia sengaja tidak mengulum putingnya, menyisakan kenikmatan itu untuk tahap selanjutnya. Meskipun payudara Sr.leoni masih terbungkus BH, namun Felix dapat merasakan ketegangan yang timbul akibat rangsangannya. “Aah, Suster, kau punya payudara yang menggairahkan” kata Felix kagum.
“LEPASKAN, BANGSAT!! LEPASKAAAAAAANN!!”
“Tenang, Suster…… kami akan buat Suster menikmati dan ketagihan seks!” kata raffi.
Tanpa diduga Sr.leoni, Felix menghentikan ’serbuannya’. kini giliran Joni duduk di kursi tinggi itu. S ama seperti Herman, ia menyodorkan penisnya untuk dikaraoke oleh Sr.leoni. Bedanya, raffi menahan ejakulasinya. Ia bertekad menghemat spermanya untuk session berikutnya. Begitu hendak ejakulasi, posisinya digantikan oleh Felix, lalu kemudian oleh Joni. Mereka berdua pun sama seperti raffi, menahan ejakulasi untuk tahap perkosaan selanjutnya. Menyimpan sperma untuk kenikmatan berikutnya.
Pukul 08:45 Kursi tinggi itu disingkirkan dari hadapan Sr.leoni.
“Nah, Suster manis, sekarang gantian, ya. Kami pun ingin sarapan. Gimana kalo Suster sediakan omelettte vagina ? Ha…ha…ha…” Felix tertawa sambil berjongkok di depan Sr.leoni, lalu melucuti rok bawah dan celana dalam Sr.leoni.
Usaha itu harus dibantu oleh Joni dan raffi yang masing-masing memegangi kaki Sr.leoni, karena Sr.leoni tak hentinya meronta dan menggeliat. Sebenarnya Sr.leoni sudah mulai terangsang ketika Felix menggarap payudaranya.
“Celaka!! Felix membuatku terangsang, padahal payudaraku masih terbungkus BH. Apa jadinya kalau aku sudah telanjang ?? Aku harus terus melawan. Aku takkan pasrah begitu saja!!” Sr.leoni berpikir dengan panik bercampur cemas.
Setelah rok bawah dan celana dalam Sr.leoni terlucuti, tampaklah vagina Sr.leoni yang berwarna kemerahan dan ditumbuhi sedikit bulu-bulu halus. Tanpa ragu Felix menggarap vagina itu. Pertama-tama ia menciumi vagina itu, lalu sedikit demi sedikit mulutnya menyeruak masuk ke bagian dalam. Lidahnya mencari-cari clitoris Sr.leoni. Begitu ditemukan, clitoris itu dijilat dan dikulumnya dengan penuh nafsu.
“Hhmm…..mmnnyemm…ccp…slu uurppp” Felix dengan bernafsu menyantap clitoris Sr.leoni. Ia sama sekali tidak mengacuhkan Sr.leoni yang merintih dan memohon agar semuanya ini dihentikan.
“AAAAAGGHHH…….STOP…..SSS STTOOOPPPP……ARRRNNNOOLLLD, TTO.. TTOOLONGG SS… SSSTOOPPP…………. ADUUUUUHHH………… HHE… HENTIKAAAAN, OOOHHHH…. HHE.. HHENTTIKAAAAAN!!!!”
“Alaaa, Suster…… bilang aja enak, gitu…. Emangnya kalo udah enak kaya gini, Suster mau berhenti ?” tanya raffi gemas.
“AAAAGGHHH…… ENAK ATAU TIDAK, SAYA TIDAK MAU INI DITERUSKAN!! TOLONG JANGAN RANGSANG SAYA TERUS!!” Sedetik kemudian Sr.leoni sadar bahwa ia kelepasan omong !!
“Ah, jadi Suster sudah terangsang, ya ? Hei, ayo kita rangsang terus sampe dia nyerah!!” Joni berkata dengan penuh semangat.
Sementara itu dari arah samping, Herman menggarap payudara Sr.leoni yang masih terbungkus BH. Sr.leoni menjerit putus asa ketika Felix meningkatkan volume serangannya. Kini ia juga menggigit-gigit clitoris Sr.leoni, sehingga tak ayal lagi Sr.leoni makin mengggelinjang-gelinjang. Jeritan Sr.leoni teredam oleh raffi yang mengulum bibirnya dengan penuh nafsu. Aksi raffi tidak di situ saja, melainkan juga menggarap leher Sr.leoni. ia menyupangnya, menjadikan leher Sr.leoni penuh bekas kemerahan. raffi kembali mengulum mulut Sr.leoni dalam mulutnya. Lidahnya menjelajahi mulut Sr.leoni dengan penuh nafsu.
Sementara itu Sr.leoni tak hentinya meronta. Rontaannya seolah terbagi dua, hendak menghentikan perkosaan ini tapi juga menikmati gairah birahinya yang kian memuncak. Vagina Sr.leoni sudah basah oleh cairan yang keluar dari kelenjar seksualnya. Ia kini tak dapat memungkiri lagi. Ia tahu, keempat pemerkosanya pun tahu, bahwa kini Sr.leoni sudah terangsang. Pukul 09:01 Felix mengentikan ’sarapan’-nya dan posisinya digantikan oleh Herman. Posisi Herman yang menggarap payudara Sr.leoni digantikan oleh Joni yang juga sudah tak sabar lagi mencicipi tubuh Sr.leoni. Felix tersenyum melihat teman-temannya begitu bersemangat menggarap Sr.leoni. Bergantian mereka menyantap vagina Sr.leoni sampai mereka puas.
Pukul 09:49 Sr.leoni lunglai……. ia kelelahan merasakan kenikmatan gairah yang timbul akibat rangsangan pada payudara dan vaginanya.
“Aduh….. payudaraku masih terbungkus BH dan mereka belum melakukan penetrasi, tapi aku sudah begini terangsang. Apa jadinya nanti? Bagaimana jika aku ‘kalah’ ? Haruskah aku menyerah pada mereka? Tidak…tidaaaaakkk!!” Sr.leoni berpikir makin kalut.
Ia cemas atas nasibnya di tangan keempat pemuda ini. Ia malu jika harus mengakui ‘kekalahannya’ ini. Pukul 09:50 Belum sempat Sr.leoni pulih dari kelelahannya, Felix dan Joni melepaskan Sr.leoni dari ikatannya. Mereka menyeret Sr.leoni dan menghempaskannya ke kasur besar di lantai tengah ruangan itu. Kesempatan ini dipakai oleh Sr.leoni untuk berusaha kabur, tapi usahanya itu kandas ketika Herman dan raffi memegangi tangan dan kakinya. Kedua tangan Sr.leoni direntangkan sambil terus dipegangi oleh Herman. raffi dan Felix masing-masing memegangi kakinya yang juga direntangkan lebar-lebar. Joni mulai merendahkan dan hendak menelungkupkan tubuhnya, siap mempenetrasi lubang vagina Sr.leoni dengan penisnya yang besar dan panjang.
Sr.leoni panik, ia makin meronta-ronta dan menggeliat-geliat.
“LEPASKAN!! OH!! LEPASKAN!! KALIAN MEMANG BANGSAT!! AAAGHHH…….. HENTIKAN……. LEPASKAN, BANGSAAAAATT!!” Sr.leoni menjerit-jerit.
“Wah, kok seorang suster ngomongnya kasar gitu ? Kalem aja, Suster sayang……. kami pasti bisa bikin Suster merasa nikmat. Ayo mulai, Joni!” kata Felix sambil tersenyum.
Joni tidak segera mempenetrasi Sr.leoni. Ia menunggu hingga Felix selesai merenggut BH putih tipis yang berenda itu. Pelindung terakhir payudara Sr.leoni pun terbuka, mempertontonkan dua bukit kembar yang amat menggiurkan birahi. Mereka semua mendesis menyaksikan kemolekan payudara Sr.leoni. Dengan ganas Joni mulai mempenetrasi Sr.leoni. Ia menggenjotnya dengan kuat dan mantap. Karena baru sekali berhubungan seks, vagina itu masih sempit sekali. Penis Joni serasa dijepit oleh sesuatu yang hangat dan kenyal.
Namun walau begitu, Joni bisa merasakan bahwa Sr.leoni tidak lagi memiliki selaput dara, tanda keperawanan.
“Astaga!!!! Suster kita ini rupanya udah pernah ngentot!! Selaput daranya udah hilang!!” Joni berseru kaget.
“Haa? Biarawati kan nggak boleh ngentot, gimana bisa hilang, hah??” Felix juga tak kalah kaget.
“Naaaahhh….. ketahuan deh….. rupanya diam-diam dia binal juga. Ngentot sama siapa, Suster?” Herman bertanya. “AAAAGHHH, LEPASKKAAAANNN……. SAYA CUMA SEKALI… OHHHHH….TIDAK…TIDDAAAKKKK” Lagi-lagi Sr.leoni kelepasan omong !!
“Astaga, kenapa aku ini, aku kelepasan omong lagi! Kenapa aku nggak bilang saja aku dulu pernah diperkosa?” Sr.leoni berpikir dengan rasa putus asa dan sesal yang mendalam.
“Lhooo…. dia ngaku rupanya… hayooo sama siapa, Suster?” tanya Felix.
“AGGGHHHH…….GGGHHHH… .. JJA…JAA…JJAANGANHH…. HHHAARRAP SSA….SSAYA MAU BBBI… BBI…BILANGG…GHHHH” Sr.leoni terus merintih dan mendesah.
“Ah, nanti juga Suster pasti mau bilang. Saya punya ‘resep khusus’ supaya Suster mau bilang, siapa yang ngejebol selaput dara Suster yang pertama itu” kata Felix.
Tanpa belas kasihan Joni menggenjot Sr.leoni. Payudara Sr.leoni yang sudah tak berpelindung BH itupun digarap oleh Joni, bersamaan dengan Felix yang memegangi tangan Sr.leoni. Mereka menjilat, menyupang dan menggigiti payudara Sr.leoni. Kali ini puting payudara Sr.leoni yang berwarna coklat kemerahan itu ikut menjadi sasaran serbuan. Sr.leoni terus meronta dan menggelinjang. Vagina Sr.leoni benar-benar sempit. Vagina itu menjepit dengan ketat serta berdenyut-denyut terus-menerus. Penis Joni yang berada di dalam vaginanya terasa bagaikan diremas-remas dengan keras.
“Layani ketiga teman saya dulu, Suster. Setelah itu saya ada kejutan buat Suster!” kata Felix sambil nyengir.
Pukul 10:27 Akhirnya Joni pun tidak tahan lagi, saat tubuh Sr.leoni mengejang karena sampai pada puncak kenikmatan (orgasme), Joni mempercepat gerakan naik turun sampai spermanya menyembur-nyembur ke dalam vagina Sr.leoni. Joni tidak langsung menarik penisnya keluar dari vagina Sr.leoni. Ia ingin merasakan kehangatan vagina Sr.leoni setelah lelah menggenjotnya. Pukul 10:31 Joni menarik penisnya keluar. Kelegaan Sr.leoni tak berlangsung lama karena raffi menggantikan peran Joni. Kini giliran raffi mempenetrasi vagina Sr.leoni. raffi pun mulai berpacu menuju puncak birahi. Genjotannya agak berbeda dengan gaya genjotan Joni. Kalau Joni menggenjot dengan ganas dan cepat, raffi menggenjot lebih pelan tapi sambil menghunjamkan penisnya dalam-dalam ke vagina Sr.leoni. Penetrasi raffi lebih dalam daripada Joni.
Hal ini membuat Sr.leoni makin kelimpungan. Ia menggelinjang setiap kali penis raffi menghunjam dalam-dalam. Tentu saja urusan penggarapan payudara pun tidak dilupakan raffi. Mana ada pria normal yang mau melewatkan kesempatan mencicipi payudara indah milik Sr.leoni!! Tapi rupanya Sr.leoni ini bukan wanita dengan seksualitas biasa- biasa saja. Ketahanan seksualnya sungguh luar biasa. Wanita normal biasanya akan orgasme setelah penetrasi dan rangsangan selama kira- kira 5 sampai 10 menit, tapi rupanya Sr.leoni ini mampu berlama- lama mencapai orgasme. Ia gampang atau cepat terangsang, tapi lama mencapai orgasme. Sungguh suatu tantangan tersendiri bagi kaum pria!! Pukul 11:04 Seperti Joni, raffi pun harus menunggu sampai setengah jam sebelum ada tanda-tanda bahwa Sr.leoni akan mencapai orgasme.
Ketika ia merasa bahwa otot vagina Sr.leoni makin kencang menjepit penisnya dan payudara Sr.leoni pun mulai mengeras, raffi pun makin memperdalam hunjaman penisnya dan menyemprotkan spermanya ke dalam vagina Sr.leoni. Ia menggeletak lemas di atas tubuh Sr.leoni yang juga lunglai kelelahan.
Pukul 11:08 Setelah raffi, kini giliran Herman. Karena spermanya sudah terkuras akibat karaoke paksa pada awal perkosaan ini, Herman membutuhkan waktu agak lama mencapai ejakulasi dibanding kedua pendahulunya. Tipe genjotan Herman merupakan gabungan gaya genjotan Joni dan raffi. Brutal dan dalam. Hal ini membuat Sr.leoni tak mampu menghentikan rontaannya. Ia sebenarnya sudah lelah meronta, tapi gaya genjotan Herman sungguh membuatnya tak bisa pasrah begitu saja.
Pukul 11:44 Sperma yang disemburkan Herman tidak sebanyak Joni ataupun raffi, tapi makin membuat vagina Sr.leoni makin banjir karena leleran sperma dan juga cairan vagina Sr.leoni sendiri. Setelah mencabut penisnya dari vagina Sr.leoni, Herman menggeletak lemas.
Pukul 11:47
“Nah, gimana, Suster ? Ngaku deh…. siapa sih cowok beruntung yang merebut mahkota kewanitaan Suster?” tanya Felix.
“HHJJJHHAA….JJJA…JJANGAN.. .. HHA…HHHA…HHHHARRAPP SSA… SSAYA MMAU NGG…NNGG…NNGGAAKKU” kata Sr.leoni tersengal kelelahan.
“Coba saya lihat, sampai seberapa jauh Suster tahan terhadap saya! Akan saya buat Suster memohon-mohon minta diberi orgasme!” kata Felix. “JJJA…JJANGAN HARAP SAYA MENYERAH, BANGSAT!!!!”
Pukul 11:48 Tanpa ba bi bu lagi Felix menghunjamkan penisnya ke dalam vagina Sr.leoni. Ketiga teman Felix kini sudah tergeletak. Satu demi satu tertidur kelelahan. Mereka tak menyangka suster ini mampu membuat mereka lemas karena nikmat. Tanpa ada yang memeganginya lagi, Sr.leoni mencoba sekali lagi untuk berontak. Tapi Felix yang sudah dikuasai nafsu birahi itu mampu menahannya. Felix memegang kedua tangan Sr.leoni dan merentangkannya lebar-lebar. Yang lebih tak disangka lagi oleh Sr.leoni adalah gaya genjotan Felix yang luar biasa. Felix mampu memadukan berbagai gaya dan rangsangan. Payudara ? Ah, payudara Sr.leoni kini dipenuhi bekas cupangan berwarna merah.
Putingnya makin memerah karena hisapan, gigitan dan kenyotan bibir Felix. Mulut Felix beraksi silih berganti antara payudara, belahan payudara, leher dan bibir Sr.leoni. Saat berciuman, mulut Sr.leoni dikuasai dan dijelajahi sepenuhnya oleh Felix. Genjotannya bervariasi antara lembut dan dalam, dangkal dan cepat, brutal dan mengoyak, dan sebagainya. Bagi Felix, seolah Sr.leoni merupakan inspirasi seksualitas tanpa batas.
“Nnnaaahhh…. Susterku sayang….. siapa cowok beruntung itu…hhmmm…? Ayo jawab, Suster sayang!” kata Felix di sela-sela genjotannya.
“JJHHJA…… JJJHA…JJJANGAN HHHA… HHA..RRAP SSS… SS.. SSAYA MAU KKATT …TTA….TTTAKAN….” Di saat Sr.leoni hendak mencapai klimaks, Felix menghentikan genjotannya, membuat Sr.leoni penasaran.
“Ayo, Suster…… siapa ?” tanya Felix menggoda. Sr. leoni tidak menjawab, ia hanya meronta-ronta dengan liar.
Maka Felix pun mulai lagi merangsang mulai dari bibir, leher, lalu turun ke belahan payudaranya. Puting payudara Sr.leoni yang seolah menunggu untuk digarap, dibiarkannya dahulu. Hal ini membuat Sr.leoni makin penasaran. Sr.leoni meronta-ronta, menggeliat-geliat dan menggelinjang-gelinjang dengan liar. Felix yang sudah berpengalaman menghadapi wanita binal, mengetahui dengan pasti bahwa semua rontaan Sr.leoni itu adalah hasrat terpendamnya untuk dipuaskan secara total.
“SShhh…..shhh…. Suster…. saya akan puaskan Suster kalo Suster mau bilang ke saya dua hal. Pertama, siapa cowok yang mengambil keperawanan Suster, lalu kedua: Suster harus memohon pada saya untuk dipuaskan. Pikirkanlah, Suster….. bayangkan kenikmatan yang bisa saya berikan….. Pokoknya, Suster akan saya puaskan setelah Suster menjawab pertanyaan saya dan melakukan permintaan saya. Oh ya,.. satu lagi. Sebelum saya puaskan, saya ingin Suster melayani saya dengan binal dan penuh gairah. Lepaskan semua hasrat terpendam Suster selama ini……!” Felix terus merayu Sr.leoni.
“JJA…JJAJJANGAN…….SSSSTT TOOPPP….. OOOOGHHHH…. SSTTOOPP………” “Yakin nih, mau berhenti….?” tanya Felix makin menggoda.
Felix memang menghentikan serangannya, tapi lalu dimulai lagi dengan lembut lalu makin lama makin ganas, panas dan bergairah. Dan ketika Sr.leoni untuk kesekian kalinya hampir mencapai orgasme, Felix berhenti.
“Ssstt….ayo Suster……buat apa Suster mempertahankan gengsi? Kalau dengan saya, nggak usah malu. Terus terang saya pun kagum dengan Suster. Jarang wanita punya daya seks sekuat Suster. Seandainya Suster bukan biarawati, pasti Suster sudah saya lamar untuk dijadikan istri!” Felix terus merayu Sr.leoni dengan perkataan dan rangsangannya.
Pukul 13:40 Hampir dua jam Felix menggauli Sr.leoni, akhirnya Sr.leoni menyerah……..
“AAAGGHHH…..AAGHHHH…..OOOO HHH…. Felix…… BBE…BEBBBE…BBENARKAH YANG KKAU KATTT… TTA…TTAKAN?” “Suster ingin kenikmatan, kan ? Kalo mau, percayalah pada saya….. mari kita capai kenikmatan itu bersama-sama, Suster manis…..
Tapi sebelum itu, jawab dulu dua pertanyaan saya dan satu permintaan saya tadi” kata Felix berusaha meyakinkan Sr.leoni.
“NNNNA……NNNA……..NNNAMM MA… CCHHO…CCOWWOKK IT.. ITTU SANN…NNNO, MMURRID SSA..SSAYYA DDULU….. KKEJJA… JJADIANNYA TTIGATTA… TTAHUNN LALU DDI..DDI… RRUANG UKS…SSE.. SSSEEKKOLAHHH………….” Sr.leoni pun menceritakan pengalaman pertamanya itu.
“SSSA…SSA…SSA….SSSAA YYYA MMO…MMOHHON, fel.. ARRRNNOLD SUDI MMEMMME…MMMEMMUASKKHAN SSA.. SSAYA…” Sr.leoni memohon-mohon sambil meronta dan menggeliat. “Ssssttt….. masih ada permintaaan saya yang Suster belum penuhi…..” kata Felix sambil mengedipkan mata.
“AA…AAAPPPA ITU, Felixxx..SSA…SSSHAYANNGG….” Sr.leoni pun rupanya berusaha merayu Felix dengan panggilan ’sayang’ agar ia cepat dipuaskan.
“Ah, masa lupa…?? Hayoo…. apa…?? Jangan malu, Susterku sayang! Ayo katakan, Sayang………” Felix menyeringai nakal.
“SSA…SSSA…. SSAYYA RRE..RRELLA MME… MMELAYY… YYANI ARR…RRNOLD…”
“Suster mau bermain seks dengan binal?” tanya Felix. Sr.leoni mengangguk lemah.
“Jangan cuma mengangguk, Suster leoni sayang…….., katakan bahwa Suster juga mau bermain seks dengan binal demi kepuasan kita berdua” kata Felix lembut tetapi mengandung ketegasan dan perintah.
“SSA…SSA…YYA RRELA MME..MMEMMMELLAYYANI ARR.. RRNOLD DDE…DDENGAN BINAL…… DDE..DDEMI KKEBAHAGGIAAAN KKITA BBE..BBEBBBERRDUA…… AAAAGGGHHH……. TTU TTUTTUNNGGU APP…PPPPA LLAGGI, ARRR..RRNOLD SSA..SSAYYANG?” kata Sr.leoni makin memelas.
Felix tersenyum, lalu ia mulai menggarap Sr.leoni dengan lebih bergairah. Rontaan dan geliat Sr.leoni kini berubah menjadi gerakan-gerakan erotis yang liar dan binal. Jeritan dan rintihan Sr.leoni kini menjadi erangan penuh kenikmatan saat mereka berpacu menuju puncak birahi. Sr.leoni ternyata sangat binal. Erotismenya liar sekali. Pengalaman pertamanya yang lama belum terulang membuatnya haus seks luar biasa. Ia bagaikan musafir yang penuh dahaga. Felix memenuhi janjinya. Dibawanya Sr.leoni menuju puncak birahi, seluruh daya seksnya dikerahkan untuk merangsang Sr.leoni. Mulut, leher, belahan payudara, payudara dan putingnya dilalap oleh Felix dengan penuh nafsu.
Vagina Sr.leoni digenjot dan dijelajahi oleh Felix, termasuk bagian G-spotnya (bagian tersensitif dalam vagina wanita). Keperkasaan Felix diimbangi oleh kebinalan Sr.leoni. Pukul 15:55 Akhirnya setelah lebih dari 4 jam Felix menggaulinya, Sr.leoni merasa bahwa orgasmenya tak mungkin ditahan lagi. Felix pun menyadarinya. Tanda-tanda itu jelas terlihat dan terasakan olehnya. Payudara Sr.leoni mengencang, putingnya menegang disertai mengerasnya jepitan vagina Sr.leoni. Gerakannya makin erotis. Dadanya membusung, seolah menyodorkan dan menawarkan payudaranya seluruhnya penuh damba.
Dengan penuh gairah, Felix menyemburkan seluruh spermanya ke dalam vagina Sr.leoni, sambil mengenyot puting payudara Sr.leoni, bergantian kiri dan kanan. Sr.leoni memekik tatkala dirasakannya cairan hangat memenuhi vaginanya. Rasa nikmat itu sungguh luar biasa. Rasa nikmat itu terasakan di sekujur tubuhnya, terutama di bagian dalam vaginanya dan di puting payudaranya.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAGGGGGHHHHHHH HHH…………. AAAAAAAAGGGHBB …….” pekikannya itu diredam oleh kuluman mulut Felix.
Setelah semburan puncak birahi selama beberapa detik yang berharga itu, mereka lunglai lemas. Penis Felix bersarang di vagina Sr.leoni yang kini sudah banjir oleh sperma dan cairan vaginanya sendiri. Mereka tertidur dalam kebahagiaan seksual. ……..…Cerita Sex Biarawati – Semasa kuliahnya Sr. leoni pernah menonton film xxx dan membaca beberapa buku buku dewasa. Pada masa awalnya sebagai suster, Sr. leoni pernah satu kali melakukan hubungan seksual dengan murid di sekolah tempatnya mengajar. Hilangnya keperawanan itu begitu membekas sehingga dia kerap merindukan saat-saat menggairahkan itu. Sayang sekali muridnya itu telah pindah jauh ke luar kota.
Sebagai seorang suster yang tidak boleh menikah dan tidak diperbolehkan melakukan hubungan seksual, perbuatan Sr. leoni itu tentu saja merupakan pelanggaran yang sangat berat. Tapi selain Sr. leoni dan muridnya itu, tak seorangpun tahu mengenai aib itu. Untunglah Sr. leoni tidak sampai hamil karenanya.
“Ah…. toh cuma sekali saja, yang penting sekarang aku tidak pernah melakukannya lagi”, begitu pikir Sr. leoni tatkala ingatan tentang hubungan sex pertamanya itu terbayang kembali.
Sikap Sr.leoni yang seolah menantang dan menggoda para pria yang bertemu dengannya itu sebenarnya dimaksudkan untuk mengakrabkan diri, agar tidak dianggap sebagai suster yang angkuh dan sombong. Di saat-saat yang memerlukan pertimbangan dan pengambilan keputusan yang sulit, Sr. leoni tetap menjaga sikap tegasnya sebagai seorang suster.
Namun sikap Sr. leoni itu ditangkap lain oleh 4 orang pemuda yaitu Felix, Joni, Herman dan raffi. Keempat pemuda itu sepakat untuk menculik dan memperkosa Sr. leoni. Tempat untuk itu sudah dipersiapkan, sebuah vila di tengah-tengah kebun teh yang terpencil. Jarak dari villa tersebut ke desa terdekat kira-kira 6 kilometer. Sebuah tempat ideal untuk bermain seks, apalagi hawa daerah itu yang cukup dingin dianggap cocok untuk berhangat-hangat dengan tubuh Sr. leoni yang sintal itu.
Di pagi hari yang masih dingin, Sr. leoni berjalan dari gedung biara ke gedung sekolah tempatnya mengajar, yang letaknya tidak terlalu jauh. Karena hari masih sangat pagi, jalanan sepi. Hal ini dimanfaatkan oleh keempat pemuda itu yang sudah mengamati kebiasaan Sr. leoni selama beberapa waktu.
Tiba-tiba sebuah mobil dengan pintu tengah model geser berhenti mendadak, memepet Sr. leoni. Sr. leoni yang terkejut tak sempat bereaksi apa-apa saat Felix dan Joni melompat turun dan menyeretnya masuk mobil. Dalam mobil, Herman telah menyiapkan chloroform yang dibekapkan ke mulut Sr. leoni. Tanpa sempat menjerit, Sr.leoni langsung pingsan terbius chloroform. raffi yang mengemudikan mobil itu langsung tancap gas ke villa yang telah mereka persiapkan.
Sesampai di villa mereka mendudukkan Sr. leoni di kursi rendah dan mengikat tangannya di belakang sandaran kursi itu. Payudara di dada Sr. leoni yang naik turun seiring napasnya itu makin membuat mereka bernafsu. Mereka telah sepakat membagi-bagi ‘jatah’. Jatah pertama untuk urusan ‘karaoke’ atau oral seks adalah Herman. Joni kebagian penetrasi vagina pertama, sedangkan Felix yang merupakan pemimpin di antara mereka bertugas melucuti pakaian Sr. leoni. Ia juga mendapat kehormatan sebagai yang pertama menikmati dan menjilati payudara serta vagina Sr. leoni. raffi sendiri kebagian jatah menggarap mulut dan leher Sr. leoni.
Pukul 07:22 Sr. leoni tersadar dari pingsannya. Perlahan-lahan ingatannya pulih dari pengaruh chloroform, begitu pula tenaganya berangsur-angsur kembali seperti sediakala. Menyadari dirinya diikat, Sr. leoni meronta, tapi ikatan itu terlalu kuat. Sia-sialah ia meronta. Sr. leoni melihat ke sekeliling ruangan tempat ia diikat. Ia ditempatkan di ruangan berukuran besar. Pintu ruangan itu tertutup dan terletak agak jauh di sisi kirinya. Di tengah ruangan, terhampar kasur tebal yang juga berukuran besar.
Ia diikat di sebuah kursi rendah. Kira-kira 4 meter di depannya ada sebuah kursi lain yang jauh lebih tinggi daripada kursi tempatnya diikat. Ia heran karena belum pernah melihat kursi setinggi itu dan juga tidak tahu apa gunanya. Pukul 07:24 Sr.leoni tersentak terkejut karena tiba-tiba pintu ruangan itu membuka dan masuklah 4 orang pemuda berbadan kekar. Keempat pemuda itu dikenalnya, karena beberapa kali pernah bertemu. Yang lebih membuat Sr.leoni terkejut lagi adalah karena keempat pemuda itu dalam keadaan telanjang bulat. Penis mereka mengacung tanda birahi. Semuanya berukuran besar. Paling panjang adalah milik Felix, panjangnya kira- kira 25 cm dan berdiameter 8 cm. Namun penis Joni, Herman dan raffi pun panjang. Rata-rata panjangnya mencapai 20-an cm dan diameternya 5 cm.
Keempat pemuda itu menyeringai nakal.
“Halo, Suster….menggairahkan sekali bukan, suasana pagi ini ?” begitu sapa Felix sambil terus menyeringai.
“MAU APA KALIAN ? LEPASKAN SAYA !!” Sr.leoni masih mencoba meronta.
“Hmmm….. jangan pura-pura alim deh, Suster tentu tahu apa yang kami mau. Suster akan kami ajari beberapa permainan menyenangkan yang takkan pernah Suster lupakan” giliran Joni bersuara.
Keempat pemuda itu terbahak-bahak mendengar perkataan Joni. Jantung Sr.leoni berdebar keras. Ia sadar dirinya akan jadi ’santapan’ keempat pemuda telanjang itu. Ia sadar, dirinya takkan mampu melawan mereka.
“Jangankan melawan keempatnya, melawan seorang saja aku belum tentu mampu”, demikian pikirnya kalut.
“Felix, LEPASKAN SAYA !! KALAU TIDAK SAYA AKAN BERTERIAK-TERIAK SAMPAI TETANGGA MENDENGARNYA !!”
“Ha…ha…ha… silakan berteriak, kita berada di tengah kebun teh yang sepi. Jarak terdekat ke rumah orang kira-kira 6 kilometer !” Felix berkata sambil tertawa.
Pukul 07:26 Sr.leoni makin panik mendengar hal itu. Ketakutannya kian terbukti. Dirinya akan diperkosa beramai-ramai oleh keempat pemuda itu. Ia terus meronta-ronta hendak melepaskan diri. “Lebih baik melawan daripada menyerah sama sekali. Jika aku diperkosa, setidak- tidaknya aku sudah melawan”, begitu pikir Sr.leoni.
“Ha…ha…ha… rontaanmu sungguh menggairahkan, Suster ! Ayo, teman-teman, kita mulai !!” seru Felix.
Mereka menarik kursi tinggi yang tadi dilihat Sr.leoni, sehingga tepat berada di hadapan Sr.leoni. Kursi itu memang dibuat untuk tujuan khusus, yaitu sebagai sarana ‘karaoke paksa’ bagi korban-korban keempat pemuda itu. Herman duduk di atas kursi tinggi itu dan memegang rambut dan kepala Sr.leoni yang masih terbungkus slayer (kerudung penutup kepala bagi suster-suster) hingga tidak dapat bergerak.
“Ayo kulum punya saya, Suster ! Cicipi sarapanmu pagi ini: kontol split, variasi seksual dari banana spilit, ha…ha…ha…” sambil berkata begitu Herman menarik kepala Sr.leoni.
Ia memajukan penisnya mendekati muka Sr.leoni sambil menjepit hidung Sr.leoni untuk membuat Sr.leoni membuka mulutnya. Ketika Sr.leoni kehabisan nafas dan membuka mulutnya untuk menghirup udara, Herman mendorong penisnya ke dalam mulut Sr.leoni. Laki-laki itu berhenti begitu bibir Sr.leoni telah melingkar di penisnya dan mulai mendorong dan menarik kepala Sr.leoni. Kepala Sr.leoni bergerak maju dan mundur terus menerus. Saat kepala penis itu masuk ke tenggorokannya Sr.leoni tersedak, tapi Herman tetap mendorong hingga kepala penis itu masuk lebih dalam di tenggorokan Sr.leoni. Sr.leoni dipegangi agar tak bergerak dengan penis yang terbenam hingga tenggorokannya, sementara mereka berbicara satu sama lain.
“Enak, lho ! Hangat-hangat empuk ! Tapi gua pikir dia musti banyak berlatih soal beginian.” kata Herman.
“Mungkin dia belon pernah pake mulutnya buat karaoke. Gimana, Suster?” tanya Joni penuh nafsu.
“Bisa nggak makan kontol split, Sr.leoni sayang?” tanya Felix.
“Terang aja dia bisa ! Mulutnya nggak dipake buat makan nasi doang tau?! Liat aja, punya gua dijepit sama bibirnya, kan?” kata Herman.
Tangan Herman kemudian menjambak rambut Sr.leoni dan mulai menggerakannya lagi dengan kasar membuat penisnya kembali bergerak keluar masuk di mulut Sr.leoni. Semua orang dapat mendengar erangan Sr.leoni yang terdengar setiap kali penis itu masuk jauh ke tenggorokannya. Ketika Herman akan mengalami ejakulasi ia menarik kepala Sr.leoni hingga terbenam dalam-dalam di rimbunan rambut kemaluannya. Sperma langsung menyembur keluar memenuhi mulut Sr.leoni. Dan dari sudut mulut Sr.leoni sperma menetes keluar, mengalir turun, menggantung di dagu Sr.leoni.
“Aaaaaaggghhhhh……. enak, Suster ! Terus telan semua sperma saya, kalo nggak, saya bakal terus menekan kepala Suster kaya gini!” Kemudian Herman mulai bergerak lagi.
Sperma terus mengalir keluar, jatuh dari leher Sr.leoni ke atas pakaian putih yang dikenakan Sr.leoni. Ketika akhirnya ia menarik penisnya dari mulut Sr.leoni, Sr.leoni megap-megap menarik nafas dan tersedak saat berusaha menelan sisa sperma yang masih ada di mulutnya. Sr.leoni sendiri lunglai tak berdaya setelah baru saja ia mengalami shock, merasakan sperma yang disemburkan masuk ke dalam mulutnya. Pelan tapi pasti Felix membuka kancing-kancing baju Sr.leoni. Begitu kancing-kancing yang terletak di bagian dada itu terbuka, tampaklah dua payudara montok membulat yang terbungkus BH putih berenda. Puting susu Sr.leoni tampak menonjol dari balik BH yang tipis itu. Felix mengecup dan mencaplok (menyupang) payudara Sr.leoni dengan bibirnya, satu demi satu. Kiri, lalu kanan.
Ia sengaja tidak mengulum putingnya, menyisakan kenikmatan itu untuk tahap selanjutnya. Meskipun payudara Sr.leoni masih terbungkus BH, namun Felix dapat merasakan ketegangan yang timbul akibat rangsangannya. “Aah, Suster, kau punya payudara yang menggairahkan” kata Felix kagum.
“LEPASKAN, BANGSAT!! LEPASKAAAAAAANN!!”
“Tenang, Suster…… kami akan buat Suster menikmati dan ketagihan seks!” kata raffi.
Tanpa diduga Sr.leoni, Felix menghentikan ’serbuannya’. kini giliran Joni duduk di kursi tinggi itu. S ama seperti Herman, ia menyodorkan penisnya untuk dikaraoke oleh Sr.leoni. Bedanya, raffi menahan ejakulasinya. Ia bertekad menghemat spermanya untuk session berikutnya. Begitu hendak ejakulasi, posisinya digantikan oleh Felix, lalu kemudian oleh Joni. Mereka berdua pun sama seperti raffi, menahan ejakulasi untuk tahap perkosaan selanjutnya. Menyimpan sperma untuk kenikmatan berikutnya.
Pukul 08:45 Kursi tinggi itu disingkirkan dari hadapan Sr.leoni.
“Nah, Suster manis, sekarang gantian, ya. Kami pun ingin sarapan. Gimana kalo Suster sediakan omelettte vagina ? Ha…ha…ha…” Felix tertawa sambil berjongkok di depan Sr.leoni, lalu melucuti rok bawah dan celana dalam Sr.leoni.
Usaha itu harus dibantu oleh Joni dan raffi yang masing-masing memegangi kaki Sr.leoni, karena Sr.leoni tak hentinya meronta dan menggeliat. Sebenarnya Sr.leoni sudah mulai terangsang ketika Felix menggarap payudaranya.
“Celaka!! Felix membuatku terangsang, padahal payudaraku masih terbungkus BH. Apa jadinya kalau aku sudah telanjang ?? Aku harus terus melawan. Aku takkan pasrah begitu saja!!” Sr.leoni berpikir dengan panik bercampur cemas.
Setelah rok bawah dan celana dalam Sr.leoni terlucuti, tampaklah vagina Sr.leoni yang berwarna kemerahan dan ditumbuhi sedikit bulu-bulu halus. Tanpa ragu Felix menggarap vagina itu. Pertama-tama ia menciumi vagina itu, lalu sedikit demi sedikit mulutnya menyeruak masuk ke bagian dalam. Lidahnya mencari-cari clitoris Sr.leoni. Begitu ditemukan, clitoris itu dijilat dan dikulumnya dengan penuh nafsu.
“Hhmm…..mmnnyemm…ccp…slu uurppp” Felix dengan bernafsu menyantap clitoris Sr.leoni. Ia sama sekali tidak mengacuhkan Sr.leoni yang merintih dan memohon agar semuanya ini dihentikan.
“AAAAAGGHHH…….STOP…..SSS STTOOOPPPP……ARRRNNNOOLLLD, TTO.. TTOOLONGG SS… SSSTOOPPP…………. ADUUUUUHHH………… HHE… HENTIKAAAAN, OOOHHHH…. HHE.. HHENTTIKAAAAAN!!!!”
“Alaaa, Suster…… bilang aja enak, gitu…. Emangnya kalo udah enak kaya gini, Suster mau berhenti ?” tanya raffi gemas.
“AAAAGGHHH…… ENAK ATAU TIDAK, SAYA TIDAK MAU INI DITERUSKAN!! TOLONG JANGAN RANGSANG SAYA TERUS!!” Sedetik kemudian Sr.leoni sadar bahwa ia kelepasan omong !!
“Ah, jadi Suster sudah terangsang, ya ? Hei, ayo kita rangsang terus sampe dia nyerah!!” Joni berkata dengan penuh semangat.
Sementara itu dari arah samping, Herman menggarap payudara Sr.leoni yang masih terbungkus BH. Sr.leoni menjerit putus asa ketika Felix meningkatkan volume serangannya. Kini ia juga menggigit-gigit clitoris Sr.leoni, sehingga tak ayal lagi Sr.leoni makin mengggelinjang-gelinjang. Jeritan Sr.leoni teredam oleh raffi yang mengulum bibirnya dengan penuh nafsu. Aksi raffi tidak di situ saja, melainkan juga menggarap leher Sr.leoni. ia menyupangnya, menjadikan leher Sr.leoni penuh bekas kemerahan. raffi kembali mengulum mulut Sr.leoni dalam mulutnya. Lidahnya menjelajahi mulut Sr.leoni dengan penuh nafsu.
Sementara itu Sr.leoni tak hentinya meronta. Rontaannya seolah terbagi dua, hendak menghentikan perkosaan ini tapi juga menikmati gairah birahinya yang kian memuncak. Vagina Sr.leoni sudah basah oleh cairan yang keluar dari kelenjar seksualnya. Ia kini tak dapat memungkiri lagi. Ia tahu, keempat pemerkosanya pun tahu, bahwa kini Sr.leoni sudah terangsang. Pukul 09:01 Felix mengentikan ’sarapan’-nya dan posisinya digantikan oleh Herman. Posisi Herman yang menggarap payudara Sr.leoni digantikan oleh Joni yang juga sudah tak sabar lagi mencicipi tubuh Sr.leoni. Felix tersenyum melihat teman-temannya begitu bersemangat menggarap Sr.leoni. Bergantian mereka menyantap vagina Sr.leoni sampai mereka puas.
Pukul 09:49 Sr.leoni lunglai……. ia kelelahan merasakan kenikmatan gairah yang timbul akibat rangsangan pada payudara dan vaginanya.
“Aduh….. payudaraku masih terbungkus BH dan mereka belum melakukan penetrasi, tapi aku sudah begini terangsang. Apa jadinya nanti? Bagaimana jika aku ‘kalah’ ? Haruskah aku menyerah pada mereka? Tidak…tidaaaaakkk!!” Sr.leoni berpikir makin kalut.
Ia cemas atas nasibnya di tangan keempat pemuda ini. Ia malu jika harus mengakui ‘kekalahannya’ ini. Pukul 09:50 Belum sempat Sr.leoni pulih dari kelelahannya, Felix dan Joni melepaskan Sr.leoni dari ikatannya. Mereka menyeret Sr.leoni dan menghempaskannya ke kasur besar di lantai tengah ruangan itu. Kesempatan ini dipakai oleh Sr.leoni untuk berusaha kabur, tapi usahanya itu kandas ketika Herman dan raffi memegangi tangan dan kakinya. Kedua tangan Sr.leoni direntangkan sambil terus dipegangi oleh Herman. raffi dan Felix masing-masing memegangi kakinya yang juga direntangkan lebar-lebar. Joni mulai merendahkan dan hendak menelungkupkan tubuhnya, siap mempenetrasi lubang vagina Sr.leoni dengan penisnya yang besar dan panjang.
Sr.leoni panik, ia makin meronta-ronta dan menggeliat-geliat.
“LEPASKAN!! OH!! LEPASKAN!! KALIAN MEMANG BANGSAT!! AAAGHHH…….. HENTIKAN……. LEPASKAN, BANGSAAAAATT!!” Sr.leoni menjerit-jerit.
“Wah, kok seorang suster ngomongnya kasar gitu ? Kalem aja, Suster sayang……. kami pasti bisa bikin Suster merasa nikmat. Ayo mulai, Joni!” kata Felix sambil tersenyum.
Joni tidak segera mempenetrasi Sr.leoni. Ia menunggu hingga Felix selesai merenggut BH putih tipis yang berenda itu. Pelindung terakhir payudara Sr.leoni pun terbuka, mempertontonkan dua bukit kembar yang amat menggiurkan birahi. Mereka semua mendesis menyaksikan kemolekan payudara Sr.leoni. Dengan ganas Joni mulai mempenetrasi Sr.leoni. Ia menggenjotnya dengan kuat dan mantap. Karena baru sekali berhubungan seks, vagina itu masih sempit sekali. Penis Joni serasa dijepit oleh sesuatu yang hangat dan kenyal.
Namun walau begitu, Joni bisa merasakan bahwa Sr.leoni tidak lagi memiliki selaput dara, tanda keperawanan.
“Astaga!!!! Suster kita ini rupanya udah pernah ngentot!! Selaput daranya udah hilang!!” Joni berseru kaget.
“Haa? Biarawati kan nggak boleh ngentot, gimana bisa hilang, hah??” Felix juga tak kalah kaget.
“Naaaahhh….. ketahuan deh….. rupanya diam-diam dia binal juga. Ngentot sama siapa, Suster?” Herman bertanya. “AAAAGHHH, LEPASKKAAAANNN……. SAYA CUMA SEKALI… OHHHHH….TIDAK…TIDDAAAKKKK” Lagi-lagi Sr.leoni kelepasan omong !!
“Astaga, kenapa aku ini, aku kelepasan omong lagi! Kenapa aku nggak bilang saja aku dulu pernah diperkosa?” Sr.leoni berpikir dengan rasa putus asa dan sesal yang mendalam.
“Lhooo…. dia ngaku rupanya… hayooo sama siapa, Suster?” tanya Felix.
“AGGGHHHH…….GGGHHHH… .. JJA…JAA…JJAANGANHH…. HHHAARRAP SSA….SSAYA MAU BBBI… BBI…BILANGG…GHHHH” Sr.leoni terus merintih dan mendesah.
“Ah, nanti juga Suster pasti mau bilang. Saya punya ‘resep khusus’ supaya Suster mau bilang, siapa yang ngejebol selaput dara Suster yang pertama itu” kata Felix.
Tanpa belas kasihan Joni menggenjot Sr.leoni. Payudara Sr.leoni yang sudah tak berpelindung BH itupun digarap oleh Joni, bersamaan dengan Felix yang memegangi tangan Sr.leoni. Mereka menjilat, menyupang dan menggigiti payudara Sr.leoni. Kali ini puting payudara Sr.leoni yang berwarna coklat kemerahan itu ikut menjadi sasaran serbuan. Sr.leoni terus meronta dan menggelinjang. Vagina Sr.leoni benar-benar sempit. Vagina itu menjepit dengan ketat serta berdenyut-denyut terus-menerus. Penis Joni yang berada di dalam vaginanya terasa bagaikan diremas-remas dengan keras.
“Layani ketiga teman saya dulu, Suster. Setelah itu saya ada kejutan buat Suster!” kata Felix sambil nyengir.
Pukul 10:27 Akhirnya Joni pun tidak tahan lagi, saat tubuh Sr.leoni mengejang karena sampai pada puncak kenikmatan (orgasme), Joni mempercepat gerakan naik turun sampai spermanya menyembur-nyembur ke dalam vagina Sr.leoni. Joni tidak langsung menarik penisnya keluar dari vagina Sr.leoni. Ia ingin merasakan kehangatan vagina Sr.leoni setelah lelah menggenjotnya. Pukul 10:31 Joni menarik penisnya keluar. Kelegaan Sr.leoni tak berlangsung lama karena raffi menggantikan peran Joni. Kini giliran raffi mempenetrasi vagina Sr.leoni. raffi pun mulai berpacu menuju puncak birahi. Genjotannya agak berbeda dengan gaya genjotan Joni. Kalau Joni menggenjot dengan ganas dan cepat, raffi menggenjot lebih pelan tapi sambil menghunjamkan penisnya dalam-dalam ke vagina Sr.leoni. Penetrasi raffi lebih dalam daripada Joni.
Hal ini membuat Sr.leoni makin kelimpungan. Ia menggelinjang setiap kali penis raffi menghunjam dalam-dalam. Tentu saja urusan penggarapan payudara pun tidak dilupakan raffi. Mana ada pria normal yang mau melewatkan kesempatan mencicipi payudara indah milik Sr.leoni!! Tapi rupanya Sr.leoni ini bukan wanita dengan seksualitas biasa- biasa saja. Ketahanan seksualnya sungguh luar biasa. Wanita normal biasanya akan orgasme setelah penetrasi dan rangsangan selama kira- kira 5 sampai 10 menit, tapi rupanya Sr.leoni ini mampu berlama- lama mencapai orgasme. Ia gampang atau cepat terangsang, tapi lama mencapai orgasme. Sungguh suatu tantangan tersendiri bagi kaum pria!! Pukul 11:04 Seperti Joni, raffi pun harus menunggu sampai setengah jam sebelum ada tanda-tanda bahwa Sr.leoni akan mencapai orgasme.
Ketika ia merasa bahwa otot vagina Sr.leoni makin kencang menjepit penisnya dan payudara Sr.leoni pun mulai mengeras, raffi pun makin memperdalam hunjaman penisnya dan menyemprotkan spermanya ke dalam vagina Sr.leoni. Ia menggeletak lemas di atas tubuh Sr.leoni yang juga lunglai kelelahan.
Pukul 11:08 Setelah raffi, kini giliran Herman. Karena spermanya sudah terkuras akibat karaoke paksa pada awal perkosaan ini, Herman membutuhkan waktu agak lama mencapai ejakulasi dibanding kedua pendahulunya. Tipe genjotan Herman merupakan gabungan gaya genjotan Joni dan raffi. Brutal dan dalam. Hal ini membuat Sr.leoni tak mampu menghentikan rontaannya. Ia sebenarnya sudah lelah meronta, tapi gaya genjotan Herman sungguh membuatnya tak bisa pasrah begitu saja.
Pukul 11:44 Sperma yang disemburkan Herman tidak sebanyak Joni ataupun raffi, tapi makin membuat vagina Sr.leoni makin banjir karena leleran sperma dan juga cairan vagina Sr.leoni sendiri. Setelah mencabut penisnya dari vagina Sr.leoni, Herman menggeletak lemas.
Pukul 11:47
“Nah, gimana, Suster ? Ngaku deh…. siapa sih cowok beruntung yang merebut mahkota kewanitaan Suster?” tanya Felix.
“HHJJJHHAA….JJJA…JJANGAN.. .. HHA…HHHA…HHHHARRAPP SSA… SSAYA MMAU NGG…NNGG…NNGGAAKKU” kata Sr.leoni tersengal kelelahan.
“Coba saya lihat, sampai seberapa jauh Suster tahan terhadap saya! Akan saya buat Suster memohon-mohon minta diberi orgasme!” kata Felix. “JJJA…JJANGAN HARAP SAYA MENYERAH, BANGSAT!!!!”
Pukul 11:48 Tanpa ba bi bu lagi Felix menghunjamkan penisnya ke dalam vagina Sr.leoni. Ketiga teman Felix kini sudah tergeletak. Satu demi satu tertidur kelelahan. Mereka tak menyangka suster ini mampu membuat mereka lemas karena nikmat. Tanpa ada yang memeganginya lagi, Sr.leoni mencoba sekali lagi untuk berontak. Tapi Felix yang sudah dikuasai nafsu birahi itu mampu menahannya. Felix memegang kedua tangan Sr.leoni dan merentangkannya lebar-lebar. Yang lebih tak disangka lagi oleh Sr.leoni adalah gaya genjotan Felix yang luar biasa. Felix mampu memadukan berbagai gaya dan rangsangan. Payudara ? Ah, payudara Sr.leoni kini dipenuhi bekas cupangan berwarna merah.
Putingnya makin memerah karena hisapan, gigitan dan kenyotan bibir Felix. Mulut Felix beraksi silih berganti antara payudara, belahan payudara, leher dan bibir Sr.leoni. Saat berciuman, mulut Sr.leoni dikuasai dan dijelajahi sepenuhnya oleh Felix. Genjotannya bervariasi antara lembut dan dalam, dangkal dan cepat, brutal dan mengoyak, dan sebagainya. Bagi Felix, seolah Sr.leoni merupakan inspirasi seksualitas tanpa batas.
“Nnnaaahhh…. Susterku sayang….. siapa cowok beruntung itu…hhmmm…? Ayo jawab, Suster sayang!” kata Felix di sela-sela genjotannya.
“JJHHJA…… JJJHA…JJJANGAN HHHA… HHA..RRAP SSS… SS.. SSAYA MAU KKATT …TTA….TTTAKAN….” Di saat Sr.leoni hendak mencapai klimaks, Felix menghentikan genjotannya, membuat Sr.leoni penasaran.
“Ayo, Suster…… siapa ?” tanya Felix menggoda. Sr. leoni tidak menjawab, ia hanya meronta-ronta dengan liar.
Maka Felix pun mulai lagi merangsang mulai dari bibir, leher, lalu turun ke belahan payudaranya. Puting payudara Sr.leoni yang seolah menunggu untuk digarap, dibiarkannya dahulu. Hal ini membuat Sr.leoni makin penasaran. Sr.leoni meronta-ronta, menggeliat-geliat dan menggelinjang-gelinjang dengan liar. Felix yang sudah berpengalaman menghadapi wanita binal, mengetahui dengan pasti bahwa semua rontaan Sr.leoni itu adalah hasrat terpendamnya untuk dipuaskan secara total.
“SShhh…..shhh…. Suster…. saya akan puaskan Suster kalo Suster mau bilang ke saya dua hal. Pertama, siapa cowok yang mengambil keperawanan Suster, lalu kedua: Suster harus memohon pada saya untuk dipuaskan. Pikirkanlah, Suster….. bayangkan kenikmatan yang bisa saya berikan….. Pokoknya, Suster akan saya puaskan setelah Suster menjawab pertanyaan saya dan melakukan permintaan saya. Oh ya,.. satu lagi. Sebelum saya puaskan, saya ingin Suster melayani saya dengan binal dan penuh gairah. Lepaskan semua hasrat terpendam Suster selama ini……!” Felix terus merayu Sr.leoni.
“JJA…JJAJJANGAN…….SSSSTT TOOPPP….. OOOOGHHHH…. SSTTOOPP………” “Yakin nih, mau berhenti….?” tanya Felix makin menggoda.
Felix memang menghentikan serangannya, tapi lalu dimulai lagi dengan lembut lalu makin lama makin ganas, panas dan bergairah. Dan ketika Sr.leoni untuk kesekian kalinya hampir mencapai orgasme, Felix berhenti.
“Ssstt….ayo Suster……buat apa Suster mempertahankan gengsi? Kalau dengan saya, nggak usah malu. Terus terang saya pun kagum dengan Suster. Jarang wanita punya daya seks sekuat Suster. Seandainya Suster bukan biarawati, pasti Suster sudah saya lamar untuk dijadikan istri!” Felix terus merayu Sr.leoni dengan perkataan dan rangsangannya.
Pukul 13:40 Hampir dua jam Felix menggauli Sr.leoni, akhirnya Sr.leoni menyerah……..
“AAAGGHHH…..AAGHHHH…..OOOO HHH…. Felixxx..BBE…BEBBBE…BBENARKAH YANG KKAU KATTT… TTA…TTAKAN?” “Suster ingin kenikmatan, kan ? Kalo mau, percayalah pada saya….. mari kita capai kenikmatan itu bersama-sama, Suster manis…..
Tapi sebelum itu, jawab dulu dua pertanyaan saya dan satu permintaan saya tadi” kata Felix berusaha meyakinkan Sr.leoni.
“NNNNA……NNNA……..NNNAMM MA… CCHHO…CCOWWOKK IT.. ITTU SANN…NNNO, MMURRID SSA..SSAYYA DDULU….. KKEJJA… JJADIANNYA TTIGATTA… TTAHUNN LALU DDI..DDI… RRUANG UKS…SSE.. SSSEEKKOLAHHH………….” Sr.leoni pun menceritakan pengalaman pertamanya itu.
“SSSA…SSA…SSA….SSSAA YYYA MMO…MMOHHON, fel..Felixxx SUDI MMEMMME…MMMEMMUASKKHAN SSA.. SSAYA…” Sr.leoni memohon-mohon sambil meronta dan menggeliat. “Ssssttt….. masih ada permintaaan saya yang Suster belum penuhi…..” kata Felix sambil mengedipkan mata.
“AA…AAAPPPA ITU, Felixxx..SSA…SSSHAYANNGG….” Sr.leoni pun rupanya berusaha merayu Felix dengan panggilan ’sayang’ agar ia cepat dipuaskan.
“Ah, masa lupa…?? Hayoo…. apa…?? Jangan malu, Susterku sayang! Ayo katakan, Sayang………” Felix menyeringai nakal.
“SSA…SSSA…. SSAYYA RRE..RRELLA MME… MMELAYY… YYANI ARR…RRNOLD…”
“Suster mau bermain seks dengan binal?” tanya Felix. Sr.leoni mengangguk lemah.
“Jangan cuma mengangguk, Suster leoni sayang…….., katakan bahwa Suster juga mau bermain seks dengan binal demi kepuasan kita berdua” kata Felix lembut tetapi mengandung ketegasan dan perintah.
“SSA…SSA…YYA RRELA MME..MMEMMMELLAYYANI ARR.. RRNOLD DDE…DDENGAN BINAL…… DDE..DDEMI KKEBAHAGGIAAAN KKITA BBE..BBEBBBERRDUA…… AAAAGGGHHH……. TTU TTUTTUNNGGU APP…PPPPA LLAGGI, ARRR..RRNOLD SSA..SSAYYANG?” kata Sr.leoni makin memelas.
Felix tersenyum, lalu ia mulai menggarap Sr.leoni dengan lebih bergairah. Rontaan dan geliat Sr.leoni kini berubah menjadi gerakan-gerakan erotis yang liar dan binal. Jeritan dan rintihan Sr.leoni kini menjadi erangan penuh kenikmatan saat mereka berpacu menuju puncak birahi. Sr.leoni ternyata sangat binal. Erotismenya liar sekali. Pengalaman pertamanya yang lama belum terulang membuatnya haus seks luar biasa. Ia bagaikan musafir yang penuh dahaga. Felix memenuhi janjinya. Dibawanya Sr.leoni menuju puncak birahi, seluruh daya seksnya dikerahkan untuk merangsang Sr.leoni. Mulut, leher, belahan payudara, payudara dan putingnya dilalap oleh Felix dengan penuh nafsu.
Vagina Sr.leoni digenjot dan dijelajahi oleh Felix, termasuk bagian G-spotnya (bagian tersensitif dalam vagina wanita). Keperkasaan Felix diimbangi oleh kebinalan Sr.leoni. Pukul 15:55 Akhirnya setelah lebih dari 4 jam Felix menggaulinya, Sr.leoni merasa bahwa orgasmenya tak mungkin ditahan lagi. Felix pun menyadarinya. Tanda-tanda itu jelas terlihat dan terasakan olehnya. Payudara Sr.leoni mengencang, putingnya menegang disertai mengerasnya jepitan vagina Sr.leoni. Gerakannya makin erotis. Dadanya membusung, seolah menyodorkan dan menawarkan payudaranya seluruhnya penuh damba.
Dengan penuh gairah, Felix menyemburkan seluruh spermanya ke dalam vagina Sr.leoni, sambil mengenyot puting payudara Sr.leoni, bergantian kiri dan kanan. Sr.leoni memekik tatkala dirasakannya cairan hangat memenuhi vaginanya. Rasa nikmat itu sungguh luar biasa. Rasa nikmat itu terasakan di sekujur tubuhnya, terutama di bagian dalam vaginanya dan di puting payudaranya.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAGGGGGHHHHHHH HHH…………. AAAAAAAAGGGHBB …….” pekikannya itu diredam oleh kuluman mulut Felix.
Setelah semburan puncak birahi selama beberapa detik yang berharga itu, mereka lunglai lemas. Penis Felix bersarang di vagina Sr.leoni yang kini sudah banjir oleh sperma dan cairan vaginanya sendiri. Mereka tertidur dalam kebahagiaan seksual. ……..…. Keempat pemuda itu sepakat untuk menculik dan memperkosa Sr. Leoni. Tempat untuk itu sudah dipersiapkan, sebuah vila di tengah-tengah kebun teh yang terpencil. Jarak dari villa tersebut ke desa terdekat kira-kira 6 kilometer. Sebuah tempat ideal untuk bermain seks, apalagi hawa daerah itu yang cukup dingin dianggap cocok untuk berhangat-hangat dengan tubuh Sr. Leoni yang sintal itu.
Di pagi hari yang masih dingin, Sr. Leoni berjalan dari gedung biara ke gedung sekolah tempatnya mengajar, yang letaknya tidak terlalu jauh. Karena hari masih sangat pagi, jalanan sepi. Hal ini dimanfaatkan oleh keempat pemuda itu yang sudah mengamati kebiasaan Sr. Leoni selama beberapa waktu.
Tiba-tiba sebuah mobil dengan pintu tengah model geser berhenti mendadak, memepet Sr. Leoni. Sr. Leoni yang terkejut tak sempat bereaksi apa-apa saat Felix dan Joni melompat turun dan menyeretnya masuk mobil. Dalam mobil, Herman telah menyiapkan chloroform yang dibekapkan ke mulut Sr. Leoni. Tanpa sempat menjerit, Sr.Leoni langsung pingsan terbius chloroform. raffi yang mengemudikan mobil itu langsung tancap gas ke villa yang telah mereka persiapkan.
Sesampai di villa mereka mendudukkan Sr. Leoni di kursi rendah dan mengikat tangannya di belakang sandaran kursi itu. Payudara di dada Sr. Leoni yang naik turun seiring napasnya itu makin membuat mereka bernafsu. Mereka telah sepakat membagi-bagi ‘jatah’. Jatah pertama untuk urusan ‘karaoke’ atau oral seks adalah Herman. Joni kebagian penetrasi vagina pertama, sedangkan Felix yang merupakan pemimpin di antara mereka bertugas melucuti pakaian Sr. Leoni. Ia juga mendapat kehormatan sebagai yang pertama menikmati dan menjilati payudara serta vagina Sr. Leoni. raffi sendiri kebagian jatah menggarap mulut dan leher Sr. Leoni.
Pukul 07:22 Sr. Leoni tersadar dari pingsannya. Perlahan-lahan ingatannya pulih dari pengaruh chloroform, begitu pula tenaganya berangsur-angsur kembali seperti sediakala. Menyadari dirinya diikat, Sr. Leoni meronta, tapi ikatan itu terlalu kuat. Sia-sialah ia meronta. Sr. Leoni melihat ke sekeliling ruangan tempat ia diikat. Ia ditempatkan di ruangan berukuran besar. Pintu ruangan itu tertutup dan terletak agak jauh di sisi kirinya. Di tengah ruangan, terhampar kasur tebal yang juga berukuran besar.
Ia diikat di sebuah kursi rendah. Kira-kira 4 meter di depannya ada sebuah kursi lain yang jauh lebih tinggi daripada kursi tempatnya diikat. Ia heran karena belum pernah melihat kursi setinggi itu dan juga tidak tahu apa gunanya. Pukul 07:24 Sr.Leoni tersentak terkejut karena tiba-tiba pintu ruangan itu membuka dan masuklah 4 orang pemuda berbadan kekar. Keempat pemuda itu dikenalnya, karena beberapa kali pernah bertemu. Yang lebih membuat Sr.Leoni terkejut lagi adalah karena keempat pemuda itu dalam keadaan telanjang bulat. Penis mereka mengacung tanda birahi. Semuanya berukuran besar. Paling panjang adalah milik Felix, panjangnya kira- kira 25 cm dan berdiameter 8 cm. Namun penis Joni, Herman dan raffi pun panjang. Rata-rata panjangnya mencapai 20-an cm dan diameternya 5 cm.
Keempat pemuda itu menyeringai nakal.
“Halo, Suster….menggairahkan sekali bukan, suasana pagi ini ?” begitu sapa Felix sambil terus menyeringai.
“MAU APA KALIAN ? LEPASKAN SAYA !!” Sr.Leoni masih mencoba meronta.
“Hmmm….. jangan pura-pura alim deh, Suster tentu tahu apa yang kami mau. Suster akan kami ajari beberapa permainan menyenangkan yang takkan pernah Suster lupakan” giliran Joni bersuara.
Keempat pemuda itu terbahak-bahak mendengar perkataan Joni. Jantung Sr.Leoni berdebar keras. Ia sadar dirinya akan jadi ’santapan’ keempat pemuda telanjang itu. Ia sadar, dirinya takkan mampu melawan mereka.
“Jangankan melawan keempatnya, melawan seorang saja aku belum tentu mampu”, demikian pikirnya kalut.
“Felix, LEPASKAN SAYA !! KALAU TIDAK SAYA AKAN BERTERIAK-TERIAK SAMPAI TETANGGA MENDENGARNYA !!”
“Ha…ha…ha… silakan berteriak, kita berada di tengah kebun teh yang sepi. Jarak terdekat ke rumah orang kira-kira 6 kilometer !” Felix berkata sambil tertawa.
Pukul 07:26 Sr.Leoni makin panik mendengar hal itu. Ketakutannya kian terbukti. Dirinya akan diperkosa beramai-ramai oleh keempat pemuda itu. Ia terus meronta-ronta hendak melepaskan diri. “Lebih baik melawan daripada menyerah sama sekali. Jika aku diperkosa, setidak- tidaknya aku sudah melawan”, begitu pikir Sr.Leoni.
“Ha…ha…ha… rontaanmu sungguh menggairahkan, Suster ! Ayo, teman-teman, kita mulai !!” seru Felix.
Mereka menarik kursi tinggi yang tadi dilihat Sr.Leoni, sehingga tepat berada di hadapan Sr.Leoni. Kursi itu memang dibuat untuk tujuan khusus, yaitu sebagai sarana ‘karaoke paksa’ bagi korban-korban keempat pemuda itu. Herman duduk di atas kursi tinggi itu dan memegang rambut dan kepala Sr.Leoni yang masih terbungkus slayer (kerudung penutup kepala bagi suster-suster) hingga tidak dapat bergerak.
“Ayo kulum punya saya, Suster ! Cicipi sarapanmu pagi ini: kontol split, variasi seksual dari banana spilit, ha…ha…ha…” sambil berkata begitu Herman menarik kepala Sr.Leoni.
Ia memajukan penisnya mendekati muka Sr.Leoni sambil menjepit hidung Sr.Leoni untuk membuat Sr.Leoni membuka mulutnya. Ketika Sr.Leoni kehabisan nafas dan membuka mulutnya untuk menghirup udara, Herman mendorong penisnya ke dalam mulut Sr.Leoni. Laki-laki itu berhenti begitu bibir Sr.Leoni telah melingkar di penisnya dan mulai mendorong dan menarik kepala Sr.Leoni. Kepala Sr.Leoni bergerak maju dan mundur terus menerus. Saat kepala penis itu masuk ke tenggorokannya Sr.Leoni tersedak, tapi Herman tetap mendorong hingga kepala penis itu masuk lebih dalam di tenggorokan Sr.Leoni. Sr.Leoni dipegangi agar tak bergerak dengan penis yang terbenam hingga tenggorokannya, sementara mereka berbicara satu sama lain.
“Enak, lho ! Hangat-hangat empuk ! Tapi gua pikir dia musti banyak berlatih soal beginian.” kata Herman.
“Mungkin dia belon pernah pake mulutnya buat karaoke. Gimana, Suster?” tanya Joni penuh nafsu.
“Bisa nggak makan kontol split, Sr.Leoni sayang?” tanya Felix.
“Terang aja dia bisa ! Mulutnya nggak dipake buat makan nasi doang tau?! Liat aja, punya gua dijepit sama bibirnya, kan?” kata Herman.
Tangan Herman kemudian menjambak rambut Sr.Leoni dan mulai menggerakannya lagi dengan kasar membuat penisnya kembali bergerak keluar masuk di mulut Sr.Leoni. Semua orang dapat mendengar erangan Sr.Leoni yang terdengar setiap kali penis itu masuk jauh ke tenggorokannya. Ketika Herman akan mengalami ejakulasi ia menarik kepala Sr.Leoni hingga terbenam dalam-dalam di rimbunan rambut kemaluannya. Sperma langsung menyembur keluar memenuhi mulut Sr.Leoni. Dan dari sudut mulut Sr.Leoni sperma menetes keluar, mengalir turun, menggantung di dagu Sr.Leoni.
“Aaaaaaggghhhhh……. enak, Suster ! Terus telan semua sperma saya, kalo nggak, saya bakal terus menekan kepala Suster kaya gini!” Kemudian Herman mulai bergerak lagi.
Sperma terus mengalir keluar, jatuh dari leher Sr.Leoni ke atas pakaian putih yang dikenakan Sr.Leoni. Ketika akhirnya ia menarik penisnya dari mulut Sr.Leoni, Sr.Leoni megap-megap menarik nafas dan tersedak saat berusaha menelan sisa sperma yang masih ada di mulutnya. Sr.Leoni sendiri lunglai tak berdaya setelah baru saja ia mengalami shock, merasakan sperma yang disemburkan masuk ke dalam mulutnya. Pelan tapi pasti Felix membuka kancing-kancing baju Sr.Leoni. Begitu kancing-kancing yang terletak di bagian dada itu terbuka, tampaklah dua payudara montok membulat yang terbungkus BH putih berenda. Puting susu Sr.Leoni tampak menonjol dari balik BH yang tipis itu. Felix mengecup dan mencaplok (menyupang) payudara Sr.Leoni dengan bibirnya, satu demi satu. Kiri, lalu kanan.
Ia sengaja tidak mengulum putingnya, menyisakan kenikmatan itu untuk tahap selanjutnya. Meskipun payudara Sr.Leoni masih terbungkus BH, namun Felix dapat merasakan ketegangan yang timbul akibat rangsangannya. “Aah, Suster, kau punya payudara yang menggairahkan” kata Felix kagum.
“LEPASKAN, BANGSAT!! LEPASKAAAAAAANN!!”
“Tenang, Suster…… kami akan buat Suster menikmati dan ketagihan seks!” kata raffi.
Tanpa diduga Sr.Leoni, Felix menghentikan ’serbuannya’. kini giliran Joni duduk di kursi tinggi itu. S ama seperti Herman, ia menyodorkan penisnya untuk dikaraoke oleh Sr.Leoni. Bedanya, raffi menahan ejakulasinya. Ia bertekad menghemat spermanya untuk session berikutnya. Begitu hendak ejakulasi, posisinya digantikan oleh Felix, lalu kemudian oleh Joni. Mereka berdua pun sama seperti raffi, menahan ejakulasi untuk tahap perkosaan selanjutnya. Menyimpan sperma untuk kenikmatan berikutnya.
Pukul 08:45 Kursi tinggi itu disingkirkan dari hadapan Sr.Leoni.
“Nah, Suster manis, sekarang gantian, ya. Kami pun ingin sarapan. Gimana kalo Suster sediakan omelettte vagina ? Ha…ha…ha…” Felix tertawa sambil berjongkok di depan Sr.Leoni, lalu melucuti rok bawah dan celana dalam Sr.Leoni.
Usaha itu harus dibantu oleh Joni dan raffi yang masing-masing memegangi kaki Sr.Leoni, karena Sr.Leoni tak hentinya meronta dan menggeliat. Sebenarnya Sr.Leoni sudah mulai terangsang ketika Felix menggarap payudaranya.
“Celaka!! Felix membuatku terangsang, padahal payudaraku masih terbungkus BH. Apa jadinya kalau aku sudah telanjang ?? Aku harus terus melawan. Aku takkan pasrah begitu saja!!” Sr.Leoni berpikir dengan panik bercampur cemas.
Setelah rok bawah dan celana dalam Sr.Leoni terlucuti, tampaklah vagina Sr.Leoni yang berwarna kemerahan dan ditumbuhi sedikit bulu-bulu halus. Tanpa ragu Felix menggarap vagina itu. Pertama-tama ia menciumi vagina itu, lalu sedikit demi sedikit mulutnya menyeruak masuk ke bagian dalam. Lidahnya mencari-cari clitoris Sr.Leoni. Begitu ditemukan, clitoris itu dijilat dan dikulumnya dengan penuh nafsu.
“Hhmm…..mmnnyemm…ccp…slu uurppp” Felix dengan bernafsu menyantap clitoris Sr.Leoni. Ia sama sekali tidak mengacuhkan Sr.Leoni yang merintih dan memohon agar semuanya ini dihentikan.
“AAAAAGGHHH…….STOP…..SSS STTOOOPPPP……ARRRNNNOOLLLD, TTO.. TTOOLONGG SS… SSSTOOPPP…………. ADUUUUUHHH………… HHE… HENTIKAAAAN, OOOHHHH…. HHE.. HHENTTIKAAAAAN!!!!”
“Alaaa, Suster…… bilang aja enak, gitu…. Emangnya kalo udah enak kaya gini, Suster mau berhenti ?” tanya raffi gemas.
“AAAAGGHHH…… ENAK ATAU TIDAK, SAYA TIDAK MAU INI DITERUSKAN!! TOLONG JANGAN RANGSANG SAYA TERUS!!” Sedetik kemudian Sr.Leoni sadar bahwa ia kelepasan omong !!
“Ah, jadi Suster sudah terangsang, ya ? Hei, ayo kita rangsang terus sampe dia nyerah!!” Joni berkata dengan penuh semangat.
Sementara itu dari arah samping, Herman menggarap payudara Sr.Leoni yang masih terbungkus BH. Sr.Leoni menjerit putus asa ketika Felix meningkatkan volume serangannya. Kini ia juga menggigit-gigit clitoris Sr.Leoni, sehingga tak ayal lagi Sr.Leoni makin mengggelinjang-gelinjang. Jeritan Sr.Leoni teredam oleh raffi yang mengulum bibirnya dengan penuh nafsu. Aksi raffi tidak di situ saja, melainkan juga menggarap leher Sr.Leoni. ia menyupangnya, menjadikan leher Sr.Leoni penuh bekas kemerahan. raffi kembali mengulum mulut Sr.Leoni dalam mulutnya. Lidahnya menjelajahi mulut Sr.Leoni dengan penuh nafsu.
Sementara itu Sr.Leoni tak hentinya meronta. Rontaannya seolah terbagi dua, hendak menghentikan perkosaan ini tapi juga menikmati gairah birahinya yang kian memuncak. Vagina Sr.Leoni sudah basah oleh cairan yang keluar dari kelenjar seksualnya. Ia kini tak dapat memungkiri lagi. Ia tahu, keempat pemerkosanya pun tahu, bahwa kini Sr.Leoni sudah terangsang. Pukul 09:01 Felix mengentikan ’sarapan’-nya dan posisinya digantikan oleh Herman. Posisi Herman yang menggarap payudara Sr.Leoni digantikan oleh Joni yang juga sudah tak sabar lagi mencicipi tubuh Sr.Leoni. Felix tersenyum melihat teman-temannya begitu bersemangat menggarap Sr.Leoni. Bergantian mereka menyantap vagina Sr.Leoni sampai mereka puas.
Pukul 09:49 Sr.Leoni lunglai……. ia kelelahan merasakan kenikmatan gairah yang timbul akibat rangsangan pada payudara dan vaginanya.
“Aduh….. payudaraku masih terbungkus BH dan mereka belum melakukan penetrasi, tapi aku sudah begini terangsang. Apa jadinya nanti? Bagaimana jika aku ‘kalah’ ? Haruskah aku menyerah pada mereka? Tidak…tidaaaaakkk!!” Sr.Leoni berpikir makin kalut.
Ia cemas atas nasibnya di tangan keempat pemuda ini. Ia malu jika harus mengakui ‘kekalahannya’ ini. Pukul 09:50 Belum sempat Sr.Leoni pulih dari kelelahannya, Felix dan Joni melepaskan Sr.Leoni dari ikatannya. Mereka menyeret Sr.Leoni dan menghempaskannya ke kasur besar di lantai tengah ruangan itu. Kesempatan ini dipakai oleh Sr.Leoni untuk berusaha kabur, tapi usahanya itu kandas ketika Herman dan raffi memegangi tangan dan kakinya. Kedua tangan Sr.Leoni direntangkan sambil terus dipegangi oleh Herman. raffi dan Felix masing-masing memegangi kakinya yang juga direntangkan lebar-lebar. Joni mulai merendahkan dan hendak menelungkupkan tubuhnya, siap mempenetrasi lubang vagina Sr.Leoni dengan penisnya yang besar dan panjang.
Sr.Leoni panik, ia makin meronta-ronta dan menggeliat-geliat.
“LEPASKAN!! OH!! LEPASKAN!! KALIAN MEMANG BANGSAT!! AAAGHHH…….. HENTIKAN……. LEPASKAN, BANGSAAAAATT!!” Sr.Leoni menjerit-jerit.
“Wah, kok seorang suster ngomongnya kasar gitu ? Kalem aja, Suster sayang……. kami pasti bisa bikin Suster merasa nikmat. Ayo mulai, Joni!” kata Felix sambil tersenyum.
Joni tidak segera mempenetrasi Sr.Leoni. Ia menunggu hingga Felix selesai merenggut BH putih tipis yang berenda itu. Pelindung terakhir payudara Sr.Leoni pun terbuka, mempertontonkan dua bukit kembar yang amat menggiurkan birahi. Mereka semua mendesis menyaksikan kemolekan payudara Sr.Leoni. Dengan ganas Joni mulai mempenetrasi Sr.Leoni. Ia menggenjotnya dengan kuat dan mantap. Karena baru sekali berhubungan seks, vagina itu masih sempit sekali. Penis Joni serasa dijepit oleh sesuatu yang hangat dan kenyal.
Namun walau begitu, Joni bisa merasakan bahwa Sr.Leoni tidak lagi memiliki selaput dara, tanda keperawanan.
“Astaga!!!! Suster kita ini rupanya udah pernah ngentot!! Selaput daranya udah hilang!!” Joni berseru kaget.
“Haa? Biarawati kan nggak boleh ngentot, gimana bisa hilang, hah??” Felix juga tak kalah kaget.
“Naaaahhh….. ketahuan deh….. rupanya diam-diam dia binal juga. Ngentot sama siapa, Suster?” Herman bertanya. “AAAAGHHH, LEPASKKAAAANNN……. SAYA CUMA SEKALI… OHHHHH….TIDAK…TIDDAAAKKKK” Lagi-lagi Sr.Leoni kelepasan omong !!
“Astaga, kenapa aku ini, aku kelepasan omong lagi! Kenapa aku nggak bilang saja aku dulu pernah diperkosa?” Sr.Leoni berpikir dengan rasa putus asa dan sesal yang mendalam.
“Lhooo…. dia ngaku rupanya… hayooo sama siapa, Suster?” tanya Felix.
“AGGGHHHH…….GGGHHHH… .. JJA…JAA…JJAANGANHH…. HHHAARRAP SSA….SSAYA MAU BBBI… BBI…BILANGG…GHHHH” Sr.Leoni terus merintih dan mendesah.
“Ah, nanti juga Suster pasti mau bilang. Saya punya ‘resep khusus’ supaya Suster mau bilang, siapa yang ngejebol selaput dara Suster yang pertama itu” kata Felix.
Tanpa belas kasihan Joni menggenjot Sr.Leoni. Payudara Sr.Leoni yang sudah tak berpelindung BH itupun digarap oleh Joni, bersamaan dengan Felix yang memegangi tangan Sr.Leoni. Mereka menjilat, menyupang dan menggigiti payudara Sr.Leoni. Kali ini puting payudara Sr.Leoni yang berwarna coklat kemerahan itu ikut menjadi sasaran serbuan. Sr.Leoni terus meronta dan menggelinjang. Vagina Sr.Leoni benar-benar sempit. Vagina itu menjepit dengan ketat serta berdenyut-denyut terus-menerus. Penis Joni yang berada di dalam vaginanya terasa bagaikan diremas-remas dengan keras.
“Layani ketiga teman saya dulu, Suster. Setelah itu saya ada kejutan buat Suster!” kata Felix sambil nyengir.
Pukul 10:27 Akhirnya Joni pun tidak tahan lagi, saat tubuh Sr.Leoni mengejang karena sampai pada puncak kenikmatan (orgasme), Joni mempercepat gerakan naik turun sampai spermanya menyembur-nyembur ke dalam vagina Sr.Leoni. Joni tidak langsung menarik penisnya keluar dari vagina Sr.Leoni. Ia ingin merasakan kehangatan vagina Sr.Leoni setelah lelah menggenjotnya. Pukul 10:31 Joni menarik penisnya keluar. Kelegaan Sr.Leoni tak berlangsung lama karena raffi menggantikan peran Joni. Kini giliran raffi mempenetrasi vagina Sr.Leoni. raffi pun mulai berpacu menuju puncak birahi. Genjotannya agak berbeda dengan gaya genjotan Joni. Kalau Joni menggenjot dengan ganas dan cepat, raffi menggenjot lebih pelan tapi sambil menghunjamkan penisnya dalam-dalam ke vagina Sr.Leoni. Penetrasi raffi lebih dalam daripada Joni.
Hal ini membuat Sr.Leoni makin kelimpungan. Ia menggelinjang setiap kali penis raffi menghunjam dalam-dalam. Tentu saja urusan penggarapan payudara pun tidak dilupakan raffi. Mana ada pria normal yang mau melewatkan kesempatan mencicipi payudara indah milik Sr.Leoni!! Tapi rupanya Sr.Leoni ini bukan wanita dengan seksualitas biasa- biasa saja. Ketahanan seksualnya sungguh luar biasa. Wanita normal biasanya akan orgasme setelah penetrasi dan rangsangan selama kira- kira 5 sampai 10 menit, tapi rupanya Sr.Leoni ini mampu berlama- lama mencapai orgasme. Ia gampang atau cepat terangsang, tapi lama mencapai orgasme. Sungguh suatu tantangan tersendiri bagi kaum pria!! Pukul 11:04 Seperti Joni, raffi pun harus menunggu sampai setengah jam sebelum ada tanda-tanda bahwa Sr.Leoni akan mencapai orgasme.
Ketika ia merasa bahwa otot vagina Sr.Leoni makin kencang menjepit penisnya dan payudara Sr.Leoni pun mulai mengeras, raffi pun makin memperdalam hunjaman penisnya dan menyemprotkan spermanya ke dalam vagina Sr.Leoni. Ia menggeletak lemas di atas tubuh Sr.Leoni yang juga lunglai kelelahan.
Pukul 11:08 Setelah raffi, kini giliran Herman. Karena spermanya sudah terkuras akibat karaoke paksa pada awal perkosaan ini, Herman membutuhkan waktu agak lama mencapai ejakulasi dibanding kedua pendahulunya. Tipe genjotan Herman merupakan gabungan gaya genjotan Joni dan raffi. Brutal dan dalam. Hal ini membuat Sr.Leoni tak mampu menghentikan rontaannya. Ia sebenarnya sudah lelah meronta, tapi gaya genjotan Herman sungguh membuatnya tak bisa pasrah begitu saja.
Pukul 11:44 Sperma yang disemburkan Herman tidak sebanyak Joni ataupun raffi, tapi makin membuat vagina Sr.Leoni makin banjir karena leleran sperma dan juga cairan vagina Sr.Leoni sendiri. Setelah mencabut penisnya dari vagina Sr.Leoni, Herman menggeletak lemas.
Pukul 11:47
“Nah, gimana, Suster ? Ngaku deh…. siapa sih cowok beruntung yang merebut mahkota kewanitaan Suster?” tanya Felix.
“HHJJJHHAA….JJJA…JJANGAN.. .. HHA…HHHA…HHHHARRAPP SSA… SSAYA MMAU NGG…NNGG…NNGGAAKKU” kata Sr.Leoni tersengal kelelahan.
“Coba saya lihat, sampai seberapa jauh Suster tahan terhadap saya! Akan saya buat Suster memohon-mohon minta diberi orgasme!” kata Felix. “JJJA…JJANGAN HARAP SAYA MENYERAH, BANGSAT!!!!”
Pukul 11:48 Tanpa ba bi bu lagi Felix menghunjamkan penisnya ke dalam vagina Sr.Leoni. Ketiga teman Felix kini sudah tergeletak. Satu demi satu tertidur kelelahan. Mereka tak menyangka suster ini mampu membuat mereka lemas karena nikmat. Tanpa ada yang memeganginya lagi, Sr.Leoni mencoba sekali lagi untuk berontak. Tapi Felix yang sudah dikuasai nafsu birahi itu mampu menahannya. Felix memegang kedua tangan Sr.Leoni dan merentangkannya lebar-lebar. Yang lebih tak disangka lagi oleh Sr.Leoni adalah gaya genjotan Felix yang luar biasa. Felix mampu memadukan berbagai gaya dan rangsangan. Payudara ? Ah, payudara Sr.Leoni kini dipenuhi bekas cupangan berwarna merah.
Putingnya makin memerah karena hisapan, gigitan dan kenyotan bibir Felix. Mulut Felix beraksi silih berganti antara payudara, belahan payudara, leher dan bibir Sr.Leoni. Saat berciuman, mulut Sr.Leoni dikuasai dan dijelajahi sepenuhnya oleh Felix. Genjotannya bervariasi antara lembut dan dalam, dangkal dan cepat, brutal dan mengoyak, dan sebagainya. Bagi Felix, seolah Sr.Leoni merupakan inspirasi seksualitas tanpa batas.
“Nnnaaahhh…. Susterku sayang….. siapa cowok beruntung itu…hhmmm…? Ayo jawab, Suster sayang!” kata Felix di sela-sela genjotannya.
“JJHHJA…… JJJHA…JJJANGAN HHHA… HHA..RRAP SSS… SS.. SSAYA MAU KKATT …TTA….TTTAKAN….” Di saat Sr.Leoni hendak mencapai klimaks, Felix menghentikan genjotannya, membuat Sr.Leoni penasaran.
“Ayo, Suster…… siapa ?” tanya Felix menggoda. Sr. Leoni tidak menjawab, ia hanya meronta-ronta dengan liar.
Maka Felix pun mulai lagi merangsang mulai dari bibir, leher, lalu turun ke belahan payudaranya. Puting payudara Sr.Leoni yang seolah menunggu untuk digarap, dibiarkannya dahulu. Hal ini membuat Sr.Leoni makin penasaran. Sr.Leoni meronta-ronta, menggeliat-geliat dan menggelinjang-gelinjang dengan liar. Felix yang sudah berpengalaman menghadapi wanita binal, mengetahui dengan pasti bahwa semua rontaan Sr.Leoni itu adalah hasrat terpendamnya untuk dipuaskan secara total.
“SShhh…..shhh…. Suster…. saya akan puaskan Suster kalo Suster mau bilang ke saya dua hal. Pertama, siapa cowok yang mengambil keperawanan Suster, lalu kedua: Suster harus memohon pada saya untuk dipuaskan. Pikirkanlah, Suster….. bayangkan kenikmatan yang bisa saya berikan….. Pokoknya, Suster akan saya puaskan setelah Suster menjawab pertanyaan saya dan melakukan permintaan saya. Oh ya,.. satu lagi. Sebelum saya puaskan, saya ingin Suster melayani saya dengan binal dan penuh gairah. Lepaskan semua hasrat terpendam Suster selama ini……!” Felix terus merayu Sr.Leoni.
“JJA…JJAJJANGAN…….SSSSTT TOOPPP….. OOOOGHHHH…. SSTTOOPP………” “Yakin nih, mau berhenti….?” tanya Felix makin menggoda.
Felix memang menghentikan serangannya, tapi lalu dimulai lagi dengan lembut lalu makin lama makin ganas, panas dan bergairah. Dan ketika Sr.Leoni untuk kesekian kalinya hampir mencapai orgasme, Felix berhenti.
“Ssstt….ayo Suster……buat apa Suster mempertahankan gengsi? Kalau dengan saya, nggak usah malu. Terus terang saya pun kagum dengan Suster. Jarang wanita punya daya seks sekuat Suster. Seandainya Suster bukan biarawati, pasti Suster sudah saya lamar untuk dijadikan istri!” Felix terus merayu Sr.Leoni dengan perkataan dan rangsangannya.
Pukul 13:40 Hampir dua jam Felix menggauli Sr.Leoni, akhirnya Sr.Leoni menyerah……..
“AAAGGHHH…..AAGHHHH…..OOOO HHH…. ARRNOOOOLD…… BBE…BEBBBE…BBENARKAH YANG KKAU KATTT… TTA…TTAKAN?” “Suster ingin kenikmatan, kan ? Kalo mau, percayalah pada saya….. mari kita capai kenikmatan itu bersama-sama, Suster manis…..
Tapi sebelum itu, jawab dulu dua pertanyaan saya dan satu permintaan saya tadi” kata Felix berusaha meyakinkan Sr.Leoni.
“NNNNA……NNNA……..NNNAMM MA… CCHHO…CCOWWOKK IT.. ITTU SANN…NNNO, MMURRID SSA..SSAYYA DDULU….. KKEJJA… JJADIANNYA TTIGATTA… TTAHUNN LALU DDI..DDI… RRUANG UKS…SSE.. SSSEEKKOLAHHH………….” Sr.Leoni pun menceritakan pengalaman pertamanya itu.
“SSSA…SSA…SSA….SSSAA YYYA MMO…MMOHHON, fel..felixx.. SUDI MMEMMME…MMMEMMUASKKHAN SSA.. SSAYA…” Sr.Leoni memohon-mohon sambil meronta dan menggeliat. “Ssssttt….. masih ada permintaaan saya yang Suster belum penuhi…..” kata Felix sambil mengedipkan mata.
“AA…AAAPPPA ITU, Felixxx.. SSA…SSSHAYANNGG….” Sr.Leoni pun rupanya berusaha merayu Felix dengan panggilan ’sayang’ agar ia cepat dipuaskan.
“Ah, masa lupa…?? Hayoo…. apa…?? Jangan malu, Susterku sayang! Ayo katakan, Sayang………” Felix menyeringai nakal.
“SSA…SSSA…. SSAYYA RRE..RRELLA MME… MMELAYY… YYANI fel..felixx..”
“Suster mau bermain seks dengan binal?” tanya Felix. Sr.Leoni mengangguk lemah.
“Jangan cuma mengangguk, Suster Leoni sayang…….., katakan bahwa Suster juga mau bermain seks dengan binal demi kepuasan kita berdua” kata Felix lembut tetapi mengandung ketegasan dan perintah.
“SSA…SSA…YYA RRELA MME..MMEMMMELLAYYANI ARR.. RRNOLD DDE…DDENGAN BINAL…… DDE..DDEMI KKEBAHAGGIAAAN KKITA BBE..BBEBBBERRDUA…… AAAAGGGHHH……. TTU TTUTTUNNGGU APP…PPPPA LLAGGI, ARRR..RRNOLD SSA..SSAYYANG?” kata Sr.Leoni makin memelas.
Felix tersenyum, lalu ia mulai menggarap Sr.Leoni dengan lebih bergairah. Rontaan dan geliat Sr.Leoni kini berubah menjadi gerakan-gerakan erotis yang liar dan binal. Jeritan dan rintihan Sr.Leoni kini menjadi erangan penuh kenikmatan saat mereka berpacu menuju puncak birahi. Sr.Leoni ternyata sangat binal. Erotismenya liar sekali. Pengalaman pertamanya yang lama belum terulang membuatnya haus seks luar biasa. Ia bagaikan musafir yang penuh dahaga. Felix memenuhi janjinya. Dibawanya Sr.Leoni menuju puncak birahi, seluruh daya seksnya dikerahkan untuk merangsang Sr.Leoni. Mulut, leher, belahan payudara, payudara dan putingnya dilalap oleh Felix dengan penuh nafsu.
Vagina Sr.Leoni digenjot dan dijelajahi oleh Felix, termasuk bagian G-spotnya (bagian tersensitif dalam vagina wanita). Keperkasaan Felix diimbangi oleh kebinalan Sr.Leoni. Pukul 15:55 Akhirnya setelah lebih dari 4 jam Felix menggaulinya, Sr.Leoni merasa bahwa orgasmenya tak mungkin ditahan lagi. Felix pun menyadarinya. Tanda-tanda itu jelas terlihat dan terasakan olehnya. Payudara Sr.Leoni mengencang, putingnya menegang disertai mengerasnya jepitan vagina Sr.Leoni. Gerakannya makin erotis. Dadanya membusung, seolah menyodorkan dan menawarkan payudaranya seluruhnya penuh damba.
Dengan penuh gairah, Felix menyemburkan seluruh spermanya ke dalam vagina Sr.Leoni, sambil mengenyot puting payudara Sr.Leoni, bergantian kiri dan kanan. Sr.Leoni memekik tatkala dirasakannya cairan hangat memenuhi vaginanya. Rasa nikmat itu sungguh luar biasa. Rasa nikmat itu terasakan di sekujur tubuhnya, terutama di bagian dalam vaginanya dan di puting payudaranya.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAGGGGGHHHHHHH HHH…………. AAAAAAAAGGGHBB …….” pekikannya itu diredam oleh kuluman mulut Felix.
Setelah semburan puncak birahi selama beberapa detik yang berharga itu, mereka lunglai lemas. Penis Felix bersarang di vagina Sr.Leoni yang kini sudah banjir oleh sperma dan cairan vaginanya sendiri. Mereka tertidur dalam kebahagiaan seksual. …

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Raja

Arsip Blog

Entri Populer